AA || 01

2360 Kata
Alice dan Sam saat Kelas Tiga SMP Alice PoV Aku merasa ada yang menaiki ranjangku, tapi mataku sangat berat untuk dibuka. Entah siapa yang mengangguku di Minggu pagi ini. Hanya tiga orang yang selalu rajin mengangguku. Kak Xander, Kak Rey, dan Samy. “Berhenti bergerak di ranjangku! Aku masih mengantuk! Siapa pun kau, tak bisakah membiarkanku untuk tidur hingga siang?!” seruku masih dengan mata terpejam. Aku sungguh baru tidur satu jam karena semalaman aku membaca novel. “Bangun, Princess! Kau sudah berjanji hari ini akan menemaniku!” ujar suara yang kukenal sejak k ecil. Samy! “Aku tak ingat! Jadi, kau pergi saja sendiri!” uj arku berbohong dan memunggunginya. Sebenarnya semalam aku ingat dia sudah memintaku menemaninya nonton film yang baru keluar, tapi aku sungguh malas. Karena pasti akan ada gadis-gadis centil yang akan mengerumuninya layaknya dia gula dan mereka semut, dan aku akan menjadi nyamuk karena Sam sama seperti kakaknya—Rey—yang tak pernah mengabaikan perem-puan yang menyapanya. Sebenarnya, dulu dia tak begitu. Dia sangat sombong dan bersikap tak acuh kepada teman perempuan. Namun, semenjak kenaikan kelas, dia mulai berubah seperti ini. Menurutku itu sangat menganggu saat aku sedang bersamanya. Bersamanya bukan dalam artian aku dan dia sepasang kekasih, tidak! Aku dan dia hanya bersahabat sejak kecil. Garis bawahi kata bersahabatnya. Ya, aku memutuskan untuk bersahabat saja dengannya. Memutuskan hati dan harapanku sejak kecil yang mengaguminya bagaikan seorang pangeran tampan semenjak aku tak sengaja mendengar dia berkata tentangku pada temannya. Flashback [Kelas dua SMP] “Hai, Bro!” sapa Daniel, teman Sam sejak SD. “Hei, kau pindah ke sini?” tanya Sam. “Ya. Karena aku tak memiliki teman di sana, jadi aku pindah ke sini untuk menyusulmu,” ujar Daniel dengan cengiran mencurigakan. “Hmm ... aku mencium bau kebohongan darimu. Katakan yang sebenarnya. Apa yang membuatmu memilih pindah ke sini?” tanya Sam memicingkan matanya. “Ehehe ... baiklah, Bro. Kau memang tak bisa dibohongi. Sebenarnya aku ke sini karena Alice,” tukas Daniel dengan mata berbinar dan senyum mengembang. “Maksudmu?” Sam mengerutkan keningnya. “Oh, c’mon, Brother! You know what I mean!” seru Daniel dan melanjutkan, “jangan bilang kalau kau dan Alice memiliki hubungan spesial!” “Tidak! Aku dan dia hanya sahabat sejak kecil,” jawab Sam tanpa sadar ada Alice di balik pintu masuk kelas. “Kau yakin?” “Hmm ... aku tak yakin dengannya, tapi aku juga tak dapat memastikan perasaanku padanya,” ujar lagi Sam. Namun, Alice sudah tak ada di balik pintu itu. Dia sudah pergi dengan hati dan perasaan kecewa. Berpikir bahwa Sam tak pernah menganggapnya sebagai seorang gadis sesungguhnya. “Oh, begitu. Hmmm ... apa kau ingin membukti-kannya?” “Membuktikan apa?” tanya Sam. “Apakah dia memiliki perasaan terhadapmu atau tidak?” “Bagaimana caranya?” “Aku akan menyatakan cinta. Jika dia menolakku, berarti kau yang dia cintai. Tapi jika dia menerimaku, berarti dia juga hanya menganggapmu sebagai sahabat sejak kecil.” “Kau gila, Danie! Apa kau tak memikirkan perasaanmu?” “Aku akan baik-baik saja. Buatku, jika bisa melihatnya tersenyum saja itu sudah cukup. Jadi, jika dia memilihmu, jangan pernah membuatnya menangis! Karena aku akan merebutnya nanti!” ujar Daniel. “Terserah kau saja!” “Baiklah, kita lihat saja nanti.” * Jam istirahat berbunyi. Semua murid keluar kelas dengan tergesa-gesa, termasuk Alice. Tidak seperti biasanya dia menunggu kelas lebih tenang baru keluar dan mencari makan. Namun, kejadian tadi pagi membuatnya menghindari Sam dan juga Daniel. Membuat kedua lelaki itu tampak heran. Bukan Daniel kalau tidak bisa mengubah situasi membosankan