Kesempatan yang ada digunakan untuk keduanya pakai agar anak mereka segera terbentuk atau lebih tepatnya hadir di dalam kandungan Karyna. Tak terasa juga, Dave menuruti setiap wejangan dari mana saja untuk berusaha membuat Karyna berhasil hamil. Usaha yang tidak sebentar tentu saja, karena ternyata hingga usia pernikahan memasuki bulan kelima Karyna belum menunjukkan tanda-tanda kehamilan.
Dave yang sudah rajin membuat jadwal untuk menggagahi sang istri menatap kalender dalam buku agendanya. Ada catatan di sana, setiap bulan istrinya mengalami fase menstruasi, Dave mulai paham skemanya. Sedangkan Karyna malah seringnya mengatakan, "Masa iya? Aku malah nggak ngitung kapan harusnya masuk bulan menstruasi."
Jika sudah begitu, Dave sangat sebal. Karyna lebih tak peduli ketimbang Dave yang selalu memerhatikan agar bisa masuk dalam hitungan masa subur istrinya.
Kepalanya dimiringkan ke arah kanan. Menahan dagunya dengan jemari, Dave memperkirakan kapan harusnya sang istri datang bulan di bulan ini. Namun, kepalanya lebih dulu sakit karena mencoba mengira-ngira jadwal hormonal dari perempuan itu. Menebak memang sulit. Menebak sikap perempuannya saja sudah sulit, apalagi menebak jadwal rutinnya. Akhirnya, Dave memilih untuk menutup dan meninggalkan kalender dalam buku agendanya. Mendorong kursi ke belakang dan berdiri menghampiri Karyna berada; dapur.
Ya, belakangan memang Karyna hobi sekali di dapur. Entah itu meminta pembantu rumah tangga membuatkannya sesuatu, membuat makanan sendiri, menghabiskan apa pun menu di kulkas atau bahkan sengaja menyuruh Dave memasak sesuatu hingga masakan tak karuan buatan Dave tandas dilahap sang istri.
"Ryn!" panggilnya menyebut nama istrinya.
"Iya?" sahut perempuan itu dari arah dapur.
Dave mendapati istrinya sedang menghabiskan ice cream cake dengan banyak buah di dalamnya. Pesanan yang Dave harus cari karena harus sama persis dengan yang perempuan itu mau.
"Kamu habisin semua???" tanya Dave dengan nada super terkejut.
Bukan apa-apa, istrinya itu menghabiskan satu loyang ukuran besar ice cream cake itu sendirian. Tidak memotong dan menaruhnya di piring tapi langsung melahapnya dari alas yang sudah digunakan sedari dibeli di toko.
"Laper apa rakus???" tanya Dave kembali seraya mendekat dan menghapus sisa krim di pipi Karyna dengan ibu jarinya.
Karyna meringis tanpa merasa bersalah. Perempuan itu hanya menanggapi untuk menghindar dari pertanyaan Dave saja. Kembali fokus untuk menghabiskan sisa-sisa kue serta buah yang manis di dalamnya.
"Kamu mau?" tawar Karyna pada sang suami.
Melihat hal itu, Dave menurunkan kepala dan melahap potongan yang ada di sendok. Sodoran dari Karyna itu habis dalam sekali telan. Namun, Dave tidak menyangka jika akan mendapati mata berkaca-kaca Karyna setelahnya.
"Ryn, kenapa?"
"Kamu habisin..." lirih perempuan itu.
Sontak Dave melihat loyang kue yang memang habis. Itu berarti Karyna hanya basa basi saja menawarkan kue padanya tadi?
"Ryn—"
Karyna merajuk. Membanting sendoknya pada kitchen sink dan berjalan cepat meninggalkan Dave. Sudah pasti setelah ini Dave akan mendengar Karyna yang menangis tersedu hanya karena sesendok kue.
"Aku kira kamu beneran nawarin tadi, Ryn." Kata Dave menjelaskan di belakang, mengikuti langkah istrinya.
Oh, ya. Panggilan keduanya resmi berubah semenjak rapat yang didatangi keduanya. Banyak kolega yang mengatakan, aneh sekali pasangan menikah seperti mereka masih menggunakan saya dikala waktu luar kantor. Terlalu formal dan tidak natural untuk pasangan. Jadilah mereka mengubah sebutan diri sendiri dengan aku satu sama lain.
"Ryn, plis..."
"Tidur luar!!!" seru perempuan itu berapi.
Karyna sudah persis naga api karena wajah hingga lehernya memerah. Dave memperkirakan itu karena tangis dan marah yang istrinya rasakan.
"Aku belikan lagi kalo kamu mau."
"Nggak! Tidur luar, Dave!!!"
"Aku berangkat sekarang." Dave tidak memedulikan jawaban istrinya yang berkata nggak, pria itu justru dengan cepat bergerak mengambil kunci mobil untuk benar-benar berangkat membelikan kue.
"Kamu mau ninggalin aku, Dave?!"
Seruan tersebut menghentikan langkah Dave seketika. Dia mengerutkan dahi sebelum mengembalikan ekspresi biasa untuk menghadap Karyna.
"Aku nggak—"
"Bohong!!! Buktinya aku bilang nggak mau kue kamu malah buru-buru mau pergi!!!"
Dave tidak tahu apa yang terjadi, tapi sikap Karyna semakin aneh dari hari kehari belakangan ini. Biasanya, Karyna akan mudah marah jika menjelang waktu menstruasinya. Mungkin dia lagi datang bulan? Tapi Dave tidak melihat tanda-tanda bahwa istrinya bolak balik ke kamar mandi untuk mengganti tamponnya.
"Kenapa berdiri di situ aja?! Kamu beneran mau ninggalin aku, kan?!" Kembali Karyna lontarkan tuduhan tak masuk akal tersebut.
Namun, Dave tidak memilih menanggapinya. Sebab dia tak mau adanya perdebatan tak usai yang melelahkan bibir untuk bicara. Maka dengan segera dia melangkah maju dan meraup bibir istrinya untuk dituntut membalas lumatan yang sama kuatnya oleh Dave.
Pria macam Dave tak sabaran, maka dengan ketidaksabarannya dia membungkam sang istri dengan perdebatan yang berlanjut di atas ranjang megah mereka. Berharap perdebatan itu bisa membentuk buah hati mereka di perut Karyna yang ternyata langsung luluh dan mengimbangi argumen sang suami dalam memuaskannya.