Aku menangis terisak, ada hendrik lelaki baik itu di sampingku, ia masih menuntunku dengan kebaikan hatinya, ia tak letih meski tau air mataku tumpah ruah. Mestinya ia terluka telah mendampingiku sejauh ini tetapi justru air mata yang ku berikan. Mestinya ia bertanya untuk apa air mataku tumpah, mestinya ia cemburu apakah aku masih cinta pada mantan suamiku ?, mestinya ia menyesal telah mendampingiku dan tak dapat apa-apa dari perjalanan panjang ini. Tapi Hendrik seperti manusia berhati dewa, dengan baik ia memperlakukanku bahkan saat tahu air mata yang mengalir sangat deras di pipiku. Hendrik tidak marah sedikitpun, ia tidak mengumpat atau memaki. Seperti pagi ini, ia membawaku ke ruang makan yang telah disediakan oleh hotel tempat kami menginap. “Kamu mau makan apa ?” Tanyanya dalam

