Keesokan harinya tidak ada rambu-rambu bahaya selama di kampus. Vanta merasa sedikit lega, tapi juga masih merasa tidak tenang. Setelah semalam kepalanya dipenuhi oleh prasangka buruk yang akan terjadi.
Membayangkan kalau tiba-tiba salah seorang staf admisi memanggilnya, lalu mengumumkan pencabutan beasiswa hanya karena telah mengganggu anak rektor, atau bahkan di Drop Out? Apa yang bisa ia katakan pada Mama sepulangnya dari kampus? Mama pasti akan kecewa berat.
Dijauhkannya pikiran-pikiran buruk dari benaknya. Gadis berambut panjang lurus yang dikuncir ala ponytail itu keluar kelas menyusuri koridor. Sambil berjalan, ia merogoh kantong depan ransel yang ia sandangkan di sebelah bahu, mengeluarkan ponselnya dari sana. Ia menekan layar sentuh itu beberapa kali. Kemudian menempelkan ponselnya ke telinga. Setelah terdengar nada sambung telepon dua kali, seseorang di ujung telepon menjawab dengan suara pelan.
”Gue belum keluar, Ta. Lo ke lapangan aja duluan. Tunggu gue di sana ya,” bisik Jessi.
“Oh, oke.” Vanta memutus sambungan telepon dan memasukkan ponselnya ke saku celana.
Seraya memasuki lift, ia menekan angka enam pada deretan tombol di samping pintu lift. Setelah denting lift terdengar, gadis itu melangkah keluar menuju lapangan basket.
Ada beberapa orang yang sedang bertanding di lapangan. Hari ini bukan hari pertandingan basket antar kampus, hanya anak-anak *UKM basket di kampus yang sedang berlatih. Dia dan Jessi lumayan suka menonton kegiatan anak-anak tim basket. Makanya kemarin mereka berdua janjian untuk bertemu di lapangan. Lumayan kan, indoor, jadi nggak harus nonton sambil panas-panasan.
(*UKM = Unit Kegiatan Mahasiswa)
Vanta duduk di salah satu bangku di pinggir lapangan. Sambil menunggu Jessi, ia memerhatikan pertandingan yang sedang berjalan.
Jessi memang beda kelas dengannya, dia jurusan Ilmu Komunikasi semester tiga. Tapi semenjak masa orientasi, Vanta menjadi akrab dengan gadis cantik itu. Saat itu Vanta lupa membawa pulpen untuk menulis jadwal kegiatan orientasi di hari berikutnya. Jessi yang kebetulan sedang lewat mendatangi Vanta yang kebingungan dan bertanya, ”Cari apa? Ada yang ilang?”
Vanta menjawab, ”Nggak, kak, kayaknya saya lupa bawa tempat pensil.”
”Oh, pake punya gue aja dulu.”
”Terima kasih, kak.”
Saat itu Vanta masih berbicara sangat sopan, tapi kemudian Jessi meminta supaya mereka bicara santai saja ke depannya.
Vanta sering tersenyum menyapa ketika ia berpapasan dengan Jessi. Sampai suatu siang setelah masa orientasi selesai, Jessi menghampiri Vanta yang duduk sendiri di kantin. Lagi nggak ada temen makan siang, katanya, jadi ketika kebetulan melihat Vanta yang sedang duduk sendiri, dia langsung mengambil salah satu tempat duduk berhadapan dengan Vanta.
Sejak itu mereka sering makan siang bersama. Vanta juga sepertinya tidak punya teman cewek yang akrab dengannya. Dia jadi suka mengekor Jessi. Sebaliknya, Jessi senang juga melakukan aktivitas dengan Vanta. Karena Vanta orang yang cuek, nggak banyak tanya, dan nggak banyak argumen juga.
Menurutnya, Vanta pendengar yang baik buat Jessi. Kadang ia juga mengajak Vanta jalan-jalan ke mal. Jadi walaupun mereka beda semester, beda jurusan, mereka sering menghabiskan waktu bersama.
”Kemana si Jessi? Kok belum nongol juga?” gumam Vanta celingukkan.
Setelah beberapa menit perhatiannya terpusat pada pertandingan, ia lalu menengok ke arah pintu masuk.
Gadis itu tidak tahu kalau sejak tadi ada seseorang yang memerhatikannya dari seberang lapangan.
”Dia semester satu jurusan desain, Vin,” ujar seorang cowok sambil menepuk bahu Alvin.
”Jurusan desain juga? Oh, bagus kalo gitu. Sewaktu-waktu gue bisa ketemu dia di galeri. Siapa namanya?”
Galeri adalah sebutan suatu ruang khusus yang dibuat untuk mahasiswa-mahasiswi jurusan desain berkumpul mengerjakan tugas, memajang hasil karya, dan saling pinjam peralatan yang dibutuhkan. Biasanya anak-anak jurusan desain pasti sering ke galeri, karena galeri bagi mereka semacam basecamp.
“Iya. Belum tau,” jawab Toto sambil ikut melihat ke arah cewek yang duduk di seberang lapangan.
Sering mengikuti kegiatan dan organisasi di kampus membuat Toto memiliki banyak kenalan di kampus. Dibandingkan Alvin, dia juga lebih ramah dan bersahabat dengan mahasiswa lain.
Masih menatap gadis yang yang mengenakan kaus biru, ia melihat fokus cewek itu kini ke ponsel yang ada di tangannya. Alvin tersenyum simpul, kemudian menyapa temannya yang kebetulan anggota tim basket. Cowok itu sedang membereskan bola basket yang habis dipakai untuk latihan.
”Bola dong.”
”Lo mau maen Vin?”
”Semenit aja, temenin gue bentar.”
Cowok itu agak bingung, tapi mengikuti kemauan Alvin. Toh katanya hanya satu menit. Mungkin Alvin cuma mau shoot aja ke ring.
Setelah men-drible bola, diopernya ke bola itu ke Alvin. Alvin menangkap lalu mengarahkan bola ke ring. Dan tepat, bola itu melesat ke dalam ring. Cewek-cewek yang ada di sana sejak latihan basket tadi, seketika terpesona melihat Alvin dan menyorakkan namanya.
Meski terkenal iseng dan suka bikin onar, Alvin memang populer di kalangan mahasiswi. Ganteng, nggak usah ditanya. Keahlian, sudah tidak diragukan lagi. Alvin yang jurusan desain terkenal jago melukis, jago fotografi, dia termasuk berprestasi di jurusannya untuk mata kuliah utama.
Banyak cewek dari jurusan lain minta di foto oleh Alvin untuk mengisi halaman media sosialnya. Tidak jarang juga yang minta Alvin membuat lukisan atau sketsa untuk mereka. Bahkan kabarnya gadis-gadis itu rela membayar dengan ‘apa pun’. Tapi Alvin selalu menolak, dia tidak butuh uang dari mereka, apa lagi rayuan. Seorang Alvin Geraldy hanya akan melakukan apa yang dia sukai dan menarik perhatiannya.
Setelah satu kali bola masuk ke dalam ring, Alvin menangkap bola dan mengoper ke arah temannya yang mendampingi dia bermain ‘kilat’. Bola basket itu ditangkap dengan satu gerakan gesit. Kembali mereka saling berebut bola untuk dimasukkan ke ring.
Kedua tangan temannya tengah terangkat, menjepit bola basket diantara telapak tangannya. Ketika lelaki yang memakai jersey siap mencetak angka, Alvin menepis bola itu dengan satu tangan. Sasaran sudah ditentukan sebelumnya, bola yang ditepis bergerak tepat ke arah sang target.
”Aduh!” Gadis yang menjadi target meringis. Diiringi beberapa pasang mata yang beralih menatapnya.
Gadis itu menyentuh kepalanya dengan satu tangan yang tidak memegang ponsel. Bola basket baru saja melayang ke arahnya, ‘mencium’ dahinya. Setelah beberapa saat menatap bola basket yang telah menggelinding di lantai, cewek berambut ponytail tersebut menegakkan wajah. Matanya mencari-cari siapa yang melempar bola ke arahnya.
Di seberang lapangan terlihat dua orang cowok yang sedang memerhatikannya. Salah satu cowok memandangnya khawatir dan merasa bersalah, sedangkan satu cowok lagi melihatnya dengan sudut bibir terangkat, menyeringai.
‘Sialan! Udah ngelempar bola malah cengengesan lagi!’
Saat mereka bertemu pandang, wajah Vanta menatap kesal kepadanya. Kemudian Alvin berjalan mendekat.
Semula Vanta mengira laki-laki itu akan mendatanginya meminta maaf. Namun, gagasan tentang meminta maaf patah begitu saja saat Alvin angkat suara.
”Ini masih belum apa-apa.”
Tidak mengerti apa yang diucapkan cowok itu, Vanta mendongak protes. Ia marah. ”Oh, jadi lo yang ngelempar bola ke gue? Bukannya minta maaf, malah ngomong nggak jelas. Nggak sopan banget!”
”Kayaknya lo lebih nggak sopan, deh. Lo nggak inget yang kemarin lo lakuin?” Nada suara yang tenang, namun tersirat sebilah pisau pada setiap katanya.
Vanta mengernyitkan kening, sesaat kemudian matanya membelalak terkejut. Ia baru ingat kalau cowok di hadapannya ini si ‘anak Rektor’.
Melihat reaksi cewek di depannya, membuat Alvin mendengkus. ”Tuh kan. Sama orang yang udah jadi korban lo aja, lo nggak inget. Bener-bener nggak sopan.”
Masih duduk bergeming, Vanta berusaha menelan kejengkelannya. Ingin sekali melempar balik bola yang tergeletak di lantai ke kepala batu itu. Tapi kalau mau aman, dia tidak bisa membalas perlakuan cowok menyebalkan itu, apa lagi banyak saksi mata.
Satu-satunya jalan terbaik untuk Vanta saat ini adalah mengikat kesabarannya agar tetap bisa kuliah di kampus swasta ternama dengan beasiswa. Ya, begitu saja. Ia harus mencegah mulut dan tangannya supaya nggak menyerang lelaki itu dengan brutal. Masalah bola biarkan berlalu.
Setelah bertekad mengabaikan lelaki itu, dia bangkit berdiri, hendak meninggalkan lapangan. Baru selangkah berjalan, Alvin menahannya.
”Gue nggak bakal lepasin lo gitu aja buat masalah yang kemarin.”
”Maksudnya? Lo ngancem gue?”
”Nggak juga, tapi mungkin bisa jadi pelajaran berharga buat lo.” Lelaki itu menyunggingkan senyum liciknya. Lantaran Vanta menatap dengan tajam.
‘Sabar Ta, sabar. Cowok itu cuma mau menggertak lo.’
Vanta mencoba menenangkan diri. Setelah beberapa saat mengatur emosi, ia menarik kasar tangannya dari cekalan cowok itu kemudian pergi meninggalkan lapangan.
***
“Jadi tadi dia kayak gitu sama lo?” tanya Jessi hampir membuat gendang telinga Vanta pecah.
“Pelanin dong suaranya,” bisik Vanta sembari menengok ke kiri dan kanan.
Setelah keluar dari lapangan indoor, ia menelepon Jessi yang kebetulan baru keluar kelas, jadi ia langsung menyusul temannya. Kini mereka duduk di pojok anak tangga lantai tiga. Menjauhkan diri dari jangkauan Alvin.
“Kalo itu sih, berarti sama aja dia umumin perang ke elo, Ta.”
“Gue juga berpikiran gitu. Gimana dong, Jes?”
“Apanya yang gimana? Lo juga sih, awalnya yang mulai. Cari perkara sama anak Rektor.”
“Ya mana gue tau kalo dia anak Rektor?”
“Tapi lo beruntung tau.”
“Beruntung kenapa?”
“Bisa di-notice gengnya Alvin.”
“Ish, apanya yang beruntung? Buntung iya.”
“Eh, dengerin ya. Faktanya cewek-cewek banyak yang ngemis perhatian ke mereka, terutama Alvin.”
Vanta mencebik malas. “Apa bagusnya dia?”
Tetapi Jessi memutar bola mata tak sabaran, mengubah posisi duduknya dan memasang raut serius.
“Satu, dia tajir. Dua, dia anak Rektor. Tiga, lo liat aja, dia super supeerr suupeerrrr gantengggg. Ibarat berlian di kubangan lumpur.”
“Menurut gue dia lumpurnya,” sergah Vanta jengah.
“Ish, dengerin dulu. Dia itu bukan cuma ganteng, tapi prestasi akademiknya juga bagus. Sering menang lomba fotografi dan desain.”
“Masa sih?”
“Suwerrr!” Jessi mengacungkan jari telunjuk dan jari tengah membentuk huruf V. “Tapiiiii, ada satu kurangnya.”
Tanpa sadar sebelah alis Vanta terangkat. Jadi penasaran juga. “Apa?”
“Meski banyak yang naksir dia, meski cewek paling cantik di jurusannya terang-terangan tertarik sama dia, cowok itu nggak peduli sama sekali. Sepanjang dia kuliah, nggak ada sejarahnya dia punya pacar.” Sambil geleng-geleng kepala memasang wajah prihatin.
“Sampe-sampe ada kabar kalau dia, maho.”
Kali ini Vanta menganga terperangah. Bukan karena informasi yang didengarnya. Tapi, bagaimana Jessi, yang beda jurusan dengan mereka saja sampai bisa tahu serba-serbi tentang Alvin? Ya, nggak salah sih cewek ini masuk jurusan Ikom, kalau koneksinya aja bisa seluas ini sampai bisa tahu detail tentang orang yang bahkan beda jurusan dan beda angkatan dengnnya.
“Kok lo tau amat info nggak penting gitu?”
“Yee... dia kan legend di kampus. Apa lagi di gedung fakultas ini.”
“Bodo amat ah. Yang gue peduli nasib gue setelah ini.” Vanta menangkup wajahnya dengan dua tangan mengepal.
Keduanya lalu terdiam. Suasana di tangga saat itu cukup sepi karena bukan jam sibuk mahasiswa. Biasanya pada jam kuliah pagi, mahasiswa yang terburu-buru dan tidak mendapat ruang di dalam lift akan berbondong-bondong naik ke kelas melalui tangga. Tapi menjelang sore jadwal perkuliahan lebih sedikit. Sehingga mereka berdua bisa leluasa menjadikan tangga sebagai tempat persembunyian.
Di tengah keheningan, Jessi melirik gadis di sebelahnya. Tanpa Vanta sadari, gadis itu tersenyum tipis.