TENTANG RAY

1524 Kata
Albert mendesah. Albert tau walau Karina berkata begitu, dalam hatinya Karina pasti berharap untuk bisa percaya lagi karena Albert yakin dia masih mencintai Ray. Kalau begini, aku jadi bingung. Apa aku harus mengatakannya? "Sebenarnya aku menyelidik tentang Ray secara diam-diam." Albert berkata pelan. Entah Karina membutuhkan ini atau tidak, Albert tetap akan menyerahkan apa yang sudah di dapatnya pada Karina. Gadis yang disukainya sejak pertama kali Albert melihatnya di kampus. Tentu saja Karina tidak tau itu. "Hah? Buat apa kamu menyelidiki Ray?" "Karena kamu, Karina," Albert tersenyum. "Aku?" tanya Karina, lengkap dengan ekspresi bingungnya. "Siapa tau aja kamu butuh informasi tentang Ray. Mungkin aja informasi yang aku dapat ini bisa kamu.” “Oh,” Karina terdiam sejenak, "tapi rasanya aku enggak akan butuh itu.” “Kamu yakin?” Karina mengangguk, Bahkan setelah bertemu Ray tadi, aku tidak merasakan apa-apa lagi untuknya. Mungkin yang aku inginkan hanyalah sebuah penjelasan yang sebenarnya mengenai alasan Ray menghilang begitu saja selama delapan bulan ini." “Aku tau. Seperti yang aku katakan tadi, mungkin saja informasi ini bisa bantu kamu. Mungkin juga tidak. Terserah kamu mau melakukan apa dengan ini." “Isinya benar semua tentang Ray?” Albert mengangguk. “Papi saja sedikit kesulitan mencari informasi mengenai Ray. Karena pengaruh keluarga Ray, beberapa informasi tentangnya bisa disembunyikan dengan baik. Bagaimana bisa kamu mendapatkannya?” "Anggap saja karena aku mengenal seorang detektif handal." "Hanya karena itu?" Albert mengangguk. "Aku mengerti," Karina tidak berusaha menanyakannya lebih jauh, karena Albert tampak enggan mengatakan alasan sebenarnya, Karina lalu menatap Albert, "pertanyaan aku sekarang. Kenapa?" “Apanya yang kenapa?” “Kenapa kamu melakukan hal ini? Maksud aku, kamu sampai bersusah payah mencari informasi mengenai Ray?” Albert mengangkat bahu. Tidak ada niat Albert mengatakan alasan sebenarnya dirinya membantu Karina untuk mencari informasi tentang Ray, untuk supaya Karina bisa menemukan cowok b******k itu. Tetapi setelah melihat wajah Karina, Albert malah jadi mengatakannya, “Sebenarnya aku melakukannya karena kamu. Aku suka padamu." Kata-kata Albert itu membuat Karina kaget setengah mati. What? Melihat Karina yang terdiam, Albert kembali melanjutkan, "Kamu baca ini. Bisa berguna buat kamu. Dan mengenai perkataan aku tadi, aku serius. Seratus persen serius, Karina!" Albert bangkit berdiri, menatap Karina seraya tersenyum lebar, "I like you! I love you! Since the first time we've met." Albert berlalu pergi. Meninggalkan Karina yang masih terbengong-bengong. Shock, kaget, tidak percaya, dengan apa yang di dengarnya barusan. Kemudian Karina menggelengkan kepalanya. Dari pada pikirannya melantur kemana-mana, Karina akhirnya memutuskan untuk membuka amplop tersebut dan melihat apa isinya. Penasaran juga sih. Informasi seperti apa yang berhasil di dapatkan oleh detektif yang Albert sewa. Isi amplop yang Albert berikan lebih mirip biodata. Bedanya ini versi super lengkapnya. Di tambah ada beberapa foto terbarunya tentu saja. Tidak terlalu menarik. Hanya foto-foto Albert dengan mantan-mantan di berbagai tempat. Seperti di Club malam, di mall sedang shopping, di kampus. Karina memang tau mengenai sepak terjang Ray sebelum berpacaran dengan dirinya. Ray yang terkenal sebagai bintang kampus itu bukan karena hanya wajah tampannya saja tetapi karena Ray mempunyai banyak mantan pacar. Di kampus hampir setiap mahasiswi di setiap jurusan mengenal Ray. Selain terkenal karena wajahnya yang tampan dan sikap playboy-nya, Ray juga cukup terkenal di bidang olahraga. Ray membawa tim sepakbola kampusnya menjadi juara pertama di semacam liga antar universitas di Jakarta. Terakhir Karina menemukan foto yang membuatnya bertanya-tanya. Foto memar di beberapa bagian tubuh seperti tangan, kaki, dan punggung. Foto-foto memar ini membuat Karina menarik satu kesimpulan asal, mungkin kah ini foto memar di tubuh Ray? *** Keesokan harinya Karina menunggu Lilia di Moan’s Cafe. Kafe baru yang berjarak sepuluh menit dari rumah Lilia. Sudah hampir dua puluh menit tapi Lilia belum juga tiba. Karina maklum sih. Saat ini adalah saat-saat jam pulang kantor, sudah pasti akan macet. Namanya juga Jakarta. Kalau tidak macet malah Karina akan terheran-heran. Sejak tiba tadi, Karina terus saja memerhatikan pintu depan cafe ini. Berharap Lila akan cepat muncul dari situ. Soalnya Karina sudah tidak tahan ini ingin cerita pada Lilia soal isi amplop yang di lihatnya kemarin. Saat Albert memberikan amplop itu, Karina memang sengaja tidak bercerita dulu pada Lilia soal itu. Karina berpikir untuk melihat isinya terlebih dahulu sebelum menunjukkannya saja pada Liila dan meminta pendapat kakak sepupunya itu, sebelum menyerahkan amplop tersebut pada keluarganya. Beberapa menit kemudian, bukannya melihat wajah Lilia yang muncul setelah memperhatikan pintu depan cukup lama, malahan Karina melihat Albert muncul. Yang membuat Karina heran adalah Albert malah langsung menghampirinya. Albert menyapa Karina lalu duduk tepat di hadapan Karina. “Hai,” sapa Karina balik dengan kikuk. Di sebelahnya Karina mendengar pengunjung cafe berbisik-bisik tentang dirinya dan Albert. Karina dan Albert di kira sebagai pasangan suami istri yang menikah muda. Astaga. Seperti yang sudah Karina duga. Orang-orang indonesia memang kepo, tukang ikut campur urusan orang. Penggosip. Uh! "Sendirian?" tanya Albert tanpa memperdulikan sekitarnya. Sepertinya Albert tidak merasa risih mendengar dirinya di bicarakan. Karina mengangguk, "Sekarang sih iya, tapi aku lagi nungguin Kak Lila datang." "Oh." Hening. Mampus. Aku juga bingung mesti ngobrolin apaan ini. Apalagi kemarin.. Aduh! "Karina, soal kemarin..." Albert memulai. Namun Karina menghentikan kata-kata Albert dengan lebih dulu berbicara panjang lebar, "Soal kemarin, sorry aku belum sempat memikirkannya lebih jauh. Amplop yang kamu kasih kemarin, menyita pikiran aku sepenuhnya. Karena itu aku ingin bertemu kak Lila hari ini." Albert tersenyum kecut, "Aku tau kamu bakal ngomong kayak gini. Karena itu aku pengen bilang, kalau perkataan aku kemarin jangan terlalu dipikirin dulu. Fokus aja sama apa yang paling kamu butuhkan untuk dipikirin. Aku akan menunggu." Karina merona mendengar perkataan Albert, namun ia berusaha menutupinya, "Kamu ke sini mau ketemu siapa?" “Aku pingin ketemu kamu. Kemarin pas chat kak Lila, dia bilang mau ketemu kamu di sini. Jadi aku datang ke sini hari ini,” ucap Albert seraya tersenyum manis. Duh beneran deh ini si Albert senyumnya manis banget. Lihat saja cewek-cewek di sekitar kami juga sudah meleleh menatap Albert. Karina berusaha menenangkan jantungnya yang mulai berdetak kencang karena Albert. “Serius!" melihat Karina terdiam, Albert kembali melanjutkan, "aku ke sini untuk ketemu sama kamu." Untuk mengusir perasaan aneh itu, Karina memutar matanya. Mencoba terlihat tidak terpengaruh oleh perkataan Albert, "Gombal banget!" Albert terkekeh, "Enggak juga ah, aku kan suka sama kamu. Wajar dong kalau aku pingin ketemu kamu terus." Karina merasakan pipinya semakin memerah, mendadak dia pun merasa suhu di sekitarnya meningkat. Sialan Albert! Gombal banget sih! "Gombal!" Karina berkata lagi dengan ketus. Melihat muka Karina yang memerah, Albert tersenyum senang, "Serius kok!" Lalu sebuah suara mengagetkan Albert dan Karina, "Suasananya berbunga-bunga amat nih. Ada yang resmi berpacaran ya?" "Kak Lila! Jangan iseng deh!" seru Karina cemberut. "Aku sih mau jadi pacar ibu cantik satu ini, tapi kayaknya dia gak deh sama aku, kak Lila!” Albert berpura-pura kecewa. Karina melototi Albert, memperingatkannya. Albert yang melihat Karina memelototkan matanya malah tersenyum. Di lain sisi, Karina malah deg-degan melihat senyuman Albert. Astaga. Ada apa denganku? “Karina!” “Ah, ya?” Karina kembali fokus, ia menatap Lilia yang baru saja memanggil. “Kak Lila memanggil-manggil kamu dari tadi, eh kamu malah bengong saja. Jadi, apa yang mau kamu bicarakan sama kakak?” *** “Jadi, menurut kalian yang Ray tidak sepenuhnya berbohong?” Karina mengangguk dengan raut wajah yang terlihat tidak yakin, “Aku rasa memang terjadi sesuatu yang menyebabkan Ray harus pergi setelah mengetahui kehamilanku dulu.” “Karena foto-foto memar itu? Memangnya kamu yakin itu foto Ray?” tanya Lilia dengan ragu. “Itu memang benar foto memar dari tubuh Ray, Kak Lila,” Albert menjawab mewakili Karina, “kata detektif itu, dulu memang kasus kekerasaan terhadap Ray sempat terdengar.” “Lalu mengapa itu tidak pernah terdengar atau diberitakan oleh media?” tanya Lilai heran. “Aku rasa Kak Lila juga tau seberapa kayanya keluarga Ray, bukan hal mustahil untuk membungkam media dengan kekayaan dan kekuasaan keluarga mereka. Katanya berita itu hanya diketahui masyarakat luas selama beberapa jam saja, sebelum tiba-tiba beritanya menghilang. Dan setelah itu, berita itu terlupakan begitu saja. Siapa pun yang masih mengingat tentang itu pasti paham kalau keluarga Simone menggunakan uangnya untuk membungkam media.” “Begitu rupanya. Yah, tidak mengherankan kalau itu benar terjadi. Keluarga mereka memang punya kekayaan dan kekuasaan untuk dapat melakukan semua itu,” Lilia mengangguk setuju setelah mendengar penjelasan Albert, “kalau begitu, apa kalian mau melakukan sesuatu untuk Ray?” Karina menggelengkan kepalanya, “Aku tidak mau ikut campur dengan masalah keluarga orang lain, Kak Lila.” Albert pun ikut menganggukkan kepalanya, “Aku setuju dengan Karina, Kak Lila. Belum lagi siapa pun tau betapa berbahaya berhadapan dengan keluarga konglomerat seperti keluarga Simone. Bukan hanya kita kalah dalam hal kekayaan, tetapi juga sudah pasti kita kalah dalam hal kekuasaan. Lagi pula memang tidak ada yang bisa kita lakukan untuk Ray.” “Lalu, apa yang akan kamu lakukan setelah tau semua ini, Karina?” tanya Lilia. “Aku hanya akan menjalani kehidupanku seperti biasa. Setelah melahirkan si kecil, aku akan menyelesaikan pendidikanku, lalu segera mendapatkan pekerjaan untuk bisa menafkahi diriku sendiri serta si kecil.” Lilia tersenyum bangga mendengar penuturan Karina, “Adik sepupu kesayangan kakak sudah besar rupanya.” “Apaan sih, Kak Lila!” sewot Karina dengan pipi memerah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN