Patah Hati (2)

1337 Kata
Cowok yang sekarang sedang sibuk menggambar sketsa di hadapanku, adalah orang yang aku sukai selama delapan bulan terakhir. Dia yang bisa membuatku tidak berkutik ketika berada di sekitarnya. Dia juga yang sering bikin aku suka mengkhayal sendiri. -HAPPY READING- Sepanjang kelas Gamtuk, aku susah sekali fokus. Saking penasarannya, mataku terus berpusat di sosok laki-laki yang terus membuatku penasaran. Aku ingin membuktikan dengan mataku sendiri. Apa benar Faris suka sama Dita atau tidak. "Meh, lo ngeliatin Kak Faris mulu deh," tegur Ay Ay. Mata bulatnya seakan menyuarakan protes. "Fokus gambar dulu, Meh. Udah jam segini, loh. Ntar repot sendiri lo nya. Jangan lupa, gambarnya dikumpulin hari ini," tegur Ay sekali lagi. Pandanganku akhirnya beralih ke kertas tugas yang sejak tadi dibiarkan menganggur. Gambarnya masih belum jadi. Garis-garisnya juga masih tipis. Tugas hari ini, menggambar buah-buahan dan kendi dari tanah liat yang ditaruh di atas meja dan diletakkan di tengah setiap kelas. Media pewarna yang dipakai untuk tugas kali ini adalah cat air. Aku paling aku tidak suka cat air, karena hasil gambarku selalu jelek kalau pakai cat itu. "Iya Ay. Soalnya gue kepo," aku mengaku lemah, dengan kepala menunduk. "Ya, udah. Gue sambil intip-intip juga, deh. Nad, Nur, kalian sambil intip-intip doi yah," sahut Ay pada Nadia dan Nuri. "Oke, sip!" jawab mereka serentak. "Thanks yah, Ukhtis!" sahutku pelan. Setelah menghela napas panjang, aku kembali melanjutkan kegiatan yang sempat tertunda. "Ra, ini kendinya kekurusan," tegur Budi, asdos yang hari ini bertugas mengawas di kelas empat. Tegurannya tadi membuatku berhenti menggambar, lalu berdiri untuk melihat hasil gambaran dari jarak yang lebih jauh. Ternyata benar. Kalau dilihat dari agak jauh, kendi yang sedang aku gambar jadi mirip botol. Secara otomastis, tanganku jadi menggaruk kepala yang sebetulnya tidak gatal sambil berkata. "Oh iya, Kak." "Lo tambahin aja garis lagi di sini nih," imbuhnya sambil mencontohkan langsung di kertas gambarku. Aku mengangguk paham. Alhamdulillah, gambarku masih bisa diselamatkan. "Makasih, Kak Budi." "Sama-sama, Ra," jawab Budi sekilas, sebelum kepalanya berpaling ke arah Ay Ay. "Loh, Ayu. Ini kendinya kok kegendutan?" Sahabatku itu kaget dan langsung berdiri juga seperti yang barusan aku lakukan. Sementara asdosku ini malah tertawa, atau lebih tepatnya menertawakan kami berdua. "Kalian kenapa kebalikan gini sih gambarnya? Yang satu kekurusan, yang satu kegendutan," sahut Budi masih tergelak. Aku jadi bertukar tatap dengan Ay yang ikut keheranan. Bisa-bisanya. Kenapa gambar kendi kita semacam menggambarkan bentuk badan, sih. "Kalo gambar aku gimana, Kak?" Giliran Nadia yang bertanya. "Lo udah oke, sih. Lanjutkan, Nad." Kini giliran gambar Nuri yang diperiksa. Meski sempat diam, kepala cowok berkaus sedikit lusuh ini, langsung bergerak naik turun sambil tersenyum. "Nah ini bagus, nih," pujinya pada Nuri. Karena penasaran, aku menarik Ay agar ikut menghampiri meja Nuri. Benar saja, gambar dia bagus sekali. Lalu aku menengok ke kertas yang tergeletak di atas meja. Kok, gambar gue kayak gambaran anak SD, sih? Sedih... * Dengan sedikit berlari, akhirnya aku sampai di depan gedung CC Barat. Karena belum kelihatan siapa-siapa, jadi aku terus berjalan sampai ke ujung selasar untuk mencari tempat yang sepi. Halaman depan pintu masuk gedung CC Barat ini memang suka ramai. Banyak mahasiswa yang menjadikannya sebagai tempat untuk mengerjakan tugas, atau tempat bertemu. Setelah duduk nyaman, aku mengeluarkan sketchbook juga pensil 2B dari dalam tas. Sambil menunggu yang lain datang, aku mendengarkan lagu dari ponsel dan mulai mencoret asal untuk membuang waktu. Tidak berselang lama, ada beberapa anak TPB yang datang. Mereka duduk tidak begitu jauh dari tempatku duduk sekarang. And finally, yang aku tunggu-tunggu datang juga. Faris ... datang bersama Dita! Ya Allah ... rasanya ingin kabur. Sayangnya, Faris telanjur melihatku dan melambaikan tangannya. Dia seperti memanggil supaya ikut duduk bersama anak-anak TPB lainnya, lewat sorot mata yang begitu ramah. Faris sudah duduk saat aku tiba. Namun, bodohnya aku malah memilih tempat persis di sebelah Dita. Mungkin karena naluri kepoku ini. Siapa tahu, nanti aku bisa mencuri dengar percakapan mereka. Daripada terus menebak-nebak. Capek! "Pada bawa sketchbook, kan?" tanya Faris pada para peserta tutor. Aku memandangi semua anak TPB yang duduk melingkar di sekitar. Tidak ada satu pun yang aku kenal dekat. "Bawa, Kak!" seru anak-anak lain penuh semangat. Aku tidak ikut menjawab, hanya mengangguk dalam diam. Seriously, hari ini double kill banget buatku. "Tutor tambahan ini diadain dengan tujuan buat ngebantu kalian supaya gambarnya lebih baik. Jadi, nanti gue samperin satu-satu dan kalian boleh minta ajarin teknik yang belum kalian kuasain, atau bisa disesuaikan sama tugas Gamtuk sebelumnya. Ada yang mau ditanyain?" jelas Faris, menunggu pertanyaan. Mereka semua menggeleng, begitu juga denganku. Teman-teman seangkatanku langsung sibuk berbicara satu sama lain. Sedangkan aku termenung sendiri. Selain karena bingung mau meminta diajarkan apa, aku juga sedih setelah melihat kebersamaan Faris dan Dita. Gerak-gerik mereka mencurigakan. "Ra, mau diajarin apa hari ini?" tanya Faris yang ternyata sudah duduk di sampingku. Antara percaya dan tidak percaya. Aku tidak menyangka kalau Faris menghampiriku lebih dulu. "Hm ... apa ya, Kak? Oh iya, gambar orang dong, Kak. Aku masih kacau gambar orangnya," kataku bersemangat. Untuk sejenak saja, aku ingin melupakan fakta kalau ada kemungkinan, Faris suka sama cewek lain. Dan cewek yang disukainya sedang duduk tepat di sebelahku. "Lo tuh masih susah gambar orang duduk, kan ya?" tanya Faris lagi. Aku mengiyakan. "Sama orang lari, Kak. Suka nggak proporsional hasil gambarku," balasku sambil memberanikan diri memandangi wajah Faris. Cowok yang sekarang sedang sibuk menggambar sketsa di hadapanku, adalah orang yang aku sukai selama delapan bulan terakhir. Dia yang bisa membuatku tidak berkutik ketika berada di sekitarnya. Dia juga yang sering bikin aku suka mengkhayal sendiri. Sekitar sepuluh menit Faris duduk diam di dekatku. Wangi parfumnya tercium cukup jelas. Wangi maskulin yang segar. Setidaknya kali ini, aku tidak hanya memandanginya dari kejauhan. Sore ini aku bisa duduk berdekatan dan sesekali bersenggolan dengan lengannya. Hal-hal sederhana itu sudah bisa bikin aku tersenyum sendiri seraya menggambar objek yang sama sekali tidak lucu. Andai saja, menyatakan perasaan itu gampang. Pasti aku tidak akan terlalu sering galau seperti sekarang. * Hari sudah mulai gelap, ketika tutornya selesai. Jalanan di sekitar kampus terlihat lebih lengang. Bersiap tergantikan oleh orang-orang yang ingin mencari makan malam. Lahan yang semula digunakan sebagai tempat memarkirkan kendaraan, beralih fungsi menjadi tempat berdagang. Beberapa tukang jualan sedang menyiapkan tenda-tenda. Ada makanan tradisional sampai makanan masa kini. Setelah berhasil masuk ke dalam mobil dan menaruh tas, aku menyalakan mesin mobil kemudian menunggu beberapa menit sampai mesin mobilnya panas. Di sekitarku sudah gelap gulita. Hanya ada satu sumber penerangan jalan di setiap ujung jalan. Suasana begitu mendukung untuk kembali meratapi nasib. Kenapa lelah banget rasanya, Ya Allah. Kenapa kenyataan ini baru Engkau beritahu di saat aku bersemangat ingin mengejarnya? Kenapa baru sekarang? Cukup lama waktu yang kuhabiskan dengan berkeluh kesah sendirian. Mempertanyakan segala hal yang mengganjal. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk mampir ke kos-kosan Nadia, sebelum pulang ke rumah. Perasaan sedih ini harus dicurahkan. Kalau tidak, kemungkinan besar aku akan menangis semalaman. Begitu Nadia membukakan pintu, aku langsung menyerbu masuk ke dalam pelukannya. "Lo kenapa, Me?" Nadia jadi panik. Tangis yang tertahan, segera pecah detik itu juga. Sembari sesenggukan, aku mencoba bercerita padanya. "Tadi pas tutor, Kak Faris dateng bareng si Dita. Terus selama tutor itu, Kak Faris suka ngajak Dita ngobrol sambil becanda, gitu. Kayaknya ... Kak Faris beneran suka sama Dita, deh. Tatapan mereka tuh beda, Nad. Nasib gue gimana dong sekarang?" Aku berkata sembari sesekali sesenggukan. Nadia mengajakku duduk di tepi kasur, kemudian menepuk-nepuk punggungku yang gemetaran. "Cup, cup, Me. Jangan nangis, dong. Kan mereka belum jadian juga. Berarti lo masih ada kesempatan. Lo coba lebih gencar deh, deketin Kak Farisnya. Biar dia nyadar kalo lo suka," kata Nadia terus berusaha membuatku berhenti menangis. "Bener juga ya, Nad," jawabku seraya mencoba mengatur napas. "Pokoknya mulai besok, enggak peduli si Faris suka sama Dita atau enggak, lo harus tetep tunjukin kalo lo suka sama dia ya, Me. Biar si Asdos itu tahu. Jangan diem-diem suka terus. Gimana mau dapet kalo kayak gitu caranya? Iya, nggak?" desak Nadia meminta pendapat. Aku mengangguk cepat beberapa kali. Bersamaan dengan jiwa optimis yang secara ajaib menyeruak di dalam hati. Semangat, Mehira! Kejar Faris sampai mentok! to be continued
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN