3. DIA LAGI DIA LAGI
Hari sudah berganti, sejak semalam perasaan yang Umi rasakan tidak karuan. Bagaimana dia bisa tenang jika tepat sore ini dia harus membawa Hans ke rumah untuk dipertemukan oleh papa. Bahkan hingga siang ini pun Umi belum memberitahu Hans untuk datang kerumahnya. Jika seperti ini terus alamat Umi lah yang akan dimarahi oleh papa.
Tak ada jalan lain yang harus dia ambil. Dengan berani Umi menghubungi Hans. Berharap Hans bisa membantu menjelaskan pada papa jika mereka memang tidak ada hubungan apapun.
"Assalamu'alaikum.. Hans.."
"Wa'alaikumsalam.. ada apa mi?" Suara berisik klakson mobil terdengar oleh Umi. Itu menandakan Hans sedang berada dijalan
"Kamu sibuk ya Hans? Nanti aku hubungi lagi" ucap Umi cepat. Tanpa salam Umi langsung mematikan sambungan teleponnya. Baru bicara seperti itu saja mengapa dia menjadi salah tingkah seperti ini?
Tapi detik berikutnya nama Hans tampil dilayar ponsel Umi.
"Ih ngapain ditelepon sih" gumam Umi.
Digesernya gambar telepon berwarna hijau untuk menjawab panggilan Hans. "Ya Hans.. ada apa?"
"Kenapa dimatiin teleponnya?"
"Kan kamu lagi sibuk. Nanti aja kalau udah gak sibuk" ketus Umi. Namun setelah itu dia menyesal telah mengucapkan hal itu. Hans yang berada diseberang telepon sana langsung mematikan panggilannya. "Ya elah dimatiin. Ngambek pasti tuh orang" gerutu Umi seorang diri.
Karena sudah tidak ada harapan untuk meminta Hans datang kerumahnya, Umi berusaha menerima nasibnya akan dimarahi oleh papa malam ini.
*****
Waktu sudah menunjukkan pukul 6.30, selepas sholat magrib tadi Umi kembali berkutik dengan pekerjaannya. Dia yang terbiasa bekerja sesuai dengan waktu, namun malam ini dibuat pengecualian olehnya. Umi berharap jika pulang lebih larut dia tidak akan bertemu dengan papa. Maka peluang dia akan dimarahi akan lebih sedikit. Karena itu, walau lelah dia tetap memaksakan dirinya menyelesaikan pekerjaan ketimbang untuk pulang.
Nada dering dari ponsel Umi membuat Umi bergidik ngeri. Dia sudah tahu siapa yang kira-kira menghubunginya. Dengan takut-takut dia melihat nama yang tertera diponselnya. Saat dilihatnya nama mama yang tertera, ini tanda bahaya menurutnya. Pasti papa sedang mengamuk dirumah lalu memaksa mama untuk menghubungi dirinya.
Sebelum mengangkat panggilan itu, Umi menyempatkan membaca sebait doa agar terhindar dari masalah.
"BISMILLAAHILLADZI LAA YADLURRU MA'ASMIHI SYAI'UN FIL ARDLI WA LAA FIS SAMAA'I WA HUWAS SAMII'UL 'ALIIM.
dengan nama Allah yang tidak ada sesuatu pun di bUmi dan di langit yang bisa memberikan bahaya. Dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui "
Umi mengulang doa itu hingga 3 kali banyaknya. Sebenarnya doa yang dibaca Umi adalah doa agar tidak terkena musibah. Jika doa itu dibaca pada sore hari, maka insha Allah akan terhindar dari musibah yang tiba-tiba datang hingga pagi hari. Begitu pun sebaliknya, jika dibaca pagi hari maka insha Allah akan terhindar dari musibah yang akan datang pada sore hingga malam hari.
"Assalamu'alaikum ma.."
"Wa'alaikumsalam.. mi, lama banget angkatnya. Kamu dimana toh nduk?" Dari suara mama, Umi tahu ibu nya itu tengah khawatir akan dirinya saat ini.
"Umi masih dikantor ma, ada apa?" Tanya Umi hati-hati.
"Pulang nduk, dirumah ada yang menunggu mu. Mereka sedang sama papa dan mas mu diruang tamu"
Jeng..jeng.. Umi menebak-nebak siapa yang datang bertamu kerumahnya? Bahkan belum ada seminggu dia kembali dari Korea. Tidak mungkin teman-teman kampusnya yang datang kerumah. Lantas siapa kah gerangan tamu itu.
Setelah menjawab mama untuk segera pulang, Umi terburu-buru merapihkan pekerjaannya. Lalu meraih jaket nya untuk dia pakai.
Umi tidak menghiraukan beberapa karyawan yang masih berada dikantor memperhatikan dia dengan aneh. Menurut mereka tidak biasanya Umi jam segini masih terlihat dikantor.
Saat sampai dihalaman parkir rumahnya, Umi melihat ada 2 mobil yang bukan milik anggota keluarganya. Tapi satu dari 2 mobil itu dia pernah melihatnya. Umi berusaha mengingat dimana dia pernah melihat mobil nissan juke hitam itu.
"Assalamu'alaikum..." salam Umi.
"Wa'alaikumsalam.." jawab mereka kompak.
Raut wajah kaget Umi tidak bisa disembunyikan. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Apa karena saat ini Umi melihat hal yang tidak biasa?
"Sini nduk.. " panggil mama.
Beberapa pasang mata menatap kearahnya. Kakinya mendadak saja lemas serasa tak bertulang. Bibirnya kelu ingin menjawab panggilan sang mama. Umi seperti ini karena satu pasang mata hitam terus mengunci pergerakannya. Dia seperti terikat dengan mata itu. Mata yang dari dulu sudah dia kagumi keindahannya. Hanya dari matanya lah awal Umi mengenal sosok pria itu. Dia adalah Hans.
"Sini mi..." kali ini Sabrin yang memanggilnya.
Umi tersenyum dengan sangat terpaksa saat dia bergerak untuk duduk disamping mama dan Sabrin.
"Kamu baru pulang ya mi" tanya mama Rima -mama Hans-
"Iya tante. Banyak kerjaan" Umi menjawab dengan nada yang sangat gugup. Tidak biasanya dia begini. Dulu saja saat interview pekerjaan gugupnya tak begini kuat. Tapi mengapa sekarang Umi berubah menjadi seperti ketakutan begini? Padahal Hans dan keluarganya hanya datang bersilahturahim.
"Kamu sudah kenal dengan putri ku ternyata" ucap mama.
"Kebetulan waktu kerumah istrinya pak Daud, sahabat ku. Umi datang kesana bersama Sabrin" jelas mama rima.
"Wah ternyata memang dunia terlalu sempit ya" sahut papa. "Dulu papa pernah membeli mobil dari perusahaan pak Frans. Kebetulan kan papa Hans ini punya perusahaan yang bergerak dibidang otomotif" jelas papa.
Fatah yang ikut duduk disamping papa mengangguk mengerti dengan penjelasan papa.
"Nak, pasti kamu bingung kenapa keluarga dari pak Frans bisa disini. Ini juga karena mu" ucap papa yang tersenyum kearah Umi. Tapi menurut Umi, senyuman ini seperti neraka baginya.
Umi seperti merasakan de javu. Kejadian seperti ini pernah terjadi tetapi bukan Umi yang merasakan. Melainkan Fatah dan Sabrin. Dan kini, dialah yang mengalaminya.
Sirine siaga satu berbunyi didalam diri Umi. Dia tidak mau jika pertemuan ini berakhir dengan perjodohan. Cukup Fatah saja yang merasakan perjodohan. Tidak dengan dirinya. Dia dan Hans hanya sahabat. Hingga nanti tidak akan pernah berubah.
"Kok karena Umi pa? Umi emangnya kenapa?" Hans yang dari tempat duduknya memperhatikan Umi hanya tersenyum mengejek. Dia sangat lucu jika melihat wajah Umi yang seperti ini. Sangat menggemaskan menurut Hans.
"Mana janji mu pada papa kemarin? Bahkan Hans dan keluarganya datang bukan karena undangan mu. Melainkan papa yang mengundang mereka" jelas papa.
"Begini mi, kamu dan anak tante kan sudah saling kenal sejak kuliah dulu. Bahkan kata Hans kalian satu organisasi. Jadi pasti sudah sangat dekat kan. Tante harap kamu bisa menjadi bagian dari keluarga kami juga. Kamu sudah tau kan masa lalu Hans seperti apa. 2 tahun yang lalu Hans juga baru saja kehilangan istrinya. Tante gak berharap banyak, tapi tante mau kamu bisa menemani Hans. Bukan teman seperti layaknya sekarang ini. Tapi teman hidupnya" jelas mama rima.
"Apa?"
"Kamu mau kan nduk? Mama gak mau kamu dekat dengan laki-laki yang bukan qawwam mu. Kalau hubungan mu dengan Hans diresmikan kamu bisa kemana pun sama dia. Dan pastinya gak akan ada yang mengatakan hal buruk tentang kalian" ucap mama.
"Tapi ma, mama kan tau Umi belum mau menikah." Jelas Umi.
"Mi, pacaran setelah nikah itu lebih baik. Mas dengar dari mas Imam, kemarin kalian pacaran kan?" Ucap Fatah tak tinggal diam.
"Idih, mas gosip banget sih. Umi gak pacaran. Tuh tanya orangnya langsung" ketus Umi.
"Iya mas, saya sama Umi kemarin gak sengaja ketemu di mall. Lalu saya mengajak dia makan siang, kebetulan bertemu dengan mas Imam" jelas Hans yang membantu Umi menjawab pertanyaan Fatah.
"Begini Hans, bukan om tidak percaya dengan anak om dan kamu. Tapi alangkah baiknya jika dua orang yang sudah dewasa memilih jalur halal seperti menikah. Dari pada bertemu diluar tanpa status yang jelas"
"Ih pikiran papa kolot banget sih. Umi tuh sama Hans gak ada hubungan apa-apa. Dan Umi gak mau menikah. TITIK..." kesal Umi. Dia langsung saja berdiri dan masuk kedalam kamarnya dengan membanting pintu sangat keras.
"Sepertinya putri mu tidak mau dengan putra ku" ucap Frans kepada papa Hadi.
"Dia memang seperti itu jika disinggung tentang pernikahan."
"Ya sudah pa, kita kan kesini mau saling silahturahim. Saling kenal. Jika memang Umi cocok dengan Hans kedepannya kita akan sering kesini" mama Rima berusaha mengerti posisi Umi yang menolak Hans. Hans yang berstatus duda pasti akan sulit melamar seorang gadis seperti Umi. Apalagi mama Rima tau Umi gadis yang sholeha. Berbeda dulu dengan mantan menantunya, Lara.
Papa dan mama mengajak keluarga Hans makan malam bersama. Tentunya tanpa Umi disana. Walau sudah dibujuk oleh Sabrin dan mama, tetap Umi bersikeras tidak akan keluar dari kamar jika keluarga Hans masih dirumah.
Begitu masuk tengah malam, Umi baru memberanikan diri keluar dari kamarnya. Lampu-lampu rumah nampak sudah padam itu menandakan jika semua orang rumah sudah tertidur dengan pulas. Saat kaki Umi melangkah kearah dapur, sebuah suara mengkagetkan Umi. "Belum tidur mi?"
"Astagfirullah al'adzim, mas Fatah buat kaget aja"
"Kamu yang kayak maling, diam-diam masuk kedapur" ucap Fatah.
"Lah mas ngapain dalam gelap duduk sendirian?" Umi menarik kursi makan dan duduk berhadapan dengan Fatah.
"Tadi abis buat s**u untuk Syafiq" jelas Fatah. "Mi, tadi kamu kenapa? Kamu udah besar mi, jangan bersikap seperti itu. Setidaknya hargai kedatangan mereka. Jangan seolah-olah mereka begitu rendah mi. Mereka datang kesini baik-baik loh"
"Ah mas, kalau mau ceramah besok aja. Umi ngantuk"
"Coba hilangin sedikit sifat buruk mu itu. Kamu itu selalu seperti ini jika dinasihatin oleh orang lain. Kita ini peduli pada mu. Kita ingin yang terbaik untuk kamu"
"Mas bilang terbaik untuk Umi? Apa mas tau Umi mau apa? Apa mas tau apa yang Umi rasakan sekarang? Apa mas tau Umi suka gak diperlakukan kayak tadi? Mas itu bilang ingin yang terbaik, tapi terbaik untuk siapa mas? Untuk papa? Mama? Apa untuk mas?" Marah Umi. Baru kali ini dia begitu berani melawan kakak laki-lakinya itu. Biasanya yang menjadi lawan bicaranya adalah mama. Tapi kali ini Fatah sudah sangat keterlaluan menurut Umi.
