BIANCA POV
I opened the bathroom door, unfortunately the women who talked about me had already left. And I do not know who they are. I can only stare at my reflection in the mirror.
"I am Bianca," I say in front of the mirror, making my confidence return.
I'd better go back to the event. Maybe if they see me all their nonsense will be broken. Yes, I think that's better. I continued to smile, I would not show my frustration earlier, after all, it was useless, I also did not know which women were talking about me earlier.
I was back in the building, and it turned out that the guests were enjoying the food. Well, I'd better taste the food from catering here, my calculations are distinguished from catering at Bianca Management. I chose to go to the buffet because the queue wasn't that long.
Yes, the same as other caterers there is white rice and fried rice. I will taste fried rice like that. For side dishes, it is also not much different from catering-catering usually there is chicken rica-rica, vegetable soup, sweet and sour fish, cap cay. Wait, there's a menu that I'm curious about. In this menu there are balado eggplants and kale vegetables.
I smiled at once, rarely serving this menu. I also chose to taste balado eggplant and vegetable water spinach. And this looks very delicious. Do not forget I take crackers to add to the enjoyment of fried rice.
This was enough and I stepped in to find an empty seat. Here many round tables are provided for us to eat. My eyes looked right and left looking for an empty table. I saw in the corner that there was an empty table and someone waving at me.
I was confused, does anyone know me? I walked up to a woman who was waving her hand, and it turned out to be the mother of a boy who spilled water on my clothes.
"Hi, come sit with us," said the woman.
"Thank you," I say with a smile.
"Aku Farah angkatan 2011" ucapnya mengulurkan tangan.
"Bianca, aku juga angkatan 2011" jawabku membalas uluran tangannya.
"Oh, ternyata kita seangkatan. Aku anak Bahasa, maaf ya, aku jarang sekali berkumpul dengan alumni jadi tidak begitu ingat wajahmu" ucap tersenyum.
"Bukan kamu yang jarang berkumpul. Memang aku yang tidak dikenal" batinku.
"Mama, aku mau pipis" terdengar suara anak laki-laki disampingnya.
"Iya sayang, ayo kita ke toilet" ucapnya menenangkan anak laki-laki itu.
"Bianca, aku tinggal ya. Mau mengantar Farel ke toilet" ucapnya dan aku pun menganggukkan kepala.
Aku meletakkan piring makananku di atas meja lalu aku duduk, dan mataku menatap punggung Farah juga Farel yang berjalan bergandengan. Aku tersenyum kalau aku lihat Farel sepertinya baru berumur 3 tahun. Mungkin Farel kelahiran tahun 2016.
'2016'
Seketika aku teringat akan tahun itu. Tahun dimana kehidupanku menjadi hancur dan menyedihkan. Aku memejamkan mataku sejenak. Cinta pertamaku 'Erick'. Ya, wajahnya masih aku ingat. Aku tertawa kecil menertawakan diriku. Aku menarik nafas berat, aku tidak ingin mengingat tahun itu.
Aku menatap makananku, lebih baik aku mencicipi masakan ini, aku tidak ingin terlarut dalam masa lalu, karena aku yakin masa depan yang indah sudah di depan mata. Aku pun mulai menyendok nasi goreng dan menyuapkannya ke mulutku.
"Bianca" aku mendengar seseorang seperti sedang menyebut namaku. Aku menengok ke samping dan meletakan kembali sendok yang masih berisi nasi goreng.
"Vir, loe beneran pakai WO Bianca buat pernikahan loe nanti?" ucap seorang wanita menggunakan dress berwarna biru.
Aku memicingkan mata ke samping, aku melihat wanita membelakangiku dengan rambut yang tergerai, dan aku yakin itu adalah Davira. Karena dia menganggukkan kepala saat menjawab pertanyaan temannya yang aku lupa siapa namanya.
"Vir, loe yakin mau pakai Bianca. Loe tahu dia waktu SMA cupunya minta ampunkan?" ucap wanita berbaju pink dengan bibir mencibir.
Aku terdiam dengan tangan yang masih memegang sendok juga garpu dan aku masih memperhatikan mereka membicarakanku. Dan aku sengaja memindahkan dudukku tepat di belakang Davira yang memunggungiku, aku ingin sekali mendengar jawaban Davira.
"Kalian belum tahu ya, WO Bianca tuh lagi booming bangat di i********:" aku mendengar jawaban Davira, dan membuat hatiku sedikit lega.
"Nih, Instagramnya"
"Ih, keren"
"Sumpah, ini bagus bangat Vir. Ini benar punya Bianca?"
Aku tersenyum lega, setidaknya mereka tidak akan mengingatku Bianca yang cupu dan aneh. Semoga saja wanita-wanita yang tadi membicarakanku di toilet juga bisa mengenal Bianca yang sekarang. Dengan perasaan senang aku masih mendengarkan perbincangan Davira bersama teman-temannya.
"Iya, benar Vir. Ini lagi booming bangat. Banyak yang mau menikah pakai BM"
"Gue baru tahu kalau BM singkatan dari Bianca Management"
"Hebat ya dia"
"Vir, loe tahu dari mana kalau itu punya Bianca?"
"Setahun lalu teman gue married pakai WO Bianca. Tadinya gue juga tidak tahu kalau itu punya Bianca. Terus pas gue minta kontak dan gue cari tahu, ternyata benar punya Bianca"
"Terus berapa Bugdet WO Bianca?"
"Belum tahu sih. Tapi loe tahukan, kita harus menggunakan azas pertemanan. Pastinya gue minta diskon. Dan gue yakin dia pasti mau kasih gue diskon besar. Apalagi kalian tahukan, calon suami gue siapa? Ini jugakan buat lebih memperkenalkan WO dia ke masyarakat"
"Benar-benar"
"Ya,iyalah. Davira gitu loh. Karena gue WO dia jadi terkenal. Malah ya, harusnya dia kasih bonus buat gue, kan lomayan kalau gue jadi endrose WO dia. Dan pastinya gue orang yang paling berjasa buat si cupu itu. Karena gue image cupu dia akan hilang. Gue yakin dia pasti nurut sama gue. Karena loe semua tahukan Davira. Princess SMA Citra"
Aku mencengkram sendok dan garpu ditanganku. Mendengar ucapan Davira membuat emosiku tersulut. AKu tidak menyangka Davira selicik itu. Aku harus bertahan, aku ingin tahu apalagi yang akan mereka bicarakan tentangku.
"Katanya si cupu mau datang. Sudah datang belum sih?"
"Eh iya, apa masih kayak dulu cupu bangat?"
"Hahaha"
"WO itu bagus juga bukan cupu kali yang ngerjaiin. Pasti itu bagus semua itu hasil anak buahnya"
"Iya benar, secara dia cupu bangat. Mana mungkin dia punya style keren seperti ini"
"Oh, kalian belum lihat Bianca sekarang ya? Waktu gue bertemu sama dia. Ya masih cupu kayak dulu"
"Hahaha"
"Dan kalian tahu enggak. Willy tuh tidak suka bangat. Dia telat datangnya, sudah gitu ruangan tempat kita ketemu kotor bangat. Ya, mencerminkan dia bangat. Secara orang cupu mana tahu tentang kerapihan, yakan?"
"Hahaha"
"Lihat saja, pasti nanti dia yang mohon-mohon sama gue buat pakai WO dia"
'Keterlaluan'
Aku sudah tidak tahan lagi. Davira dan teman-temannya sungguh keterlaluan. Mendengar ucapan Davira dan teman-temannya menertawaiku, hatiku sakit sekali. Daripada aku membuat diriku lebih terhina lagi, aku pun memilih pergi dari sini.
Aku tidak menyangka Davira selicik itu, dia hanya memanfaatkanku untuk kepentingannya. Aku salah apa padanya dan pada teman-temannya sampai mereka semua tega menghinaku seperti itu. Tanpa terasa air mataku sudah terbendung dan ingin keluar.
Aku pun menunduk dan berjalan cepat agar tidak ada yang melihat wajah menyedihkanku. Aku berjalan cepat menuju pintu keluar, aku sudah tidak tahan air mataku sudah mulai menetes dan aku pun mengusap dengan tanganku dengan terus melangkah melewati orang-orang.
Bruuk
"Maaf" lirihku pelan saat aku tanpa sengaja menabarak seseorang.
Aku pun tetap melangkah tanpa melihat siapa orang yang aku tabrak. Yang jelas dia adalah seorang pria karena aku melihatnya menggunakan kemeja bewarna Navy. Setelah sampai di luar aku segera memberhentikan taksi yang lewat, agar aku bisa cepat-sepat pergi dari sini.
"Kemana Mba?" tanya supir taksi itu dengan ramah.
"Ke Ancol, Pak" jawabku.
Air mata yang sudah membendung dan menetes sedikit, sekarang sudah menetes deras. Aku terisak sepanjang perjalanan. Hatiku sungguh terluka oleh perkataan mereka. Pantas saja dulu sewaktu SMA tidak ada yang ingin satu kelompok denganku, mereka pasti memandangku aneh dan menjijikan. Aku pun terus terisak. Betapa bodohnya aku dimata mereka, serendah itukah diriku.
"Mba, ini tissu. Masa sudah cantik-cantik nangis. Nanti cantiknya hilang loh" ucap supir taksi itu memberikanku tissu dan mencoba menghiburku.
"Terima kasih Pak" ucapku mengambil tissu yang dia berikan.
"Aku tidak cantik Pak. Aku ini wanita menyedihkan" lirihku sedih.
"Loh siapa bilang. Mba itu cantik. Cantik bangat malah. Kalau saya belum punya istri pasti saya akan melamar Mba sekarang" ucap supir taksi itu sambil terkekeh.
"Bapak bisa aja" ucapku yang sedikit terhibur dengan candaan supir taksi itu.
Tak terasa aku sudah sampai di pantai carnaval. Aku pun turun dari taksi. Aku membuka heels yang saat ini aku pakai dan aku menjingjingnya ditanganku. Aku melangkah menuju bibir pantai dan membiarkan telapak kakiku menginjak pasir-pasir pantai.
Sekarang masih sekitar pukul sembilan malam. Disini juga masih ada pengunjung yang sedang menikmati angin malam. Aku pun melanjutkan langkahku menuju jembatan kayu. Angin pantai juga sangat terasa dijembatan ini.
Sepanjang aku melewati jembatan ini, pemandangan yang aku lihat kebanyakan adalah sepasang kekasih. Aku pun mencari tempat yang sedikit sepi, setelah sampai hampir di ujung jembatan, aku duduk menghadap pantai dan membiarkan kakiku berayun.
Aku menatap pantai, lalu aku memejamkan mata menikmati semilir angin pantai yang menyapu wajahku. Bunyi ombak yang indah menemani malam hariku disini. Semakin malam, tempat ini semakin sepi walau masih ada beberapa orang yang masih bisa di hitung dengan jari.
"AKU ADALAH BIANCA" teriaku.
"AKU TIDAK BUTUH PENJILAT SEPERTI KALIAN" teriakku lagi.
"AKU BUKAN ORANG MUNAFIK SEPERTI KALIAN"
"AKU BIANCA YANG MANDIRI, KUAT"
Aku menarik nafas panjang setelah berteriak meluapkan semua emosiku. Aku pun tersenyum merasa lega. Aku tidak peduli beberapa orang memperhatikanku saat ini. Yang terpenting aku puas dan merasa lebih baik.
Aku pun menatap jam di tanganku, sekarang sudah hampir jam sebelas malam. Sepertinya aku sudah harus pulang, karena besok aku akan meeting bulanan. Aku tersenyum lega dengan langkah kakiku yang sekarang sudah terasa ringan.
"Permisi, Ka" ucap seorang wanita menyapaku secara tiba-tiba.
"Iya, ada apa?" tanyaku heran.
"Ini paper bag-nya tertinggal" ucapnya memberikan paper bag kecil bewarna coklat.
Aku bingung, aku merasa tidak membawa apa-apa ke pantai ini. Aku hanya memakai sling bag yang saat ini masih menggantung di bahuku.
"Mungkin Mba, salah orang. Itu bukan milik saya" ucapku menolak secara halus.
"Tapi ini milik Kakak. Kalau tidak percaya periksa saja isinya" ucap wanita itu yang langsung memberikan paper bag ke tanganku.
Aku pun terpaksa menerimanya. Aku membuka paper bag dan melihat isinya. Aku terkejut melihat isi di dalamnya. Ini dompetku yang waktu itu hilang.
"Mba" kemana wanita itu aku pun melihat ke kiri kanan, belakang dia sudah menghilang.
"Siapa yang menemukan dompetku?" tanyaku pada diri sendiri yang masih penasaran.
"Kenapa wanita itu langsung pergi? Oh, mungkin dia yang menemukannya. Kebetulan dia sedang berada disini dan melihatku, makanya dia mengembalikan dompet ini" hipotesa singkatku.
Sudahlah, yang terpenting dompetku sudah kembali. Aku tidak perlu mengurus untuk mengganti atm, sim dan ktpku. Ternyata akhir hari ini membuatku lega. Lebih baik aku pulang untuk beristirahat. Welcome to the real Bianca tomorrow.