EMPAT

1270 Kata
Bertemu denganmu adalah salah satu garis takdir yang Tuhan tuliskan untukku *** Minggu, 21 Agustus 2005. Pagi sekali Kirana terbangun dari tidurnya. Padahal ini hari Minggu, hari libur, dan itu tandanya hari bangun siang. Tapi, suara berisik dari luar membuat tidurnya terganggu. Kirana mengucek matanya, menguap, merentangkan tangan, lalu menendang selimutnya hingga benda bergambar motif bunga-bunga itu teronggok di lantai marmer berwarna kuning gading. Kirana menurunkan kaki dari ranjang, berdiri, kemudian berjalan mendekati jendela kamarnya. Kirana ingin melihat darimana sumber keributan yang menganggu tidurnya. Dari jendela kamarnya Kirana bisa melihat jalan di depan rumahnya. Ternyata ada truk yang sedang menurunkan barang-barang. Lalu Kirana teringat dengan ucapan Mama kemarin sore ketika pulang sekolah. "Kamu masih ingat keluarga Om Reno?" Begitu pertanyaan yang dilontarkan Mama ketika Kirana sedang duduk di depan pintu rumah sambil membuka sepatu. Kirana pulang agak sore karena ada tugas kelompok yang harus dikerjakannya. Tanpa berniat untuk berpikir Kirana langsung menggeleng. Lagipula ia memang tidak tahu dengan pria yang disebut Mama dengan nama Om Reno itu. "Masa sih kamu nggak tahu? Itu, lho. Anak bungsunya Kakek Sani. Yang lulusan dan kerja di luar negeri." Kakek Sani Kirana tahu. Kakek baik hati yang tinggal di depan rumah Kirana. Kirana sangat suka dengan Kakek Sani karena sering memberinya buah mangga dari kebun belakang rumahnya ketika panen. "Emangnya Kakek Sani punya anak namanya Om Reno?" "Astaga, Kirana. Dia udah dua puluh tahun tinggal di New York, lho. Masa kamu nggak tahu." Kirana berdecak. "Ma, umurku baru lima belas. Kalo Om Reno sudah tinggal di luar negeri selama dua puluh tahun, ya mana aku kenal." Kirana meletakkan sepatu di rak sepatu lalu berjalan menuju dapur. Mama mengekori dari belakang. Kirana membuka kulkas, lalu mengambil satu botol air dingin. Ia langsung meneguknya dari botol tersebut. "Anak cewek kok minumnya kayak preman gitu!" tegur Mama. Kirana mengelap bibirnya yang basah lalu cengegesan. "Haus banget soalnya, Ma." Mama menggeleng-geleng. Lalu ia teringat lagi dengan topik pembicaraan tadi. "Nah, kata Kakek Sani, Om Reno dan keluarganya akan tinggal di sini. Kamu kan tahu, sejak Nenek Rita tiada, Kakek Sani tinggal sendiri. Mungkin Om Reno pindah untuk merawat Kakek Sani." "Oh," hanya itu respons Kirana ketika mendengar penjelasan Mama. Ya mau gimana lagi, Kirana pun nggak tahu harus merespons seperti apa. Setelah itu Kirana pun minta izin ke kamar untuk mandi dan ganti baju. Ketika melihat truk dan barang-barang itu Kirana tahu bahwa Om Reno yang Mama maksud kemarin sudah datang. Tapi tunggu dulu ... kalau Om Reno pindah dari luar negeri, kenapa kok bawa barang sebanyak itu? Sampai ada lemari, sofa, dan perabotan lainnya? Apa barang-barang itu dikirim langsung dari tempat tinggalnya terdahulu? Kalau iya, pasti repot dan memakan banyak biaya. Namun sejenak kemudian Kirana menggeleng. Barang-barang itu bukan urusannya. Jadi, buat apa ia sampai memikirkannya segala? Baru saja Kirana hendak masuk ke kamar mandi untuk cuci muka, pintu kamarnya sudah terbuka. Mama masuk dengan wajah ceria. "Baru saja Mama mau bangunin kamu, eh kamunya sudah bangun." Kirana menguap lebar. "Sebenarnya masih ngantuk, Ma. Tapi di luar bising banget. Mana bisa Kirana tidur lagi." "Oh itu Om Reno. Mereka sudah datang. Tadi Mama sempat jumpa sama mereka ketika siram tanaman." "Oh." Sungguh Kirana tidak tahu harus menjawab apa selain satu kata itu. "Om Reno ternyata punya anak juga. Seusia kamu. Tadi Mama sempat kenalan. Nah, Om Reno bilang, dia senang kamu sebaya dengan anaknya. Dengan begitu kalian bisa temanan. Mama juga merasa begitu." "Ma, aku mau mandi dulu, ya." Kirana memilih untuk mengakhiri pembicaraan ini. Toh, kalau dibiarkan pasti Mama akan terus bercerita. Ya begitulah Mama, selalu saja ada bahan untuk dibicarakan. Berbeda sekali dengan Kirana yang tergolong irit berbicara. "Ya sudah sana cepat mandi. Nanti kita sama-sama ke rumah Kakek Sani. Sebagai tetangga yang baik, kita harus menyambut mereka dan membantu kalau memang ada yang perlu dibantu." "Iya," jawab Kirana dengan malas. Sungguh, ia tidak menyangka hari bersantainya akan dirusak seperti ini. Setelah Mama keluar dan menutup pintu, Kirana berjalan menuju handuk miliknya yang