Diandra duduk membeku di halaman, membiarkan jemarinya melingkari secangkir kopi panas. Seolah mencari kehangatan yang selalu luput dari jangkauannya. Uapnya tipis membubung, kontras dengan udara malam yang menggigit, seakan bertarung dengan dingin yang merayap perlahan, menyusup hingga ke sum-sum. Langit bertabur bintang, seolah menawarkan ketenangan yang tak pernah benar-benar bisa ia raih. Udara menusuk kulitnya tanpa ampun, tapi tiba-tiba, kehangatan lain menyelimuti tubuhnya dari belakang, lebih lembut, lebih mengalir. Tidak berasal dari udara, bukan juga dari kopi di tangannya. Ia refleks menegang. Jantungnya berdetak lebih cepat. Aroma gelap dari oud dan smoky vanilla menggantung di udara. Halus, tidak berlebihan, tetapi cukup untuk menegaskan kehadirannya. Sebastian! Pria itu

