Ia menoleh cepat. Membuatku hampir terlonjak, karena ulahnya yang secara instan mengikis jarak di antara kami berdua.
- HAPPY READING -
Semua orang yang lalu lalang, berjalan dengan sangat cepat seperti sedang terdesak. Aku yang sebenarnya juga hampir telat, memilih untuk tetap menikmati perjalanan. Sejak tadi aku mengobrol dengan Faris juga Farhan. Membicarakan masa-masa kuliah, dan bagaimana work life sebenarnya. Faris banyak memberiku wejangan serta tips dan trik, agar kegiatan kerja praktikku bisa lancar. Kita bertiga mengobrol seperti teman lama yang baru bertemu setelah sekian lama. Semuanya mengalir begitu saja.
Begitu keluar dari stasiun MRT Holland Village melalui pintu Exit A, kami bertiga berjalan kaki menyusuri parkiran dan trotoar. Suasana masih sepi. Sepertinya pertokoan mulai beroperasi jam sepuluh pagi nanti. Ketika langkah kaki Faris tiba-tiba berhenti, aku dan Farhan ikut diam. Ternyata kami sudah sampai.
Jarak dari pintu keluar stasiun MRT ke butik Takiga terhitung sangat dekat sekali. Setelah berbelok ke kiri satu kali dan melewati barisan pertokoan bergaya modern yang menjual pakaian, makanan, hingga perabotan, aku sudah berdiri tepat di depan lokasi kerja praktikku sampai empat puluh lima hari ke depan.
Nama Takiga Ariyo tertulis jelas di kaca jendela super besar yang memamerkan beberapa koleksi busana kasual hasil karyanya. Pandanganku beredar, mengamati lingkungan sekitar. Rata-rata butik atau kafenya terletak di lantai satu gedung berlantai tiga, yang di atasnya dijadikan tempat tinggal atau kantor. Pasti kalau siang, area ini akan ramai. Sebab, Holland Village itu termasuk tempat wisata andalan Singapura.
Akhirnya aku berjalan mendahului Faris, lalu berbalik untuk berpamitan sambil tersenyum manis.
"Makasih banyak Kak Faris sama Farhan. Udah nganterin ke sini."
"Iyah, sama-sama, Ra. Pokoknya, kalau butuh bantuan, bilang aja ya," balas Faris ikut menyunggingkan senyum. Aku tidak menyangka, dia bisa sebaik ini.
"Siap, Kak! Aku masuk dulu, ya. Dah!"
Setelah memastikan Faris dan Farhan pergi, aku berjalan menuju butik dan membuka pintu dengan hati-hati. Langkahku pelan, disertai sedikit rasa takut dan gugup. Kini, aku benar-benar sendirian.
Ukuran butik ini tidak terlalu besar, tapi dinding yang dicat warna dengan terang memberi kesan lapang dan luas. Nuansa cokelat muda yang dipadu dengan ornamen kayu, menambah suasana hangat sekaligus santai pada butiknya. Aku suka atmosfer ini. Apalagi lantai hijau toska mudanya.
Busana hasil karya Takiga Ariyo, mengusung konsep ready-to-wear. Ia memadukan pola basic dengan kain-kain corak asli Indonesia. Perpaduan warnanya beragam, tapi tetap memiliki benang merah yang membuat setiap pakaian terlihat menyatu. Pemilihan materialnya pun bagus. Pantas saja, harga satu potong kemeja atau blusnya bisa sampai jutaan begini.
Saking serius mengamati hampir semua busana yang dipamerkan, aku sampai lupa kalau sebentar lagi sudah jam sembilan pagi. Beruntung, seseorang memanggil dari balik pundakku.
"Mehira, bukan?"
Begitu memutar arah, sosok Takiga berdiri tidak jauh dariku. Ia memandang, dengan tatapan aneh. Seakan tidak menyangka kalau akulah orang yang ia tunggu.
"Iya, Pak. Saya Mehira. Maaf tadi keasyikan lihat-lihat," jawabku seraya memperbaiki posisi berdiri jadi lebih sopan. Takiga menilai lewat mata sipitnya.
Aku yakin, tidak ada ada yang salah dari cara berpakaianku hari ini. Kecuali mungkin karena aku memakai celana jeans. Namun, sungguh tidak aneh kok.
"Ya udah. Kita langsung ke kantorku, ya."
Tanpa basa-basi, Takiga kembali menaiki tangga. Aku mengikuti dengan d**a berdebar. Aninda tidak kelihatan. Aku jadi waswas. Oh, mungkin dia telat. Eh, memangnya jalanan Singapura bisa macet, ya? Ah, entahlah.
Takiga terus berjalan tanpa sekalipun melihat ke belakang. Dari gaya berjalannya saja aku sudah bisa menebak kalau ia adalah tipe atasan yang suka memerintah dan mendominasi. Kakiku baru berhenti saat Takiga memasuki ruangan yang berada di lantai tiga. Semerbak harum aroma bunga lavender menyambut saat Takiga mempersilakan aku masuk. Tampaknya, iklan-iklan di internet itu benar adanya. Baru beberapa saat menghirup dan menikmati aroma bunganya, keteganganku sudah mulai mereda.
"Mulai hari ini, kamu bertugas menggantikan Aninda jadi asisten pribadiku. Aku bisa panggil kamu apa yang lebih pendek?" ucap lelaki berkaus cokelat gelap tanpa gambar apapun yang sudah duduk di kursi singgasananya.
Perkataan Takiga membuatku menelan ludah. Aninda sama sekali tidak pernah membahas hal ini sebelumnya. Aku kira akan ditempatkan di workshop seperti yang Mande bilang, ternyata bukan.
"Panggil Ira aja, Pak. Hm, maaf sebelumnya. Kalau Mbak Aninda, ke mana ya, Pak?" tanyaku hati-hati.
Bukannya menjawab, lelaki berhidung cukup mancung itu malah berdiri. Ia membawa tumpukan map yang semula berada di atas meja kerjanya.
"Ini kerjaan yang harus kamu urus mulai sekarang. Aninda tadi malam pecah ketuban, jadi harus melahirkan secepatnya. So, mulai sekarang kamu yang menggantikan semua tugasnya. Daftar pekerjaan kamu, sudah ada di dalam map warna merah. Sisanya, ada schedule meeting-ku sama para investor dan beberapa desain yang harus kamu periksa, sebelum dikasih ke aku. Sampai sini, ada yang mau ditanyakan?" jelasnya panjang kali lebar.
Seketika kepalaku berdenyut. Rasanya pengin pingsan saja seperti kemarin. Siapa tahu ini betulan mimpi. Sungguh. Mentalku tidak siap untuk jadi asisten seorang desainer. Aku kira bakal bergaul sama para pengrajin di balik layar.
"Gimana? Kamu paham, kan?" tanya Takiga tidak sabar.
Akhirnya aku terpaksa mengangguk. Tidak ingin memberi kesan kurang baik di hari pertama. "Paham, Pak," jawabku pelan. Namun, raut wajah Takiga terlihat tidak puas.
"Tolong panggil saja Mas atau Takiga sekalian. Jangan Pak. Aku belum tua, kok. Umurku masih 25 tahun. Umur kamu berapa?"
"20 tahun, Mas." Takiga mengangguk, lalu mengambil ponsel pintarnya dari dalam laci meja kerja.
"Tolong tulis nomor ponsel kamu," pintanya tegas.
Aku menurut, meraih ponsel yang ia sodorkan lalu mengetikkan nomor ponsel yang belum sempat aku ganti ke nomor Singapura. Sepertinya, saat pulang nanti aku harus mampir ke kios minimarket untuk membeli sim card baru.
"Ini, Mas."
"Good. Sekarang tolong belikan latte di toko kopi sebelah, ya. Yang panas, tanpa gula."
"Baik, Mas."
"Kamu tunggu apalagi?"
"Uangnya belum, Mas."
Mendengar perkataanku, Takiga jadi mendelik. Bola matanya sempat berputar sebelum tangannya mengeluarkan kartu kredit dari dalam dompet kulit berwarna hitam gelap.
"Mulai sekarang, pakai kartu ini untuk keperluan kantor. Satu lagi. Setelah beli kopi, kamu pindahkan meja kerjamu yang di luar ke ruanganku. Biar gampang, kalo ada perlu apa-apa."
"Baik, Mas Takiga," anggukku pasrah, meski dalam hati sudah mulai mengumpat.
Hari pertama saja sudah banyak keinginan, bagaimana nanti? Ah, sudahlah. Aku tidak ingin membayangkan. Yang ada malah bikin makin frustrasi.
***
Beberapa hari terakhir, Takiga selalu menahanku di butik dengan banyak alasan. Mulai dari tiba-tiba memberi tugas untuk mengambil alih bagian mendesain model pakaian, sampai memilih kain dari berlembar-lembar sampel yang dikirim khusus dari Jakarta. Mataku juga sempat jereng karena terus menatap layar laptop demi mencari tahu model pakaian dan warna-warna yang akan trend tahun depan. Mana hasil gambaranku pas-pasan. Alhasil, Takiga menyuruhku revisi dan terus revisi. Bahkan, sebelum pulang tadi dia memintaku membawakan lima belas sketsa lain yang harus ada di mejanya besok siang!
Hah. Memikirkannya saja bikin aku ingin terbahak keras. Bukan karena bahagia, tapi karena frustrasi. Dia kira aku Bandung Bondowoso apa? Bikin satu dalam waktu tiga puluh menit saja sudah alhamdulillah. Ini dia meminta belasan. Sama saja memintaku tidak tidur semalaman kalau begitu caranya.
Dia sih, enak. Tinggal jalan beberapa langkah, sudah sampai di tempat tidur. Orang tempat tinggalnya di gedung sebelah. Kalau aku? Kudu gonta-ganti MRT sama jalan kaki lima ratus meter baru sampai apartemen. Kadang juga naik taksi kalau sudah kemalaman, seperti barusan. Namun, yang begini ujung-ujungnya jadi menyita jatah uang jajan. Padahal aku sudah berencana mau hidup irit. Jadi terancam gagal, deh.
Takiga memang sedang gencar merancang koleksi terbaru untuk diperlihatkan kepada para investor bulan depan. Sebelumnya aku sudah tahu, kalau menjadi seorang desainer tanpa nama besar sangatlah tidak mudah. Namun, baru kali ini aku melihat perjuangan itu secara langsung. Terlebih, tindakan Takiga itu bisa dibilang nekat. Dia baru debut dua tahun, tapi sudah berani merambah kancah internasional. Meskipun Singapura hanya negara kecil, tapi persaingan antar desainernya tetap tidak main-main. Sisi ambisiusnya itu, terkadang membuat aku kagum sekaligus tidak habis pikir.
Pukul setengah dua belas malam, aku baru menginjakkan kaki di apartemen. Suasana sudah sepi dan gelap. Sepertinya Faris dan Farhan sudah terlelap. Rencana mengakrabkan diri dengan Faris sembari jalan-jalan cantik, sirna sudah. Yang kulakukan hanya kerja, kerja dan kerja! Bahkan, sepertinya sudah dua hari ini aku bertemu Faris ketika sarapan saja.
Tubuh berkeringat dan bau masam akhirnya berhasil mendarat dengan selamat di sofa abu gelap dengan tiga buah bantal di atasnya. Sebetulnya aku merasa tidak enak rebahan di sofa sebelum mandi, tapi tenagaku benar-benar ludes. Aku sangat kelelahan. Untuk berjalan ke kamar saja sepertinya aku tidak mampu. Sembari menutup kedua mata dengan lengan kanan yang aku letakkan di atas kening, tarikan napas berangsur teratur. Kesadaranku perlahan menurun. Letih memang selalu sukses membuatku terlelap.
"Ra, jangan tidur di situ. Pindah ke kamar, gih."
Aku tersentak, ketika suara Faris tiba-tiba terdengar. Bayangan samarnya yang tengah menatapku adalah hal pertama yang memenuhi pandangan. Meski kepala terasa sakit sekali, aku mencoba membuka mata lalu bangun untuk duduk di sampingnya.
"Baru pulang?" tanyanya seraya melirik ke arah jam dinding. Aku mengangguk lemah. Berusaha tersenyum.
"Capek, Ra?"
"Banget."
"Ada yang bisa kubantu? Kebetulan aku lagi nggak banyak project sekarang."
Tawaran Faris sangat menggiurkan. Dia memang jagonya menggambar manusia. Apa aku memintanya menggambar beberapa sketsa, ya?
"Hm ... beneran, Kak?"
Dia mengangguk yakin. "Kan aku udah bilang. Kalau butuh bantuan apa-apa, bilang aja, Ra."
Setelah mengamatinya sungguh-sungguh, aku memutuskan untuk mengikuti kata hati. Ini kesempatan bagus untuk pendekatan. Membayangkan bakal begadang berdua Faris membuat jantungku deg-degan. Kedua sudut bibirku terangkat tipis. Berbarengan dengan beterbangannya kupu-kupu di perut yang mendadak terasa penuh.
Aku meraih tas yang tergeletak di lantai. Beberapa lembar kertas concorde ukuran A4, berpindah tempat jadi di pangkuan. Faris mengambil lembar teratas dan mengamati hasil gambaranku. Dia sampai membetulkan kacamata. Antara kaget melihat kemampuanku yang sudah meningkat atau malah belum ada kemajuan sama sekali.
Duh, jadi takut.
"Gambar kamu udah mendingan. Better than two years ago." Hah, syukurlah. "Nggak kerasa, ya. Waktu cepat banget berlalu," kata Faris pelan. Raut wajahnya berubah sendu. Kemudian, kelopaknya melebar. Dia menoleh cepat. Membuatku hampir terlonjak, karena ulahnya yang secara instan mengikis jarak di antara kami berdua.
Pikiranku langsung ternoda. Kukira Faris mau itu, eh, tahunya dia malah mengomel tanpa henti. Bersungut-sungut, sembari melipat kedua lengannya.
"Ra, ngomong-ngomong si Takiga tega banget, sih. Lama-lama aku kesel, lho. Dia lupa apa, kalo kamu itu masih mahasiswa yang baru mulai magang? Bukan asisten profesional yang dibayar mahal buat jadi babunya?" celoteh Faris serius dan ketus. Matanya memang tidak lagi menatapku, tapi aku bisa tahu dia benar-benar kesal dengan keadaan.
"Ya ... habis mau gimana lagi, Kak. Asistennya cuti melahirkan. Tadinya Mande yang bakal ngegantiin, tapi karena dia batal ke sini, jadi tinggal aku satu-satunya kandidat. Takiga lagi sibuk banget, Kak. Beberapa hari ini, kerjanya nego sama investor di telepon terus. Dahinya tuh, sampai berkerut-kerut kalau lagi ngomong serius. Kalau pagi, pasti matanya merah kayak kurang tidur. Dia juga suka lupa waktu, sampai nggak ingat makan. Kalau nggak aku ingetin makan sama minum, mungkin dia bisa puasa tiap hari. Kasihan banget pokoknya," curhatku panjang lebar.
Entah aku salah lihat atau tidak, tapi Faris sempat mendengkus sebelum memalingkan wajahnya. Wah, ada apa ini? Jangan-jangan, dia cemburu lagi. Hehehe...
"Oh... Kamu mau minta bantuan apa jadinya? Gambar sketsa kayak begini? Atau apa?" tanyanya tanpa merespons curhatan.
"Eh, hm. Iya, Kak. Sketsa perempuan pose bebas. Polos aja tanpa pakaian. Nanti aku yang gambar model bajunya. Nggak usah diarsir. Rambutnya digaris kasar aja."
Faris mengangguk singkat. "Oke. Nanti aku gambarin. Sekarang mendingan kamu mandi dulu aja terus istirahat. Besok subuh baru gambarin bajunya. Kamu butuh sketsa berapa banyak? Lima?"
"Bukan, Kak," jawabku seraya menggeleng pelan. Faris mengangkat alisnya. "Lima belas."
"APA?" Faris memekik, lalu bengong. Ia sampai terlihat kesulitan menelan ludah. Apa permintaanku keterlaluan, ya?
Buru-buru kuralat permintaan. "Lima aja deh, Kak. Sisanya biar aku kerjain habis mandi."
"No, no," tolaknya keras. "Kamu meragukan kemampuanku?"
Aku menggeleng. "Bukan gitu. Aku takut ngerepotin banget. Sekarang udah tengah malam, Kak. Masa aku enak-enak tidur, Kak Faris malah begadang ngerjain pekerjaanku?"
"Kalau gitu, kita begadang bareng aja. Cepetan mandi, gih. Kamu asem, Ra."
Sontak aku mengendus cepat kerudung juga ketiak.
Ya, ampun! Ternyata aroma kecutnya menguar betulan. Kukira cuma perasaan saja.
Aku langsung berdiri. Menggeser posisi supaya agak berjauhan dari Faris. Sementara lelaki berwajah ceria itu sedang berusaha keras menahan tawanya. s**l!
"Aku mandi dulu. Itu, kertas sama pensilnya ada di tas. Ambil aja, Kak. Permisi," pamitku sebelum berlari ke kamar untuk mengambil baju ganti lalu berjalan cepat ke arah kamar mandi.
Faris masih duduk di sofa. Namun, tangannya sudah bergerak aktif sembari menggenggam pensilku. Aku sempat mengintip sekilas ketika melewatinya. Gambar Faris mah, memang tidak diragukan lagi kualitasnya.
Pasti besok Takiga terkaget-kaget melihat hasil gambaranku. Hahaha...
"Ra," panggil Faris.
Langkahku terhenti seketika. Aku berbalik. Tidak jadi masuk ke kamar mandi yang jaraknya tinggal selangkah lagi.
"Ya, Kak?"
"Hari Minggu kamu libur, kan?"
"Harusnya sih, iya. Kenapa gitu?"
"Farhan ngajak jalan-jalan. Kamu mau ikut, nggak?"
"Mau, dong."
"Oke, deh."
Tanpa sadar aku tersenyum. Betapa beruntungnya aku. Setelah lelah bekerja seharian, masih bisa melihat wajah pujaan hati dan mengobrol dengannya. Malah dibantu mengerjakan kerjaan juga.
Sungguh, nikmat mana lagi yang mau aku dustakan?
"Mandi, Ra. Jangan melamun."
Astagfirullah! Dasar manusia bucin!
to be continued