berada di gantungan di samping lemari. Sebelum keluar kamar, ia sempat menoleh ke arah jendela. Kirana melihat beberapa orang-orang mulai mengangkat barang-barang untuk dipindahkan ke dalam rumah. Entah mengapa Kirana merasakan sesuatu firasat yang tidak nyaman di hatinya. Namun, ia mencoba mengusir perasaan itu. Dalam hati berdoa semoga ia tidak perlu membantu mengangkat barang-barang milik Om Reno. *** Ternyata benar, terkadang ada doa yang tidak terkabulkan. Salah satunya doa yang dipinta Kirana tadi. Setelah mengenalkan Kirana kepada Om Reno dan Tante Tria—istri Om Reno, Mama meminta Kirana untuk bantu-bantu memindahkan barang. Om Reno dan Tante Tria tentu saja melarang. Mereka tidak ingin merepotkan orang lain. Tapi, bukan Mama namanya kalau mengalah. Mama mengucapkan lagi kalimat yang tadi dibicarakannya kepada Kirana. "Sebagai tetangga yang baik, sudah seharusnya kami membantu." Di sinilah akhirnya Kirana berada, di antara barang-barang yang harus segera dipindahkan. Sementara Mama malah asyik mengobrol dengan Tante Tria. Membantu apanya coba? gerutu Kirana dalam hati. Bukan hanya itu saja yang membuat Kirana sebal. Ada hal lainnya, yaitu keberadaan anak Om Reno. Sebagai pemilik barang-barang ini, kan, seharusnya dia yang bertanggung jawab untuk memindahkan. Ini dia malah menghilang entah kemana. Dasar tidak bertanggung jawab! Kirana mengembuskan napas kasar. Lalu ia memusatkan perhatiannya pada barang-barang di sekelilingnya. Baiklah, tidak ada gunanya dia mengeluh. Kalau Mama lihat dia belum membantu juga, bisa-bisa Mama menguliahinya dengan etika bertetangga. Dan untuk saat ini Kirana sedang tidak ingin dikuliahi. Akhirnya Kirana memilih tumpukan komik yang sudah disusun dan diikat dengan tali. Baiklah, angkat yang ringan-ringan saja. Setidaknya ia sudah membantu. Kirana membungkuk, ingin meraih tumpukan komik itu. Tapi tiba-tiba ... "Aduh!" Kirana mengaduh ketika bokongnya membentur kerasnya paving blok. Kirana mengusap bokongnya, lalu mendongak melihat oknum yang sudah mendorongnya. Di depan Kirana berdiri seorang cowok kurus tinggi dan berkacamata. Kirana sudah ingin menumpahkan kemarahannya, tapi kalah cepat. "Kamu mau mencuri komik saya, ya?!" tuduh cowok itu. Kirana mengerjap mata. Mencoba mencerna ucapan cowok tersebut. Apa katanya barusan? Mencuri komik? Kirana mendengkus. Astaga! Apa dia terlihat seperti seorang pencuri? "Aku—" "Saya tahu, kamu mencuri komik ini untuk dijual karena lagi butuh duit, kan?!" Cowok itu ternyata tidak memberikan Kirana kesempatan untuk menjelaskan duduk permasalahannya. "Aku sama sekali nggak mencuri!" sergah Kirana. Sungguh dituduh melakukan sesuatu yang tidak pernah terlintas di pikirannya itu melukai harga dirinya. "Jangan bohong kamu! Ayo ikut. Saya akan laporkan kamu ke polisi." Cowok itu meraih tangan Kirana. Lalu menariknya. Kali ini Kirana sudah tidak lagi bisa menahan kemarahannya. Padahal niatnya baik, ingin membantu, tapi malah dituduh sebagai pencuri. "Ayo!" Cowok itu menarik tangan Kirana dengan keras. Kirana merasa tangannya seperti mau putus karena ditarik cowok tersebut. Tak tahan dengan perlakukan kasar cowok itu, Kirana pun memilih melawan. Tidak tahu darimana datang pemikiran itu, Kirana tiba-tiba menancapkan giginya di d**a sebelah kanan cowok tersebut. Cowok itu menjerit karena tidak menyangka akan diserang oleh Kirana. Pegangan cowok itu pada tangan Kirana terlepas. Kirana pun menggunakan kesempatan itu untuk kabur. Sesampainya di pintu rumahnya Kirana pun menoleh ke belakang. Cowok itu masih mengaduh kesakitan. Ia melihat Om Reno, Tante Tria dan Mama keluar dari rumah dan menghampir cowok tersebut. Apa cowok itu anaknya Om Reno? tanya Kirana dalam hati dengan napas tersengal-sengal. Kirana menyandarkan punggungnya pada daun pintu. Lalu ia mengecap rasa asin di lidahnya. Saat Kirana mengusap bibirnya dengan punggung tangan, Kirana menemukan noda berwarna merah di sana. Kirana memejamkan mata. Mengatur napasnya. Selama itu Kirana mencoba mengingat kembali apa yang sudah ia lakukan terhadap cowok tersebut. Ia tidak percaya dirinya bisa melakukan hal tersebut. Mungkin ini yang namanya insting untuk mempertahankan diri. Selemah apa pun makhluk hidup itu, pasti akan melakukan perlawanan yang tak terduga jika dirinya terancam. Sama seperti yang Kirana lakukan tadi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN