“Kok Kak Raka potongnya kayak gini, sih!!”
“Emang kayak gimana lagi?! Ini bagus kok, bentuk bintang.” Araka balas nyolot, tak terima melihat hasil karyanya dihina. Padahal bentuknya bagus, bintang gitu bentuknya. Ia juga sudah sepenuh hati mengerjakannya.
“Bagus, sih.”
“Nah, lo aja muji,” balas Araka dengan sombong.
“Tapi enggak bisa dijadiin bahan untuk bakwan!” seru Abian dengan bibir mengerucut. Dibibirnya masih tersisa lelahan es krim yang baru saja dimakannya.
“Ini anak-anak Ibu kok ribut-ribut, kenapa hm?”
“Bukan gue ya,” gumam Araka pelan sambil memutar bola matanya saat Agni mengatakan ‘anak-anak Ibu’
Agni segera masuk kedalam daerah dapur. Matanya memandang ke arah Abian dan Araka yang nampak sedang bersiteru. “Kenapa Kak?” tanya Agni pada yang lebih tua. Araka menunjuk hasil potongannya. “Potongnya gini kan?”
“Salah!” seru Abian tak terima.
Agni terkekeh, gemas dengan bibir Abian yang mengerucut sebal. Anak itu memang tidak mau kalah jika dirinya merasa benar. Bocah berumur dua belas tahun itu pernah mengatakan bahwa kebenaran harus dijunjung sampai mati. “Kak Raka motong wortelnya enggak salah kok,” ujar Agni sambil membersihkan bibir Abian dengan ibu jarinya.
“Tuh, denger!” seru Araka.
“Tapi, untuk bikin bakwan potongannya enggak cocok.”
“Wlekkk!” Abian menjulurkan lidahnya membuat Araka memelotokan matanya. Ia tak terima diejek oleh bocah.
“Sini Ibu ajarin cara motongnya.” Agni mengambil posisi Araka. Sedangkan dua anak lelaki itu memperhatikan Agni dengan seksama. “Pertama potong wortelnya tipis-tipis,” ujarnya sambil memotong wortel menjadi beberapa lembaran. “Terus, diiris lagi jadi kecil-kecil. Hati-hati nanti tangannya bisa luka.”
Didalam dapur itu, Araka tak sepenuhnya memperhatikan apa yang dilakukan Agni. Ia hanya terpaku pada wajah wanita itu juga suaranya yang lembut. Bahkan Araka bertaruh ia bisa melakukannya dengan hanya mendengar suara Agni. Wanita itu sama sekali tidak mirip seperti ibu-ibu temannya yang diceritakan, Agni tak menyuruh mereka untuk pergi ketika berada didapur. Ia malah mengajarkan hal itu dengan baik.
Jadi, gini rasanya punya Ibu?
“Kak Raka udah paham?” tanya Agni membuat Araka tersentak. Wajah bingungnya membuat Agni tersenyum.
“Ish, melamun. Tak patut,” celetuk Abian.
“Sini mau coba.” Araka kembali mengambil posisi awalnya, didepan counter dapur. Tangannya dengan telaten mencotohkan apa yang tadi Agni lakukan.
“Wah, Kak Araka hebat!” seru Agni membuat Araka tampa sadar tersenyum kecil. Kecil sekali. Mungkin hanya dirinya dan Tuhan yang tahu bahwa Araka tersenyum karena pujian Ibu tirinya.
“Bian mau coba!”
Araka mempersilahkan Abian. Tangan remaja itu dilipat didada. Kepalanya mendongak sombong. Tak yakin jika adik tirinya itu bisa melakukan apa yang ia lakukan.
“Huuuu! Bian juga bi— awww!”
“Astagfirullah, nak!” Agni panik ketika melihat tangan Abian tergores pisau. Namun wanita itu sama sekali tak menggerakan badannya saat melihat darah mengucur dari ibu jari anaknya. Bukan tidak ingin namun tubuhnya malah tidak bisa digerakan.
“Bego banget, sih, lo!” Araka dengan cepat menarik tangan Abian menuju wastafel. Air dari keran dengan cepat membasih luka kecil itu membuat Abian meringgis. Raka yang melihat darah sagar itu masih mengalir segera menghisap darahnya.
“Ada apa?” Abimanyu berdiri disebelah Agni melihat tangan Abian dihisap oleh Araka. “Tangan Bian kena pisau, Mas.”
“Mau dibawa ke dokter? Ayo Ayah antar!” Abimanyu ikutan panik.
“Enggak papa kok, Yah. Cuman luka kecil,” ujarnya sambil menolehkan kepalanya dan tersenyum baik-baik saja ke arah Ayahnya. Kepalanya kembali menoleh ke arah Araka, sedikit mendongak mengingat tinggi Kakaknya.
“Makasih Kak Raka!” katanya sambil tersenyum lebar.
“Apaan, sih, lo!” Araka salah tingkah.
“Kenapa kenapa?! Bakwannya udah jadi? Daffi mauu!!”
Semua yang berada didapur terkekeh mendengar seruan Kadaffi. Abian disuruh Abimanyu untuk duduk saja di meja makan, awalanya menolak namun ketika Agni ikut menyuruhnya. Ia hanya bisa pasrah.
“Jangan dipotong bintang lagi, kak!”
“Iya, bawel!”
Agni kembali melanjutkan kegiatannya. Wanita itu mengambil tahu berbentuk lupis dan membawanya menuju wastafel untuk dicuci. Sesekali ia melihat ke arah punggung Araka yang bergerak karena kegiatan memotongnya. Pundak itu memang kokoh, kuat terlihat dari pandangan mata. Namun ketika Agni melihatnya dengan hati, pundak itu ringkih, rapuh. Butuh pelukan untuk bertahan juga butuh sandaran untuk beristirahat.
“Sering masak ya, Kak?”
“Enggak pernah.”
“Biasanya makan beli diluar atau Ayah yang bikin?”
“Beli terus. Kalo Ayah yang masak umur dapur enggak akan panjang.” Agni ikut terkekeh mendengar perkataan Araka. Ia jadi penasaran dengan Abimanyu yang berada didapur.
“Kenapa?” tanya Agni berusaha terus untuk lebih dekat.
Anak lelaki itu menghentikan kegiatanya, kepalana menoleh ke arah Agni. “Ayah pernah masak telor. Tapi, wajannya enggak dikasih minyak terus dianya pergi ke toilet bentar. Eh, balik-balik dapur udah penuh asap,” ujarnya sambil terkekeh mengingat kelakukan Ayahnya.
“Ibuk jadi penasaran sama Ayah didapur.”
Wajah Araka langsung berubah datar ketika mendengar kalimat yang keluar dari bibir Agni. “Jangan harap. Bunda pernah nyuruh Ayah masak rendang waktu ngidam hamil Kadaffi. Tapi, Ayah enggak mau. Padahal Bunda orang yang paling ia cintai. Sampe sekarang.”
Deg.
Perkataan terakhir Araka membuat Agni membeku. Tak menyangkal, Agni mengakui bahwa di hati suaminya masih ada cinta yang begitu besar untuk mantan isterinya. Apakah masih ada sisa sedikit untuk Agni berteduh dihati suaminya?
“Ini wortelnya udah? Segini doang?” tanya Araka ketika wortel yang ia potong-potong sudah habis. “Udah makasih ya, Kak.” Araka mengangguk, sebelum ia pergi dari dapur lekaki itu menyempatkan untuk meninum segelas air dingin langsung dari botolnya.
Agni mengalihkan pandangannya ke arah meja makan. Disana ada Abimanyu yang menemani Abian dan Kadaffi bermain tepung. Wanita itu bahagia. Karrna cara untuk membuat anak-anak menghargai makanan adalah dengan cara mengajaknya memasak. Ia bisa tahu makanan yang berada diatas meja tak langsung jadi seperti sulap. Tentunya anak wajib didampingi ketika berada didapur.
“Itu ayam?” tanya Araka membuat Agni mengalihkan pandangannya ke arah Araka yang berada didepan pintu kulkas yang terbuka.
“Iya. Kakak mau dimasakin Ayam?” tanya Agni mencuci tangannya ketika telah selesai membersihkan tahu. Anak lelaki itu tak menjawab, ia hanya menghendikan bahunya.
“Yaudah, besok aja masak ayamnya.”
Ekspresi wajah Araka berubah murung. Agni tidak tahu apa kalo dirinya begitu mencintai Ayam. Apalagi ayam yang dibalut dengan tepung krispi. Namun anak lelaki itu malu untuk sekedar mengangguk. Ia seperti menjilat lidahnya sendiri.
“Mau atau enggak?” tanya Agni tidak keras namun tegas. Araka bahkan merubah wajahnya sedikit kaget, ia kira Agni hanya bisa menampilkan wajah lembut dan wajah seperti isteri tersakiti seperti di film azab.
Agni rasa sesekali ia harus tegas pada anak tirinya itu. Tidak bermaksud membentak. Itu semua karena Agni gemas dengan tingkah malu-malu Araka.
“Enggak!” balas Araka lalu keluar dari dapur. Anak laki-laki itu langsung pamit pada Abimanyu dan segera keluar dari rumah.
Remaja lelaki berusia tujuh belas tahun itu menghentikan tangannya berada diatas pagar rumahnya, ia menghela nafasnya. Kepalanya sedikit berputar, matanya melirik ke arah garasi rumahnya yang setengah terbuka. Dilepasnya pagar itu lalu berjalan ke arah garasi.
Sebuah motor besar ia keluarkan dan bergegas menuju jalanan. Araka membatalkan niatnya untuk bermain ke rumah Fatur. Tujuannya sekarang adalah tempat yang selalu menjadi keluh kesahnya. Tempat dimana ia bisa bercerita sesuka hatinya. Menumpahkan semua kesakitan yang ia pendam sendiri.
“Assalamualaikum, Bun.”
Sebuah nisan menjadi perantara dimana Araka bisa bercerita pada Bundanya yang telah tenang disana. Jika dulu ia tak pernah—- jarang berbicara dengan Bundanya, kini Araka bisa bebas meceritakan semua hingga mulutnya mati rasa.
“Raka datang kesini sendirian, Bun.”
“Bunda lagi apa disana? Bunda lagi lihatin aku dari ataskan? Atau Bunda lagi lihatin dia?”
Tidak akan pernah jawaban dari sebuah nisan. Araka tahu.
“Bun, Ayah udah nikah lagi. Raka enggak suka, dia ngambil tempat Bunda.” Harusnya tempat itu hanya untuk Bundanya. Bukan untuk orang lain. Harusnya Ayahnya itu tak menggantikan Bundanya, tidak, dan tidak akan perna boleh.
“Tapi, tenang aja, Bun. Raka enggak bakal nerima wanita itu sebagai pengganti Bunda.”
“Bun, Raka pulang dulu, ya.”
Araka kembali malajukan sepeda motornya ketika langit mulai menggelap. Suara adzan menggema ketika ia memarkirkan motornya disalah satu Masjid yang ia jumpai diperjalanan. Setelah selesai mengerjakan kewajibannya sebagai seorang muslim ia segera mengemudikan motornya menunu rumah.
Walaupun di sekolah hobinya adu jotos namun Araka tak pernah lupa sang penciptanya.
Sesampainya ia didepan garasi, keningnya berkerut saat melihat Kadaffi dan Abian berada didepan rumah dengan muka kesal. Keduanya nampak seperti menunggu sesuatu. Tukang es krim?
“Ngapain bocil nunggu disini?” tanya Araka sambil menenteng helm fullfacenya.
Kedua mata bocah laki-laki itu membulat saat melihat Araka berjalan menuju teras rumah dari garasi dengan santainya. “KAK RAKA KEMANA AJA SIH?!” pekik Daffi berjalan menuju abangnya dengan pipi menggembung kesal. Dibelakangnya ada Abian yang mengangguk-angguk.
“Emang kenapa, dah? Artis ditungguin bener,” ujarnya membuat keduanya bertambah kesal.
“Kami mau makan tapi ibu suruh tunggu Kak Raka.”
Kening Araka mengerut saat mendengar ucapan Abian. Menunggunya? Untuk apa? Pemuda itu menghendikan bahunya lalu berjalan masuk kedalam rumah. Dulu, disaat hanya ada ia, Daffi dan Ayahnya. Meja makan tak pernah benar-benar digunakan selayaknya.
Kadaffi yang biasanya tinggal di rumah sang nenek setelah pulang sekolah pasti akan pulang dengan perut kekenyangan saat malam dimana Abimanyu menjemputnya. Iya, malam. Ayahnya itu tak pernah pulang sebelum jam tujuh. Ketika itu, Araka hanya akan memesan makanan online lalu makan di kamarnya.
Ada sesuatu yang menghangat ketika merasakan ini. Ia ditunggu. Itu artinya ia diharapkan kan? Tujuannya langsung menuju dapur ketika memasuki rumah. Disana ternyata sudah ada Ayahnya. Dan, dua bocil tadi langsung berada di posisi mantap di meja makan.
“Lho Ayah beli ayam goreng?” tanya Araka saat melihat menu favoritnya berada diatas meja makan.
“Enggak. Itu Ibu kok yang masak?”
Bukannya tadi wanita itu tak ingin memasaknya. Namun kenapa sekarang ayam yang tadi ia tatap di kulkas sekarang sudah berada dimeja makan?
“IBUUU KAMI LAPAR MAU MAKANNN!”