Seorang anak laki-laki berjalan malas melewati koridor sekolahnya. Seperti tidak ada sesuatu yang membuatnya bersemangat untuk datang ke tempat menimba ilmu ini. Apalagi ditambah dengan pesan yang dikirim Fatur tadi, pria itu tidak bisa berangkat ke sekolah hari ini karena menemani Mamanya yang tiba-tiba sakit. Ah, pagi yang buruk. “Wey si Raka pagi-pagi udah manyun bae.” Seorang remaja laki-laki seumurannya berhenti tepat didepanya. Disusul dua orang laki-laki lagi. Salah satunya mengenakan almet Osis. “Pagi Kak Fatur,” sapa si anak beralmet. “Gimana, tur, tertarik enggak ajakan kita kemaren?” tanya laki-laki satu lagi. “Enggak,” sahut Araka datar membuat ketiganya memalingkan wajahnya. Lalu ia kembali melanjutkan langkah kakinya meninggalkan ketiga laki-laki itu. Araka berdecih, me

