Bianca POV
Sebenarnya aku cukup terkejut dengan kedatangan Davira bersama calon suaminya itu. Tetapi setelah aku pikir-pikir baiklah aku akan menerima mereka dan mungkin aku akan sedikit bermain-main dengan teman lamaku Davira.
Aku sengaja meminta Naena dan Icha untuk ikut menjamu dua calon pengantin itu. Karena dengan adanya mereka akan aku buat Davira menyesal seumur hidupnya telah menghinaku.
Kalau kalian tahu, sebenarnya aku sudah sangat muak dengan ucapan Davira yang berakting manis saat ini. Kalau ada penghargaan piala citra, aku yakin Davira akan menang.
'Teman baik'
Cih. Dia hanya berniat memanfaatkanku. Baiklah kita lihat, aku akan membuat Davira menuruti kemauanku.
Sebenarnya aku juga hanya asal bicara saat bilang akan memberikan setengah harga. Aku ingin tahu sampai dimana rasa malunya.
Dan ternyata wanita ini memang tidak punya malu. Dia menerima dengan senang hati dan menyetujui kalau semuanya aku yang menentukan.
Aku tahu Naena dan Icha pasti bingung dengan sikapku saat ini. Tetapi setidaknya mereka mendukungku dan aku akan menjelaskan tujuanku kepada mereka.
Diluar dugaanku. Sepertinya Willy pria sombong itu memiliki gengsi yang sangat tinggi. Dia tidak terima, aku lihat raut wajah kesalnya.
Dan apalagi Davira, aku tidak menyangka dia takut dengan Willy. Raut wajah sedih dan takutnya itu apakah salah satu dari aktingnya juga?
Entahlah. Aku tidak akan kasihan dengamu Davira. Aku mau melihat sampai dimana aktingmu hari ini.
"Jadi, kakak maunya bagaimana? Semalam kakak-" belum lagi Davira menyelesaikan ucapannya dengan nada bersalah kepada Willy, pria itu lagi-lagi memotong pembicaraannya.
"Pernikahan itu sakral dan suci. Warna putih lebih cocok karena sangat menunjukkan kesucian" potong Willy.
Tok Tok
"Masuk" ucap Bianca.
Aku sengaja meminta Mba Uni untuk mengantarkan minuman. Karena sejujurnya aku sudah mulai malas meladeni dua orang ini.
"Terima kasih, Mbak" ucap Bianca, llu Mba Uni pun kembali keluar.
"Silahkan, ini adalah sparkling tea, salah satu minuman dari catering kami yang banyak diminati. Selain rasanya nikmat, sangat pas untuk mendinginkan hati yang sedang panas" ucapku dengan senyum sedikit menyindir.
Aku lihat Willy bertambah emosi, ucapannya tadi merasa diabaikan olehku. Apalagi aku jelas-jelas menyindirnya. Dan sekarang dia melihatku asyik menghisap minuman itu.
"Okey, jadi bagaimana?" tanyaku tanpa beban. Davira wajahnya berubah sedih dan takut dia hanya terdiam.
"Kau tidak mendengarkan ucapanku" ucap Willy dingin.
"Dengar. Aku cuma butuh kejelasan mau pakai rancangan dari Binca Management atau tidak. Kalau tidak mau, kami tidak memaksa. Padahal itulah fungsinya teman, bukan begitu Davira? " jawabku santai dan sedikit menyindir Davira.
Davira hanya tersenyum kikuk. Aku tidak tahu apakah dia tersindir atau tidak, yang jelas dia ketakutan karena Willy auranya semakin horor.
"Tahu apa kau dengan pernikahan. Kamu Sendiri saja masih belum menikah" ucap Willy tajam
Jleb
Dengan umurku yang sudah 25 tahun, sudah pasti menjadi pertanyaan orang-orang kenapa sampai saat ini aku belum menikah.
Ucapannya menyulut emosiku. Kalau saja aku tidak melihat Naena dan Icha yang sengaja mengambil gelas minuman, aku pasti langsung menyiram air itu ke wajah Willy.
Aku tahu Naena dan Icha sengaja agar aku tidak melakukan semua itu. Mereka tidak ingin aku dalam masalah nanti. Mereka memang dua sahabat terbaikku.
Aku berdiri dan melangkah mendekati Willy. Wajahku dan Willy sama-sama dipenuhi amarah.
Karena ucapannya yang menyakitkan itu, aku tidak akan membalasnya. Aku akan buktikan padanya. Aku Bianca Esterina akan membuktikan pada Willy Pratama.
"I will make your beautiful wedding in white" ucapku tajam dihadapan Willy.
Setelah itu aku pun melangkah pergi tanpa pamit. Dan menutup pintu dengan sedikit keras.
Blam
Berlama-lama disana membuat emosiku memuncak. Aku takut tidak tahan kalau aku masih disana.
"Tahu apa kau dengan pernikahan. Kamu Sendiri saja masih belum menikah"
Ucapan Willy masih terngiang ditelingaku. Hatiku sangat marah sekali. Hanya dia pria yang berani menghinaku.
Seharian ini mood ku menjadi buruk malah sangat buruk. Konsentrasiku terpecah. Pastinya aku tidak bisa berpikir jernih hari ini.
Semua ini gara-gara Willy Pratama. Awas kau Willy. Kau sudah membangunkan macan tidur. Siap-siaplah untuk menyesal. Perkataanmu sangat menyinggung perasaanku. Lihat saja aku akan membuatmu menyesali perkataanmu itu dan kamu akan mematahkan kesombonganmu untuk mendapatkan maaf dariku dan kalau sampai itu terjadi, aku akan buktikan padamu siapa Bianca sebenarnya ini.
Pria sombong sepertinya lebih pantas kelautan agar tenggelam bersama kesombongan dan keangkuhanmu. Sepertinya mereka berdua memang sangat cocok. Yang satu licik yang satu sombong, oh perpaduan yang sangat pas.
Willy Pratama, ini adalah nama pria yang akan aku hindari seumur hidupku. Setelah semua ini selesai aku harap tidak akan lagi bertemu dengannya, sampai dia sendiri yang mencariku. Hahaha membayangkannya membuat senyum sinisku keluar.
Hari jumat ini aku, Naena, Icha, Nathan dan beberapa anak buah Nathan juga Naena pergi ke Cisarua. Ya, karena malam minggu nanti kami harus mengurus pernikahan Lisa dan Dewo.
Pagi ini Di sebuah Villa yang cukup megah, aku sedang sibuk menata bunga-bunga untuk acara nanti malam nanti. Aku harus memastikan tidak ada kesalahan sedikit pun dan semua bunga tertata dengan rapi agar terlihat indah.
Aku tersenyum puas, menatap dekorasi nuansa mocca yang begitu indah. Aku pun melangkah menuju dapur, dimana Nathan dan timnya sedang sibuk memasak dan menata catering.
Aku sedikit mencicipi sayurnya. Rasanya pas. Memang apapun yang Nathan buat selalu nikmat rasanya.
Jarum pnjng sudah diangka empat. Naena sedang sibuk merias Lisa. Icha dan dua orang anak buah Naena sedang merias keluarga calon mempelai.
Aku pun ikut membantu memasangkan aksesories pada petugas among tamu yang sudah rapi.
Setelah rapi, aku kembali tempat acara. Ya, disana ada satu anak buah Naena lagi yang bertugas sebagai MC pernikahan Lisa dan Dewo.
Aku bernafas lega semuanya sudah siap dan semoga acara ini berjalan dengan lancar juga sukses.
Matahari pun terbenam, semua kerabat dan keluarga besar kedua calon pengantin sudah berdatangan.
Aku bersyukur acara hari ini berjalan sukses. Dan acara sudah selesai dengan khidmat dan meriah.
Aku, Naena dan Icha lebih dulu kembali ke hotel. Rasanya hari ini cukup melelahkan dan besok pagi kita harus kembali ke Jakarta.
"Bii, itu bukan temen SMA yang senin kemarin datang ya. Vira siapa namanya?" ucap Icha yang sedang menatap ke samping kiriku.
Aku pun dan Naena menoleh ke arah pandang Icha.
"Mana, Cha?" tanya Naena.
"Itu yang lagi di recepsionis" ucap Icha pelan.
Aku melihat seorang wanita berambut panjang, tetapi tidak begitu jelas, karena terhalang oleh orang yanh sedang berdiri juga di belakangnya.
"Bukan kali, Cha" ucap Naena.
"Benar sumpah dech. Tadi pas dia jalan itu gue jelas melihatnya" ucap Icha meyakinkan aku dan Naena.
Ting
Pintu lift terbuka. Aku masih memicingkan mata menatap wanita itu. Karen Icha tidak mungkin berbohong, aku jadi penasaran kalau benar itu Davira.
Buuk
Karena aku tidak melihat ke depan. Aku menabrak seseorang yang baru saja keluar dari lift.
"Maaf" ucapku padanya.
"Tidak apa-apa" ucap orang itu yang ternyata adalah pria.
Tunggu
Aku seperti mengenal pria ini. Saat aku sedang berpikir Icha menarik tanganku untuk masuk ke dalam lift, karena lift hampir tertutup.
"Benarkan itu si Vira" ucap Icha menatap ke depan lift.
Sayangnya saat aku menatap ke depan pintu lift sudah tertutup dan hanya sekilas melihat bayangan wanita itu yang bergandengan bersama pria.
Tetapi aku juga tidak yakin, karena jarak wanita itu terlalu jauh. Biarlah untuk apa aku memikirkannya. Ini hotel jadi siapa saja bisa menginap di sini.
Ah, senangnya melihat ranjang empuk. Setelah mandi aku pun langsung merebahkan diriku di ranjang.
Keesokan paginya, kami sudah harus bersiap-siap kembali ke Jakarta. Mobil elf sudah menunggu di depan lobby dan kami harus bergegas turun.
Ternyata di bawah seluruh timku sudah berkumpul dan kami siap kembali ke Jakarta.
Aku mendahulukan timku untuk naik ke dalam elf, lalu Icha dan Naena.
"Kamu naik duluan, Bii" ucap Nathan yang lagi-lagi memberikan perhatian padaku.
"Oke" jawabku singkat.
Entah kenapa pada saat aku menaiki mobil mataku menoleh ke arah samping. Aku tanpa sengaja melihat seorang wanita yang tidak asing bagiku.
"Davira" ucapku pelan.
Sayang aku tidak bisa menatapnya lama. Karena aku sudah masuk ke dalam elf, lalu Nathan masuk dan elf pun sudah berjalan meninggalkan hotel itu.
Ternyata Icha benar yang semalam dia lihat adalah Davira. Tapi siapa pria yang bergandengan tangan dengannya.
Ah, untuk apa aku memikirkan itu. Bukan urusanku juga. Sudah pasti Willy, memang siapa lagi.
Sepanjang perjalanan supir elf menyalakan radio agar tidak boring. Dan kalian tahu semua penumpang disini tertidur pulas. Ya, aku memakluminya. Karena semalam kita sampai larut malam.
"Pengusaha muda sukses Willy Pratama semalam menandatangani kerjasama antara Pratama Entertaiment dan Adadas di New York. Willy Pratama juga ditunjuk sebagai salah satu bintang iklan untuk product Adadas"
Entah kenapa aku memasang telingaku baik-baik mendengarkan berita dari radio yang dinyalakan supir. Dan aku juga tidak tahu logikaku mengambil hipotesa dengan sendirinya.
Kalau semalam Willy ada di New York, berarti yang bergandengan tangan dengan Davira siapa? Dan mereka terlihat begitu mesra tadi. Apalagi aku tahu kalau Davira tidak mempunyai kakak ataupun adik laki-laki.
Tiba-tiba bulu kudukku berdiri. Ah, kenapa aku harus mengurusi hubungan mereka. Itu bukan urusanku. Dari pada mengurus hubungan mereka lebih baik aku ikut memejamkan mata seperti yang lain.
Sial, kenapa aku tidak bisa memejamkan mataku, justru aku masih memikirkan Willy yang berada di New York dan Davira yang bersama pria lain itu.
Ya Tuhan, tidak bisakah mereka tidak ada dipikiranku saat ini. Apalagi pria sombong itu, harusnya biarkan saja. Untuk apa aku sampai terpikirkan perasaan dia kalau Davira jalan dengan pria lain.
AKu mengeluarkan headset dari dalam tasku. Aku memasangnya di telingaku dan aku menyalakan lagu dari ponselku. Lebih baik aku mendengarkan lagu daripada terus terpikirkan mereka.