Bye Rama

1832 Kata

                Pagi ini, entah apa yang membuat langkah kaki Ayana terlihat sangat berat menuju meja makan. Ia berjalan tanpa tujuan. Seminggu lagi ia akan di wisuda. Tapi rasa khawatir Ayana justru teralihkan dengan ketidak hadiran Rama kakanya selama berhari hari. Biasanya, meja makan adalah medan perang untuknya dengan Rama. Perang yang lebih hebat dari perang Paregreg, sampai Imam Bonjolpun angkat tangan.                 Ayana sampai mendengus kesal karena Kakanya itu sudah seminggu tak pulang, memasuki garasi mobilpun tidak. Terlihat batang hidungnya saja tidak.                 “Sebenernya Mas Rama itu kerja? Atau jadi TKI di Wuhan sekalian kan?” Ayana berbicara sambil menarik kursi makan. Sebal karena kursi panas pesaingnya kini adem ayem.                 “Kalo kangen Rama ya tin

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN