RUMAH NENEK INUR

721 Kata

Ba'da maghrib.. Aku, mas Hendrik, paman juga acil mengantarku menuju rumah nenek Inur. Ada yang harus kami tanyakan pada beliau, tentang ilmu yang selama ini di pelajari oleh abahku. Tentang ilmu nenek Aminah tentang semua kejanggalan yang terjadi pada kami. Kami berjalan beriringan, lampu jalan yang redup membuat aku berjalan sangat hati-hati. Beruntung tadi aku mengenakan sendal jepit andai ku pakai sepatuku dijamin aku akan terpeleset. Angin berhembus tak kencang namun dingin. Melintasi sebuah tanah lapang acil dan paman berhenti. "Itu makam nenek dan kakekmu. "Ucapnya menunjuk pada makam yang tergeletak tak rata. Sudah jadi kebiasaan di sini bila makam keluarga berjajar dengan tempat tinggal. Tidak menakutkan bagi warga. Sudah sangat biasa. Aku menatap makam dengan penutup

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN