Vanta nggak habis pikir. Kamvret memang ini cowok. Dengan santainya dia menggeser Vanta yang lagi berbaring tidak berdaya dan duduk di ranjang berdesakkan dengannya sambil memegang iPad. Padahal dia sedang seru berbalas pesan dengan Jessi, mengulik informasi.
“Sana geser.”
“Ish, ngapain sih?!” gerutunya menendang selimut.
Ini simpanse minta dicakar mukanya. Kelakuan nggak kayak manusia normal. Ya memang dia bukan manusia, sih. Kalau tidak mana mungkin seorang cowok tega membabat rambut cewek? Segera Vanta bergeser menjauh dari sosok menyebalkan itu. Mengambil guling dan memukul cowok di sebelahnya, tiba-tiba saja tersulut jengkel mengingat tingkah makhluk peradaban satu ini.
“Rese! Ganggu aja!”
Mungkin tidak ada kata tentram untuk keduanya. Baru sebentar tenang, mereka sudah terlibat cekcok.
“Adaw! Emang gue ngapain? Ini kan kamar gue, kasur gue.” Setelah beberapa kali pukulan, cowok itu berhasil menangkap guling yang diayunkan Vanta dan menariknya.
Tubuh Vanta kontan ikut tertarik mendekat ke arah Alvin. Jarak keduanya benar-benar dekat, hampir menempel kalau saja tidak ada guling yang menjadi pembatas di antara mereka. Keduanya hanya bisa terpaku sejenak menyadari posisi mereka. Mata lelaki itu sama sekali tak berkedip memandangnya. Sementara jantung Vanta tengah atraksi di dalam sana.
Ingat ya, dia berdebar bukan karena kesengsem. Sama sekali bukan! Tapi, siapa sih yang nggak bakal ketar-ketir berada dalam jarak sedekat ini? Di dalam kamar, di atas ranjang?
Siapa??
Coba sebutkan.
Vanta yang lebih dulu berhasil mengumpulkan kesadaran setelah megap-megap kaget sebentar, segera menjauh. Bangun dari posisi berbaringnya dengan cepat. Dia baru akan menurunkan kedua kaki dari ranjang ketika cowok itu menahannya.
“Mau ke mana?”
“Yang pasti jauh-jauh dari lo!” Sambil membawa salah satu guling menjauh dari ranjang dan menuju beanbag hijau di depan pintu kaca.
“Ya elah, lo tidur di sini juga nggak gue apa-apain dari tadi,” sahut Alvin cuek, masih berkutat dengan iPadnya.
”Gue mana tau lo ngapa-ngapain atau nggak tadi?”
Lelaki itu berhenti menekan layar sentuh iPad, menoleh padanya. “Jadi, lo ngarep gue apa-apain?”
Entah kenapa wajah Vanta memanas. Percakapan ini seharusnya nggak dibahas lebih lanjut. Ngapain mereka membicarakan hal memalukan begini?
”Udah lah, gue tidur di sini aja!”
“Terserah.” Kembali Alvin menekuri iPadnya.
Bukannya tidur, Vanta masih bersuara. “Eh, Samy mana?”
Alis lelaki itu berkerut. “Ngapain lo nyariin Samy?”
“Mau kenalan.”
“Nggak jelas dasar.” Meski menggerutu, cowok itu memanggil hewan berbulunya masuk ke kamar. Dibukanya sekantong camilan untuk Samy dan diberikan pada si anabul.
“Samy...,” panggil Vanta yang langsung disambut oleh goyangan ekor makhluk menggemaskan itu. Samy menghampirinya dengan riang, berlenggak-lenggok layaknya model catwalk. Setelah berputar dua kali Golden Retriever itu duduk dengan sikap baik menunggu Vanta mengulurkan tangan mengelus puncak kepalanya.
“Astagaa... lucu banget sih, nggak kayak yang punya. Oh iya, gue Vanta.”
Merasa tersindir Alvin berdecih. Tapi Vanta tidak mempedulikannya. Dia asyik mengelus-elus Samy di sebelahnya. Mengajak Samy naik ke sebelahnya dan tidur bersama.
“Eh, dia belom mandi,” Alvin memberitahu.
“Biarin, iri bilang.”
“Ngapain, kalo gue mau bisa aja kok gue bikin lo tidur di sebelah gue.”
Lagi-lagi wajah Vanta memerah. Ia mengibas-ngibas sebelah tangan di depan wajah setelah Samy berbaring nyaman di sebelahnya.
“Tau ah! Mau tidur.” Segera ditutupi wajahnya dengan guling sambil memeluk Samy.
Beberapa menit berlalu, Alvin tidak lagi mendengar suara gadis itu. Hanya ada suara pelan percikan air hujan dari luar. Dia pun meletakan iPadnya di atas nakas menoleh ke arah pintu kaca. Lebih tepatnya beanbag, tempat Vanta dan Samy tertidur.
Ia beringsut turun dari ranjang menghampirinya, lalu berdecak pelan sambil memerhatikan dua makhluk di depannya. Yang satu manusia tulen, satunya lagi jenis kaki empat berbulu.
“Sam, turun,” perintahnya, dibalas sebelah mata Samy yang terbuka mengintip.
Tidak beranjak juga dari tempatnya, sekali lagi Alvin memanggilnya dengan nada tak terbantahkan. “Sam, turun atau nggak ada snacks lagi?”
Sambil meringkuk akhirnya hewan berbulu coklat itu loncat dari sana dengan raut sedih. Tapi tatapan itu tidak mempan unuk Alvin, dia sudah terlalu mengenal Samy. Anak itu cuma pura-pura memelas biar dituruti.
Enak aja...
Nggak tau apa, dia kesal melihat Samy dari tadi dipeluk Vanta sepanjang tidur?
Setelah Samy turun ke lantai, Alvin mengangkat Vanta, memindahkannya ke ranjang. Tersentak ketika tangan gadis itu tiba-tiba menggeplak kepalanya.
“Anjirr ni cewek, lagi tidur aja tetep ganas!” Tetapi dia lalu tersenyum miring. Menarik selimut menyelimuti gadis itu.
Kembali ia memerhatikan wajah tidur gadis berambut pendek yang disebabkan olehnya. Disibakkannya poni Vanta ke samping. Gadis itu bukan gadis yang cantik secara menyolok. Tapi Alvin menyadari kalau dia punya mata yang indah saat mereka bertatapan tempo hari. Bola mata hitam pekat seperti obsidian, bulu mata yang lentik, serta garis mata yang seperti almond. Cara berpakaiannya juga punya ciri khas tersendiri.
Mengamati wajah tidur Vanta, tangannya terulur hendak mengelus puncak kepala gadis itu. Tetapi gerakannya terhenti, menyentuh udara kosong, dan perlahan turun. Haruskah ia berhenti mengerjai gadis ini? Ia merasa ada sesuatu pada diri Vanta yang membuatnya penasaran. Namun, entah apa itu. Setiap kali melihat wajahnya, gadis itu seperti menyimpan banyak hal.
Alvin beralih menatap bingkai foto di meja. Diambilnya bingkai foto yang ada di sana dan diperhatikannya saat ia telah menghempaskan diri ke beanbag. Foto itu diambil saat ia juara lomba melukis dan meraih piala saat kelas lima SD.
Ia menyentuh wajah seorang wanita─berkisar umur pertengahan tiga puluhan─yang berfoto di sebelahnya dengan lembut. Wajah wanita itu membangkitkan kerinduan. Menimbulkan kembali kepedihan, yang setiap kali muncul akan berusaha dikuburnya dalam-dalam. Ditatapnya foto itu dengan pandangan nanar. Lalu memeluk erat bingkai foto di tangannya. Setitik air mulai merembes dari sudut matanya sebelum ia memejamkan mata.
***
Entah sudah pukul berapa sekarang, mata Vanta tiba-tiba membuka. Ruangan itu gelap seperti saat pertama ia tersadar. Masih dengan pikiran yang melayang, mengingat-ingat percakapannya dengan Jessi di chat. Ketika ia pingsan, orang yang dengan sigap menangkap tubuhnya adalah Alvin. Kemudian yang menggendongnya ke mobil hendak mengantarnya pulang, juga Alvin. Yah, sekiranya itu sekilas info yang Jessi dapat dari Nathan saat mereka berkirim pesan semalam.
Ide untuk meminjamkan pakaian juga ternyata dicetuskan oleh Alvin. Cowok itu meminta Jessi meminjamkan bajunya untuk Vanta. Alvin mengatur semua dengan sedemikian rupa. Termasuk gagasan untuk mengontek Mama Vanta juga merupakan idenya. Betul-betul bersih kerja cowok itu. Jessi bahkan berkata jujur kalau dia tidak kepikiran meminjamkan bajunya.
Kenyataan ini lalu membuatnya bertanya-tanya, apakah Alvin akan menyudahi gencatan pada dirinya setelah ini? Apakah cowok itu memutuskan untuk... berteman dengannya? Atau nggak usah muluk-muluklah, kembali menjadi pribadi asing seperti sebelumnya di kampus juga terdengar tidak merugikan.
Seperti tersengat, tiba-tiba gadis yang kini demamnya sudah benar-benar turun teringat akan hal lain. Sejak kapan dia tidur di atas kasur?
Segera Vanta meraba sisi kiri dan kanannya. Setelah mengetahui hanya ia yang berada di ranjang, napas lega mengudara begitu saja. Vanta menyalakan lampu tidur yang berada di sisi kirinya. Beranjak dari tempat tidur. Dengan masih terseok-seok ia tuntun kakinya ke depan pintu kaca buram yang berembun.
Seketika ia mendapati pemandangan yang tidak biasa. Alvin bersandar di sofa dengan mata terpejam. Begitu tenang dan tidak berbahaya. Seulas senyum tanpa sadar mengembang di bibir Vanta. Ia membuka pintu kaca di kamar. Menampakkan halaman balkon dengan pagar pembatas batu.
Dingin.
Mungkin Alvin akan kedinginan juga jika dia membukanya terlalu lama.
Langit masih gelap. Vanta meregangkan kedua tangan sambil menghirup udara pagi. Setelah puas berdiri di sana, dia kembali masuk menarik pintu kaca. Pandangannya tertuju pada Alvin hendak membangunkan cowok itu. Namun, ia melihat kedua tangan Alvin memeluk bingkai foto yang kemarin berada di atas meja. Sebelah alisnya terangkat.
Diambilnya bingkai foto itu dan diletakkan seperti semula di meja. Kepalanya pun tidak bisa untuk tidak memunculkan tanya.
Apakah wanita yang berfoto dengan Alvin adalah mamanya?
Sebegitu jarang orang tuanya ada di rumah hingga Alvin tampak merindukannya?
Setelah beberapa saat membiarkan lelaki itu tertidur, ia mambangunkan Alvin. Dia harus pulang. Hari ini dia ke kampus.
“Vin, bangun.” Cowok yang dipanggil tidak bereaksi sama sekali.
“Alviiinnn....”
Masih tetap bergeming.
“Yuhuuuu....”
“....”
“Alviiinn, bangunnnn!!!!” Akhirnya Vanta menaikkan volume suaranya dan mengguncang lengan cowok itu.
Upayanya cukup membuahkan hasil. Laki-laki itu mengulat. Mengusap sebelah mata yang masih terpejam.
“Heh, bangun dong!” Ditepuknya pundak Alvin dengan cuek.
Hingga cowok itu berdecak. “Nggak manis banget sih, banguninnya. Mana morning kiss-nya?”
Tentu saja gurauan itu langsung disambut pelototan dari Vanta yang sudah bersiap menghujatnya. ”Dih, cacing pita! Ngigo ya?” Vanta memukul Alvin. ”Mimpi aja lo, sana!”
Pandangan lelaki itu terarah lurus pada wajahnya. ”Kita kan tidur sekamar semalem, jangan galak-galak dong,” goda cowok itu. Kilat keusilan yang hakiki terpancar pada sorot matanya.
Meski tau apa yang diucapkannya tak serius, kedua pipi Vanta hampir menyerupai kepiting rebus saat mendengarnya. Ia buru-buru memalingkan muka, menegakkan badan. “Kok lo tidur di sofa?”
“Kan nggak dikasih tidur di sebelah lo,” sahut Alvin, meregangkan badannya yang pegal.
“Bukan itu maksud gue! Kenapa gue jadi pindah ke kasur? Kenapa lo nggak tidur di kamar lain?”
“Nggak inget? Semalem lo tidur sambil jalan.”
“Mana mungkin, ih!”
“Beneran! Serius...” Jari telunjuk dan jari tengah Alvin membentuk huruf V. Memasang wajah seolah paling serius sedunia.
“Bohong! Udahlah, gue mau siap-siap pulang.” Diliriknya cowok itu sekali lagi, menyadari sesuatu. “Lo nggak dingin semalem?”
“Dingin? Lumayan... Kenapa?”
“Nggak pa-pa, abis lo nggak pake selimut.”
“Kalo gitu, lo yang hangatin dong.”
Tiba-tiba Alvin menarik sebelah tangan Vanta sehingga tubuhnya terdorong ke depan. Kalau tangan kanannya tidak memegang bahu Alvin untuk menopang diri, mungkin tubuhnya sudah jatuh menimpa cowok itu.
“Eh!” pekik Vanta kaget.
Aroma cologne samar-samar dirasakan olehnya. Wangi kayu manis tercium dari tubuh laki-laki itu. Saat Vanta mendongakkan kepala, ia baru sadar kalau posisi mereka kini berada dalam jarak yang amat dekat. Tanpa guling atau tanpa benda apa pun yang memisahkan mereka seperti semalam.
Detak jantungnya serasa berhenti berdetak. Wajahnya dan wajah Alvin hanya terpisah oleh beberapa senti ruang di udara.
Harus ia akui, melihat wajah Alvin dari jarak sedekat ini menyadarkannya kalau cowok itu lumayan tampan. Bola mata cokelat terang berbingkai alis yang terbentuk sempurna, hidungnya mancung, kulit yang putih seperti Vanta sendiri, ditambah rambutnya yang sedikit berantakan mengurangi kesan arogannya.
Hanya lumayan. Tolong garis bawahi.
Sementara itu, seperti terhipnotis Alvin menatap Vanta dalam diam. Dipandanginya lekat-lekat mata bulat gadis itu, wajah mulusnya, dan bibir merah mudanya. Mengabaikan reaksi gadis di depannya yang kini tengah ketar-ketir hampir memuntahkan jantungnya keluar.