| Segala beban seolah ikut terangkat, hingga Mer kini bisa menegakkan kepalanya penuh percaya diri. Kedewasaan kini makin kentara di kedua maniknya yang dari tadi mengerjap menggemaskan. Dia sudah berdamai dengan segalanya, perasaannya, Jayusman juga Alford. Sepertinya lebih indah dan enak sendiri. Pilihannya untuk sendiri sepertinya sudah tepat. Cukuplah baginya ibu dan ketiga adiknya sehat dan tercukupi kebutuhannya. Martinah hanya sekali dua kali menegurnya yang tak juga membawa seorang lelaki pun ke hadapannya. Namun akhirnya Martinah capek sendiri, ia tak lagi bertanya ataupun memberi ide. Sekarang Mer lebih fokus pada pekerjaannya. Ia tak ingin bertemu Alford maupun Jayusman. Mer benar-benar mandiri, berdiri di atas kakinya sendiri. Dia memiliki usaha sendiri, apalagi dengan beba