itu. Buktinya, sekarang dia dan Sam terlihat berlari untuk menyamai langkah cepat Alice yang ingin menuju kantin. “Kau mau makan dua porsi, Alice?” tanya petugas kantin karena melihat Alice membawa dua nampan sekaligus. “Iya, tolong lebihlan sambalnya, ya, Pak!” seru Alice tanpa peduli ada dua orang yang mengikutinya. “Yang satu porsi lagi untukku, ya, Al?” ujar Daniel. “Kalian sedang apa, ha?!” bentak Alice. “Harusnya kami yang tanya! Kau kenapa? Sejak masuk kelas bertingkah seperti ini!” ujar Sam menarik tangan Alice, tapi ditepis olehnya. “Tak usah peduli aku mau seperti apa!” Alice menatap sinis Sam. “Cepat, Pak! Sudah lapar, nih!” ujarnya lagi tanpa mengalihkan tatapan pada Sam yang terlihat sama sinis. Cukup lama mereka menatap sinis hingga Daniel terpaksa menghentikan mereka sebelum terjadi hal yang tidak diinginkan. “Oke! Enough! Kenapa kalian jadi bertengkar?” Daniel menengahi Sam dan Alice. “Sudah, kalian ikut aku,” imbuhnya menarik tangan Alice, tapi lagi-lagi Alice menepisnya. “Oke. Alice saja yang ikut denganku. Ada hal penting yang ingin aku bicarakan padamu!” ujar Daniel dan kali ini Alice menurut karena Sam tak ikut diajak untuk bicara. Entah kenapa Alice harus marah, tapi mendengar hal yang mengecewakan hati membuatnya hilang kendali dan terlampau emosi untuk mengungkapkan kekecewaannya. Sekarang mereka sudah di atap sekolah. “Kenapa kau mengajakku ke sini, Danie?” “Karena aku ingin bicara serius tanpa ada yang menganggu,” balas Daniel serius. Alice hanya menunggu Daniel melanjutkan ucapannya. “Apa kau tahu alasan kepindahanku ke sekolah ini?” tanya Daniel dan mendapat gelengan dari Alice. Daniel tersenyum dan kembali melanjutkan kata-katanya. “Alasannya karena di sini ada kau,” ujar Daniel. “Ya, aku menyukaimu, Alice.” “Ta-tapi, Danie—” “Aku tahu. Kau tak perlu menjawabnya,” ucap Daniel memotong perkataan Alice. “Hah! Kau dan Sam sama bodohnya, tapi apa kau tau siapa yang lebih bodoh dari kalian? Aku,” ucap Daniel tertawa hambar. “Danie, aku tak berniat menyakitimu. Kau sudah kuanggap seperti kakak bagiku. Sama seperti Kak Xander dan Kak Rey.” Alice memberikan back hug. Daniel berbalik dan memegang kedua bahu Alice. “Dengar, kau dan Sam—” “Aku tahu, Danie. Dia dan aku selamanya hanya akan bersahabat. Dia tak pernah menganggapku seperti gadis yang lainnya. Jadi, aku juga akan bersikap seperti itu padanya. Bahkan mungkin aku akan menjauhinya agar para pengemarnya bisa leluasa mendekat dan memudahkan Sam untuk memilih yang terbaik di antara mereka.” Alice memotong perkataan Daniel yang belum selesai dan berniat meninggalkan Daniel dari atap lebih dulu. Membuat seseorang yang berada di balik pintu masuk gedung itu pergi begitu saja setelah mendengar penuturannya. “Dia menyukaimu juga, Alice!” ujar Daniel sedikit berteriak karena Alice hampir membuka knop pintu. Alice berbalik dan tersenyum. “Tidak. Aku sudah mendengarnya langsung. Jadi, jangan membuatku kembali berharap,” ujar Alice sembari menggelengkan. Sekali lagi tersenyum dan membuka knop pintu lalu melangkah pergi, tak memercayai apa yang Daniel ucapkan. “Ini akan menjadi rumit, Alice. Baiklah, jika kau tak mau mendengarkan penjelasanku tentang perasaan Sam padamu, aku yang akan jelaskan perasaanmu pada Sam,” ujar Daniel dan melangkah mendekati pintu masuk. “Hah! Aku sungguh seperti orang bodoh. Menyakiti perasaan sendiri dan mencoba mempersatukan mereka yang salah paham,” ujar Daniel lagi sambil memasuki gedung. * Di rumah Daniel “Aku tak percaya dengan apa yang kau ucapkan, Danie. Karena aku lebih percaya dengan apa yang kudengar langsung dan apa yang kulihat. Dia bahkan memberikan akses dan informasi tentangku kepada gadis-gadis gila yang sudah lama mengejarku,” ujar Sam saat Daniel berusaha memberitahukan perasaan Alice pada Sam. “Hah! Kalian berdua sama saja, keras kepala dan bodoh. Kalian membuatku semakin seperti orang bodoh,” ujar Daniel kesal. “Kau yang terlalu naif, Danie. Kau yang dipilih, tapi kau memilih mundur karena aku menyukainya?” “Pernyataan apa lagi itu?! Terserah kalian sajalah ingin berasumsi apa tentang perasaan kalian. Yang jelas aku sudah mengatakan kebenarannya,” ujar Daniel. * Semenjak kejadian itu, Sam selalu didekati para pengemarnya. Alice tak lagi peduli dengan apa yang terjadi antara Sam dan mereka. Dari berita yang dia dengar bahwa Sam berkencan setiap minggu dengan para perempuan itu secara bergantian. Hingga saat kenaikan kelas tiga, Daniel harus kembali pindah sekolah ke London dekat tempat tinggal grandma-nya karena bisnis kedua orang tuanya yang failed di Aussie. “Aku akan merindukanmu, Danie,” ujar Alice memeluk Daniel. “Aku juga, Alice. Kau baikan dengan Sam, ya? Karena tak ada yang akan menjagamu lagi selain dia.” “Akan kupertimbangkan untuk itu.” “Hei! Tak ada pertimbangan lagi. Kemari kau, Sam, kalian harus berbaikan sekarang sebelum aku pergi,” ujar Daniel. “Nah, sekarang kalian harus berpelukan sebagai tanda perdamaian.” “Haruskah seperti itu, Danie?!” Sam tampak tidak setuju. “Iya! Cepat lakukan. Itu permintaan terakhirku. Jadi, kalian harus baik-baik dan jangan bertengkar lagi,” pesan Daniel dan mereka menurut walau hanya sebentar. Setelah itu mereka melepas kepergian Daniel di banpesa. Alice berbalik dan berjalan lebih dulu tanpa mengacuhkan Sam yang memandangi punggungnya. Apa kau masih akan bersikap seperti itu, Princess? Bersikap seolah aku yang salah? batin Sam, dan suara dering ponsel mengagetkannya. “Halo? Danie?” “Berhenti bersikap egois! Kau yang harus mengalah dan kejar dia sebelum dia pulang dengan taksi!” ujar Daniel di ujung telepon. “Oh astaga, Danie! Bahkan kau tak melihat dia yang mengabaikanku lebih dulu sekarang!” “Mengalah untuk seorang gadis seperti Alice tak akan membuatmu menyesal. Sudah dulu, aku sudah ditegur pramugari untuk mematikan telepon ini. Aku akan tanyakan pada Alice saat tiba nanti, apa dia mengantarmu pulang atau tidak.” “Baiklah, aku akan mengejarnya. Kau pergilah dan hati-hati.” * Sam menarik tas yang menggantung di bahu kiri Alice dan berjalan mendahului Alice tanpa mengucapkan sepatah kata pun. “Hei! Kembalikan tasku!” teriak Alice sambil mengejar Sam. “Pulang denganku atau silakan kau jalan kaki,” ujar Sam menahan tawa melihat wajah kesal Alice. “Kembalikan tasku!” Alice berusaha mengambil tasnya, tapi dia malah jatuh ke pelukkan Sam. Karena Sam mengangkat tinggi-tinggi tas Alice. “Kau ingin memelukku? Katakan saja, tak perlu bersikap seperti ingin mengambil tasmu,” goda Sam sambil tersenyum menatap Alice yang tertegun menatap ke mata Sam. “Lepaskan aku!” titah Alice karena Sam tak juga melepaskan pegangan pada pinggangnya. “Aku ingin makan dulu baru pulang, tapi kalau kau tetap ingin pulang jalan kaki, ya silakan,” ujar Sam setelah melepaskan pelukannya lalu kembali berjalan lebih dulu, diikuti Alice yang cemberut. * Sam menikmati makanan yang tersedia di hadapannya, sedangkan Alice hanya bersedekap d**a sambil memanyunkan bibir. “Kau yakin tak ingin makan?” tanya Sam di sela-sela suapannya. “Tidak! Aku tak akan makan jika ini pemberian darimu!” “Siapa bilang aku yang membayar ini semua? Kau tak ingat?” ujar Sam sambil mengangkat tas Alice menunjukkan bahwa dia akan mengambil uang Alice untuk membayarnya. “Jika kau tak mau menumpang di mobilku, maka kau harus membayar uang bensinnya. Jadi, anggap saja makanan ini sebagai uang bensin.” “Aku tak memintamu untuk mengantar!” “Aku juga tak mau mengantar gadis pemarah sepertimu!” “Kalau begitu kenapa kau berkeras ingin mengantar?!” “Karena seseorang yang saat ini berada di dalam pesawat yang meminta!” “Kenapa tak kautolak saja?” “Sudah! Tapi dia sama keras kepalanya denganmu! Jadi, aku harus bagaimana?!” Alice hanya menatap sinis Sam yang kembali menunjuk ke makanan dengan dagunya, menyuruh dia untuk makan. Akhirnya dia pun memakan makanan tersebut dengan wajah kesal. Setelah habis, Sam memanggil pelayan untuk meminta bill makanan mereka. Pelayan wanita datang dengan membawa bill dan secarik kertas menanyakan nomor ponsel Sam. Dengan senang hati Sam memberikan nomor ponselnya dan memberikan kartu kredit untuk membayar pesanan. “Call me,” ucap Sam sambil menandakan jari kelingking dan ibu jarinya didekatkan ke telinga. Alice yang melihat itu tentu saja muak dengan tingkah centil pelayan tersebut dan ditanggapi dengan sama centilnya oleh Sam. Tanpa menunggu Sam, Alice berdiri dan keluar dari restoran tersebut lalu berjalan lebih dulu menuju parkiran. Dia tak tahu yang Sam berikan adalah nomor ponselnya. Bisa dipastikan pelayan tersebut akan terkena u*****n dari Alice. Flashback off * Sam PoV “Bangun, Alice Agatha Tandy!!” ujarku sedikit keras di telinganya, dan ya, dia meronta siap mengeluarkan u*****n. “Ah, pergi kau, Samy! Kau seperti alarm ayam yang terus berkokok jika tak di—” “Jika tak di apa?” tanyaku mendekatkan wajah ke wajahnya membuat matanya terbuka lebar dengan indah. Oh, ya ampun. Matanya seperti barbie di film yang sering dia putar waktu kecil dan memaksaku untuk ikut menontonnya. “Jika tak dipencet tombolnya, seperti ini!” ujarnya sambil memencet hidungku lalu dia mendorongku hingga aku terlempar ke samping ranjangnya, dan dia? Jangan kira dia akan bangun dengan mudahnya. Dia itu putri tidur. “Hei, sleeping beauty! Jika kau tak bangun juga, aku akan menciummu!” ancamku masih dengan posisi terlentang di sampingnya dan dia bereaksi dengan ucapanku barusan. “Oke! Fine! Aku bangun! Ah, kau sangat menyebalkan!” racaunya terduduk memunggungiku. Aku terkikik geli melihatnya berjalan sempoyongan ke kamar mandi sambil meracau tak jelas menyumpahi dan mengataiku dengan bahasa yang banyak typo-nya. * Kami sudah di bioskop, menikmati iklan di layar lebar sebelum filmnya dimulai. Masih dapat kulihat wajahnya yang ditekuk berlipat-lipat karena kesal waktu tidurnya kuganggu. “Hei, banyak wanita yang ingin menonton film denganku. Kenapa kau malah cemberut seperti itu?” ujarku sambil mencomot popcorn-nya. “Kalau banyak kenapa tak ajak mereka saja?!” ketusnya sambil memukul tanganku yang tak henti mencomoti popcorn-nya. “Jika aku mengajak mereka, aku tak akan konsen untuk menonton filmnya. Karena mereka akan bergelayut manja di lenganku.” “Bukankah kau senang?” “Hmm ... tentu saja, tapi lebih menyenangkan menganggu putri tidur,” ujarku kembali mencomot popcorn-nya. “Jauhkan tanganmu dari popcorn-ku!” “Kau pelit sekali. Aku minta sedikit lagi saja!” “Tidak!” Baiklah, nanti saja aku mengambilnya saat film sudah dimulai karena dia tak akan berteriak jika film sedang berlangsung. Benar saja, dia tak hanya tak berteriak, tapi dia juga tak memukul tanganku saat aku mengambil popcorn-nya. Namun, saat aku menoleh, ternyata dia malah tertidur. Aku memutar kepalanya agar bersandar di pundakku. “Kau sungguh seperti sleeping beauty,” bisikku dan dia bergerak mencari posisi nyaman dengan memeluk lenganku Apa aku harus menjadi pangeran yang menciummu untuk membangunkanmu dari ketertutupan hatimu? Hanya satu kalimat, Alice. Katakan kau menyukaiku, maka aku akan berhenti berkencan dengan gadis-gadis gila yang kauberi kesempatan untuk mendekatiku. *
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN