Dua Sisi

1336 Kata
Adreno melirik jam di pergelangan tangannya, pukul setengah tujuh. Beberapa siswa mulai memenuhi koridor menuju kelasnya masing-masing. Sesekali, Adreno balas tersenyum ketika ada yang menyapa.   Ya. Menjadi seorang ketua OSIS harus menampilkan imej yang baik untuk murid-murid lain. Walau kadang dirinya juga merasa bosan karena harus selalu berpura-pura ramah. Kadang Adreno juga berpikir bagaimana rasanya jadi cowok biasa dan terhindar dari perhatian memuakkan?   Sayangnya, pesona seorang Adreno memang tidak bisa dihindari. Dia selalu terlihat menawan kapan pun, di mana pun, dan dalam keadaan apa pun.   Seorang cewek bacamata bulat tampak mendekat ke arah Adreno, dengan sepucuk surat berwarna biru muda di genggaman. Maniknya berbinar cerah ketika menyodorkan suratnya. "Ini buat Kakak."   Adreno tersenyum tipis, menerima dengan tangan terbuka. "Terimakasih." Cewek itu tertegun saat melihat senyum tipis yang dilemparkan sang ketua OSIS.   Adreno punya senyum paling menawan se-antero Pandhawa--ya, mungkin seperti itu yang dikatakan orang-orang. Dengan lesung pipitnya yang dalam, iris berwarna abu-abu cerah, dan sepasang alis tebal yang membingkai kelopak matanya, melengkung sempurna.   Bahkan, cowok normal pun akan menoleh dua kali saat melihat senyuman itu.   Adreno mengibaskan tangannya di depan wajah cewek itu. "Hey, kenapa bengong?"   Cewek berkacamata segera tersadar dari lamunan. "Eh, ah... ya Kak, sama-sama."   Dia tampak salah tingkah. Dengan kedua pipi yang merona merah. "Eh, aku... ke kelas dulu ya Kak."   Setelah mengatakan itu, cewek yang tidak Adreno ketahui namanya itu segera berbalik, kemudian berlari dan menghilang di ujung koridor.   Adreno kembali melanjutkan langkah. Melemparkan surat itu ke arah tong sampah pertama yang ditemuinya dengan santai.   Sebab, Adreno sudah sering mendapat surat cinta setiap harinya dari gadis yang berbeda-beda. Tapi tak sekalipun surat dari mereka Adreno baca. Dia lebih suka menerima tanpa mau repot-repot menyimpannya. Lagipula~ dirinya sudah hafal betul dengan isi surat-surat itu; sebuah pernyataan cinta ala remaja labil.   "Adreno!"   Langkah Adreno terhenti. Berbalik, ada Raditya yang tengah mengatur pernapasan sambil membungkuk.   Adreno memasukkan kedua tangannya pada saku celana. "Ada apa?"   Radit berhasil mengatur napas. Menegakkan tubuh, ia menyodorkan gulungan kertas berwarna perak ke arah Adreno. "Coba liat! Dan lo gak bakal percaya sama isinya!"   Adreno mengangkat alis, kemudian menerima kertas itu dan membukanya perlahan. Senyum tipis langsung menghiasi wajah rupawannya. "Ancaman, eh?"   Raditya memutar bola mata,"Seseorang lagi nyoba mau bunuh lo, g****k!"   Untuk seseorang yang baru saja mendapat surat ancaman, raut wajah Adreno terlihat terlalu santai. Seolah, semua itu tidak ada artinya. Entah karena sudah terbiasa mendapat hal semacam itu, atau terlalu menyepelekan?   Adreno melemparkan gulungan kertas itu ke tempat sampah. Raut wajahnya berubah dingin. "Saya enggak peduli."   Setelahnya, Adreno melenggang santai menyusuri koridor. Kembali mengulum senyum.   Sementara itu, Raditya mengambil napas. Menatap nanar pada gulungan kertas di dalam tong sampah. Nyatanya, Radit sudah terbiasa dengan tingkah Adreno yang seenaknya.   Sebab, tidak ada seorangpun yang bisa mengancam seorang Adreno Yudhistira. Karena sebelum mereka berhasil melaksanakan rencananya, mereka sudah terlebih dahulu mengemis dan meminta ampunan.   Ya. Adreno memang se-mengerikan itu. Namun, bukankah hal itu juga yang membuatnya terlihat semakin menarik? Adreno dan sisi gelapnya. Dua topeng dalam satu wajah. Menawan, sekaligus membawa teror pada setiap langkah yang ia pijak.   ***   Alvira berjalan tertatih. Lututnya berdarah karena dia terlalu kencang memacu skateboard, terjatuh di trotoar dekat pertigaaan menuju Pandhawa. Salah teknik waktu rem mendadak. Dan, seolah belum cukup sial, gerbang sekolah yang tertutup pun juga ikut mengejeknya.   Alvira bisa saja melompati pagar dan mendarat dengan mulus. Tapi keadaannya enggak memungkinkan. Sebab, dari balik tembok itu, pasti pak Bambang sudah siap dengan tongkat kebanggaanya. Hanya tinggal menunggu waktu saja sampai tongkat itu mendarat mulus di kepala Alvira. Dan, tentu. Alvira masih sayang sama kepalanya yang cantik ini.   Apa dia pulang saja?   Tapi, nanggung juga sih. Alvira sudah mengorbankan lututnya buat mencium aspal. Masa harus putar balik lagi? Sia-sia dong.   Alvira mendesah, udah terlalu capek buat berpikir. Ia meletakkan papan skate-nya di tanah, menyusul pantatnya kemudian, berselonjor kaki. Seluruh seragamnya nyaris basah karena keringat.   Alvira capek banget, beneran. Haus. Perlu kipas segede pohon sama es teh. Boleh nggak sih kalau Alvira berharap ada ibu peri yang bakal mengabulkan permintaannya? Enggak perlu tiga permintaan deh. Satu aja udah cukup kok. Beneran. Alvira cuma butuh es teh.   "Telat lagi, Alvira?"   Eh?   Alvira berkedip. Menoleh, pintu gerbang Pandhawa sudah terbuka dengan pak Bambang yang berkacak pinggang sambil geleng-geleng kepala.   Alvira meringis sambil menggaruk tengkuknya, "Maaf Pak. Tadi abis kecelakaan. Nih lihat kaki saya," Alvira memasang wajah memelas sambil menunjuk lututnya yang terluka. "Bapak lihat sendiri kan? Bocor ini lututnya. Butuh tukang tambal lutut."   Pak Bambang hanya mengangkat alis, tak peduli dengan alasan salah satu murid paling nakal se-Pandhawa. Refleks tangannya menjewer telinga Alvira hingga membuat sang empu meringis. "Saya tahu kelakuan kamu, Vira. Abis tawuran di mana lagi hari ini?"   Alvira meringis, mencoba melepaskan tangan Pak Bambang yang menyandra telinganya. "Sakit Pak. Duh... ntar kalo kuping saya copot gimana? Bapak mau ganti? Harga kuping lagi naik tau Pak," bibirnya mengerucut. "Lagian juga. Mana ada tawuran pagi-pagi? Emangnya mau bantuin nyapu jalan. Bapak suka ngaco deh."   "Dasar. Kamu itu ya. Dibilangin berkali-kali, masih saja bandel," Pak Bambang melepaskan jewerannya. Menggelengkan kepala, tak habis pikir dengan kelakuan Alvira yang melebihi batas normal sebagai seorang perempuan. "Sudah tahu kan, hukumannya apa?"   Alvira menghela napas berat. Mengelusi kupingnya yang memerah. "Bapak gak kasihan sama saya? Kaki saya lagi sakit Pak."   "Tidak. Sana ke lapangan. Bapak awasi dari sini," titahnya tegas seraya menunjuk lapangan bendera.   Alvira menatap lapangan itu horror, di sana terlihat sangat panas dan gersang, debu-debu yang mengancam menyesakkan napas beterbangan tertiup angin seolah mengejek. Tanpa sadar, Alvira bergidik ngeri. Neraka dunia itu mah.   "Malah bengong. Cepat laksanakan!"   Alvira sedikit tersentak. Ia meringis ngilu dengan bahu terkulai lemah. "Iya Pak."   Alvira mengambil papan skatenya, berdiri. Lalu dengan langkah tertatih, ia menggerakkan kakinya untuk menuju tiang bendera dan berdiri di sana. Pasrah, menerima nasib. Ya walaupun hatinya kerasa dongkol pengen gigit orang. Hah. Harusnya Alvira enggak nolak waktu ditawari berangkat sama Reyhan tadi.   Alvira menjatuhkan tas punggungnya begitu saja di tanah, menyusul skateboard kesayangannya. Lalu mulai berdiri dengan sikap hormat, menengadah sembari menatap sang saka merah putih yang berkibar dengan gagah di atas sana.   Sementra itu, Pak Bambang mulai menjalankan tugasnya, mengawasi Alvira sambil sesekali mengusap janggut lebatnya.   Lima menit berlalu dalam hening. Alvira menelan ludah buat membasahi kerongkongannya yang mengering. Rasanya udah kayak kerupuk terasi aja dijemur. Nanti kalau Alvira jadi item gimana?   Suara kaleng yang terlempar membuat fokus Alvira teralih. Matanya langsung mengedar, hingga menangkap sosok cowok yang sedang berdiri di depan mading—membelakanginya sambil memasukkan tangan kiri pada saku celana.   Alvira menyipitkan mata saat melihat sebuah benda berkilau di genggaman tangan kanan cowok itu. Keningnya berkerut, menerka-nerka, kemudian menyadari sesuatu. Benda berkilau itu adalah pisau lipat!   Alvira mematung sesaat, dia saja yang suka tawuran tidak pernah sekalipun membawa benda tajam ke sekolah. Karena pihak sekolah biasanya akan mengadakan operasi mendadak. Tidak ada satu murid pun diizinkan untuk membawa benda tajam dalam bentuk apa pun ke sekolah. Dan jika sampai ketahuan, maka hukumannya adalah drop out.   Dan... tentu saja ada sesuatu dibalik larangan itu. Menurut rumor yang beredar, salah seorang murid angkatan terdahulu ada yang ketahuan membunuh temannya di gudang sekolah menggunakan benda tajam. Karena itulah, sekolah benar-benar ketat dalam hal itu.   Siapa sebenarnya cowok itu? Kenapa dia berani sekali?   Pertanyaan di benak Alvira langsung terjawab saat cowok itu berbalik. Manik arangnya melebar saat mengenal sosok itu.   Dia adalah Adreno Yudhistira! Ketua OSIS yang paling ditakuti dan disegani seantero SMA Pandhawa.   Dan kini... cowok itu tengah melayangkan tatapan tajam ke arahnya, menyelidik. Seolah Alvira seorang tersangka di tempat yang salah.   Siapa yang tidak kenal dengan Adreno? Sang ketua OSIS dengan sikap dan ketampanan bak malaikat itu terkenal hingga ke seluruh penjuru SMA Pandhawa. Dipuja, diagungkan layaknya dewa. Enggak ada siswa yang berani menentangnya terang-terangan.   Alvira bergidik. Sedetik kemudian berdecih. Adreno adalah deretan pertama nama cowok yang harus dirinya hindari. Bukan karena Alvira takut, tapi dia tahu kalau sekali saja punya masalah dengan Adreno, enggak ada lagi jalan buat keluar.   Tapi,   Sepertinya mengerjai cowok itu sekali-kali enggak ada salahnya. Alvira butuh hiburan. Dan Adreno adalah kandidat yang paling tepat.   Kapan lagi bisa melihat cowok paling sempurna di Pandhawa terseret kasus?   ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN