Bab 10

3386 Kata
10. DIAM   Aku diam bukan berarti aku tak mencintai mu. Tapi aku diam karena aku sedang bertanya pada hati ku, apa aku pantas kelak menjadi ibu dari anak-anakmu...   Ketika malam menjelang, Hans baru saja pulang. Lampu rumah mama yang sudah padam menandakan semua orang telah terlelap dalam tidurnya. Sebelum Hans masuk kedalam bilik kamarnya, dia berjalan kearah dapur. Niat hati ingin membasahi tenggorokannya sebelum menjelaskan semuanya kepada Umi. Kali ini Hans tidak akan berbohong kembali. Namun dia harus lebih pintar dalam memilih-milih kata yang tepat agar Umi tidak salah mengartikan. Karena seorang perempuan yang dalam keadaan emosi lebih mudah mempercayai hatinya dibandingkan logikanya. Untuk itu Hans tidak ingin rumah tangganya hancur hanya karena kesalahan dalam mengartikan maksud hati. Saat pintu kamar dibukanya, hal yang pertama kali dia liat punggung Umi bergerak dengan teratur. Menandakan wanita itu telah terlelap dalam dunia mimpinya. Pencahayaan yang redup membuat Hans berkali-kali mengerjabkan matanya. Pupil matanya terus memfokuskan kearah pandangan yang menjadi daya tariknya malam ini. Selimut yang Umi pakai untuk menyelimuti tubuhnya tersikap pada bagian kaki. Hanya sebatas betis kakinya, namun mampu membakar rasa aneh dalam diri Hans. Selama beberapa hari mereka menikah, memang Hans belum melihat secara detail bagian tubuh istrinya itu. Karena saat malam menyerang tubuhnya sudah terlalu lelah hingga tak ada niatan sedikit pun memperhatikan lekuk tubuh istrinya. Memori Hans berputar saat SMA dulu, guru sejarahnya pernah bercerita bagaimana sosok Ken Arok yang jatuh cinta pada Ken Dedes. Hanya melalui betis mulus Ken Dedes lah, seorang Ken Arok yang merupakan pendiri kerajaan Tumapel jatuh cinta. Mendadak tenggorokan Hans kembali kering padahal baru saja dia meminum 2 gelas air putih sebelum masuk kedalam kamar. Hans bertanya-tanya dalam hatinya, apa dia jatuh cinta dengan Umi melalui betisnya? Kepala Hans menggeleng-geleng dengan cepat. Sesungguhnya jauh sebelum ini dia telah jatuh cinta dengan Umi. Kedua matanya terpejam mengingat-ingat bagaimana dia pertama kali bertemu. Sudut bibir Hans tertarik saat memori indah itu kembali melintas. Namun kejadian membahagiakan itu tidaklah lama, karena kenangan dengan Lara lah yang menghiasi memori itu setelahnya. Lara... Hanya seorang wanita biasa yang mampu membuat Hans tergila-gila. Ingin rasanya Hans mengakui perasaan yang dia rasakan pada Lara dulu bukan karena cinta. Tapi entalah orang menyebutnya apa. Yang jelas Hans begitu bertekuk lutut dihadapan Lara. Ketika dulu niatan Hans ingin meminang Lara menjadi istrinya, kedua orang tua Hans tidak menyetujuinya. Mereka berdua tidak mengatakan apapun pada Hans mengapa menolak Lara menjadi menantu mereka. Padahal bagi Hans, Lara perempuan terbaik yang diciptakan Tuhan untuknya. Apa mencintai seseorang hanya butuh sifat baik saja? Pertanyaan itu terlontar begitu saja dalam pikirannya. Selama Hans menjalin kasih dengan Lara, memang Hans tidak tahu seluk beluk seorang Lara Evelyn seperti apa. Yang Hans tahu dia perempuan cantik yang mampu membuat hatinya berdetak tak menentu. Bisakah itu diartikan cinta? Atau hanya kekaguman semata? Entahlah, bagi Hans dulu itu tidak penting. Cinta atau bukan yang pasti dia tidak ingin dipisahkan oleh Lara. Tapi memang hanya Tuhan yang tahu jalan hidup seseorang. Ternyata bukan seorang Lara Evelyn lah yang seharusnya menemani hidup Hans. Pemikirannya selama ini salah besar. Jika Hans mencoba menjawab pertanyaan tentang kisah cinta masa lalunya, Hans dapat satu kesimpulan yang pasti. Bahwa yang dia rasakan bukan cinta, namun napsu untuk memiliki. Memang bagi kebanyakan orang cinta dan napsu sangatlah tipis. Setelah kegagalan itu, Hans memang menjadi terpuruk. Dan karena kebodohannya juga dia mengambil jalan yang salah. Hingga akhirnya dia dibuat pusing sendiri akan akhir kisahnya. Tubuh mungil Umi bergerak mencari posisi nyaman dalam tidurnya. Semakin Umi bergerak, semakin menarik selimut yang menutupi tubuhnya. Rasa aneh dalam tubuh Hans menjadi tak terkontrol. "Mi, tolonglah jangan menggoda ku" diselimutkan kembali kaki putih Umi. Dia tidak mungkin menyalurkan napsu bejatnya disaat Umi masih ragu akan kesetiaan pada dirinya. Hans berharap dengan berendam air dingin rasa aneh yang menyerang titik-titik ransangnya menjadi hilang. Tapi semua salah. Rasa itu kembali ada saat tubuhnya telah berbaring disamping Umi. Rasanya seperti tersetrum oleh aliran listrik ketika kulitnya bersentuhan dengan kulit Umi. Karena ketidakberdayaan, Hans memeluk Umi yang tertidur membelakanginya. Dia berharap Umi sadar jika dirinya tersiksa malam ini. Uugghh... Umi merasa terganggu dalam tidurnya ketika lengan kokoh memeluk erat pinggangnya. Punggungnya telah terhimpit dengan d**a keras milik Hans. "Hans.. " panggil Umi. "Iya sayang..." "Sempit ih, geseran..." Umi merontah dalam tidurnya. "Mi, berbalik lah..." Walau setengah hati, Umi tetap membalikkan badannya. Tak ingin munafik akan perasaannya, dia masih kesal pada Hans. Terlebih pada perempuan tadi yang berada dikantor Hans. Tapi Umi kali ini tidak ingin emosinya meledak-ledak seperti waktu itu. Dia hanya ingin diam. Karena diam adalah emas. Diam juga bukan berarti takut. Tapi dari diam kita tahu batas kesabaran kita dalam menyelesaikan masalah seperti apa. Diam itu bukan berarti kosong, Diam itu bukan berarti hampa, Diam itu bukan berarti tidak mengerti, Diam itu bukan berarti tak peduli, Diam itu penutup segala kebodohan, Diam itu ibadah yang tanpa bersusah payah, Diam itu perhiasan bibir tanpa berhias dengan pemerah, Diam itu kekayaan tanpa meminta kepada orang, Diam itu istirahat bagi kedua malaikat pencatat amal. Tapi.. Jangan diam saat orang bekerja, Jangan diam saat kejujuran diluluh lantahkan, Jangan diam saat keburukan ada didepanmu, Jangan diam saat hatimu pilu, berdzikirlah supaya hatimu tenang, Jangan diam saat harus bicara, Jangan diam saat ditanya, meski jawabnya 'tidak tahu', Dengan diam membuat kita sadar, Bahwa diam tidak menyelesaikan apapun.. Umi mengerti jika lidah memang tak bertulang, setiap gerakannya akan menggetarkan pita suara, dan suara yang keluar jika tak bernilai kebaikan sebaiknya diam, dan mustinya harus selalu diingat bahwa setiap gerakan lidah akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah di peradilan Allah nanti. Iya lidah dan ucapan akan dihisab, bicara apa dan berkata apa. Di peradilan Allah tidak ada pengacara yang akan membela. Di sana lidah hanya akan berkata jujur tentang semua yang pernah diucapkannya, dan betullah seharusnya kita DIAM ketika tidak bisa berkata benar. Namun "Kalau dihina ?" tidak usah dibalas dengan hinaan. Rugi mengotori lidah dengan menghina orang itu lagi. Ketika ada orang yang menghina, sesungguhnya orang itu sedang menghina dirinya sendiri. Ketika membalas dengan hinaan, apa bedanya dengan dia. Jangan-jangan pahala dan energi bisa habis hanya untuk membalas sesuatu yang tidak penting lagi buat kita bukan? biarkan saja, sudahi dengan DIAM dan senyum manis. Papa pernah menjelaskan kepada Umi pesan dari Sayyidina Umar bin Khattab. Berhati-hatilah, karena lidah lebih tajam dari pedang. Kata orang "Setan itu mencari sahabat sahabatnya dan ALLAH melindungi kekasih kekasihNYA" salah satu agar dicintai ALLAH dan menjadi kekasih ALLAH adalah dengan menjadi ahli dzikir dan sifat dari para ahli dzikir itu "diamnya dzikir, bicaranya dakwah" itu yang harus di kukuhkan dalam hati. Dalam salah satu firman Allah juga menyebutkan, "Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya. Yaitu, ketika dua malaikat mencatat amal perbuatannya, yang satu duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada satu ucapan pun yang diucapkannya melainkan di dekatnya ada malaikat yang selalu hadir." (QS Qaf: 16-18). Karena itu sesakit apapun Umi, dia sadar jalan terbaik adalah diam. Walau tak tahu akan berujung seperti apa setidaknya dia sudah terlepas dari satu kemungkinan buruk yang terjadi. Kalau dia bicara dia tidak yakin mampu menjaga lisannya dari perkataan buruk kepada suaminya. "Kamu udah tidur sayang?" Tangan hangat Hans mengusap lembut pipi Umi. Helaian rambutnya diselipkan kebelakang telinga. Hembusan napas dari Hans menerpa wajah Umi membuat gelayar aneh dalam dirinya. Tak ada jawaban yang keluar dari bibir Umi. Dia sengaja mendekatkan wajahnya dan diusapkan didada kokoh milik Hans. Biarkan malam ini menjadi saksi jika mencintai mu butuh energi yang kau simpan rapat-rapat dalam tubuh mu. "Mi, aku mau jujur sama kamu..." dari posisi seperti ini Umi bisa sangat mendengar detak jantung Hans yang memacu sangat cepat. Hatinya terus mengeluarkan pertanyaan, apa pria ini gugup? Apa pria ini merasakan hal yang sama seperti apa yang dia rasakan? Memang sejak dulu hingga menikah tidak ada ucapan cinta dari Hans yang keluar untuknya. Tapi lagi-lagi Umi bisa apa. Memaksakan seseorang untuk memiliki rasa yang sama, sama saja membunuhnya dengan tangan mu sendiri. Umi memang tipe wanita yang mencinta, sejak awal dia tahu Hans adalah pria yang begitu dia damba. Bukan hanya satu kali dia merasakan sakit akan cintanya kepada Hans. Tapi tetap saja. Hati dan logikanya bagai tak saling paham satu sama lain. "Sayang..." bibir Hans sudah menyentuh titik-titik ransangan yang biasanya terdapat pada diri perempuan. Munafik jika Umi tidak terbuai dengan semua perlakuan Hans. Munafik jika dia harus menolak semua ini padahal hati dan tubuhnya begitu mendamba. Munafik jika dia harus menolak keinginan suami karena dia tahu itu dosa. Padahal nyatanya dia juga ingin rasa aneh ini tersalurkan pada Hans yang memang sudah halal baginya. Melihat tak ada penolakan dari Umi, dengan merapal sebait doa Hans memulai membisikan kata cintanya pada Umi. Menuntaskan apa yang seharusnya sudah dilakukan beberapa hari yang lalu. Menuntaskan ibadah terakhirnya agar sempurna sudah pernikahannya. Hans tidak ingin berharap lebih, tapi dia memohon pada Allah agar setelah ini hanya Umi lah rumahnya untuk kembali pulang. Walau dia masih tak yakin akan berhasil, tapi setidaknya dia sudah berniat untuk menjadi lebih baik. Dan Hans yakin Umi akan selalu membantunya. Napas Umi tersengal-sengal setelah kegiatan yang begitu diridhoi Allah terlaksana dengan nikmat yang begitu luar biasanya.  Jika Umi boleh mengingatkan kepada semua perempuan diluar sana yang masih mengharapkan calon imamnya, percayalah kenikmatan tiada tara saat kau menjaga mahkota mu dengan baik untuk calon imam mu kelak. Karena saat ini Umi tengah merasakan tubuhnya terasa seperti terbang ke awan yang putih dan bersih. Perutnya terasa dipenuhi banyak kupu-kupu kebahagiaan yang bila dilukiskan akan memakan banyak waktu. "Terima kasih mi, terima kasih sudah menjaganya untukku. Hanya untukku" ucap Hans sambil mencium kening Umi. Dipeluknya hangat tubuh Umi yang hanya terselimuti kain tipis. Sejak memulai ibadah hingga berakhir tadi memang Umi lebih banyak diam. Tak ada kalimat yang keluar dari bibir Umi. Hanya sebuah leguhan kecil bahkan leguhan itu tak sekuat hembusan angin. "Kenapa diam saja sayang? Apa aku menyakiti mu?" Tanya Hans. Masih lagi-lagi Umi diam. Bibir merahnya terkatup rapat. Bahkan matanya ikut terpejam karena terlalu lelah. "Ayolah sayang?" Hans mendudukan tubuhnya. Memandang wajah lelah Umi yang tadi berada didadanya. "Sayang.." panggilnya sekali lagi. "Tidurlah Hans. Aku lelah" Hanya sebuah kalimat pendek yang keluar dari bibir Umi, namun dapat membuat senyum merekah dibibir Hans. Jangan ditanya betapa dia bahagia malam ini. Hans semakin yakin jika dia akan sukses dengan penghapusan ingatannnya tentang masa lalu. Apalagi melihat wajah lelah Umi setelah aktivitas ibadah mereka sebagai semangat baru bagi Hans. "Iya sayang. Tidurlah dalam kasih ku. Selimuti hati mu dengan cinta ku. Percayakan pada ku, kelak kunci surga mu akan ku berikan diakhirat nanti"   *****   Pagi-pagi sekali Umi sudah bangun. Awal pertama kali yang dia rasakan saat ingin buang air kecil, rasa sakit dan perih yang menjalar dibagian sensitifnya. Dia memang tidak menyesal melakukan hal itu semalam, tapi dia tidak tahu akan berakibat seperti ini jadinya. Masih dengan merintih sakit, dia menyelesaikan sholat subuhnya. Tidak ada niat membangunkan Hans untuk beribadah. Jika mengingat yang kemarin, hatinya menjadi sakit kembali. Sudah cukup semalam Umi memberikan angin surga kepadanya, pagi ini dia akan bertanya semuanya kepada Hans dengan jelas. Agar hatinya bisa kembali tenang. "Loh, nduk.. udah bangun kamu. Tumben banget?" Jam dinding didapur masih menunjukkan pukul 5 pagi. "Iya ma, gak bisa tidur" Kedua alis mama saling bertautan saat melihat gerakan jalan Umi yang sedikit aneh. Awalnya dia ingin bertanya kepada Umi. Tapi ternyata Umi duluan yang membuka perbincangan pagi ini. "Ma, obat buat hilangin rasa sakit, terus perih apa ya?" "Sakit?" Kedua mata mama menatap Umi heran. "Kamu sakit apa nduk?" Refleks Umi menggaruk kepalanya yang tidak sama sekali gatal. Jika harus jujur, dia pasti malu. Dan mama pasti akan menggodanya. Lalu apa yang harus Umi lakukan? Jika seperti ini, dia tidak ingin minum air putih. Agar nantinya tidak ada urine yang dia keluarkan. Betapa berlebihan sekali diri Umi dalam memikirkan kesakitannya. "Kok malah diem? Kamu sakit apa? Biar mama mintain sama mas mu" Deg.. Dengan cepat Umi menggelengkan kepalanya. Slogan diamnya semalam dia pakai kembali. Bisa malu besar dia jika sampai Fatah tahu. Dari pada Umi mengambil resiko mamanya tahu, dia memilih kembali kekamar. Karena mulai hari ini dia sudah tidak bekerja, Umi memanfaatkan waktu itu untuk istirahat dan menghilangkan rasa sakitnya. "Kamu udah bangun sayang?" Umi diam seketika melihat wajah polos Hans yang baru bangun tidur. Rasa kesal sekaligus marah yang tadi Umi rasakan seketika hilang. Lenyap bagaikan debu yang tertiup angin dengan cepat. Lagi-lagi Umi bertanya dalam hati, apa karena cinta dia mampu menghilangkan rasa marah dan kesalnya? Apa semua karena cinta, Allah membantunya. Karena sesungguhnya Umi tahu benar, Allah paling tidak suka dengan seseorang yang memendam perasaan benci dalam hatinya. Umi hanya mampu tertawa dalam dirinya jika dia mendengar orang lain mengucapkan sakit hati, patah hati, atau jatuh hati, namun yang mereka tunjuk bukan organ hati. Melainkan jatung. Entah kesalahan ini berawal dari mana, yang jelas hingga saat ini kesalahan itu masih terus terjadi dikehidupan bermasyarakat. "Kamu kenapa dari semalam. Aku tanya hanya diam" Hans menarik tubuh Umi mendekat. Disandarkan kepalanya kepada perut Umi yang tengah berdiri. "Hans..." "Iya sayang" "Apa kamu pernah jatuh cinta? Maksud ku, cinta mu yang lain selain pada Allah?" Hans menatap wajah Umi dengan penuh senyum, "Aku pernah jatuh cinta. Tapi aku bodoh mengingkari perasaan cinta itu" "Maksud mu? Bukannya kamu dan ..." "Lara?" Tanya Hans. "Iya, kamu dan Lara bukannya saling mencintai?" Tanya Umi ragu-ragu. "Waktu itu aku masih terlalu cepat mengartikan kata cinta untuknya. Cinta yang membuat kita menjadi budaknya bukanlah cinta yang sehat" "Lalu bagaimana cinta yang sehat menurut mu?" Umi memilih untuk duduk dipinggir ranjang dan matanya saling menatap pada Hans. "Aku jelaskan sedikit mi, jika aku salah tegur aku. Karena kamu tahu sendiri bagaimana dangkalnya agama ku. Bahkan seujung kuku pun tidak" Umi mengangguk mantap pada Hans, dia penasaran apa yang akan Hans jelaskan. "Cinta antara muda-mudi di dalam Islam adalah cinta yang dilandasi rasa ketaqwaan terhadap Allah SWT, dengan mentaati perintah-perintahNya dan menjauhi larangan-laranganNya, dan disertai akhlak yang baik. Cinta harus disertai akhlak yang baik, dikarenakan hubungan cinta muda-mudi sangat dekat dengan perbuatan zina. Tanpa akhlak yang baik akan sulit menghindari zina. Dalam Islam, perzinahan adalah salah satu dosa yang sangat besar karena bukan hanya merusak akhlak orang yang melakukannya saja tetapi juga orang lain. Allah brfirman dalam Al-Qur'an: "Dan janganlah kamu sekalian mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk."(Q.S. Al-Isra, 17: 32). Jika kamu sadar mi, cinta ku pada Lara tidak bisa disebut sebagai cinta atas dasar islam. Karena yang baru ku sadari, islam tak pernah mengenal kata pacaran" jelas Hans. "Terus kenapa kamu pacaran sama Lara?" Ketus Umi. "Begini deh mi, Cinta atau bahasa inggrisnya LOVE yang tidak dilandasi rasa ketaqwaan kepada Allah, akan memunculkan cinta buta. Sebagaimana yang sering dikatakan orang " Love is blind (cinta adalah buta)". Adapun yang membuat cinta itu buta adalah jika kita mencintai seseorang karena hal-hal yang duniawi, karena harta, tahta/kedudukan/jabatan, ketampanan/kecantikan dan yang sejenisnya. Cinta macam ini hanya bisa bertahan jika penyebabnya masih ada. Jika seseorang mencintai dikarenakan ketampanan/kecantikannya, maka, bagaimanakah jika orang tersebut tidak lagi tampan/cantik? Namun sebaliknya, cinta itu tidak buta, alias melihat, bahkan saat ini aku mampu melihat wajah mu. Berarti aku tidak buta kan? Oleh karena itu, jika kita ingin memiliki cinta yang murni, tulus, dan abadi dari seseorang, tentu kita memerlukan penyebab yang membuatnya demikian. Aku pernah baca salah satu hadits, bahwa seseorang laki-laki menikahi seorang perempuan itu karena empat hal, yaitu: (1) karena kecantikannya, (2) karena kekayaannya, (3) karena keturunannya, dan (4) karena ketaqwaannya. Maka ambillah yang keempat, yaitu karena ketaqwaannya, karena, itu akan menjamin hidupnya. Jika hadits di atas dikaitkan dengan cinta, maka, jika kamu ingin mencari cinta yang abadi, cintailah seseorang dikarenakan keimanannya. Seperti saat ini, aku menikahi mu karena agamamu. Karena akhlak mu. Aku tidak munafik agama ku masih jauh dalam arti kata sempurna untuk membimbing mu. Tapi tak bisa ku elakkan, kamu sudah menjadi tanggung jawabku untuk ku didik dan ku kasihi. Ada sebuah pepatah lama dalam bahasa Inggris yang berkaitan dengan cinta, yaitu: "You can buy s*x but you cannot buy love", "you can buy food but you cannot buy appetite", "you can buy a house but you can by a home". Yang artinya: "Kamu dapat membeli s*x tetapi kamu tidak dapat membeli cinta, kamu dapat membeli makanan tetapi kamu tidak dapat membeli selera, kamu dapat membeli sebuah rumah tetapi kamu tidak dapat membeli ketentraman dalam keluarga". Ini dapat diartikan bahwa cinta tidak dapat dibeli karena cinta sebenarnya datang dari Tuhan. Bahkan jika aku adalah orang terkaya di dunia, aku tidak bisa membeli cinta. Sebagai contoh, jika aku memberikan seseorang banyak hadiah-hadiah yang mahal, maka, apakah orang tersebut akan mencintai aku? Tidak. Orang tersebut hanya mencintai hadiahku dan kekayaanku saja. Aku dapat membeli makanan apa saja yang bisa aku beli, akan tetapi makanan yang paling enak sekalipun akan terasa tidak enak jika aku tidak punya selera makan. Sedangkan "Rumah" adalah tempat di mana hatimu berada. Tempat membesarkan keluargamu, tempat di mana orang-orang yang kamu cintai berada, tempat di mana kamu bisa benar-benar beristirahat, untuk mengistirahatkan badan dan jiwamu, tempat di mana kamu untuk sementara lepas dari dunia yang kejam. Rumah tidak bisa disebut "rumah" jika kamu tidak bisa menemukan ketenangan, kedamaian, dan keamanan di dalamnya. Banyak orang yang mengatakan bahwa cerita percintaan Romeo dan Juliet adalah salah satu contoh cinta sejati. Akan tetapi, kalau kita mau meneliti dan menganalisa lebih jauh ke dalam cerita ini, maka kita akan melihat bahwa cerita ini bukanlah cerita tentang cinta sejati. Kamu ingat mi, pada klimaks cerita tersebut diceritakan bahwa ketika Romeo mendengar Juliet telah "meninggal dunia", maka Romeo pun berniat untuk melakukan bunuh diri karena dia tidak mau ditinggalkan oleh Juliet. Perbuatan bunuh diri adalah perbuatan yang sangat terkutuk dalam Islam, dan merupakan dosa yang sangat besar. Pada saat seseorang bunuh diri maka telah dicabut imannya oleh Tuhan, dan mati dalam keadaan tidak ada iman, alias mati kafir. Ketika setelah Romeo melakukan bunuh diri di hadapan mayat Juliet, barulah dia menyadari bahwa Juliet hanya berpura-pura mati, tetapi itu sudah terlambat, racun sudah mulai membunuhnya. Juliet pun melakukan bunuh diri karena dia tidak mau ditinggalkan oleh Romeo. Romeo dan Juliet sama-sama melakukan bunuh diri karena tidak mau ditinggalkan oleh pasangannya. Ini berarti bahwa mereka hanya mencintai tubuh pasangannya saja, mereka tidak mencintai jiwa pasangannya. Mereka tidak sadar bahwa hidup di dunia ini hanyalah sementara saja. Tubuh mereka akan rusak dimakan usia, dan akhirnya mati. Jika dipandang dari sudut Islam, maka mereka telah melakukan suatu dosa besar yaitu melakukan bunuh diri. Jika percintaan mereka adalah cinta sejati, maka seharusnya mereka berjanji atau bersumpah di hadapan mayat pasangannya untuk berusaha mendamaikan pertengkaran keluarga mereka, penyebab terhalangnya cinta kasih mereka. Diluar sana banyak orang yang terjebak antara arti cinta dan nafsu. Mereka terutama muda-mudi banyak yang tidak bisa membedakan antara cinta dan nafsu. Mereka menganggap bahwa dengan melakukan hubungan seksual berarti mereka telah mencintai seseorang. Nafsu, dalam hal ini nafsu syahwat, adalah suatu kebutuhan biologis yang dipunyai oleh setiap manusia. Semua jenis nafsu adalah sesuatu hal yang bersifat duniawi, sedangkan cinta adalah sesuatu yang datang dari hati nurani yang paling dalam" tutup Hans sebagai penjelasan terakhirnya. Umi tidak pernah menyadari pria yang telah menikahinya mampu membuatnya kagum seperti ini. Pria yang akan selalu dipandang sebelah mata jika disejajarkan dengan kakaknya Fatah. Tapi pagi ini pria itu begitu memukau hatinya. Membuat getaran yang semalam sudah redup mulai kembali bergetar dengan hebat. Ada apa dengan dirinya apa dia sakit? "Abang salah mi menjelaskan semua itu?" Ragu-ragu Hans menatap mata Umi. Mencari jawaban atas kediaman Umi selama dia menjelaskan tadi. "Aku bukan kesatria islam yang bersenjatakan dakwah, aku hanya seorang pria yang berusaha mencintai bidadari ku dengan cara yang benar" Tanpa bicara apapun, Umi memeluk tubuh Hans erat. Biar saja dia telah dibutakan oleh cinta yang Hans ajarkan kepadanya. Yang Umi tahu saat ini dia bahagia bersama imam dalam hidupnya.     Ketika ku tak mampu berkata... Ketika ku tak mampu bersuara... Kau ajarkan ku bertanya... Kau ajarkan ku tuk mencoba... Kau hadir mengisi hari ku... Kau temani ku dalam gelisah ku... Kau hiasi relung hati ku... Dan kau luluh kan ku... Hadir mu membuat ku bahagia... Adanya diri mu membuat ku gembira... Karena mu aku tersenyum... Hanya kamu dalam hati ku... Diam membawa arti penting... Karena diam juga aku tahu... Karena diam aku mengerti... Bahwa diriku tetap mencintaimu... Walau harus diam-diam.. Agar rasa sakit itu tidak datang kembali... ----- continue
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN