7. January, 1st.

1502 Kata
Tepat di usianya yang menginjak 28 tahun, juga di hari pertama tahun baru, untuk pertama kalinya, Alya bangun tidur dalam pelukan seorang pria. Seharusnya Alya tidak terkejut bukan? Sebab ia sadar mereka memang menghabiskan malam bersama. Akan tetapi tetap saja Alya terperanjat kecil saat merasakan pergerakan kecil di permukaan perutnya. “Good morning.” Suara serak menyapa pendengaran Alya. “Morning.” Setelah mendapatkan balasan, bukannya pelukan itu dilepas, pria di belakangnya itu justru memeluknya semakin erat. Apakah pasangan yang habis one night stand memang biasanya begini? Ia pikir seperti yang ada di novel-novel. Setelah berhubungan s*x perempuannya akan ditinggalkan sendiri di kamar hotel, tapi ternyata… Mark tidak meninggalkannya? Why? “Mark.” “Hm?” “Apa semalam kamu puas dengan permainanku?” Alya ingat betul bagaimana ia membalas gerakan-gerakan Mark dengan sama gilanya seperti yang pria itu lakukan, bergerak liar demi mencapai puncak kenikmatan. “Atau justru… aku membosankan?” “Membosankan?” Alya mengangguk. “Kenapa kamu berpikir begitu?” “Jawab saja. Jika dibandingkan pengalamanmu sebelumnya, permainanku ini bagus, buruk atau membosankan?” Tak ada jawaban. Alya melirik Mark sesaat. Apakah permainannya seburuk itu sampai Mark tidak berani memberinya jawaban? “Mark.” “Seharusnya kamu bisa menilai sendiri.” Ah… itu berarti ia benar-benar buruk. Kalau memang yang ia lakukan itu memuaskan Mark. Pria itu tidak akan berbelit-belit. Dia akan langsung menjawabnya. “Apa kamu puas Mark?” Kekehan kecil terdengar, diikuti kecupan ringan di pundaknya. “Serius Al kamu mempertanyakan itu?” “Apa aku seburuk itu sampai kamu tidak mau langsung menjawab?” “Mau mendengar jawaban jujur?” Alya mendesis. “Sejak tadi aku menunggunya! Kamu ini ah sudahlah.” “Tidak.” “Hah?” “Aku tidak puas.” Mark berbisik, sementara Alya bisa merasakan kedua tangan Mark mulai mengelus area pusarnya lagi. Sekujur tubuh Alya kembali meremang, matanya terpejam erat, bibirnya ia gigit—menahan desahan ketika sebelah tangan Mark mulai merambat naik—mempermainkan d**a kirinya dan sebelah tangan lainnya turun menuju pusat kenikmatannya. “Markhh….” “Ya… sayang, sebut namaku, desahkan namaku dengan keras.” Bisik Mark seraya mengeratkan pelukannya lagi, membuat Alya membuka mata menyadari ada yang mengganjal di bokongnya. Jahil, tangan Alya meraih ganjalan itu. “Morning wood?” Mark mendesah saat Alya dengan sengaja mengurut benda pusaka itu. “It’s normal.” “I know.” “Mau coba?” “Apa?” “Morning s*x?” Alya diam beberapa saat, sebelum mengubah posisi tidur, berbalik menatap Mark. “Yasudah.” “Yasudah?” “Cuma satu kali, setelah itu lupakan semua yang terjadi diantara kita, anggap saja kita tidak pernah kenal.” Entah perasaan Alya saja atau bukan, tapi Mark seperti menatapnya dengan tatapan yang sangat dalam. “Ok.” Ucapnya lalu mengecup bibirnya beberapa kali sebelum melumatnya. Kegiatan panas itu pun berlanjut seiring dengan matahari yang mulai meninggi. Hingga desahan panjang terdengar keluar bersamaan dari Mark dan Alya, tanda puncak putih penuh kenikmatan keduanya yang kembali sampai. Mark mengguling, memeluk Alya lagi dengan erat dari arah belakang. “Happy birthday Al.” *** Tidak pernah terpikir dalam benak Alya akan mendapatkan ucapan ulang tahun setelah bercin—ah salah kegiatan tadi bukan bercinta, maksudnya setelah melakukan s*x. Terlebih ucapan itu datang dari orang asing yang latar belakang kehidupannya saja tidak ia ketahui. Terkejut? Sangat. Ya… siapa memangnya yang tidak akan terkejut? Mereka kenal belum sampai 24 jam, tapi Mark sudah memberinya kejutan manis. Pantas saja kan ia terkejut? Helaan napas keluar dari hidung Alya. Kepalanya mendongak ke arah shower, membiarkan air itu membasahi wajah dan kepalanya, mencoba membuang semua pikiran buruk yang masih saja bersarang di benaknya. Mark begitu perhatian, bahkan memberinya kejutan kecil. Mark juga terlihat enjoy dengan permainannya, dia juga terlihat puas, apalagi jika ingat desahannya yang begitu kencang. Tapi kenapa dia tidak mengatakan apapun? Apakah dibanding dengan partner-nya yang lain ia tak ada apa-apanya? Katakanlah Alya haus validasi. Ya… ia memang sedang membutuhkannya, dan tujuannya melakukan one night stand pun untuk memastikan kalau ia tidak sekaku dan semembosankan itu. Tapi sepertinya… Alya hanya terlalu percaya diri. Sepertinya ia memang seburuk itu untuk pasangannya. Kaku, membosankan. Membuat Alya semakin yakin kalau hidup tanpa pasangan jauh lebih baik daripada harus mendengar kata membosankan untuk kesekian kalinya. Tok tok! “Al masih lama? Makan siang kita sudah datang.” Aneh tidak? Bahkan setelah kegiatan pagi ini Mark masih ada bersamanya. Pria itu tidak meninggalkannya sama sekali. Apa alasan Mark masih bersamanya? Padahal bisa saja Mark pergi ketika ia masih tidur. “Tidak, aku sudah selesai.” Tak mau membuang waktu lebih banyak, Alya keluar dari kamar mandi dengan bathrobe dan handuk di kepalanya. Mark menyambut di depan pintu, tersenyum tipis. “Ganti pakaianmu. Aku tunggu di ruang tengah.” Kening Alya mengerut saat melihat gaun yang terletak di atas ranjang. “Mark ini bukan milikku.” “Gaunmu robek Al. Itu penggantinya.” Oh. Alya memandang gaun berwarna sama dengan gaunnya semalam. Hanya saja gaun ini lebih tertutup, jauh berbeda dengan gaunnya yang memiliki d**a rendah. Tidak hanya itu, ternyata Mark juga memberinya satu set lengkap dengan pakaian dalam. Glup. Alya meneguk ludah kasar. Pas. Semua yang ia pakai berukuran pas. Bahkan gaun merah itu pun sangat pas membingkai tubuhnya. Bagaimana bisa Mark memilihkan pakaian dengan ukuran pas begini? Kepala Alya menggeleng kecil. Tentu saja karena dia pro player. Tidak mungkin dia seahli ini dalam memilih, jika bukan karena sangat berpengalaman. “Mark.” Pria itu menoleh, menatapnya lamat beberapa waktu sebelum berujar pelan. “Bagus. Ternyata pas.” Alya mengangguk. “Duduk, makan dulu sebelum pulang.” Alya duduk bersebrangan dengan Mark. Menikmati santap siang dalam diam. “Berapa biaya hotel dan makanannya Mark? Biar aku bayar separuhnya.” Ujar Alya setelah menyimpan sendok, menyelesaikan sesi makan siangnya. “Tidak perlu.” “Jangan begitu. Biaya kamarnya saja pasti mahal.” “Tidak juga. Sudah jangan dipikirkan.” Sebelah alis Alya naik, menatap Mark sangsi. Mark memang kelihatan seperti orang kaya raya—ia tebak Mark mungkin saja pewaris salah satu perusahaan besar. Tapi tetap saja…. “Meskipun orangtuamu kaya. Kamu itu masih bocah. Bagaimana kalau orangtuamu bertanya kenapa kamu mengeluarkan uang yang sangat banyak hanya untuk malam ini?” “Orangtuaku tidak akan mempermasalahkannya. Mereka tidak pernah mengecek pengeluaranku.” Alya mendesis pelan. “Jangan sampai tiba-tiba ada tagihan untukku di masa depan.” Mark tergelak. “Aku bukan rentenir Al. Tenang saja. Kamu tidak akan dirugikan. Aku pastikan itu.” “Baiklah.” Alya duduk tegak, menatap Mark. Ia penasaran sesuatu. “Apa kamu sebaik ini pada semua perempuan Mark?” “Tidak. Aku hanya melakukannya padamu.” Kenapa? Tanya Alya dalam hati, tapi kemudian ia telan dalam-dalam. Ia tidak siap mendengar jawaban Mark. Ia takut, Mark melakukannya hanya karena kasihan saja. “Katakan saja. Apa yang kamu pikirkan?” “Tidak ada.” Mark menatapnya intens. “Bohong.” “Tidak. Untuk apa aku bohong?” “Perempuan memang gengsian ya.” Mark terkekeh pelan. “Siapa yang gengsian? Enggak ya! Bocah kayak kamu tuh emang tahu apa?“ “Bocah?” “Iya bocah.” “Bocah-bocah begini bisa bikin enak.” Sialan! “Mark! Jangan nyebelin!” Mark tergelak. “Kamu yang mulai.” “Sudah jangan dilanjutkan. Seperti yang kubilang. Setelah kita keluar dari tempat ini lupakan semuanya, anggap gak terjadi apapun diantara kita dan anggap saja kita tidak mengenal sama sekali.” “Tidak bisakah kita berteman?” “Tidak. Cukup. Ini pertemuan pertama dan terakhir kita Mark. Aku harap kita tidak akan pernah bertemu lagi.” Tegas Alya. Mark menghela napas panjang. “Baiklah.” “Good.” Ujar Alya kemudian berdiri yang diikuti oleh Mark. “Aku akan pulang sekarang.” Alya mengulurkan tangan, yang segera disambut oleh Mark. “Terima kasih atas kerja samanya.” Belum sempat Mark menjawab, Alya melepaskan genggaman itu kemudian meraih tas yang tergeletak di atas meja. “Al.” Langkah Alya terhenti. “Izinkan aku mengantarmu sampai basement.” “Yasudah. Ayo.” Tidak seperti malam sebelumnya, kali ini Mark dan Alya berdiri berdampingan dengan kaku. Jangankan sentuhan, pembicaraan pun tidak terdengar lagi. Hingga sampailah mereka di basement. Barulah Mark membuka suara. “Dimana mobil kamu Al?” “Itu.” Mark mengekori Alya sampai di depan mobil berearna putih bersih. “Sekali lagi terima kasih kamu sudah bersikap baik padaku. Sekarang kamu bisa pergi ambil mobilmu.” “Ini.” “Hm?” “Mobilku.” Tunjuk Mark pada mobil Tesla putih yang berada tepat di samping mobilnya. Wow. Kebetulan yang luar biasa. Mark tersenyum tipis. “Al.” “Hm?” Alya kembali berbalik saat hendak memasuki mobilnya. “Aku ingin bilang sampai jumpa, tapi kamu bilang ini pertemuan pertama dan terakhir kita.” Alya tersenyum tipis, memandang Mark dengan lamat beberapa waktu sebelum berujar pelan. “Selamat tinggal Mark.” Alya memasuki mobilnya. Menghidupkan kendaraan itu kemudian menginjak gas. Meninggalkan Mark yang masih berdiri di tempat itu. Hembusan napas berat keluar dari hidung Alya. Dengan begini, biarlah tanggal 1 Januari hanya menjadi kenangan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN