*drrtttddrrrtttt*
Sudah getaran yang ke... Entahlah Septa tidak menghitungnya. Tapi, yang pasti malam ini ponselnya berisik sekali. Padahal ia baru memejamkan mata lima menit lalu karena lelah menangis. Dan sekarang ponsel pintarnya mengacaukan semua! Salahkan Septa juga yang tidak mematikan ponsel atau setidaknya menyalakan mode silent.
Dengan berat hati akhirnya cewek berbaju kombor itu melihat ponselnya. Banyak notifikasi pesan masuk. Bahkan puluhan panggilan dari beberapa teman seprofesinya. Septa memutar kedua bola mata, jengah. Palingan semua pesannya berisi pertanyaan di mana keberadaanya atau ucapan selamat ulang tahun. Untuk itu ia memilih cuek dan bersiap tidur kembali.
Hanya dalam satu tarikan selimut harusnya Septa bisa kembali menutupi wajah. Tapi, lagi-lagi ponselnya kembali berdering. Dan oke baiklah untuk kali ini ia akan menjawab panggilan dari... Lolita? Tunggu, tunggu. Tumben sahabatnya itu menelfon Septa? Karena walaupun mereka teman dekat, Lolita jarang menghubungi Septa kalau tidak ada hal yang penting. Ia lebih suka mendatangi rumah Septa secara langsung lalu bercerita panjang lebar daripada harus menelefonnya.
Tanpa berfikir dua kali, Septa langsung mengangkat panggilan dari Lolita. "Iya?"
"WOI GILA LO KE MANA AJA SETAN?!" Sambarnya cepat.
"Anjing ngegas banget lo." Yang ada dipikirannya saat ini adalah kemarahan Lolita disebabkan oleh tidak hadirnya Septa dalam party khusus perayaan ultahnya. "Gue udah bilang kalau gue lag-"
"Bukan itu t***l! Lo tuh punya otak gak sih? Udah terkenal di mana-mana malah bikin sensasi murahan kayak gitu!" Sahut Lolita lagi.
Dahi Septa berkerut. Sensasi murahan? Apa maksudnya? "Lo mau anjlokin karier ya? Udah bosen jadi model dan siap jadi gembel? Lo nemu Dilannya Lucinta Luna ya? Terus sekarang mau nyaingin kehaluan b*****g itu juga? Iya?" Lanjut temannya lagi.
Septa semakin mengerutkan kening. Ia sama sekali tidak paham dengan ucapan Lolita. Bosan jadi model? Bahkan sampai ingin menyaingi kehaluan si b*****g super halu itu? Hah, yang benar saja! "Loli, gue bener-bener gak ngerti maksud lo."
"Makanya punya otak itu dipake! Punya ponsel juga jangan buat nerima endorsan doang!"
"Loli to the point aja deh," mohon Septa.
"Maksud postingan terakhir di ig lo apa?"
Septa bergeming. Mencoba mengingat-ingat postingan terakhir di Instagramnya. Seingatnya ia memosting... "Postingan lo udah nyebar disemua akun gossip. Dari akun gossip ecek-ecek sampai level lambe nyocot yang terkenal dikalangan artis nasional. Great job, Dee... Lo berhasil!"
Sepersekian detik Septa masih diam. Berusaha mencerna ucapan sang teman. "Lo bikin nama baik lo tercemar. Siap-siap aja karier lo musnah. Percuma selama ini kita berjuang sama-sama lalu lo hancurin gitu aja!"
"Gue masih nggak ngerti,"
"Ck! Lo cek akun lambe nyocot, panutan ghibah, penghuni neraka, dan semua akun-akun gossip online lainnya. Intinya mereka semua udah sebar postingan lo! Gue nggak nyangka lo sebego itu, Dee. Kecewa."
Setelah panggilan terputus, Septa langsung membuka akun Instagramnya. Kali ini fokusnya adalah membuka akun gossip, jadi untuk sejenak ia abaikan komentar-komentar para fans maupun hatersnya.
Septa mengetik 'Lambe nyocot' dalam kolom pencarian. Setelah didapat ia langsung melihat postingan akun gossip tersebut. Mata Septa melotot sempurna. Tenggorokannya mendadak kering ketika melihat postingan salah satu akun gossip online
Disukai oleh Ogahmunculagi, dan 1.563.826 lainnya.
lambenyocot baby T siapa yess?
.
Apakah mbak model sudah jebol? Tapi, sama babang yang mana yess? Bang Nandeka, bule mata biru, or babang tamvan?
.
Kuy tebak-tebakan sama minceu. Yang bener minceu kasyi ucapan selamat.
.
Btw, babynya di mana yess sekarang?
.
Tungguin ah sambil nenen asi mimper
Lihat semua 80.971 komentar
Ogahmunculagi mbak Dee udah pernah nikah? Kapan? Sama siapa?
Nanano masasi mbak Dee udah pernah naena?
Kuyjulid pasti anaknya babang Pabo yess. Buktinya mereka pernah trcyduk di salah satu hotel bareng
9 menit lalu.
Septa memukul-mukul kepala sembari merutuki dirinya. "b**o, b**o, b**o!!!"
Dengan cepat, cewek itu langsung menghapus postingan terakhirnya. Setelah menghapus postingan, ia sedikit bisa bernapas lega. Lalu Septa menghubungi Lolita. "Gimana? Udah sadar seberapa begonya?"
"Ihh Loliii!!!"
"Dari 1-10 nilai kebegoan lo itu 10. Perfect banget."
"Gue gak sadar-," sanggah Septa.
"Lo kapan sadarnya sih? Pinternya juga kapan? Nunggu bulan purnama datang?" Cibir Lolita.
Lolita ini ratu julid, suka ngomong ceplas-ceplos pula. Sebenarnya sebelas dua belas sama Septa. Tapi, kejulidan Lolita berada satu tingkat di atasnya. Dan mungkin ini adalah karma karena Septa sering nyinyirin Cilla-sahabatnya yang lain.
Septa memilih mengabaikan Lolita yang masih terus berbicara. "Lo tuh bacot banget sih?" Potong Septa karena sudah bosan mendengar celotehan temannya.
"Ya ini karena lo b**o!"
"UDAHLAH POSTINGANNYA JUGA UDAH GUE HAPUS!" teriak Septa kesal.
Hening.
Satu detik...
Dua det- "AAAAA BENER-BENER b**o LO BICTH!!!!! DI MANA LO SEKARANG? MAU GUE SAMPER!" Kata Lolita emosi.
"Apa sih lo tereak kek-"
"Jawab di mana lo sekarang!"
"Rumah bokap."
"Kejauhan kalau gue samper ke rumah lo. Kita ketemuan di apartemen aja. Nggak ada penolakan! Bye maximal! " Setelah itu panggilan terputus.
Pemaksaan! Apa-apaan ini? Sialan. Tapi, tidak apa-apa Septa juga butuh udara segar. Jadilah ia pergi ke apartemen malam-malam.
Tepat pukul setengah satu malam, Septa sampai di apartemen. Sebenarnya ia berangkat dari rumah sejak dua jam lalu. Tapi, sengaja berkeliling kota Jakarta dulu sebelum menginjakan kaki ke apartemen. Persetan jika nanti Lolita memarahinya.
Pintu lift terbuka beberapa orang berjalan ke luar termasuk Septa. Cewek berjaket putih itu menekan password pada pintu apartemen. Dan pemandangan saat pintu terbuka adalah ramai. Musik yang dinyalakan dengan volume tinggi, lampu kelap-kelip layaknya disco, beberapa orang berjoget tak beraturam. Memang mirip dengan club malam apartemen ini.
Septa masih menenteng kantung belanjaan berisi beberapa minuman kaleng beralkohol dan makanan ringan. Masuk ke dalam ia berjalan menuju meja bar. Belum sempat menaruh barang belanjaan, tiba-tiba tubuhnya ditarik seseorang.
Pria bertubuh tinggi dengan kulit sawo matang itu langsung membawa Septa dalam dekap hangatnya. Ia juga mengecup bibir gadisnya cukup lama. "Nuttela. I love it." Katanya.
Septa tersenyum sembari menjauhkan tubuh prianya. "Uh... Pinternya Paboku."
Cewek itu duduk di meja bar sembari membongkar semua belanjaannya. Nandeka mendekat, melingkarkan tangannya pada perut rata Septa. Cowok itu mulai berulah. Mengecupi leher jenjang gadisnya. "Bo no." Peringat Septa sembari membuka botol minuman alkohol.
"Kamu ke mana aja seharian ini? Terus kenapa nggak datang ke party? Aku udah siapin kejutan buat kamu. Tapi, kamu nggak datang. Sedih tau Dee." Katanya duduk dihadapan Septa.
Rengekan manja Nandeka berhasil membuat Septa geli. Ia juga malas berhadapan dengan cowok yang sedang dalam tahap merajuk itu. Tapi, bagaimana lagi, ini juga kesalahan Septa. Sudah jauh-jauh hari Nandeka mengatur pesta ulang tahunnya. Ia juga mengundang seluruh model dalam agen yang dinaunginya. Pesta siap digelar. Tapi, seketika gagal karena Septa tak kunjung datang.
Berkali-kali Septa mengecewakan cowok itu. Tapi, itu tak membuat Nandeka menyerah. Ia tetap suka pada Septa. Ya walaupun adegan merajuk tetap tidak bisa dihindari. "Aku kan udah bilang kalau kamu nggak perlu bikin acara gituan. Buang-buang uang Bo."
Nandeka menghela napas kasar. Padahal ini acara juga untuk membahagiakan Septa. Tapi, kenapa? Ah, sudahlah! Percuma melawan cewek, tidak akan menang! "Terus ini yang bikin apartemen aku jadi club malam siapa?" Tanya Septa.
"Gue. Kenapa? Keberatan lo?" Jawab Lolita muncul di belakang Septa.
Belum sempat melontarkan makian, satu jitakan kasar mendarat di kepala Septa. Membuat cewek itu mengaduh kesakitan. Benar-benar sialan memang si Lolita-Lolita ini! Yang dijitak mengelus kepalanya, sementara Lolita mengambil alih tempat duduk Nandeka. "Eh admin lambe nyocot pergi lo. Gue mau bicara empat mata sama Dee."
Bukannya menuruti apa kata adiknya, Nandeka malah memangku Septa. Segala menjahili Septa dengan mengelitiki lehernya pula! Bikin Lolita mupeng saja. "Gue calon pendamping hidupnya Dee ya. Jadi apapun yang menyangkut my baby, gue perlu tau."
Selalu begitu. Sepasang kakak beradik itu tidak pernah akur. Kapan pun dan di mana pun. "Tengkar terus sampai lucinta luna lahiran." Sindir Septa.
Lalu dua orang lainnya saling memutar kedua bola mata jengah. "Ok-ok!" Awal Lolita. Daripada terus berdebat dengan abangnya mending Loli mengintrogasi Septa. Lebih berfaedah.
"Sebelumnya gue mau jitak pala lo lagi, Dee." Tangan Lolita terulur bersiap menjitak kepala Septa. Dan dengan cepat Nandeka menghentikan kekerasan yang akan dilakukan adiknya.
"Lo bisa gue laporin tindak kekerasan loh Lol!" Ancamnya berhasil membuat Lolita mengurungkan niat.
Kan sudah Lolita bilang, tidak enak mengobrol jika ada Nandeka. "Eh anjing diem deh lo!"
Tak terima, Nandeka menjawab. "Lo ngatain gue anjing?"
Demi Tuhan... Septa bosan. Untuk itu ia membanting kaleng minuman ke meja bar keras-keras. "Lo emang anjing. Buktinya Dee manggil lo Pabo. Lo sadar nggak sih apa arti panggilan itu, ha?"
"Itu panggilan sayang Septa ke gue ya. Lo jangan iri dong!"
"Waktu nyokap lo berdua hamil. Beliau sering makan pepaya sama pisang ya? Gilak anaknya pada bacot semua!" Sindiran Septa kembali menenangkan dua orang itu.
Kembali ke bahasan, Lolita mulai memasang tampang serius. "Lo ngapain hapus postingan di i********:?" Tanyanya to the point.
"Oh iya soal postingan kamu di i********:. Kamu ngapain posting tangan bayi sih Dee? Kamu ngasih kode ke aku? Iya?" Itulah Nandeka dengan segala kelebihannya.
Septa tak ambil pusing dengan ucapan Nandeka. Ia hanya tertarik dengan pertanyaan Lolita. Tapi, Septa tak punya jawaban dari pertanyaan temannya. "Lo tuh b**o mikir-mikir Dee!"
"Ya gue mau ngehapus-"
"b**o! Kalau gini semakin mencurigakan dan membenarkan opini para akun gossip online bahwa lo udah punya anak."
Skak mat! Septa diam. Benar juga apa yang dikatakan Lolita. Tapi, memang kenyataan juga kan bahwa Septa pernah melahirkan?
Cewek itu berdecak panjang. Bodoh. Benar-benar bodoh! Lalu sekarang ia harus apa? Tau bahwa Septa gelisah membuat Nandeka ikut merasakan hal yang sama. "Kalau nanti ada wartawan atau apa, aku siap nemenin kamu." Katanya.
"Bukan soal wartawan dan sejenisnya. Tapi, soal nama baik seorang Septania Dena yang sedang dipertaruhkan saat ini!" Ucap Lolita lagi.
Lagi untuk kesian kali hari ini air mata Septa kembali turun. "Loli mending lo cabut deh. Suruh semua bubar juga. Biar gue yang ngomong sama Dena." Kata Nandeka.
Melihat sorot permohonan dari mata Sang Abang, Lolita mengangguk patuh. Ia pergi dari hadapan Septa dan Nandeka. Juga menghentikan pesta dadakan yang diakan di apartemen Septa. Lampu masih dibiarkan menyala. Tapi, lagu yang tadi menggema sudah dimatikan secara paksa. Mereka yang tadinya memenuhi sebagian ruang di apartemen Septa juga sudah membubarkan diri. Yang tersisa hanya Sepra dan Nandeka saja.
Cewek itu masih terus menangis. Ia sudah berpindah tempat dari pangkuan Nandeka. Sekarang Septa duduk tepat dihadapan kekasihnya. "Cerita ke aku apa saja."
Septa menggeleng, tidak mau. Sebenarnya ia mau bercerita. Tapi, Septa malu. Ia terlalu malu dengan aib masa lalunya. Nandeka mengangguk sembari mengelus punggung tangan Septa. "Oke kalau nggak mau cerita."
Sifat tidak suka memaksa Nandeka yang selalu membuat Septa jatuh cinta setiap detiknya. "Maafin aku." Ucap Septa memeluk tubuh kekar Nandeka.
"Its okay, babe. Kamu boleh cerita kapanpun kamu mau."
"Aku mau tanya sesuatu ke kamu. Tapi, kamu jawab jujur ya." Kata Septa melepas pelukan dan beralih menatap kekasihnya.
Nandeka mengangguk. "Kamu udah liat postingan di Intagram aku? Kamu percaya?"
Bukannya menjawab, cowok itu malah mengacak rambut Septa. "Semua orang punya masa lalu. Aku, kamu, dan semua. Ada yang bisa menerima dan ada yang tidak. Lalu aku... Apa yang bisa kulakukan selain menerima? Memangnya kalau nggak nerima, aku bisa merubah masa lalu kamu?-"
Sebenarnya jawaban Nandeka masih panjang. Tapi, Septa sudah lebih dulu memeluknya dan mengucap terima kasih berkali-kali. Apa yang bisa Nandeka lakukan selain membalas pelukan Septa?
Nandeka semakin mengeratkan pelukan Septa. Ia juga menghirup rambut wangi ceweknya. "Apapun masa lalu kamu, aku terima Dee." Bisiknya membuat Septa tersenyum lega.
"Aku sudah menerima semuanya sejak pertama. I love you so much, Dee..." Lanjutnya.
Septa mengharu. Ternyata masih ada yang menghargainya.
tbc.
jangan lupa tap love yaa, guys.
#sasaji