Kegelapan malam bersekutu dengan kepulan asap yang menggulung langit. Sisa-sisa pasukan Handoko yang masih bertahan segera mundur begitu suara peluit menggema di udara. Sementara itu, Sebastian, dengan wajah memerah menahan amarah yang membuncah, berlari menuju kamar belakang. Tatapan penuh kecemasan dari Bik Tati sudah cukup untuk memberi tahu bahwa istrinya terjebak di dalam sana. Sebastian menerobos asap tebal yang menyesakkan, dadanya bergemuruh, napasnya berat. Lidah api melahap setiap inci dinding kamar rahasia, menciptakan hawa panas yang menyengat. Tanpa ragu, ia menghantam pintu dengan satu tendangan kuat—pintu itu terbuka lebar. Seolah menyambutnya, kobaran api berkobar lebih liar, menggoreskan semburat oranye membara di wajahnya. “Diandra!” suaranya menggelegar, menembus bisin

