"Jadi?" Nares menyerong kan duduknya, menatap ke arah suaminya yang baru selesai mengenakan sabuk pengaman. Arafi menoleh balik dengan alis terangkat. "Apa yang kamu mau tahu? Aku sudah bilang dia teman kerjaku, Sayang," jawabnya. Nares mendengus pelan sambil memalingkan muka. "Ekspresi yang dia tunjukkin tadi sama sekali bukan ekspresi yang cocok kalau dia cuma teman kerja. Dia segitu kagetnya pas Mas ngenalin aku sebagai istri Mas," sanggahnya. Arafi menghela nafas pelan, beginilah sulitnya memiliki istri secerdas Nares. Dirinya bahkan tidak bisa memanipulasi mata istrinya kala melihat ekspresi yang ditujukan Wulan tadi. "Sejauh ini dia memang cuma teman buatku, kami kenal dari pertama aku kerja paruh waktu jaman kuliah, dan ketemu lagi pas aku balik kerja di sana sebelum ketemu Pa