"Sekarang Umi tanya, gimana rasanya waktu mas dijodohkan dengan kak Sabrin? Apalagi pas tahu kak Sabrin gak sesuai dengan apa yang mas inginkan?"
"Mi.. bukan begitu maksud mas"
"Udahlah mas, Umi capek kalau mau berdebat soal ini. Mas tahu kan pernikahan itu sakral, Umi gak mau main-main mas. Umi gak mau gegabah memilih pria yang akan membimbing Umi. Kita gak perlu jauh-jauh mencari contoh, disekitar kita ada contohnya. Mas tau kan siapa? Karena perasaan napsu sesaat yang mereka bilang cinta, dia menikahi wanita yang diluar logika kita sebagai umat muslim. Apa mas mau Umi seperti itu? Apa mas mau Umi salah jalan dulu baru dibenarkan?"
"Mi, dengerin mas. Pernikahan adalah sebuah proses yang biasanya dimulai ketika manusia mulai memasuki masa usia dewasa muda, yaitu usia 20-an hingga 30-an. Hal ini merupakan suatu tugas perkembangan di masa ini untuk menjalin suatu keintiman, mengembangkan kehidupan yang produktif dan prokreatif, bahkan menikah dan membentuk keluarga. Sedangkan pada masyarakat yang memegang kuat nilai-nilai keislaman biasanya tidak memilih pasangan melalui pacaran. Nilai pernikahan dalam Islam sebagai ibadah dan ikatan perjanjian yang kuat di mata Allah menjadikan Islam membatasi tata cara pergaulan antara laki-laki dan perempuan sebelum menikah. Islam melarang pacaran karena akan mendekatkan seseorang kepada hal yang diharamkan Allah sebelum menikah seperti berduaan, melakukan kontak fisik, menumbuhkan perasaan cinta atau emosional dengan yang bukan mahram, yang semuanya dapat berakibat buruk kepada orang itu sendiri" jelas Fatah.
Umi hanya diam membisu. Dia membenarkan semua yang Fatah katakan. Tapi kembali lagi, menurut Umi, dia dan Hans memang tidak pernah melakukan sesuatu diluar batas Islam.
"Kamu diam seperti ini, kamu paham gak sama yang mas bilang? Atau arti kediaman mu cuma semata-mata ingin mas cepat selesai menasihati mu"
"Mas, sampai kapan sih Umi bilang biar mas paham. Umi sama Hans itu memang gak ada apa-apa"
"Mi, jika menurut mu begitu apa kamu tahu apa yang Hans rasakan? Gak kan? Kamu cuma menyimpulkan dari diri kamu sendiri. Padahal tadi kamu yang bilang jangan menilai sesuatu dari satu sudut pandang saja. Kalau menurut yang mas lihat, cara memandang Hans kepada mu berbeda mi. Jika kamu gak merasa dosa karena gak ada perasaan apa-apa. Bagaimana dengan Hans? Apa kamu tidak berpikir tentang dirinya? Kamu dengan teganya membiarkan dia terjebak dalam zina. Apa itu yang dilakukan seorang muslim? Tidak mi. Seorang muslim itu selalu mengingatkan saudara muslimnya. Tapi ingat bukan menggurui juga"
"Terus yang mas mau Umi harus seperti apa?" Umi lelah mendengar semua nasihat dari Fatah. Jika akhirnya seperti ini, sudah bisa dipastikan akan seperti apa hidup Umi kedepannya.
"Menikahlah mi, buat mama sama papa bahagia. Setelah kamu menikah, kamu sudah meringankan beban papa. Semua tanggungannya atas dirimu telah diambil alih suami mu. Suami yang insha Allah akan menuntun mu menjadi lebih baik" ucap Fatah. "Suatu penikahan yang merupakan suatu ibadah itu kuat sekali digoda oleh setan agar rumah tangganya karam. Oleh karena itu, sangat-sangat penting bagi seorang suamimu kelak untuk memahami tabiat istrinya. Terutama tabiat mu, mas tahu benar kamu perempuan seperti apa." Sambung Fatah.
"Ih, mas Fatah apaan sih. Kayaknya Umi gak banget"
"Bukannya gak banget mi. Kamu tuh gak beda jauh dengan Sabrin tapi Sabrin masih menurut kalau diajarkan. Sedangkan kamu, semua nasihat yang kami berikan padamu seperti masuk telinga kanan keluar telinga kiri" cecar Fatah kesal.
"Ye, beginilah Umi. Gak suka ya gak maksa"
"Umi.. Umi.. mas gak tau waktu mama hamil kamu ngidam apa ya sampai bisa kamu kayak begini" keluh Fatah. "Denger mi, seburuk apapun seorang wanita, jangan sampai kita berbuat kasar dengannya. Karena wanita itu bukan diciptakan dari baja yang bisa meleleh, bukan pula dari batu yang bisa hancur berkeping-keping jadi kerikil, tetapi wanita diciptakan dari tulang rusuk yang paling bengkok, yang jika diubah akan patah, namun jika tidak diubah akan tetap bengkok, oleh karena itu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pun tidak menyuruh lelaki untuk mengubahnya, Namun Beliau shallallahu 'alaihi wasallam berwasiat: "Jagalah wanita-wanita itu..! Pelan-pelan dan berlemah lembutlah pada wanita!" ..."
"Tuh, nabi aja suruh lemah lembut sama wanita. Mas apaan tuh galak banget sama Umi?"
"Mas gak galak mi, mas itu mau kamu paham. Kamu ingat salah satu firman Allah yang cocok dengan situasi mu saat ini. Begini bunyinya.
"Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mempusakai wanita dengan jalan paksa dan janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila mereka melakukan pekerjaan keji yang nyata. Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena
mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak." Semua itu jelas tertulis di surat An-Nisaa ayat 19. "
Umi menopang wajahnya dengan kedua tangannya. Matanya dengan mata Fatah saling memandang. Mereka saling menyelami pikiran masing-masing.
"Apa jika Umi menikah sama Hans, Umi akan bahagia?"
"Jika Hans mencintai mu dengan tulus, dia akan berkorban apapun untuk membahagiakan mu" ucap Fatah tegas. "Tidurlah, pikirkan baik-baik semua nasihat mas"
"Iya mas...mas Fatah makasih ya. Kamu emang yang terbaik" Umi bangkit dari kursinya dan mendekati Fatah. Diciumnya pipi Fatah dengan sayang. Umi terasa sangat bahagia memiliki kakak laki-laki seperti Fatah. Yang dengan sabarnya menjelaskan semuanya.
*****
Pagi-pagi sekali mobil Hans sudah terpakir rapih disamping mobil fortuner putih milik Fatah. Pak Kardi yang melihat kedatangan Hans pagi-pagi terlihat kaget.
"Pagi pak.." ucap pak Kardi.
"Pagi.. jangan panggil pak. Panggil abang aja" jelas Hans sambil menepuk bahu pak Kardi. "Umi masih belum berangkat kan pak?"
"Belum pak, eh bang. Bapak jadi aneh sendiri. Biasanya mas Fatah maunya dipanggil mas. Terus kakaknya non Sabrin, maunya juga dipanggil mas. Tapi yang ini beda"
"Kan biar beda sama yang lain pak. Lagi juga mama ku itu asli orang Manado. Masa orang Manado dipanggil mas, bukannya aneh" jelas Hans.
"Oh begitu. Baiklah bang..."
"Hans pak. Abang Hans yang tampan" Hans tersenyum geli mengucapkan kata tampan untuk dirinya sendiri.
Setelah bercakap sebentar dengan supir pribadi keluarga Umi, Hans berjalan masuk kedalam rumah Umi.
"Assalamu'alaikum.."
"Wa'alaikumsalam.. loh Hans, mama gak salah liat kan?" Mama nampak kaget dengan kedatangan Hans pagi ini. Hans memang begitu memikat dengan setelan kerja yang dia pakai. "Mau berangkat kerja nih?"
"Iya tante. Tadi malam Umi bilang minta saya jemput"
"Umi? Minta dijemput?" Mama semakin bingung dengan apa yang dia dengar. Karena tidak biasanya Umi minta dijemput oleh pria.
"Siapa ma?" Tanya Fatah yang sudah ada dibalik tubuh mama.
"Pagi mas.." cengir Hans. Fatah tersenyum bahagia. Ternyata Umi mendengar sarannya tadi malam. Walau keras Fatah tahu Umi selalu memikirkan apa yang dia nasihati.
Tapi Fatah kembali diam, dari wajahnya dia terlihat bingung harus berlaku seperti apa.
“Kamu mau jemput Umi?”
“Iya mas..” cengir Hans dengan senyum ala iklan pasta gigi di televisi.
"Sudah.. sudah, ayo masuk, kita sarapan bareng ya" ucap mama bahagia. Papa yang baru keluar dari kamar begitu kaget melihat ada Hans dimeja makan mereka bersama Sabrin dan Fatah. Sedangkan mama masih sibuk menyiapkan menu sarapan.
"Pagi om.." sapa Hans ramah.
"Pagi. Ada apa pagi-pagi?" Papa mengambil bagian duduk paling ujung. Langsung saja dia menatap tajam kearah Hans.
"Umi meminta saya mengantarkan kekantornya pagi ini" jujur Hans.
"Oh begitu" jawab papa dingin. “Lalu kapan kamu bawa orang tua mu datang kesini. Papa bukannya tidak suka kamu menjemput Umi, tapi alangkah baiknya kamu menghalalkan dia dulu”
“Iya om, saya akan bawa papa dan mama saya malam ini. Karena papa ku harus ada pekerjaan diluar negeri” jawab Hans mantap.
“Segerakanlah hal baik, agar tidak menimbulkan fitnah” tegas papa Hadi.
"Pagi semuanya..." sapa Umi dengan raut wajahnya sudah tidak seperti semalam. Dari bibirnya timbul lah senyum bahagia saat melihat Hans sudah duduk bersama keluarganya. "Pagi keponakan ammah" Umi tidak pernah absen mencium pipi Syafiq setiap paginya. Karena Umi tidak ingin Syafiq melupakan dia lagi seperti beberapa hari lalu. Saat Umi baru saja kembali dari korea.
"Ada sesuatu yang papa gak tahu?" Tanya papa.
Mama yang baru datang dari arah dapur, langsung meletakkan nasi goreng special diatas meja makan. Dia tersenyum bahagia kearah Umi. Melihat seperti ini saja mama sudah tahu jika Umi sudah setuju dengan pernikahannya.
"Sesuatu apa pa?" Tanya Umi. Dia yang duduk dihadapan Hans dengan telaten mengambilkan nasi goreng kepiring Hans.
"Mau pakai telor gak?" Tanya Umi dengan nada yang tidak bersahabat.
"Baik-baik dong tanya nya" goda Sabrin.
"Boleh mi, kalau boleh dua sekalian" jawab Hans.
"Ya ampun Hans, jaim sedikit apa. Aku tau makan mu banyak tapi jangan buat malu juga. Nyesel aku minta kamu jemput" marah Umi. Semua orang diruang makan itu langsung tertawa mendengar perbincangan Hans dan Umi. Apalagi sang mama yang melihatnya begitu tertarik dengan percakapan kedua anak muda itu. Mama sudah merasa Hans pria yang paling cocok dengan Umi. Umi yang galak seperti itu, bisa dibawa santai dengan Hans yang seperti tanpa beban berada didekat Umi.
"Gak papa dong nduk, Hans suka makan telor kali. Makannya minta dua sekaligus"
"Ma, asal mama tahu. Hans itu rakus. Dia makannya banyak. Awas aja dia habisin nasi goreng pagi ini"
"Umi !! Jangan begitu" bentak papa.
"Tapi itu bener pa..." gumam Umi.
Melihat Umi sedih, Hans menjadi tidak tega. "Benar om, saya memang banyak makan. Maaf saya merepotkan" ucap Hans.
"Tuh kan bener"
"Ya sudah, dimulai makannya. Gak akan mulai-mulai kalau masih ribut terus" nasihat mama.
Setelah semuanya diam, papa langsung memimpin doa sebelum mereka semua makan. Hans yang baru pertama kali bergabung dengan keluarga ini, terasa begitu hangat. Berbeda sekali dengan keluarganya. Papanya sibuk dengan pekerjaannya hingga lupa dengan anak istrinya. Sedangkan mama Hans, sibuk dengan panti asuhan yang dimiliki oleh keluarga Hans. Baru kemarin saja keluarganya bisa berkumpul dan datang kerumah ini.
"Ah, kenyang.. makasih ya tante makanannya enak" ucap Hans.
"Iya Hans, sama-sama. Mama senang kamu makannya banyak" goda mama.
"Ayo berangkat Hans, nanti aku telat" ajak Umi. Dia kembali kekamarnya untuk mengambil tas sebelum berangkat.
"Hans, om tunggu kehadiran papa dan mama mu. Om harap secepatnya. Biar tidak menimbulkan hal yang tidak diinginkan" ucap papa mengingatkan Hans kembali.
"Baik om, nanti malam langsung saya minta papa dan mama datang lagi kesini" jelas Hans.
Usai pamit dengan papa dan mama, mobil Hans mulai beranjak pergi. Didalam mobil keduanya tampak tak ingin bicara sedikit pun. Hans sibuk dengan kemudinya sedangkan Umi sibuk dengan ponselnya.
"Mi, diem aja.." Hans melirik sekilas Umi yang ternyata tengah bermain game online melalui ponselnya. "Duh elah, dicuekin. Emang gamenya lebih tampan dari aku ya?" Goda Hans.
"Berisik..." ucap Umi. Ditatapnya kesal wajah Hans yang tersenyum senang setelah menggodanya.
"Mi, cewek itu suka tipe pria seperti apa sih?"
"Gak tau, tanya aja sama yang namanya cewek" ucapnya ketus. Jemari Umi masih sibuk menekan-nekan gambar misteri didalam ponselnya. Dia mencari-cari barang yang dibutuhkan untuk kasus penyeledikan dalam game tersebut.
"Ye, kan kamu cewek mi"
"Nama aku Umi, bukan cewek"
"Umi, maksud aku jenis kelamin mu" ucap Hans kesal. Rasanya jika berbicara dengan Umi harus dibuang jauh-jauh rasa emosinya.
"Kamu mau denger jawaban apa emang?" Tantang Umi. "Hans yang kata orang pinter tapi nyatanya bodoh. Kamu kan tahu makhluk yang bernama wanita dimuka bumi ini sangat banyak. Dan sifat mereka pun berbeda-beda. Apalagi jika dinilai dari ilmu psikologi. Jadi aku gak bisa menjawab bagaimana tipe pria yang disukai wanita" jelas Umi.
"Katanya master of psicology tapi ditanya begini aja nihil jawabannya"
"Apaan yang nihil hah? Tadi kan udah aku jawab.." maki Umi.
"Nih denger anak bisnis mau jawab. Cewek itu lebih suka cowok humoris dibandingkan cowok romantis. Karena cowok romantis gak akan bisa jadi humoris. Tapi cowok humoris bisa menjadi cowok romantis dengan caranya dia sendiri. Dan cowok humoris juga sangat dibutuhkan oleh cewek jika mood mereka sedang tidak baik"
"Gak berlaku buat aku" Ketus Umi.
"Oh ya? Are you sure?" Goda Hans. Matanya mengedip genit kepada Umi yang dibalas tatapan ingin muntah oleh Umi. "Mi..aku..."
Ucapan Hans terhenti saat ponselnya berdering. Ketika nomor yang begitu dia hapal tertera disana, dia langsung mematikan ponselnya.
"Kenapa gak diangkat? Pacarnya ya?" Sindir Umi.
"Bukan hal penting. Dari kantor biasa"
"Kantor kok keringet dingin gitu. Kamu gak inget lagi ngobrol sama anak psikolog?" Ketus Umi. Hans hanya mampu tersenyum. Dia sudah kehabisan kata-kata untuk membalas sindiran Umi. Biarkan Umi menang kali ini berdebat dengannya. Karena jujur saja dia tidak ingin membahas siapa yang menghubunginya.
Sabar..Kata itu yang selalu ditanamkan Hans dalam hatinya jika berdebat bersama Umi. Dia tidak pernah merasa capek untuk bersabar berada didekat Umi selama hampir 6tahun mereka kuliah dikampus yang sama. Menurut Hans, dia akan memetik buah atas kesabarannya itu suatu saat nanti.
----
continue
Ada yang mau beli bukunya?