Sebastian melangkah masuk ke ruang kerjanya, disambut oleh keberadaan Fenny, ibu sambungnya yang tampak gelisah. Wanita paruh baya itu sudah menunggu cukup lama, matanya menyiratkan sesuatu yang tidak bisa disembunyikan. Sebastian menghela napas pelan. Wajahnya masam, jauh berbeda dari Diandra yang justru merasa terselamatkan oleh kedatangan mertuanya yang tepat waktu. "Ruangan Adrian ada di samping," ucap Sebastian, nada suaranya dingin, sebuah bentuk pengusiran halus pada tamu yang tidak diundang. Fenny menyunggingkan senyum tipis. Ia memahami maksud ucapan Sebastian, tetapi tetap pada pendiriannya. "Aku datang untuk menemui kamu, Sebastian. Bukan Adrian," ujarnya dengan ketegasan yang tak terbantahkan. Tatapan Fenny beralih kepada Diandra, lebih lembut, meski masih tersembunyi ketid

