"Ibu... Ibu... Maafkan aku yang membiarkan Ibu mendapatkan perlakuan tidak adil selama ini." Gabriel jatuh terduduk, raungannya begitu keras, memecah hening di tempat yang seluruhnya berwarna putih dengan sinar yang menyorot dimana-mana. Ia terus menangis, memukuli dadaanya dengan cukup keras berharap bisa mengurangi rasa sakitnya. Kepergian ibunya sudah cukup menyakitkan bagi dirinya, meski mungkin kematian lebih baik bagi ibunya yang hampir setiap hari merasakan sesak yang tidak Gabriel mengerti. Namun mengetahui jika itu semua adalah upaya pembunuhan, membuat semua amarah Gabriel memuncak hingga di titik yang tertinggi, membuat kepala dan hatinya terasa sangat sakit. "Gabriel.. Gabriel, Anakku!" Tangis Gabriel berhenti. Secepat yang ia bisa, ia mengusap wajahnya yang basah sebelu

