Malam ini Vanta pulang dengan keadaan tubuh yang lelah. Mama sudah duduk menunggunya di meja makan. Mama memerhatikan putrinya yang berjalan dengan lunglai, membuatkan s**u hangat untuk putrinya.
Bertemu dengan Alvin selama dua hari berturut-turut sangat menguras emosi dan pikiran. Dengan gerakan pelan meraih gelas s**u dan menghabiskannya.
"Tidur gih, Ta," kata Mama.
Namun Vanta menggeleng dengan mata sayu. "Masih ada tugas yang harus diselesain, Ma."
"Tugas apa? Sini dibantuin,"
Setelah Vanta menghabiskan segelas s**u, ia dan mama mengerjakan tugas yang super merepotkan itu di dalam kamarnya. Mereka membentuk balok dari potongan-potongan karton dan mengelemnya sembari mengobrol.
Vanta kemudian berkata, "Udah malam, Mama tidur aja. Besok kan harus bangun pagi buat masak,"
"Kamu sendiri?" tanya mama.
"Ata aja yang lanjutin. Besok kelas pertama jam sepuluh kok, jadi bisa bangun lebih siang."
"Ya udah, jangan terlalu capek ya..." Selesai mengelem dua buah balok karton, mama keluar dari kamar Vanta.
Vanta terus melipat dan mengelem. Setiap lima menit ia menguap. Dilihatnya jam dinding berbentuk lumba-lumba yang tergantung manis di dinding kamarnya. Jam menunjukkan pukul sebelas lewat empat puluh lima menit.
Vanta berdecak, "Kayaknya harus ada aktivitas lain biar gue nggak ngantuk."
Ia mengambil ponselnya yang berada di meja belajarnya. Terpikir untuk mengirim pesan ke Jessi, tapi ia berubah pikiran. Pasti gadis itu sudah terdidur lelap sekarang, karena besok dia ada kelas pukul delapan pagi. Akhirnya ia memutuskan untuk mendengarkan lagu dari ponselnya.
Suara Sezairi mengalun lembut pada lagu It's You, membuat Vanta perlahan memejamkan mata masih dalam posisi terduduk dengan kepala yang sedikit demi sedikit tertunduk. Tapi segera ia sadar dan mengangkat kepalanya.
"Ck! Mesti ganti lagu nih!"
Setelah memijat layar ponselnya beberapa saat untuk memilih lagu, ia tersenyum puas. Semangatnya jadi lebih meningkat mendengar lagu dari Clean Bandit. Ia bersenandung mengikuti irama musik sambil sesekali menyanyikan liriknya.
Waktu terus berputar, akhirnya gadis itu menyelesaikan tugasnya. Tidak terasa jarum pendek jam menunjuk ke angka empat.
Angka empat?!
Astaga... Matanya sudah sangat lelah, sejak tadi dia paksakan untuk tetap membuka. Kepalanya juga sudah depenuhi oleh bayangan guling, bantal, dan domba.
Kenapa jadi domba?
Sudahlah.
Segera Vanta naik ke atas tempat tidur, menelusupkan diri di balik selimut. Tanpa membereskan benda-benda yang berserakkan di lantai, ia langsung terlelap dalam hitungan detik.
***
Hari Kamis, Vanta terpaksa naik taksi ke kampus. Karena harus mengumpulkan tugasnya yang berbentuk bangungan dari kumpulan balok karton yang disusun dengan beragam ukuran.
Menurutnya naik taksi lebih boros. Tapi mau bagaimana lagi, hanya untuk hari ini saja. Pulangnya Dia tidak akan membawa tugas terkutuk itu, jadi ia bisa naik angkutan umum.
Vanta menghela napas panjang saat masuk ke dalam taksi. Sebenarnya ada untungnya juga hari ini naik taksi. Sejak bangun tidur kepalanya terasa pusing dan berat. Sekarang pun masih terasa tidak nyaman. Tubuhnya juga lemas. Ia menyentuh keningnya dengan telapak tangan.
Sepertinya ia kecapekan. Bekerja sampai larut malam ditambah begadang terus untuk mengerjakan tugas. Kalau hari ini tidak harus mengumpulkan tugas, mungkin sekarang dia lebih memilih bersantai di dalam kamar. Tidur di ranjang yang empuk atau baca komik.
Lagi-lagi ia mendesah panjang. Mengeluarkan ponselnya dari saku jinsnya, memijat layar sentuh itu, dan menempelkan ke telinga.
"Kelas lo udah selesai?" tanya Vanta langsung ketika telepon diangkat.
"Udah. Lagi dimana lo?"
"Di jalan, bentar lagi sampe. Lo di kantin?"
"Iya..." Jeda sejenak. "Ntar gue keluar," jawab Jessi mengerti dengan apa yang dipikirkan Vanta.
Di saat seperti ini Vanta tidak ingin sendirian berhadapan dengan Alvin.
"Thanks, Jes," Ia tersenyum hangat walau ia tahu Jessi tidak melihatnya. "Lo keluar sekarang aja deh."
Setelah tiba di area batas kendaraan masuk kampus, Pak supir menghentikan laju taksinya. Vanta mengucapkan terima kasih dan langsung turun karena taksi sudah dibayar melalui aplikasi. Saat keluar, ia melihat Jessi sedang menunggunya.
"Kok kayaknya lo lesu banget Ta?" tanya Jessi ketika mereka memasuki kampus.
"Iya nih. Mungkin gue kecapekan kali, gara-gara bikin ini tugas," Vanta mengangkat bangunan yang terbuat dari balok-balok karton miliknya.
"Oh, yaudah kita ke tangga lantai tiga aja yuk,"
Mereka menaiki lift menuju ke lantai tiga. Pada saat itulah mereka bertemu Ferdi di dalam lift.
"Hai, Fer," sapa Jessi. Sementara Vanta hanya menyapa dengan senyuman.
"Hai. Kalian mau kemana?" tanya Ferdi dengan gaya khasnya yang kalem.
"Ke tangga, hehe..." Jessi menyuarakan tawanya dalam suku kata.
"Nggak lain deh," Ferdi tersenyum. Pandangannya beralih kepada Vanta. Ia agak terkejut, "Potong rambut, Ta?" Sudah seminggu ia tidak ketemu Vanta. Jadi wajar saja kalau ia baru tahu.
"He-eh. Nggak cocok, ya?" Vanta hanya membalas dengan senyum tipis. Sebenarnya ia malas membahas masalah rambutnya. Mengingatkan dia pada Alvin. Apa lagi setelah pertemuan mereka semalam. Entah apa lagi yang akan diperbuat cowok itu padanya. Dia pasrah.
"Nggak kok, cuma kaget aja. Rambut lo tadinya panjang, tiba-tiba pendek gini. Tapi cocok kok."
"Thanks."
Ferdi kembali memerhatikannya. "Lo lagi sakit?"
"Tuh kan, apa gue bilang, Ta. Keliatan kalo lo kusut banget," celetuk Jessi ikut-ikutan. Belum sempat Vanta menjawab, dua orang itu sudah heboh.
"Lo istirahat aja, Ta," bujuk Ferdi.
"Gue nggak pa-pa, cuma capek dikit. Lagian hari ini gue mau kumpulin tugas, nih." Vanta menunjuk balok-balok karton yang dibawanya.
"Oh..." Pintu lift terbuka, Ferdi beralih menatap Jessi yang mengikuti Vanta keluar dari lift. "Eh iya, lo nggak ikut ke kelas, Jes?"
"Emang ada kelas sekarang?"
"Iya, kan jadwal Pak Darma diubah jadi hari ini. Ni gue mau ke lantai empat."
"Oh my God! Gue nggak inget! Gue taunya cuma ada dua kelas hari ini, tadi pagi sama yang nanti siang. Kenapa harus hari ini siiihh?" protes Jessi, lalu ia beralih ke Vanta, "Gue duluan deh, ya."
Vanta menoleh, "Oke, gue juga mau nunggu kelas pertama. Dahh..." Ia melambai singkat, perlahan sosok Ferdi dan Jessi menghilang di balik lift.
***
Vanta merasa tidak kuat, kepalanya tambah pusing, badannya juga panas. Ia berencana akan pulang setelah ikut kelas pertama dan mengumpulkan tugas ke dosen killer, tak lain adalah Bu Dewi. Nathan yang belum masuk ke kelas menemaninya sejak kelas pertama Vanta selesai.
"Ta, kayaknya muka lo pucet deh."
"Bukan kayaknya lagi. Emang udah pucet dari tadi pagi. Pusing banget nih gue, mau pulang aja."
"Lo naik motor?"
"Nggak, naik bus."
"Naik taksi aja, ntar kalo lo kenapa-napa gimana?" ujar Nathan cemas. Karena kondisi Vanta saat ini benar-benar memprihatinkan.
"Sayang ah, tadi pagi gue udah naik taksi. Bisa menjerit kantong gue," Mereka berjalan memasuki lift, dari lantai enam menuju lantai dasar.
Nathan mengikutinya, "Gue bayarin, deh. Lo mau pulang sekarang?"
Sekadar info, belakangan Vanta baru tahu kalau Nathan ini keluarganya juga tajir. Bukan saja dari barang-barang bermerk yang dipakainya. Tapi ketika mereka mengobrol dengan Jessi, cowok ini mengaku kalau sebenarnya ayahnya memiliki usaha distribusi biji plastik.
"Nggak usah Nath. Iya, cabut aja gue."
"Gue juga ada kelas sih, abis jam makan siang. Gue anter sampe depan deh. Naik taksi aja ya, Ta," bujuk Nathan sekali lagi.
"Nggak ah."
Mendengar jawaban tak terbantah Vanta, jelas sudah. Nathan merasa cewek ini nggak bisa diajak kompromi. Dari pada kena semprot Vanta, lebih baik ikuti kemauannya.
Belum sampai ke lantai dasar pintu lift terbuka. Tampak seseorang sedang menunggu di depan lift. Ekspresi Nathan langsung berubah begitu melihat utuh sosok yang berdiri di sana.
Alvin sedang menunggu ketika dilihatnya pintu lift terbuka dan manampilkan dua orang yang sangat dikenalnya, Vanta dan Nathan. Dengan tenang ia masuk ke dalam lift dan berdiri membelakangi mereka.
Vanta agak grogi begitu melihat Alvin. Namun ia tidak merasa waswas seperti sebelumnya. Entah mengapa pikirannya antara sadar dan tidak sadar. Keringat keluar dari pori-porinya. Ia menyentuh pelipisnya dengan satu tangan. Kepalanya semakin pusing. Tubuhnya terasa ringan dan tiba-tiba cahaya di sekitarnya meredup. Segalanya jadi tak terkendali. Sampai penglihatannya berubah menjadi gelap.
"Vanta!" desis Nathan bersamaan dengan pintu lift yang terbuka.