Tatapan dingin memicing tajam, terhunus ke arah sebuah mobil CUV hitam yang terparkir apik di halaman apartemen itu. Mobil yang sangat ia kenal, mobil yang bisa ia pastikan kalau mobil itu milik kekasihnya.
Buru-buru Alya meraih ponsel, mendial nomor sang kekasih.
“Hallo sayang?”
“Mas. Masih lama lemburnya?”
Kekehan kecil terdengar dari sebrang. “Al kita telponan belum sampe dua puluh menit yang lalu loh.”
“Ya siapa tahu sudah selesaikan? Aku punya hal penting yang harus diobrolin Mas. Tentang permintaan Ambu dan Abah, Mas pasti ngertikan ke arah mana permintaan Ambu sama Abah? Kita harus obrolin sekarang Mas. Gak ada waktu lagi.”
“Al kenapa kamu jadi kayak anak kecil begini? Gak biasanya kamu ngerengek.”
“Aku bukan merengek. Aku cuma butuh kepastian. Gini deh. Sekarang kamu dimana? Biar aku ke sana. Cuma sebentar kok.”
“Aku udah bilang, aku di kantor. Jangan, jangan datang. Bos aku bisa marah kalau ada orang luar. Dia lagi sensitif sekarang. Semua orang lagi kena getahnya.” Tangan Alya terkepal erat. Kesal, mendapati sang kekasih dengan nyatanya berbohong.
“Bos kamu gak profesional banget. Meskipun kata kamu dia masih muda gak bisa selalu jadi alasan dia marah-marah gak jelas sama bawahannya. Apalagi kamu rajin.”
“Iya sayang aku juga gak ngerti. Sekarang kamu dimana? Di apartemenkan?” Rahang Alya pun mulai mengatup, kesal. Sekarang ia jadi tahu alasan Radit selalu bertanya ia dimana.
Bukan. Bukan karena perhatian. Dia pasti takut kebusukannya ketahuan.
“Iya aku di apart.” Jawab Alya.
“Udah dulu ya Al? Aku mau lanjut kerja lagi. Takut atasanku marah.”
“Yasudah.”
Pasca panggilan berakhir, berulang kali Alya mengatur napasnya yang mulai memburu, matanya terpejam sesaat menetralkan emosi yang bergejolak dalam dadanya.
“Bisa tolong tunggu saya? Saya tidak akan lama.”
“Baik.”
Setelah mendapatkan jawaban itu Alya beranjak, keluar dari mobil, berjalan anggun, lurus dan sangat bertekad, tatapannya begitu datar dan dingin, rahangnya pun mengatup tajam, dengan kedua tangan terkepal erat meremat tali paperbag dan tas yang ada di tangan kanannya.
Malam ini seharusnya jadi malam yang tenang untuk istirahat. Tapi nyatanya….
Langkah kaki itu melambat, lalu berhenti begitu kakinya berpijak tepat di depan pintu sebuah apartemen yang sering kali ia sambangi. Ya… sangat sering ia sambangi, karena perempuan yang sedang bersama kekasihnya itu adalah sahabat terdekatnya—ahh mantan sahabat.
Dada Alya naik turun, napasnya memburu—tersengal beberapa waktu. Menahan lelah dan kesal secara bersamaan. Tangannya terangkat, mengetuk pintu dua kali kemudian menutup lubang tempat mengintip di tengah pintu itu.
“Siapa sayang?”
Deg!
Benar, ada suara kekasihnya di sana. Ah sial. Bukan kekasih. Tapi mantan. Alya benci dikhianati seperti ini.
Sayang? Gila. Jadi selama ini kecurigaannya dan Ella benar? Radit dan Lisa benar-benar bermain api di belakangnya?
Clek!
“A—Alya?”
Alya mengangkat pandangannya, menatap dingin perempuan yang baru saja keluar dari balik pintu itu. “Kenapa kaget gitu? Kayak liat hantu aja.”
“Ah? Hah? Enggak kok. Cuma aneh aja, kok tumben dateng gak ngabarin? Kalo gue gak ada di apart gimana?”
“Gak nyuruh gue masuk nih?” Tanya Alya tanpa menjawab pertanyaan itu.
Dari tempatnya berdiri Alya bisa melihat kegugupan yang ada di wajah perempuan itu. Jelas gugup, dia pasti ketakutan sekarang.
Kesal, marah, gemuruh dalam hatinya mulai menggebu. Namun ia harus tetap tenang bukan? Ia harus mengakhiri semuanya dengan anggun, dan tentu saja dengan cara berkelas.
“Siapa yang—.” Radit muncul, setali tiga uang dengan Lisa, lelaki itu pun terkejut dengan kedatangannya.
“Alya? Ngapain kamu ke sini?”
Alya terkekeh sengau, “Bukannya aku yang harusnya tanya begitu Dit?”
Seringaian tipis Alya berikan. “Katanya lembur, kok ada di sini?”
“Anu—itu, lemburnya udah selesai. Ya… selesai. Aku tadi kebetulan ketemu sama Lisa di lobi kantor makanya aku ajakin pulang bareng, terus tadi pas di jalan aku kebelet makanya ke sini dulu, numpang buang air. Iya—gitu.”
Sebelah alis Alya naik.
“Ini aku niatnya abis ini mau ke tempat kamu kok. Tadinya mau ngasih surprise, eh malah kamu duluan yang dateng ke sini.” Radit meraih tangan kirinya yang tidak membawa apapun.
“Gitu ya?”
“Iya.” Genggaman tangan lelaki itu mengerat. “Aku gak bohong. Ini aku mau ke tempat kamu kok.”
“Tapi kayaknya gak gitu ya Ca?” Alya mengalihkan pandangannya pada Lisa yang sudah mengatupkan rahang dengan wajah yang memerah sempurna.
“Udahlah Dit. Tanggung ketahuan. Lo juga pasti udah tau kan Al? Gak usah pura-pura gak tau.” Sentak Lisa.
Sebelah alis Alya naik lagi. “Apa itu?”
“Radit sama gue udah pacaran dari dua bulan lalu.”
“Lisa!” Seru Radit.
“Apa lagi sih Dit? Lo juga bilang udah bosenkan sama dia? Lo bilang pacaran sama Alya boring kan? Gak asik? Gak usah ditutupi lagi. Jujur aja semuanya sekarang. Gak usah mau-maunya lo bersikap manis lagi padahal udah muak.”
Rahang Alya semakin mengatup, beberapa waktu Alya memandang tajam ke arah Lisa. Lalu beralih ke arah Radit yang tampak kebingungan.
“Ayo ngomong! Gak usah ditutupi lagi Dit!” Desak Lisa.
“Jujur aja.” Ujar Alya.
Pria itu menggeleng, entah untuk apa. “Al… kamu tahu kan aku tulus sayang sama kamu? Orangtua aku juga udah suka banget sama kamu. Aku—.”
“Kalo lo gak percaya gue liatin semua isi chat dia sama gue.” Sergah Lisa memotong ucapan Radit.
“Lisa!”
“Apa?! Apa Dit?! Kamu bilang kamu mau bebaskan dari dia? Yaudah ini saatnya.” Lisa menatapnya lagi. “Sejak awal kita deket, Radit yang bilang kalo dia bosen sama lo Al, pacaran sama lo terlalu datar, boring, garing. Pacaran hampir dua tahun masa cuma gandengan tangan? Lo pikir pacaran itu kayak trek gandeng?”
“Lo tuh terlalu kaku Al. Kolot.” Tambah Lisa.
Rahang Alya semakin mengatup, matanya terhunus tajam pada Radit yang kini menghindari tatapannya. Padahal Radit yang bilang kalau dia ingin hubungan yang sehat, dia juga yang bilang no s*x before married. Dia yang selalu mengelu-elukan tentang hubungan yang baik antara satu dan yang lain. Lalu sekarang jadi salahnya juga lelaki itu selingkuh?
Boring? Kaku? Kolot?! Yang benar saja.
“Radit juga bilang orangtuanya suka sama lo cuma karena lo itu Dosen! Cuma karena lo itu lulusan S-3. Cocok buat ibunya pamerin ke temen-temen arisan dia.”
“LISA STOP!”
Ah! Jadi ini alasan lelaki itu masih bertahan dengannya?
Alya menghempaskan tangan Radit. Namun lelaki itu terus berusaha menjangkaunya. “Enggak Al gak gitu. Beneran gak gitu kok Al.”
“Gak usah pegang-pegang.”
“Al.”
“Gue bilang gak usah pegang-pegang! Mulai sekarang kita gak ada hubungan lagi. Kita putus! Dan ini….” Alya mengulurkan paperbag di tangannya, tapi segera Alya jatuhkan sebelum Radit bisa meraih, hingga isi dari paperbag itu jatuh berserakan di lantai.
