5. Medical Check Up

1596 Kata
December, 29th. @skyviews Ok. Btw I’m M24, height 182 cm, weight 70 kg. See you Al. Alya mengangkat sebelah alisnya. Heran. Ia pikir tak akan ada yang tertarik dengan tawarannya. Tapi ternyata ada, dan yang lebih menakjubkannya lagi pria itu masih cukup muda. Me: Ok. See you…. @skyviews Call me Mark. “Mark.” Nama yang bagus. Alya mengulum senyumannya. Membayangkan seperti apa pria muda bernama Mark itu? Apalagi dengan tinggi 182 cm, harusnya berpenampilan seperti artis bukan? Me: Oh ok Mark. See you. “Ini artinya aku harus medical check up.” Gumam Alya seraya melirik jam di dinding, yang ternyata telah menunjukkan pukul 5. Itu berarti ia tak bisa melakukannya hari ini. “Apa ada yang masih menerima medical check up di tanggal 30?” “Medical check up untuk apa Bu Al?” Alya terperanjat begitu mendengar suara bariton itu. Saat ia mendongak, barulah ia menyadari kalau ternyata masih ada orang lain di ruangan itu. Lebih tepatnya di sebrang meja kerjanya. Dia William, Dr. William Aditama, S.Mb., M.B.A. Dosen senior yang dua tahun lebih cepat berada di kampus ini. “Anda sakit?” “Tidak Pak, hanya pemeriksaan rutin saja.“ “Kalau sangat mendesak, kamu bisa saya rekomendasi kan di rumah sakit teman saya.” “Memang bisa Pak?” “Bisa. Kamu mau?” “Boleh Pak.” Tidak ada jalan lain, karena biasanya setiap rumah sakit sudah tutup pemeriksaan seperti itu di akhir tahun seperti ini. “Ok. Nanti saya hubungi lagi setelah memastikannya.” “Terima kasih Pak.” “Sama-sama.” Alya tersenyum kaku, canggung. Sebenarnya dengan semua dosen ia cukup akrab. Tapi tetap saja karena ini kebohongan, dan bukan untuk hal baik. Jadinya Alya malu sendiri. Padahal toh William tidak akan tahu apa rencananya, tapi tetap saja malu. Drrt… Drrt… Deringan ponsel mengalihkan perhatian Alya. Dari nomor tidak di kenal. Siapa? Mahasiswanya kah? Padahal sudah jelas kalau ia tak suka di telpon. Ia lebih suka berbincang melalui chat. “Hallo.” “Hallo Al….” Rahang Alya mengatup. “Jangam ditutup Al, izinkan aku berbicara dulu. Kita harus ngobrol.” “Tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi.” “Kita salah paham.” “Gak ada perselingkuhan yang disebut salah paham. Gak usah play victim. Kalian suka sama suka, dan memang berniat berkhianat.” “Maaf Al… maaf. Aku mohon kasih aku kesempatan kedua Al. Aku khilaf. Aku berjanji aku tidak akan melakukannya lagi.” “Gue gak akan pernah mau buang-buang waktu buat pengkhianat kayak lo. Bagi gue sekali pengkhianat selamanya pengkhianat. Lagipula gue udah ada gandengan baru yang jauh lebih baik daripada lo Radit. Sana lo lanjutin aja hubungan lo sama Lisa. Gak usah ganggu gue lagi.” “Bohong. Kamu gak mungkin move on secepat itu!” Alya mendengus. “Atas dasar apa lo bisa ngomong kayak itu? Gak ada yang rugi buat gue setelah kita putus. Jadi lo gak usah besar kepala.” “Al.” Alya terperanjat saat William tiba-tiba mendekat dan memanggilnya tanpa embel-embel ‘Bu’. “Sini.” Pria itu mengulurkan tangan. “Mau di bantu?” Tanyanya hampir tanpa suara—tapi Alya tahu betul gerakan bibirnya. Tanpa berpikir panjang Alya memberikan ponselnya pada William. Sebab, demi apapun ia sudah sangat jengah dengan Radit. Meskipun nomor ponselnya sudah diblok, mantan kekasihnya itu terus menerus menghubunginya dengan nomor-nomor baru lain yang membuatnya sangat risih. “Selamat sore. Ada perlu apa dengan Alya? Saya dengar Alya sudah tidak mau berhubungan dengan anda jadi sebaiknya anda berhenti. Jangan mengganggunya lagi.” “Siapa lo? Gak usah sok ngelarang-larang gue buat berhubungan sama Alya.” “Saya?” Jantung Alya berdegup kencang, gugup mendengar percakapan antara William dengan Radit. Sungguh, ia berharap Radit bisa mundur setelah berbicara dengan William. “Saya calon suaminya. Saya harap kamu mengerti dan jangan pernah menghubungi Alya lagi. Paham?” “Atau anda mau saya laporkan pada polisi atas tindakan tidak menyenangkan?” Lanjut William sebelum Radit berhasil menyela. “Gak mungkin. Kasih lagi hapenya sama Alya. Alya gak mungkin move on secepat ini.” “Udah gue bilang. Gak ada alasan buat gue gak move on dari b******n kagak lo Radit.” Timpal Alya. “Dengar? So. Jangan mengganggu Alya lagi.” Final, William kemudian mematikan panggilan tersebut. “Maaf saya lancang. Saya hanya kasihan lihat kamu sejak pagi harus meladeni orang itu. Orang yang sama kan?” Alya mengangguk. “Tidak perlu minta maaf Pak. Saya justru sangat berterima kasih sudah membantu saya.” “Bukan masalah. Lain kali katakan saja kalau memang Bu Alya butuh bantuan.” “Terima kasih Pak.” Setelah mengatakan itu William berpamitan lalu beranjak pergi meninggalkan ruangan tersebut. Sebenarnya Alya masih cukup terkejut. William itu terkenal sangat jarang berinteraksi dengan perempuan. Katanya dingin. Tapi sepertinya tidak seburuk itu? Atau… Pak William suka sama gue? Pikir Alya. “Ngaco! Gak mungkin.” Jawab Alya sendiri seraya merapihkan meja kerjanya. “Dah mendingan pulang, mandi, makan, istirahat.” *** Dr. William Aditama, S.Mb., M.B.A.: RS. Basuki Ahmad. December, 30th at 10:00 a.m. Katakan saja kamu teman Bryan—itu nama teman saya. Nanti teman saya yang akan membantu kamu. Me: Terima kasih banyak Pak William. Dr. William Aditama, S.Mb., M.B.A.: Sama-sama. Semoga pemeriksaannya berjalan dengan lancar. Semalam William memberi kabar dan di sinilah Alya sekarang. Tepat pulul 9.45 pagi Alya sudah berada di rumah sakit yang William tunjukkan. Ingat? Alya paling tidak suka dengan keterlambatan. Karena itulah Alya selalu datang lebih cepat dari waktu yang dijanjikan. “Selamat pagi Bu. Ada yang bisa kami bantu?” Tanya seorang resepsionis saat Alya mendekat. “Saya sudah ada janji dengan Dokter Bryan. Apakah beliau sudah di tempat?” “Oh. Nona Alya?” Alya mengangguk. “Sebentar saya akan menghubungi Dokter Bryan terlebih dulu. Sebelumnya silahkan anda duduk.” Alya kembali mengangguk kemudian duduk di salah satu kursi tempat tunggu. Memainkan ponsel sesaat, membalas pesan Ella yang mengajaknya merayakan New Year’s Eve bersama. Me: Gue gak bisa La. Maaf ya. Ella: Masih mikirin Radit? Hm… yaudah kalo gitu. “Selamat pagi Pak. Ingin menemui Dokter Bryan?” Mendengar nama Dokter itu di sebutkan, secara otomatis Alya menoleh ke arah resepsionis lagi. Seorang pria bertubuh tinggi tegap berdiri di sana, mungkin memiliki tinggi sekitaran 180 cm. “Iya. Dokter Bryannya ada di tempat?” “Ada Pak. Silahkan masuk saja. Beliau sudah menunggu anda.” Namun baru saja pria bertubuh tinggi itu akan beranjak, seorang pria dengan jas berwarna putih mendekat. “Gak perlu di sambut juga kali bang. Repot bener.” “Pede lo. Sana mendingan lo tunggu di ruangan gue dulu. Gue ada pasien bentar, entar gue susul.” “Katanya pasien lo hari ini cuma gue?” “Temen kerjanya William.” Oh. Itu. Alya simpulkan kalau itu adalah Dokter Bryan. Ia pun segera berdiri begitu pria itu mendekat. “Nona Alya?” “Benar Dok.” Pria itu tersenyum—tipikal William yang memiliki senyuman teduh dan bersahaja. “Mari ikut saya.” Alya berjalan mengikuti Dokter itu. Mulanya ia pikir akan melakukan pemeriksaan oleh Dokter itu, tapi ternyata ada Dokter lain yang menanganinya. Sehingga setelah ia bersama Dokter lain, Dokter itu pamitan untuk pergi. Pemeriksaan hingga hasil pemeriksaannya keluar memakan waktu hampir satu jam tiga puluh menit. Waktu yang menurut Alya relatif cepat. “Tagihan anda sudah lunas.” “Loh? Saya kan belum membayar?” Padahal Alya baru saja sampai di loket pembayaran. “Atas nama Nona Alya?” “Benar. Alya.” “Benar, tagihan anda sudah lunas. Anda tidak perlu membayar.” “Oh? Ok. Sebelumnya terima kasih.” Kening Alya mengerut, heran. Kenapa ia tidak membayar? Apakah ia datang dengan rekomendari dari William? Atau karena ia dianggap akrab dengan Dokter Bryan? “Bagaimana hasil pemeriksaannya?” “Oh.” Alya terperanjat. Ia menoleh cepat, menatap Dokter Bryan yang tiba-tiba di sampingnya. “Dokter. Hasilnya sangat baik. Tapi Dok kenapa saya tidak perlu membayar?” “Tidak perlu dipikirkan.“ “Saya jadi merasa tidak enak.” Bryan terkekeh pelan. “Enakin aja gak sih?” Ucapnya seraya mengedipkan satu mata. Alya pun ikut terkekeh. “Ada-ada saja Dokter ini.” “Teman William itu berarti temanku juga. Senang akhirnya temanku memiliki teman lain.” Alya tak bisa menanggapi lebih jauh. Teman? Ia saja berbicara dengan William hanya ketika ada di forum formal. Teman dari mana? Tapi sudahlah. Tak mau memikirkannya lebih jauh, Alya kemudian berpamitan pergi meninggalkan rumah sakit tersebut. Memasuki mobil berwarna putih miliknya, yang berdampingan langsung dengan sebuah mobil Tesla yang berwarna sama. *** December, 31st. Mendadak Alya ragu. Jantungnya tak henti berdegup kencang. Memikirkan ulang beberapa hal yang menurutnya begitu impulsif dan terkesan sangat bodoh. Bagaimana mungkin ia bisa langsung percaya pada pria bernama Mark itu? Sampai-sampai ia yang menjanjikan akan menyewa hotelnya dan langsung bertemu di sana. Bagaimana jika pria itu ternyata orang jahat? Menjualnya? Atau bahkan menjadikannya p*****r pada pria lain? Tangan Alya terus menimang ponsel, kakinya berjalan ke kanan dan ke kiri—gusar, memikirkan alasan yang masuk akal agar ia bisa melihat pria itu lebih dulu sebelum menemuinya. Agar ia bisa menilai dan yakin kalau pilihannya tidak salah. Tanpa memikirkan rasa tidak enak lagi, Alya membuka laman sosial medianya, mengirim pesan pada lelaki itu. Me: Hi Mark. Sebagai perempuan saya harus sangat hati-hati bukan? Saya harus memastikan kamu bukan orang jahat atau semacamnya. @skyviews Saya mengerti. Kalau begitu saya akan datang lebih dulu. Kalau kamu tertarik hampiri saya. Jika tidak kamu bisa pergi tanpa menemui saya. Me: Bagaimana kalau sebaliknya? @skyviews Maksudmu, kalau aku tidak tertarik padamu? Me: Iya. @skyviews Tidak mungkin. Saya pastikan saya tertarik padamu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN