Syuurrr...
"Masssss Sattttrio" baju Sarah basah kena siraman air selang saat Ia sedang melamun,
"Haha, maaf Mbak nggak sengaja" jawab Satrio,
Sarah menghentakan kakinya sedikit berlari ke rumahnya.
"Lohhh Mba Sarah ko bajunya basah?" Tepat saat Sarah keluar dari garasi rumah Satrio Ia bertemu dengan Bu Nenda.
Sarah tidak menjawab pertanyaan Bu Nenda, Ia melengos begitu saja melewati Bu Nenda kembali ke rumahnya.
"Owalahhh, dasar anak zaman sekarang ga punya sopan santun ditanya melengos aja" Bu Nenda menggerutu sendiri karena diabaikan Sarah. Satrio yang masih menyiram tanaman diam saja tidak menanggapi Bu Nenda.
"Mas Satrio, rajin banget. Jangan dimanjain istrinya nanti ngelunjak masa nyiram tanaman aja harus Mas Satrio" kali ini Bu Nenda mengomentari Satrio.
"Ooo... Saya tau pasti Sarah basah karena Mas Satrio siram?" tebak Bu Nenda, Ia tersenyum sambil mencebikan bibirnya belum sempat Satrio menjawab pertanyaan dia yang sebelumnya.
"Bu Nenda banyak banget pertanyaannya kaya netizen. Hihi. Emang ada yang salah kalo laki-laki nyiram tanaman?" Satrio bertanya santai. Sebenarnya Ia juga ingin menyiram Bu Nenda biar otaknya ga panas terus, cuma karena Bu Nenda lebih tua ia segan.
"Owalah, ngerjain kerjaan rumah tangga itu tugas istri lah Mas, suami kan udah capek kerja cari duit, lagian Mas Satrio bisa dapet istri yang lebih rajin loh" sepertinya Bu Nenda lupa kalau suaminya Pak Johan selalu membagi jatahnya pada wanita lain, S iri jika ada suami yang perhatian pada istrinya karena ia jarang di perhatikan. Bu Nenda ingin semua wanita memiliki nasib sama dengannya.
"Sama aja kan, lagian Lina itu istri Saya. Dia sudah ngerawat Saya dengan baik dan ngerjain kerjaan rumah dari senin-sabtu, jadi ga da yang salah hari minggu dia santai" Satrio masih santai menjawab pertanyaan Bu Nenda.
"Nanti kalo Lina besar kepala baru ngerasain sampean Mas!" Bu Nenda segera berlalu dari hadapan Satrio, Ia sangat tidak senang karena tidak berhasil memancing amarah satrio.
Satrio hanya geleng-geleng kepala melihat Bu Nenda. Satrio memutuskan untuk kembali ke dalam rumah. Baru saja hendak menyimpan selang seseorang memanggil namanya.
"Mas Satrioooo!"
Satrio menolehkan kepala mendengar namanya dipanggil. Tiga gadis remaja tersenyum manis padanya.
"Mau donk disiram juga biar cinta kita bisa tumbuh subur" ucap salah seorang gadis lainnya.
"Husss, ngawur. Laki orang gil*kkk" temannya yang lain menasehati.
Satrio hanya membalas dengan senyum sekedarnya ternyata Rani keponakan Bu Lastri tetangga depan rumahnya yang memanggil. Ia bersama teman sepantarannya baru tiba di rumah Bu Lastri.
"Aaaa... Dia senyum sama Gueee, manis bangettt!!!" Rani senyum-senyum sendiri karena sapaannya di balas senyuman Satrio.
"Ya elahhh. GR amat Sis. Dia senyum bukan berarti suka" gadis lainnya menasehatinya kembali. Gadis yang masih lurus itu bernama Dian.
Rani memang sering mengajak Dian dan Icha main ke rumah Bu Lastri tantenya. Alasannya karena ingin melihat Satrio, mereka yang sangat suka drama korea sangat antusias ketika pertama kali melihat Satrio wajahnya mirip aktor korea. Meskipun akan menjadi ayah, tapi wajahnya seperti anak kuliahan.
Banyak yang tidak menyangka usia Satrio sudah mau kepala tiga mereka kira Satrio masih singel meskipun akhirnya tahu Ia sudah berkeluarga tidak menyurutkan keinginan mereka kecuali Dian untuk mengenal Satrio lebih jauh, sampai saat ini mereka hanya bisa menyapa saja belum bisa berkenalan secara langsung.
Bu Lastri tidak tahu maksud kedatangan keponakan dan teman-temannya ingin melihat Satrio. Karena Ia pikir wajar seorang keponakan sering berkunjung ke rumah tantenya.
"Ish, biarin aja sih. Gue rela ko jadi sugar baby nya Mas Satrio" Icha menerawang menyatukan kedua tangannya membayangkan bisa dekat dengan Satrio. Saat ini mereka bertiga masih kuliah semester tiga di salah satu PTS di Jakarta.
"Jangan ngawurrr dehhh!" Dian menoyor kepala Icha yang mulai oleng.
"Auwww, Diannn!" Icha mengerucutkan bibirnya kesal.
"Kayanya otak kalian kudu di rukiyah biar jinnya keluar" Dian masih mengingatkan kedua temannya.
"Ya elah biasa aja kali Sisss, zaman sekarang kaya gitu biasa. kan lumayan Mas Satrio kalo di ajak jalan, ganteng kaya Oppa" Icha mengibaskan tangannya di depan Dian, Ia masih berkhayal menjadi sugar baby Satrio.
"Ya kali Dia mau sama Lo, pastinya sama Gue lah, kan Gue paling cantik" Rani tak mau kalah memperebutkan laki-laki yang belum tentu mau dengan mereka berdua.
"Eh manisan Gue lah, ga ngebosenin" Icha tak mau kalah dengan Rani.
Dian menggelengkan kepala melihat kelakuan dua temannya. Harus gimana lagi mengingatkannya. Tapi selama hanya di mulut saja Dian tidak perlu was-was. Yang Ia khawatirkan Icha nekat mendekati Satrio ia tau persis wataknya karena sudah mengenal Icha sejak SMA.