Bruk!
“Al inikan….”
Barang pemberian Radit.
“Sampah.” Alya kemudian menoleh pada Lisa.
“Al kamu gak perlu—.”
“Perlu. Barang ini gak ada artinya lagi. Sama kayak lo. Sama-sama barang yang harus dibuang.”
Setelah mengatakan itu Alya balik kanan, berjalan cepat tanpa memedulikan Radit yang masih berusaha mengejarnya di belakang. Bahkan sampai di halaman parkir lelaki itu masih berusaha menahan lengannya. Akan tetapi Alya menepis, lalu buru-buru masuk ke dalam mobil yang benar-benar masih menunggunya.
“Maju Mas.”
***
“Kamu itu membosankan Al, kaku. Siapa yang mau sama kamu kalau kamu masih kayak gitu? Sampai kapanpun gak akan ada yang mau.”
Alya ingat betul perkataan mantan kekasihnya sebelum ia mengenal Radit. Ia pikir hal itu tak akan terulang pada Radit, nyatanya sama saja. Radit pun berpikiran hal yang sama.
“Tuh kan bener! Apa gue bilang Al. Radit sama Lisa tuh pasti ada hubungan di belakang lo!” Respons Ella setelah Alya menceritakan drama yang terjadi padanya.
“Ya siapa yang bakalan expect sih La?”
“Ya iya sih.” Ella menyandarkan punggung di kursi. “Lisa juga gak sih yang deketin kalian dulu? Dia yang comblangin kalian.”
“Makanya.” d**a Alya naik turun, jujur saja ia masih kesal dengan kejadian semalam. Sungguh, ia sangat sakit hati. Bagaimana mungkin sahabat yang paling ia percayai ternyata berkhianat begini?
“Al… Sebenernya gue tau sesuatu, tapi gue belum kasih tau lo. Gue takut disangkain gimana sama lo. Apalagi kalian keliatan bucin banget.”
“Apa? Bilang aja. Toh gue sama dia udah putus.”
Ella menatapnya sesaat. “Gue denger katanya mereka deket gara-gara pernah tidur bareng.”
Mata Alya membesar. “Having s*x?”
“Katanya sih one night stand ya. Tapi keterusan kayaknya.”
Bangsat!
“Gue gak percaya awalnya, gue pikir itu cuma selentingan gosip temen-temen kampus kita aja.” Ujar Ella cepat. “Tapi kayaknya bener.”
Mendengar itu Alya termenung semakin dalam. “Gue emang semembosankan itu ya La sampai pacar gue aja milih one night stand sama orang lain? Gue emang kaku banget ya? Gue kolot La?”
Ella mendesis. “Siapa bilang? Dia aja yang gak bersyukur punya pacar modelan lo. Udah cantik, bohay, karir bagus, pinter juga.”
“Tapi gak cuma Radit yang bilang gitu La, mantan gue juga sebelumnya bilang hal yang sama.”
Mata Alya terpejam beberapa saat. Setiap berhubungan dengan laki-laki ia memang tak pernah lebih dari bergenggaman tangan, berpelukan, berciuman pun hanya kecupan ringan saling menempel tanpa lumatan.
Apakah ia memang semembosankan itu? Sekaku itu? Sebenarnya kalau mereka meminta lebih mungkin ia mau memberikannya. Tapi mereka bahkan selalu yang narik diri duluan. Apakah memang karena ia seburuk itu?
“Al… kenapa lo gak coba one night stand juga? Ya bukan buat apa-apa. Cuma buat buktiin aja sama diri lo sendiri kalo lo itu gak seboring, dan sekaku itu. Seenggaknya biar lo pede lagi dan ya biar lo gak kepikiran terus omongan mantan-mantan lo itu.”
Alya terdiam. Jujur saja, ucapan mereka memang sangat mengganggu. Tapi masa iya ia harus membuktikannya dengan one night stand? Bagaimana kalau malah memunculkan masalah? Penyakit kelamin dan sebagainya.
Oh no. Ia tidak mau mengambil resiko.
***
Malamnya…
Al @itsjustallaboutme
Call Me Al, F28, height 168 cm, weight 56 kg. Dom Jakarta. Looking a younger or older male for ONS at New Year’s Eve. Note: Must bring the latest medical check up results.