Satu minggu kemudian
“Dia masih tak ingin menemuimu. Jadi, menyerahlah,” ujar Xander pada Sam yang sudah seminggu ini mondar-mandir ke rumah Alice bahkan dia menginap beberapa hari agar Alice mau menemuinya. Namun, hal itu malah membuat Alice tak mau keluar kama rnya sama sekali.
“Maaf, Kak, ini semua memang salahku,” ujar Sam kembali menyesal.
“Bukan sepenuhnya salahmu. Kau hanya terla mbat menyadarinya dan dia ... hahh! Percuma kita membahas ini. Semua sudah terjadi, bahkan dia tak mengizinka nku menyentuhnya,” jelas Xander.
“Harusnya sejak awal aku tak membiarkan nya pergi dengan bocah sialan itu! Harusnya aku tak menerima tantangan itu! Aku ....” Sam memukul kepalanya sendiri dan mengacak rambutnya frustrasi.
“Kak, lebih baik kau pukul aku daripada aku—”
“Aku memang ingin memukulmu sejak seminggu lalu, hanya saja aku masih berpikiran waras untuk melakukan itu saat Alice masih syok dengan kejadian itu. Karena Alice lebih membutuhkan tanganku dibandingkan wajahmu!”
Sam mengusap bibirnya yang mengeluarkan sedikit darah di ujung bibir.
“Hah! Dengan begini aku baru menyadari bahwa si playboy Rey benar-benar kakakku. Dia tak pernah memukulku sekeras ini, bahkan minggu kemarin dia tak benar-benar mengeluarkan tenaganya untuk mewakilimu menghajarku,” ujar Sam.
“Kau baru menyadarinya lewat sebuah pukulan?! Kau tak pernah tahu bagaimana Rey membelamu sejak dulu dan kau mengecewakannya saat kau menyakiti Alice. Pukulannya padamu kemarin hanya sebuah janjinya padaku jika kau menyakiti Alice. Kau tak pernah tahu bagaimana perasaannya ketika kehilangan cinta pertamanya sejak kecil dan dia tak ingin kau mengalami hal sama dengannya. Pulanglah, mulai hari ini dan seterusnya, kau tak akan kuizinkan menemui Alice hingga Alice sendiri yang memintaku mencarimu.”
Xander beranjak dari ruang tamu meninggalkan Sam yang menahan sakit. Bukan di wajah yang terkena pukul, tapi di hatinya. Dia menyadari bahwa dirinya memang tak pantas menemui Alice lagi.
***
Alice tergesa kembali ke kamarnya saat melihat Xander yang beranjak dari ruang tamu dan menuju ke atas ke tempatnya mengurung diri.
“Alice, boleh Kakak masuk?” tanya Xander dari depan pintu.
“Ya.”
Ceklek
“Kemarilah, aku akan mengobati tanganmu,” kata Alice.
“Aku baik-baik saja,” ucap Xander.
Seketika Alice memeluknya dan menanuca. Xander memeluk adik kesayangannya dengan erat, memberikan kekuatan bagi Alice yang sudah terlalu lama berusaha terlihat kuat.
“Maafkan kakakmu yang tak bisa menjagamu dengan baik,hingga kau harus kehilangan semuanya. Sekarang menangislah, setelah itu ceritakan semuanya padaku. Aku akan menghajar mereka semua dengan tanganku sendiri,” ujar Xander sambil mengelus puncak kepala Alice.
Setelah setengah jam lamanya Alice menangis di pelukan kakaknya, akhirnya dia mau menceritakan semuanya.
Flashback on
“Alice, aku ingin bicara,” tukas Nick ketika Alice hendak melanjutkan niatnya ke perpustakaan sendiri karena Emma kedatangan Andrew di taman saat tadi Alice baru saja berpeluk-pelukan dengan Emma.
“Ma-maaf, Nick. Aku tak—”
“Alice, kumohon. Setidaknya berikan aku kesempatan untuk meyakinkanmu, satu minggu saja. Bagaimana?” pinta Nick sedikit memaksa, tapi Alice masih menggeleng.
“Ayolah, Alice. Jika dalam seminggu kau masih tak bisa menerimaku, aku janji tak akan mengganggumu lagi.”
Alice tampak berpikir.
Jika memang dia tak akan menggangguku lagi, kurasa tak ada salahnya agar dia tak mengejarku lagi, batin Alice.
Alice menghentikan langkahnya.
“Baiklah, aku mau,” jawab Alice.
Namun, dia tak tahu apa yang ada di balik kantong jaket Nick. Sebuah alat perekam yang digunakannya untuk merekam jawaban Alice yang jika tak mendengar percakapan mereka dari awal, orang akan mengira Alice menerima Nick.
“Terima kasih banyak, Alice! Kau memang sangat baik! Sore ini, bolehkah aku mengantarmu pulang?”
“Hmm. Ya sudah,” jawab lagi Alice. Karena untuk menghindari Sam yang kemungkinan akan mengajaknya pulang bersama. Dia sungguh lelah bertengkar dengan Sam.
“Baiklah. Aku akan tunggu kau di parkiran jika kau tak ingin Sam atau yang lain mengetahuinya,” ujar Nick.
“Tidak apa-apa, kita keluar bersama saja dari kelas nanti,” jawab Alice dan tersenyum.
“Kau jauh lebih cantik jika tersenyum,” puji Nick jujur.
“Sam selalu mengatakan yang sebaliknya dan memintaku untuk tak tersenyum lagi,” kata Alice, entah kenapa dia selalu mengingat Sam.
“Apa dia selalu ada di pikiranmu?” “Apa?”
“Sam. Apa dia selalu ada di pikiranmu? Aku iri dengannya. Karena saat kau bersamaku, selalu ada nama Sam yang kausebut. Apa itu berlaku juga padaku?”
“Hmm ....” Seketika Alice kehabisan kata-kata.
“Sudahlah, kau tak perlu menjawab. Kurasa kali ini Sam benar. Kau tak boleh tersenyum dengan laki-laki lain, karena mereka akan jatuh cinta langsung padamu. Kurasa itu maksud dari ejekan Sam, agar kau tak memberikan senyumanmu pada yang lain. Dia hanya ingin kau tersenyum padanya,” tukas Nick lalu dia pamit pergi untuk kembali ke lapangan.
“Hah, aku sungguh tak mengerti jalan pikiran laki-laki. Mereka itu ... entahlah, aku malas memikirkannya. Apalagi Sam, dia sangat menyebalkan. Lerkataannya tadi, sungguh bukan dirinya. Membicarakan tentang menggenggam tangan atau apalah itu. Dia pandai sekali berdusta. Bukankah selama ini dia selalu berganti-ganti menggenggam tangan wanita?” gerutu Alice sambil memasuki perpustakaan.
***
“Kau ingin mampir ke tempat lain dulu atau langsung pulang?” tanya Nick begitu selesai kelas hari ini.
“Langsung pulang saja. Mom-ku sudah kembali ke Indonesia. Kakak akan marah jika aku terlambat pulang.”
“Ya sudah, ayo.”
Sam hanya mampu menatap tajam Nick yang dengan sengaja mengajak Alice bicara saat akan mengantarnya pulang.
“Dasar bocah sialan! Baru hari ini bisa mengantar Alice saja sudah pamer! Aku yang tiap hari mondar-mandir rumah Alice, biasa saja!” cibir Sam kesal entah kepada siapa. Namun, Emma mendengarnya karena berada di sampingnya.
“Haha. Kau cemburu? Lucu sekali jika kau bisa melihat wajahmu sekarang,” ejek Emma.
“Kau—”
“Ayo, Em, kita pulang. Biarkan Sam menikmati kecemburuannya,” ajak Andrew.
“Sialan kalian!” teriak Sam kesal. “Alice juga! Sudah kuperingatkan jangan menerima Nick! Kenapa dia malah mau diantar pulang olehnya! Menyebalkan!” gerutunya lantas keluar kelas.
***
Tak habis hanya di sekolah, seolah Nick memang ingin membuat Sam kalah telak, dia dengan sengaja mengirimkan rekaman suara Alice yang berkata ‘baiklah, aku mau’. Tentu saja dengan pembicaraan yang diedit sedikit oleh Nick melalui temannya yang ahli di bidang tersebut.
“Kau kalah, Sam. Mulai sekarang jangan mengganggu Alice dan aku, atau aku akan melakukan sesuatu pada Alice. Camkan itu!” ancam Nick di ujung telepon.
“Kau—”
Tut tut tut
“Damn!”
“Kau kenapa?” tanya Rey yang kebetulan melewati Sam dan mendengar umpatannya.
“Ha? Hm, bukan apa-apa.”
“Kau yakin? Aku sudah katakan padamu berulang, kali jangan bertingkah sepertiku. Aku memiliki alasan sendiri kenapa menjadi seperti sekarang. Sedangkan kau? Apa alasanmu menjadi playboy?
“Baiklah, terserah padamu ingin bertingkah seperti apa. !salkan jangan sampai kau menyakiti Alice. Apalagi karena kelakuan burukmu itu,” ujar lagi Rey dan hendak pergi dari kamar Sam.
“Tolong bantu aku, Kak,” pinta Sam akhirnya.
Rey berbalik. “Apa maksudmu?”
“Aku rasa Alice dalam bahaya saat ini.”
“Kau buat ulah apa lagi? Baru saja kuperingatkan kau!” Rey hendak meraih kerah baju Sam.
Ya, Sam bahkan belum mengganti seragam sekolahnya.
“Aku rasa bukan saatnya kau memakiku. Lebih baik hubungi Kak Xander dan minta dia menelepon Alice sekarang. Tanyakan Alice di mana atau setidaknya minta dia nyalakan GPS-nya agar mudah mencari ke mana dia pergi.”
“Kau benar-benar menyusahkan! Jika terjadi sesuatu pada Alice, aku yang akan menghajarmu lebih dulu sebelum Xander. Kau ingat itu!” Rey menekan dial untuk melakukan panggilan ke Xander dan langsung tersambung.
“Halo. Xander, kau di mana?”
“Aku baru saja mengantar Keyla pulang. Ada apa?”
“Cepat hubungi adikmu sekarang. Tanyakan dia di mana. Jika dia tak bisa menjawab, katakan padanya untuk menyalakan GPS-nya,” ujar Rey.
“Memangnya ada apa?” tanya Xander tiba-tiba panik. Begitu juga dengan Keyla yang berniat turun dari mobil Xander, tapi tak jadi karena mendengar pembicaraan Xander dan Rey.
“Hubungi dulu adikmu sekarang, lalu kabari aku di mana posisinya. Kita akan bertemu di sana dan aku akan jelaskan.”
“Baiklah.”
***
Dua jam setelah Sam menyadari maksud dari telepon Nick, mereka baru tiba di tempat terakhir titik GPS Alice berhenti. Ketiga laki-laki dan satu wanita itu tergesa-gesa memasuki tempat tersebut. Tempat yang bisa membuat orang beristirahat atau bisa dijadikan tempat kejahatan. Tempat yang dinamakan hotel.
Cukup lama mereka mencari keberadaan Alice karena CCTV di hotel tersebut banyak yang mati. Hingga manajer yang melihat wajah Alice lewat ponsel Xander, langsung membantunya mengantarkan mereka ke kamar yang membawa Alice pada kehancurannya.
Ceklek
Pintu kamar hotel tersebut dibuka oleh manajer hotel dan dia pamit undur diri.
“Alice!” pekik Xander saat melihat keadaan adiknya yang terduduk di ranjang. Dia hanya menutupi tubuhnya dengan selimut putih yang tebal panda-ngannya kosong menatap lantai. Bajunya berserakan ke mana-mana.
“Alice ....” Sam menatap tak percaya apa yang terjadi dengan Alice-nya.
“Untuk apa kau kemari setelah semuanya telah hancur? Perjanjian apa yang telah kaubuat dengannya Sam?” tanya Alice lirih menatap Sam yang sama hancurnya melihat Alice yang sudah tampak sangat kacau.
“Alice, aku—” Sam berniat mendekat. Ingin rasanya dia memeluk Alice agar merasakan kesedihan yang Alice alami saat ini.
“Berhenti! Jangan ada yang mendekatiku. Aku sudah kotor!” cegah Alice.
Xander malah mendekat berniat memeluknya, tapi Alice malah berontak.
“Lepaskan! Jangan menyentuhku, Kak! Kalian para lelaki kenapa harus melakukan hal memalukan untuk memuaskan diri kalian! Ha?!” teriak Alice dan menangis histeris.
“Alice, tenangkan dirimu, Sayang. Apa aku boleh mendekat?” pinta Keyla, karena hanya dia satu-satunya wanita yang ada di kamar hotel itu.
Alice pun mengangguk. Keyla langsung memeluk-nya begitu juga Alice.
“Aku merasa jijik, Kak. Tangannya yang kotor menyentuh semua tubuhku. Dia menyuntikkan sesuatu padaku hingga aku tak mampu menolak dan malah merasa senang saat disentuh olehnya. Aku ... aku ... tak percaya aku telah—”
“Ssstt, semua akan baik. Kakakmu tak akan membiarkan orang itu kabur begitu saja. Dia akan mendapat balasannya.”
“Tapi semua itu tak dapat mengembalikan apa yang telah dia rusak. Aku bodoh, Kak. Aku kotor, aku sudah rusak dan ....”
Mendengar rintihan Alice yang sangat menyedihkan, membuat ketiga lelaki itu keluar dengan menahan amarah dalam diri mereka masing-masing. Ketiganya mengepalkan tangan dan mengeraskan rahangnya.
BUG!
“Sudah kukatakan, jika kau berani menyakiti Alice, aku yang akan lebih dulu menghajarmu sebelum Xander.”
Sam tersungkur ke lantai setelah mendapat pukulan keras dari Rey.
BUG! BUG!
“Sekarang, apa yang bisa kaulakukan?! Ha! Kau bocah b******n! Selalu membuat ulah!” bentak Rey yang sudah berada di atas Sam, memukul Sam berkali-kali hingga Sam kewalahan menahan sakit dari pukulan Rey.
“Rey, hentikan! Tidak semuanya salah Sam. Alice terlalu mudah percaya dengan orang. Aku yang paling bersalah. Aku tak bisa menjaganya.”
“Kaudengar sendiri apa yang barusan Alice katakan, Lex! Dia melakukan taruhan. Entah taruhan apa yang dia lakukan dengan b******n yang melakukan hal keji itu pada Alice!”
“Kita akan cari tahu dan aku akan menghajarnya dengan tanganku sendiri. Yang terpenting sekarang adalah membawa Alice ke rumah sakit. Dan kau Sam, jangan berpikir aku hanya akan diam saja denganmu. Kau akan mendapat bagiannya nanti setelah Alice tenang.”
Flashback off
Semenjak itulah Keyla menginap di rumah Xander menemani Alice yang bahkan tak mau disentuh oleh Xander karena dia akan merasa jijik jika disentuh oleh lelaki mana pun.
Alice juga tak mau dibawa ke rumah sakit. Dia tak ingin semua orang tahu bahwa dirinya sudah kotor. Dia memilih berdiam diri di kamarnya.
***
“Maafkan aku, Alice. Aku tak bisa menjagamu dengan baik,” sesal Xander melepaskan pelukan setelah Alice selesai cerita.
“Aku sudah lebih baik sekarang, Kak, tapi aku sungguh tak ingin berada di sini lagi. Aku tak ingin menemui Sam dan teman-temanku di sini. Aku malu.”
“Termasuk Emma? Setiap hari setelah pulang sekolah dia selalu datang. Kau tak ingin dia menemuimu?”
“Tidak, Kak. Sampaikan maafku padanya. Aku hanya ingin segera pindah dari sini. Aku ingin tinggal dengan granny saja, Kak. Aku tak ingin ditinggal di rumah sendirian. Aku takut.”
“Baiklah, aku akan mengurus semuanya.” Tok tok tok
“Apa kalian sudah selesai? Apa aku boleh masuk? Aku membawakan makanan untuk Alice,” ujar Keyla di balik pintu.
“Ya. Masuk saja, Kak,” jawab Alice dan pintu terbuka.
Keyla membawa nampan berisi makanan dan minuman untuk Alice.
“Maaf aku merepotkanmu, Kak,” sesal Alice.
“Dia calon kakak iparmu. Kau boleh merepotkannya semaumu,” timpal Xander.
“Kau jahat sekali, Kak!” sergah Alice.
“Memang, kakakmu sangat jahat padaku. Jadi, kuharap setelah aku resmi menjadi kakak iparmu, kau harus membelaku terus, ya?” ucap Keyla.
“Tentu,” balas Alice.
“Nah, sekarang makanlah. Aku membuatkan makanan kesukaanmu.”
“Bagaimana denganku?” Xander menunjuk dirinya sendiri.
“Kau ambil sendiri sana!” ketus Keyla.
“See, kau bisa lseke, kan, Alice, siapa yang kejam? Kau masih akan membelanya dibandingkan aku?” protes Xander.
“Tentu aku akan tetap membela Ka Key,” ujar Alice lalu memakan makanan yang dibawa Keyla.
Tak berapa lama ponsel Xander berbunyi.
“Ya, Rey, bagaimana?”
“Xander, orangnya sudah tertangkap,” tulas Rey di ujung telepon.
“Baiklah, kirimkan aku posisinya. Aku akan datang langsung.” Xander mematikan teleponnya.
“Key, aku—”
“Pergilah, aku akan menjaga Alice,” potong Keyla.
Xander mengecup kening Keyla dan Alice. “Makan yang banyak, Alice. Kakak pergi dulu.”
“Kakak,” panggil Alice. Dia beranjak dari ranjangnya dan memeluk Xander yang terhenti di depan pintu.
“Terima kasih. Tolong hukum mereka untukku. Jangan berikan ampun sedikit pun.” Alice berujar sambil memeluk Xander.
“Tanpa kau minta pun, aku akan menghukum mereka.” Xander mengusap sayang kepala dan pundak Alice.
***