Padahal aku sudah sempat optimis, kalau dia lagi waras. Sebab sejak pagi kerjaannya hanya diam menatap laptop sembari sesekali bersenandung. Aku pikir dia lagi bahagia, makanya tidak menyusahkan. Eh, tahunya. Boro-boro. -HAPPY READING- "Maaf, Mas. File hasil pemotretan udah saya email, ya. Tinggal aku bikin katalognya setelah Mas Takiga pilih foto-foto yang mau dipakai," kataku agak pelan, takut mengganggu konsentrasi milik bosku. Kepala yang sejak pagi hanya tertuju ke layar laptop, akhirnya mulai terangkat ke arahku. "Oke." Hm, pendek sekali jawaban Takiga. Bahkan berterima kasih saja tidak. "Kalau begitu, saya izin makan siang dulu, ya Mas. Permisi." Setelah kepala Takiga mengangguk sekilas, aku berbalik dan hendak berjalan ke arah pintu. Di pikiranku sudah terbayang sepiring nasi

