AA || 03

1886 Kata
“Keyakinanmu sangat tepat!” ujar Sam memballas tatapan tajam dari Nick. * Sam PoV Aku sengaja datang pagi-pagi untuk menculik Alice dan tak memberinya pulang hingga malam, taapi ternyata si bocah tengil ini malah mengetahhui rencanaku. “Jangan memulai keributan di rumahku! Jika kalian tak ribut, aku akan menemani kalian. Tapi sekali saja kalian ribut, aku akan mengusir kalian berdu a!” ujar Alice karena melihat tatapan kami yang seakan menandakan akan adanya perang dunia ketiga. “Eherm! Siapa yang akan ribut?” ujarku untuk terlihat biasa saja. “Maaf, Alice. Aku datang tanpa memberitahumu lebih dulu. Aku hanya ingin memberikanmu ini,” ujar Nick memberikan paper bag yang dia bawa sejak tadi. “Kau sudah memberikannya, kan? Ya sudah, pulang sana!” ujarku mengusirnya. “SAMY!!” bentak Alice. “Apa? Aku hanya berkata yang sebenarnya!” ujarku yang hanya mendapat tatapan sinis layaknya tatapan Superman yang mengeluarkan laser. “Sudahlah, jangan dengarkan dia. Mari, duduklah dulu. Aku akan ambilkan minum,” ujar Alice mempersilakan si bocah tengil ini untuk duduk. Dengannya dia bisa bersikap manis seperti itu! Aku yang datang lebih dulu, malah disambut dengan garangnya! “Alice, aku juga mau minum.” “Kau bahkan sudah makan sebelum aku bangun! Jadi, ambil sendiri!” “Kau tak adil, Alice. Aku juga tamumu!” ujarku mendekatinya ke pantri. Dia dengan cekatan membuatkan bocah tengil itu kopi, sedangkan aku? Air putih saja tidak. Malah disuruh ambil sendiri. Menyebalkan! “Jangan bertingkah, Sam!” “Baiklah, tapi aku juga ingin kopi buatanmu,” rajukku manja. “Ya, ini juga sedang aku buatkan,” ujarnya yang memang mengambil dua cangkir untuk membuat kopi. Lihatlah, dia manis, kan? Di bibir bilang tidak, tapi hati dan pikirannya tetap memikirkanku. “Ya sudah, biar kubantu.” “Tak usah! Kau hanya akan mengganggu. Lebih baik kau duduk manis di sana!” “Tapi—” “Sam! Barusan aku sudah bilang tak ada keributan di rumahku. Jadi, duduklah yang manis dengannya” ujar Alice. Baiklah, kali ini aku akan menurut. * Alice PoV Ada apa dengan mereka berdua? Pagi-pagi sudah membuatku sakit kepala. Lebih baik aku meminta Emma untuk datang dan membawa Andrew untuk menengahi mereka sebelum keributan terjadi. “Halo, Em! Cepat datang dan bawa Andrew ke rumahku.” “Halo, ada apa? Kenapa kau memintaku ke rumahmu?” jawab Andrew di ujung telepon. Jangan heran, di luar negeri sudah biasa sepasang kekasih tidur bersama. Berbeda dengan budaya Mommy di Indonesia. Keperawanan adalah hal yang masih patut dijaga di negara sana. Maka dari itu, Mommy sangat takut aku melakukan hal di luar batas seperti Emma saat aku mempunyai pacar di sini. Tentu saja aku tak mau mengecewakan kepercayaan Mommy padaku. “Siapa yang menelepon?” Nah, suara Emma terdengar sedikit jauh dari telepon. “Andrew! Cepat kau datang ke rumahku sebelum rumahku hancur karena dua bocah itu!” ujarku berbisik karena aku tak ingin Sam atau pun Nick mendengarnya. “Kami baru bangun tidur, Alice. Mungkin setengah jam lagi baru sampai,” ujar lagi Andrew. “Apa itu, Alice? Kemarikan ponselnya!” Terdengar lagi suara Emma dan sepertinya ponselnya sudah berhasil direbut. “Halo, Alice! Ada apa?” “Alice, Kakak pergi dulu,” ujar kakakku yang tampan sambil mencium pipiku. “Hei, apa itu kakakmu yang tampan?!” “Honey! Aku ada di sampingmu! Kau malah semangat mendengar suara pria lain!” Terdengar Andrew protes dengan pekikan girang Emma yang mendengar suara Kak Alexander. “Baiklah, Kak. Hati-hati dan titip salam untuk Kak Key.” “Oke. Sam, aku pergi dulu. Jangan membuat keributan dan jangan membuat Alice naik darah,” ujar lagi kakak membuatku tertawa melihat ekspresi malu dari Sam. Dia meringis tak enak hati. Kembali ke telepon, terdengar suara gaduh pasangan yang sedang berargumentasi. Hal itu sudah sering kudengar, jadi aku tak akan heran. Malah aku salut karena mereka tetap bertahan walaupun sering bertengkar hanya karena hal sepele. “Em, cepat mandi dan ke rumahku sekarang! Sudah dulu, aku sudah mengatakan alasannya pada Andrew tadi, jadi cepatlah,” ujarku menyudahi panggilan tersebut sebelum telingaku lebih sakit mendengar mereka bertengkar. * Author PoV Empat puluh menit setelah Alice menghubungi Emma untuk datang, keadaan yang tadinya canggung akhirnya bisa mencair dengan perlahan karena kedatangan Emma dan Andrew yang berusaha keras untuk membuka topik pembicaraan. “Hmm ... kalian ingin saling menatap seperti itu sampai berapa lama lagi?” tanya Andrew yang merasa gerah karena baik Sam atau pun Nick tak berhenti saling menatap tajam selama sepuluh menit sejak dia tiba di rumah Alice. Sementara Alice dan Emma sedang di dapur untuk membuat camilan dan minuman. “Sebenarnya apa yang kaukatakan pada Sam kemarin, Em?” “Ha? A-apa maksudmu?” “Ayolah, Em. Aku tahu tak mungkin kejadian kemarin hanya kebetulan! Aku mengenal Sam! Dia tak mungkin ke mal sendirian tanpa ditemani gadis bodoh yang menggilainya. Pasti kau yang menyuruhnya datang.” “Kau cemburu?” Alice mengerutkan keningnya tak mengerti dengan apa yang dikatakan Emma. “Barusan secara tak sengaja kau mengucapkannya secara gamblang. Aku tahu di balik kata-katamu itu, intinya adalah kau cemburu pada gadis-gadis gila yang berkencan dengan Sam.” “Em! Aku sedang tidak membicarakan itu! Jadi, jangan membuka topik lain untuk membuat kepalaku semakin sakit!” “Kepala atau hatimu yang sakit?” goda Emma. “Haa ... up to you. Jadi, bagaimana nanti malam? Jika aku tetap pergi dengan Nick, Sam pasti akan bertindak hal nekat.” “Ya sudah, mari kita lihat hal nekat apa yang akan Sam lakukan.” “Em, kau tak memberi solusi. Kau yang membuat ini terjadi!” geram Alice. “Oke! Baiklah, jadi siapa yang memberikanmu gaun untuk nanti malam?” “Apa hubungannya?” “Jika seorang pria ingin mengajak gadisnya pergi, setidaknya dia akan memberikan sebuah gaun atau heels atau mungkin keduanya. Merekalah sosok pria yang mengerti keinginan pasangannya tanpa harus diminta,” ujar Emma menjelaskan. “Hmm ... berarti aku harus pergi dengan Nick,” ucap Alice tanpa sadar menunjukkan raut wajah kekecewaan. “Kau mengharapkan Sam yang memberikanmu semua itu?” “Ha? Apa? Tidak! Kau sudah mulai gila, ya? Sudahlah, ayo bawa kuenya,” ujar Alice gelagapan saat Emma memandangnya curiga tentang perasaannya pada Sam. Jangan sembunyikan lagi, Alice, atau kau akan menyesal, batin Emma menggelengkan kepalanya berharap sahabatnya itu mau mengakui perasaan yang sebenarnya kepada siapa hatinya tertuju. “Cemilan datang!” ujar Emma semangat sambil membawa kue yang sudah dipotong olehnya. * Tepat pukul empat sore mereka akhirnya pulang tanpa ada keributan karena Andrew dan Emma memaksa Sam dan Nick untuk tetap tenang saat bersama tadi. Alice kembali ke kamarnya dengan membawa bingkisan dari Nick, berniat melihat gaun dan heels yang diberikan pria itu untuk dia kenakan nanti malam di acara party kelulusan nanti. Memasuki kamar yang terlihat sangat feminin dengan cat tembok berwarna pink dan beberapa boneka kesayangannya menghiasi ranjang berukuran sedang yang dilapisi seprei berwarna pink juga. Dia melirik sekilas bonekanya dan melihat ada yang kurang di sana. Boneka bunny kesayangannya menghilang. Dia mengedarkan pandangannya ke bawah ranjang, tapi tak ditemukan juga. Akhirnya matanya tertuju pada meja belajar dan mendapati bunny-nya didudukkan di sana dengan beralaskan sebuah kotak yang cukup besar berwarna silver. Dia menunda niatnya untuk membuka hadiah dari Nick dan beralih untuk membuka kotak tersebut lebih dulu. Mengangkat bunny-nya dan mengecupnya sebentar, lalu Alice membuka kotak silver tersebut. Terdapat sebuah gaun berwarna putih gading dengan brukat bunga-bunga melapisi seluruh gaun tersebut. “Ini manis sekali,” ujar Alice lalu dia melihat kartu si pengirim dibagian paling bawah di dalam kotak itu. Pakai ini! Nanti malam kujemput pukul tujuh! Awas saja jika kau memakai yang lain! From : B.S.D “Dia ingin mengajakku pergi atau memaksa?! Tak bisakah dia menggunakan kata-kata yang halus? Aku tak mengharapkan kata romantis, karena itu tak mungkin dia ucapkan!” ujar Alice memasukkan kembali gaun tersebut dengan asal. Lalu dia beralih membuka hadiah pemberian Nick. Dia mengeluarkan kotak dari paper bag dan membuka kotak berwarna biru. Lalu dia melihat kartu yang terselip di gaun tersebut. Aku harap kau menyukainya. Karena menurutku tak ada gaun yang layak untuk dipakai oleh seorang gadis cantik sepertimu. From : Nick Alice hanya tersenyum tipis membaca tulisan dan melihat gaun pemberian Nick. Bukan dia tak menyukainya, tapi entah kenapa hatinya ingin sekali memakai gaun pemberian Sam. Namun, melihat kata-kata yang tertulis di setiap gaun yang dia terima, membuatnya harus memutuskan untuk memakai gaun pemberikan Nick. * At 7.00 PM Pintu bel rumah Alice berbunyi. Dia sudah siap dengan make up tipis, tapi membuatnya semakin cantik. Rambutnya sengaja dia biarkan tergerai alami tanpa memerlukan hiasan lain, hanya gaun hitam selutut yang membalut tubuh rampingnya. Dia bersiap turun. Sedangkan kedua pria sudah menunggunya dengan perasaan deg-degan. Alice turun setelah mendapat ledekan kecil dari mommy-nya. Betapa lebarnya senyum yang diberikan Nick saat melihat Alice memakai gaun pemberiannya dan kalian tak akan mau melihat Sam yang memancarkan sorot tajam. Bahkan Alice juga tak ingin menatap Sam secara terang-terangan. Xander yang membukakan pintu serta menemani mereka menunggu pun ikut terkejut dengan pilihan Alice. Dengan tenang Xander menepuk pundak Sam, memberinya kode untuk tetap sabar dan bersikap gentle kepada lawannya untuk mengakui kekalahannya. Nick menghampiri Alice yang berdiri mematung dengan kepala tertunduk. Dia sangat takut melihat tatapan dari Sam yang seakan membunuhnya jika dia berani melihat ke arah Sam. Menggenggam tangan Alice yang dingin dan menuntunnya berjalan melewati Sam yang terlihat sangat kecewa dengan keputusan Alice. Alice memberanikan diri untuk melihat sorot mata Sam yang berubah dari tajam menjadi kecewa membuat hati kecilnya merasa sangat bersalah dengan keputusan yang dia ambil. Pintu tertutup, Alice-nya pergi dengan pria lain di depan matanya tanpa dia bisa berbuat apa-apa. Sam mengempaskan tubuh dengan kasar ke sofa, menutup wajah dengan kedua tangan, mengusapnya dengan kasar lalu mengacak rambut frustrasi. Xander yang melihat kacaunya adik dari sahabatnya hanya bisa duduk di sampingnya dan mencoba memberikan nasihat untuk Sam agar tetap berjuang sampai akhir. “It’s okay, aku rasa Alice hanya ingin menghukummu. Aku melihat matanya menunjukkan kalau dia bisa berbuat hal yang sama, yang berulang kali kau lakukan padanya. Walau aku tahu kenyataannya kau terpaksa melakukan itu. Begitu juga Alice yang terpaksa memilih Nick untuk membuatmu merasakan apa yang dia rasakan,” ujar Xander panjang lebar. “Jadi, aku harus bagaimana, Kak?!” tanya Sam masih berusaha menutupi kemarahannya. “Tetap jaga dia. Aku percayakan padamu. Aku pun tak bisa percaya pada pria lain untuk bersama adikku.” “Tapi aku harus membawa seseorang ke party itu.” “Party yang memaksa! Ya sudah, bawalah seseorang yang menggilaimu tanpa menggunakan hati.” “Kebanyakkan dari mereka mengharapkan lebih jika aku mengajaknya ke party. Kau tak mau mengajariku memilih yang mana yang tidak menggunakan hati?” “Tidak! Karena aku yakin Rey telah menurunkan ilmunya padamu untuk melakukan hal itu. Bukankah kau sering melakukannya? Kau pasti lebih pandai melihat wanita mana yang tak menggunakan hatinya untuk dibawa ke party denganmu.” “Baiklah, sepertinya aku terpaksa menghubungi wanita rubah itu!” ujar Sam mengambil ponsel dari saku jasnya. Dia mencari kontak yang dia tulis dengan nama b***h. Ironis memang, tapi menurut Sam itu lah kenyataannya dan entah apa yang akan dilakukan wanita itu jika tahu nama di kontaknya bertuliskan b***h. “Halo! Bersiaplah, setengah jam lagi aku tiba di rumahmu!” Tanpa menunggu jawaban, Sam menutup teleponnya dan kembali merapikan rambut yang sempat dia berantaki. *
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN