Boyfriend?

1845 Kata
Setelah kejadian di lapangan basket indoor dan di halaman kampus, aksi Alvin makin menjadi. Seperti yang dia janjikan, Vanta menerima pembalasan dari laki-laki itu. Tali helm yang berhasil di gunting oleh Alvin dari pengait di bawah jok motor Vanta dibawanya ke kantin, lantaran sukses membuat Vanta menguras tenaga. Mereka kerjar-kejaran di area kantin layaknya Tom and Jerry. Alvin berlari sambil terus menggeser setiap bangku di belakangnya untuk menghadang Vanta. Tapi Vanta tetap tidak menyerah walaupun keringat membanjiri pelipisnya. Mereka benar-benar membuat area kantin kacau balau. ”Balikkin helm gue! Bocah banget, tau nggak?!” seru Vanta masih berlari berusaha megejar Alvin. Suasana kantin siang itu jadi berantakkan karena aksi kejar-kejaran mereka. Melihat Vanta yang kewalahan, lelaki iblis itu semakin senang. Alvin mengunyah permen karet di mulut sambil sesekali meniupkannya menjadi balon. Cowok itu cuma cengengesan tanpa memedulikan cewek yang ada di belakangnya sudah tidak kuat mengejar. Sampai kemudian gadis itu berhenti berlari dan meneriakkan namanya dengan suara lantang. ”ALVIIIIIIINN!!!! BALIKKIN NGGAK, HELM GUE!!!” Orang yang teriaki kontan mengerem langkahnya dengan mendadak. Mereka berdua telah ramai ditonton anak-anak kampus. Lelaki itu berbalik, berjalan ke arah Vanta dan berdiri tepat di hadapannya menenteng sebuah helm dengan raut serius. ”Jangan teriakkin nama gue keras-keras, malu tau. Ntar lo malah dikira fans fanatik gue, lagi.” Teman-teman Alvin yang menjadi saksi hidup di kantin memecah tawa. Pede bener sih Alvin. Pikir mereka. Tapi memang benar sih, dia cukup diidolakan di kampus. Tidak menyangka Alvin bakal mengeluarkan kata-kata absurd dari mulutnya, Vanta menganga. Dua detik kemudian ia menegakkan kepala, tersenyum kecut menatap muka cowok yang lebih jangkung darinya. ”Sorry aja ya, gue nggak level nge-fans sama cowok nyebelin kayak lo. Kalo mau nge-fans mendingan sama Chris Evans atau Robert Downey, lebih berbobot!” Alvin balas menatap Vanta dan tersenyum sumbar. ”Sombong banget lo.” ”Itu kenyataan. Nggak ada yang perlu gue kagumin dari pecundang macem lo.” ”Pecundang?” Sebelah alis Alvin terangakat. ”Iya, lo! Pe-cun-dang!” Dengan tenang dia mencondongkan badannya ke depan, menatap cewek berkemeja itu tepat pada manik matanya. ”Orang yang ada di bawah nggak pantes ngomong kayak gitu. Sekarang lo yang ada di posisi kalah. So, it’s you the looser. Keras kepala banget.” Alvin lalu berbalik pergi. ”Dahhh, gue bawa ini.” Diacungkannya sebelah tangan yang memegang helm Vanta. Sementara Vanta cuma bisa menatap kesal punggung Alvin yang terus menjauh keluar dari kantin. Orang itu, orang yang tiba-tiba menjadikannya sasaran balas dendam, orang yang selalu cari masalah dengannya, hari ini membuat Vanta semakin yakin. Ia benci cowok itu setengah mati! Kalaupun di Bumi hanya tinggal Alvin dan dirinya, dia tetap tidak akan sudi berinteraksi dengan cowok seperti itu. Apa lagi bergantung padanya. Sebisa mungkin dia akan menjauhinya. *** Beberapa hari kemudian setelah aksi Tom and Jerry di kantin, Vanta terpaksa mendapatkan ‘hadiah’ lagi dari Alvin. Cacing yang dilempar Alvin ke mejanya saat Vanta sedang makan siang, membuat Vanta menjerit-jerit jijik. Dia paling benci hewan yang menggeliat-geliut seperti cacing. Baginya hewan itu adalah makhluk paling menjijikan yang pernah ada di jagad raya. Berikutnya tikus putih yang disebar di kantin, sebenarnya tidak membuat Vanta takut, justru malah Jessi dan beberapa cewek yang menjerit histeris sambil melompat sana-sini dan naik ke bangku di kantin, lalu memeluk Vanta erat. ”Itu cowok bener-bener kelewatan! Udah bocorin ban motor gue, curi helm gue, terus apa coba? Main binatang kayak anak kecil. Ih, nyebelin banget!” gerutu Vanta seraya menyantap makan siangnya di tangga. ”Gue juga kaget tadi,” celetuk Jessi. ”Tapi kita nggak bisa bales dia, Jes.” Keduanya terdiam. Jessi berpikir sejenak, kemudian wajahnya berbinar. ”Aha!” ”Kenapa? Lo ketemu solusi yang bagus?” tanya Vanta penasaran. ”Ada, sih. Tapi lo harus setuju.” ”Apaan dulu, nih? Kalo lu nyuruh gue sujud mohon ke dia, gue nggak bakalan mau, ya!” Jessi terkekeh, menyanggah dugaan sahabatnya. “Nggak, lah... Bukan itu.” “Apa dong? Emang ada cara apa?” “Lo mesti cepet cari pacar.” “Ap—apa?!” Vanta mengerjap tak percaya. “Apa hubungannya sama cari pacar, Jesslyn???” “Ya ada, otomatis kalo ada yang lindungin lo, jagain lo, Alvin bakal mundur. Yang pasti nggak enak hati juga, lah... Bisa-bisa dia disangka ganggu cewek orang. Ya, kan? Coba deh, lo pikirin.” ”Emang bisa begitu?” Vanta memandang Jessi polos. Sudah beberapa hari ini mereka makan siang di tangga. Menghindari kontak dengan area kantin. Karena di sana pasti akan ada si manusia iblis itu. Alvin yang sudah tahu nama Vanta sangat berbahaya. Lelaki itu bisa dengan mudah mencari tahu tentang Vanta, apa lagi mereka sama-sama jurusan desain. Kata Jessi, salah satu temannya cukup berpengaruh di jurusan desain. ”Ya bisa, lahh...” Jessi membalas tatapan Vanta dan seolah berkata, 'Lemot banget sih, lo, Ta!' ”Tapi siapa yang mau jadi pacar gue?” Mendengar pertanyaan Vanta, Jessi hanya bisa menepuk dahi. Dengan sorot mata polos, Vanta masih menunggu jawaban Jessi. Akhirnya Jessi menjawab, ”Ta, lo tuh pinter. Tapi gue bingung sama lo, kalo masalah cowok, lo tuh polos atau b**o ya?” Vanta langsung manyun menatap Jessi. Karena tidak tega dengan temannya, Jessi menjelaskan, ”Lo usaha, dong. Deket sama siapa gitu, kenal sama siapa kek di jurusan lo atau jurusan lain. Kalo udah cocok, langsung jadi-in! Jangan mikir-mikir lagi buat sekarang.” ”Nah, yang jadi masalah, hampir satu kampus tau kalo gue korban gencatan Alvin. Emang ada cowok yang berani deketin gue, dan mau lindungin gue? Yang ada itu orang keburu takut duluan sama Alvin.” Kali ini memang penjelasan Vanta masuk akal. ”Hmm... Iya juga, sih.” Keduanya termenung, masih mencoba memikirkan solusi lain. Sampai sebuah suara mengagetkan mereka. ”Kalian ngapain di sini?” Vanta dan Jessi sontak menoleh berbarengan. ”Eh, elo, Fer.” Jessi tersenyum malu melihat seorang teman sejurusan dan seangkatannya mendapati dia dan Vanta sedang 'mojok' di tangga. Hampir saja mereka lompat dari tangga takut kalau yang datang adalah Alvin. ”Lo ngapain, Jes? Kok duduk di sini?” ”Ehehe... ini, makan sama temen gue.” Ia menyuarakan tawanya dalam suku kata. ”Loh, kok nggak makan di kantin?” tanya cowok itu bingung. Kali ini Vanta yang menjawab, ”Area kantin jadi tempat yang berbahaya buat kami. Gue kan lagi jadi buron, jadi Jessi nemenin gue. Eh ya, bukan berarti gue abis makan di kantin, terus nggak bayar, ya.” Sebenarnya cowok itu nggak mengerti maksud Vanta, tapi dia tersenyum dan memperkenalkan diri. ”Gue Ferdi, seangkatan sama Jessi.” Ferdi dari jurusan *Ikom, semester tiga. Wajahnya lumayan keren. Dia termasuk tipe cowok yang kalem. Mudah diajak bicara dan murah senyum. Dia juga ramah dan tidak pernah terlibat masalah. Tidak sedikit mahasiswi jurusan komunikasi yang menyukainya. (*Ikom = Imu Komunikasi) Vanta meneliti cowok itu sejenak sebelum dia tersadar dan menyambut jabat tangan Ferdi. ”Vanta, DKV semester satu,” sahutnya dengan lengkung naik di bibir. Jujur, dia juga sama saltingnya dengan Jessi, kepergok makan lesehan di tangga. Kayak nggak ada tempat bagus aja selain di tangga. Tapi di saat seperti ini dia harus bersikap masa bodoh. Dari pada lihat muka Alvin, bisa makan siang dengan tenang aja sudah syukur. ”Boleh gabung?” Percaya nggak percaya, Vanta mendegar pertanyaan itu. Ia dan Jessi hanya melongo. Ekspresi mereka membuat Ferdi tertawa kecil dan mengulang pertanyaan. ”Boleh gue gabung di sini sama kalian?” Jessi dan Vanta saling pandang, tersenyum lebar, dan menoleh ke arah Ferdi menjawab secara serempak, ”Boleh!” ”Hmm, gue ke kantin dulu sebentar, habis itu ke sini lagi. Ada yang mau titip?” “Mau!” jawab Vanta semangat. “Titip apa?” “Lemonade, ya.” Senyum gembira tercetak dibibir Vanta. “Elo, Jes?” Jessi menggeleng pelan. “Nggak, udah ada minum.” Kemudian Ferdi pergi meninggalkan mereka. “Eh, Ta,” panggil Jessi mencolek-colek lengan Vanta saat mereka sudah kembali berdua. “Hm?” “Menurut lo Ferdi gimana?” Sudut bibirnya masih mengembang. “Keliatannya baik.” “Ganteng nggak?” “Lumayan.” Sebelum menyendok makanan ke mulut, Vanta menjawab dengan jujur. Jessi menjentikkan jari di depan wajah Vanta, membuat Vanta mengerjap kaget memundurkan kepala. “Dia aja!” “Maksudnya?” “Kandidat pacar!” Seringai Jessi melebar, memperlihatkan deretan gigi-gigi putihnya. Sementara gadis super cuek yang lagi asyik mengunyah langsung tersedak makanannya. Jessi ikut kaget dan membantu menepuk-nepuk punggung cewek itu pelan. Setelah dapat mencerna makanannya dengan baik, Vanta berkata, ”Nggak salah lo?” ”Nggak, lah... Dia emang baik, kok. Di kelas juga, cewek-cewek suka sifat dia. Tapi gue sih nggak naksir yang tipe kalem gitu.” “Terus tipe lo kayak apa?” “Yang baddass,” Gadis cantik itu mengibas rambutnya sambil berkedip genit. “Kayak Alvin dong?” celetuk Vanta asal. Kini ganti Jessi yang tersedak. Membuka botol air mineral meneguk minumnya. “Kalo boleh jujur, iya sih, dulu.” “Wa—waaah!” Vanta mendelik menatap sahabatnya tidak percaya. “Pengkhianat lo, ya?” “Ih! Kok gitu? Kan dulu!” “Yang bener lo?” “Iyaa!” “Kalo lo masih suka juga nggak pa-pa, Jes. Lo yang punya hati, masa gue yang ngatur.” “Ih, nggak, Ta!” “Iya, iya. Percaya.... Pokoknya jangan sampe lo patah hati gara-gara temen lo musuhan sama gebetan lo.” “Nggakkk, huh! Gue cuma mengagumi doang dulu karena dia terkenal ganteng dan hebat di jurusannya. Lagian gue kan sayangnya sama lo...,” rajuk Jessi. Memeluk lengan Vanta dengan bibir mengerucut. “Iya, Sayang...” “Lo tau nggak apa sebutan para mahasiswi buat Alvin dkk?” “Apa?” “Malaikat,” Kedua tangan Jessi membentang terangkat ke atas, memberi kesan dramatis. Sementara Vanta berjengit aneh, sebagai respons tak setuju. Mungkin maksud mereka malaikat pencabut nyawa. Kalau itu Vanta seribu persen setuju. Ketika mereka sedang bergurau, Ferdi muncul membawa sekarton kebab yang terbungkus rapi dan dua gelas plastik berisi lemonade. “Nih.” Ia menyodorkan salah satu gelas plastik pada Vanta. “Thanks. Udah beberapa hari gue nggak minum ini. Kangennyaaaa!” seru Vanta girang menerima lemonade dari Ferdi. “Sama-sama.” Cowok kalem itu tersenyum geli melihat wajah gembira Vanta, seperti seorang gadis berumur lima tahun yang baru dibelikan permen kapas atau boneka. Ketiganya makan bersama-sama dan larut dalam obrolan. Soal Vanta yang hobby-nya baca komik dan novel, soal Jessi yang tertarik dengan fashion, juga soal Ferdi yang ternyata suka baca komik dan hobi fotografi. Ketika Vanta bilang dia ingin belajar fotografi, Ferdi malah menawarkan untuk mengajarinya. Mata kuliah fotografi akan masuk di jurusan desain tahun depan. Jadi Vanta berharap bisa belajar lebih dulu supaya nggak gaptek banget waktu dapat mata kuliahnya. “Kapan-kapan gue bawa, deh. Nanti gue ajarin kalo gue lagi senggang,” tawar Ferdi. “Boleh?” “Ya boleh, dong.” Lagi-lagi Ferdi tersenyum memandang Vanta. Mereka bisa langsung akrab pada pertemuan pertama. Sebagai teman yang tangkas, Jessi langsung menangkap sinyal baik di antara kedua orang itu. Dan, misi utama Jesslyn pun siap dijalankan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN