“Bukan!” “Itu Ibunya Kadaffi!” teriaknya heboh. Bocah itu memamerkan senyum lebarnya ke arah Agni. “Artinya isteri Ayah juga Daffi,” sahut Araka dan Abian yang menyusul Kadaffi dari arah belakang, bocah itu berlari tak sabaran untuk bertemu Agni ketika baru saja sampai di depan pintu rumah. “Ish jelek!” sahut Daffi memeletkan lidahnya ke arah Araka. “Coba tadi tinggalin di pinggir aja nih anak,” balas Araka tak terima dengan penghinaan adiknya. Abian yang melihat pertengkaran keduanya hanya geleng kepala, sudah terlampau bosan. Ingin meletai keduanya? Tidak akan bisa, kecuali jika Kadaffi sudah mengeluarkan tangisannya dan Abimanyu datang. Ia akhirnya membiarkan saja keduanya dan memilih mendekati Agni. “Assalamualaikum, Ibu.” Anak laki-laki itu mencium punggung tangan Ibunya. Ara

