Bunga serta kupu-kupu yang bersemayam di dalam hati dan perut, tidak kunjung pergi sejak kemarin. Ini semua hanya karena pesan balasan dari Faris. Membayangkan mulai minggu depan bakal seharian berada di dekatnya, langsung bikin level bahagiaku terbang sampai ke awan. Proses mengantre asistensi pun berjalan tanpa terasa. Padahal, sepertinya sudah lebih dari satu jam aku terjebak di barisan para mahasiswa yang nasibnya belum ditentukan. Namun, aku tetap menjalaninya dengan riang.
Ah ... such a happy day.
“Selanjutnya!” panggil Pak Abrar—dosen mata kuliah Nirmana Tiga Dimensi.
Dengan segera aku berdiri sembari membawa kotak kardus sepatu berisi benda keramat. Ringkih dan kalau kena senggol, bisa hancur berkeping-keping.
“Ini materialnya yang kulit lumpia itu, ya?” tanya pria paruh baya berkumis tebal, sambil serius memperhatikan 'benda' yang ada di hadapan. Aku mengiakan, dengan sebuah anggukan.
“Di sebelah sininya kurang rapi, tapi nanti bisa diulangi,” komentar Pak Abrar lagi.
Setelah beberapa menit, beliau masih menilai lewat tatapan serius sebelum tangannya bergerak mengangkat hasil karyaku hingga terpampang jelas. Dua buah baut berukuran besar dengan tumpukan kulit lumpia kering yang dipotong persegi.
Jangan bayangkan bagaimana bentuknya. Kalau bukan orang seni, pasti menganggapnya tidak jelas. Tugas Nirmana Tiga Dimensi ini memang suka ada-ada saja. Semester lalu, ada nirmana sedotan. Tugasnya menyusun sedotan hingga membentuk karya yang lagi-lagi, ringkih. Perjuangannya lebih berat daripada si kulit lumpia. Entah berapa bungkus sedotan yang aku habiskan. Mama sampai geleng-geleng melihatku memborong sedotan.
Ada juga tugas nirmana korek api. Itu juga sama. Aku membeli korek api sampai beberapa pak. Sungguh, kuliah di jurusan FSRD ini sangat menyita isi dompet. Sebetulnya semua jurusan juga sama saja, sih. Iya, kan?
“Nanti pas penilaian, kamu pakai alas cermin gelap biar ada pantulan, ya. Sepertinya bakal membuat baut-bautnya kelihatan lebih bagus. Lalu, dirapikan lagi. Terutama bentuk kulit lumpianya. Yang simetris perseginya. Dan ... tambah bautnya 1 lagi. Jadi totalnya 3. Ukuran bautnya udah bagus yang seperti ini.” Beliau berkata panjang lebar. Sementara aku mengiakan dengan anggukan kepala yang antusias.
Hilalku sudah kelihatan. Alhamdulillah.
“Pak, saya kepikiran kalau bautnya dibikin beda ketinggian. Menurut Bapak gimana?” tanyaku meminta pendapat.
Pak Abrar tampak berpikir sebentar, menimbang-nimbang sambil membayangkan. Lalu beliau menggeleng. “Jangan, deh. Saya takutnya jadi kurang estetik. Jadi seperti tangga gitu maksud kamu, ya?” Aku mengangguk. “Hm... Samain aja tinggi bautnya. Fokus di kulit lumpia, sama efek pantulan dari cermin. Yang hitam dasarnya, ya,” sambung Pak Abrar menolak usulan.
Aku mengangguk paham, biar cepat. Lalu pamit dan berjalan kembali ke arah kelas setelah mengucapkan terima kasih.
“Udah beres, Meh?” tanya Nuri begitu aku duduk disampingnya.
“Udah, Nur. Disuruh tambah 1 baut, sama dirapiin potongan kulit lumpianya.”
Nuri mengangguk pelan. “Bagus dong, nggak berubah bentuk. Minimal nggak galau kayak si Ay, tuh,” ujarnya seraya menggerakkan kepala ke arah gadis yang keningnya sedang berlipat.
“Ada apaan, nih? Kok serius amat?” Nadia yang baru saja datang setelah selesai asistensi, langsung ikutan nimbrung ke dalam obrolan. Ay buru-buru beringsut ke arah Nadia. Kelihatan ingin mencari hiburan atau malah teman seperjuangan.
“Eh, gimana asistensi lo, Nad? Aman?”
Nadia mengembuskan napas panjang. “Aman, sih. Tapi repot banget gue. Harus beli lasagna lagi, dan mengulang semuanya dari awal buat dinilai minggu depan,” keluhnya dengan wajah frustrasi. Aku, Ay dan Nuri, kompak melemparkan tatapan penuh simpati dan menepuk-nepuk punggungnya.
Material makanan ditugas Nadia adalah lasagna yang diberi air di setiap ujung-ujungnya, kemudian disusun sampai beberapa tumpuk. Sebetulnya tidak susah, tapi risikonya gampang membusuk karena kepingannya lembab. Makanya, Nadia harus bikin ulang setiap kali mau asistensi.
“Lo nggak asistensi, Ay, Nur?” tanya Nadia setelah mengumpulkan semangat.
“Gue udah fix minggu lalu. Tadi asistensi buat tanya alas karyanya nanti pake apa. Nggak ada ide soalnya,” jawab Nuri menjelaskan.
Kepala Nadia bergerak naik-turun. “Oh, gitu. Apa sih materialnya? Spageti itu, ya?” tanyanya lagi, masih kepo.
“He-eh, Nad.”
Mataku beralih pada Ay yang tengah menempel-nempelkan fusili. Dia masih belum mendapatkan bentuk yang diasistensi sama Pak Abrar. Alhasil, sahabatku yang mukanya sedang ditekuk, masih harus terus membuat bentuk-bentuk baru karena hari ini adalah kesempatan terakhir untuk bisa mengikuti penilaian minggu depan.
“Semangat, Ay!” ujarku sembari memeluk anggota terlangsing Ukhtis dari samping. “Lo mau beli apa gitu nggak? Gue beliin di Bengkok,” tawarku bermaksud ingin menghibur.
Ay Ay itu termasuk orang yang jarang stres. Namun, tugas ini berhasil membuatnya kelihatan kusut sampai aku merasa tidak enak karena sudah bisa berleha-leha.
Gadis berambut pendek sebahu itu langsung tertarik, dan menitip camilan lidi padaku. Setelah mengumpulkan pesanan, aku berjalan keluar kelas. Kali ini sendirian. Nadia lagi mager, sementara Nuri sedang serius mengerjakan tugas mata kuliah kemarin.
Sepasang kaki beralaskan wedges cokelat tua, melangkah santai menuju kantin Bengkok. Ketika tiba di tempat tujuan, aku langsung menghampiri konter yang menjual aneka camilan di sisi kanan kantin. Setelah membeli lima bungkus lidi asin dan pedas, aku beralih ke konter minuman untuk memesan jus mangga. Sembari menunggu pesanan dibuat, kuputuskan untuk duduk di salah satu kursi beton yang terletak di pinggir kantin. Berselancar di dunia maya, menjadi pilihanku untuk menyibukkan diri.
Saat tidak sengaja melihat ke arah jalan masuk kantin, tubuh ini mendadak kaku. Mataku berhenti di sosok cowok yang selalu aku cari-cari. Faris! Dia sedang berjalan sendirian ke arahku. Aura penuh karismanya langsung melemahkan kesadaran. Mataku sampai harus mengerjap beberapa kali, sampai aku yakin kalau saat ini sedang tidak bermimpi. Bukan sulap bukan sihir. Tanpa aba-aba, tubuhku bergerak sendiri. Berjalan cepat menghampiri Faris, sampai dia kelihatan kaget dengan kemunculanku yang tiba-tiba.
“Hai, Kak!” seruku padanya. Wajah bercahaya itu, menengok penuh keterkejutan. Namun, sebuah senyum manis tetap terukir memanjakan indra penglihatan yang selalu haus akan sosoknya.
“Eh, Mehira. Sendirian aja, Ra?” tanya Faris dengan begitu ramah, sampai rasanya mau meleleh di tempat.
Kepalaku mengangguk spontan tanpa mengalihkan pandangan. Tatapan kami sempat terputus ketika Faris memalingkan kepala untuk mengambil nota makanan dari ibu penjual. Lalu, ia menatapku lagi. Setia menunggu sampai lawan bicaranya kembali membuka suara.
Degup jantung yang sudah tidak normal sejak beberapa saat lalu, semakin memperparah keadaan. Aku jadi tidak bisa berpikir jernih. Hanya satu hal yang tebersit dan seolah-olah mendesak ingin diungkapkan.
“Hm ... itu, Kak.”
Mataku mengerling untuk memastikan sesuatu yang sudah sangat jelas. Suasana kantin sepi. Tidak ada anak TPB satu pun. Keadaan ini begitu mendukung jiwa nekatku untuk menyeruak keluar. Masalah akibat dan konsekuensi, bisa dipikirkan lagi nanti. Kedua telapak tangan sudah mengepal, helaan napas pun telah ditarik sedalam mungkin.
Sekarang, Mehira! Sekarang!
“Aku suka sama Kak Faris!” Aku berseru dengan suara lantang, hingga menggema ke seantero kantin.
Mulut ini langsung mengatup, begitu sadar sudah menyatakan cinta di depan banyak orang. Ulahku tadi, berhasil mendatangkan tatapan kaget yang berasal dari para penjual makanan yang ada di sekitar. Tidak terkecuali Faris. Ia berdiri mematung. Bahkan mulutnya sedikit menganga.
“Ka-kamu, serius, Ra?” tanya cowok yang sedang memelototiku, hingga netra cokelat gelapnya terlihat utuh. Ia mengarahkan tatapan lurus ke bola mata yang tidak mampu berkedip.
Ingin sekali aku menjawab iya, tapi lidah ini masih terasa kelu seusai dipaksa menyuarakan isi hati yang terpendam sejak lama. Aku hanya mampu mengangguk pelan, sambil menelan ludah kasar.
Ya Allah ... tolong Mehira, ya Allah ...
to be continued