My Heart For The Children

392 Kata
Bukankah berkhayal itu hanya dilakukan oleh anak kecil?Bukankah dongeng itu hanya untuk anak kecil? Bukankah permainan itu hanyadimainkan oleh anak kecil? Tapi aku suka berkhayal, aku suka dengan dongeng danaku suka bermain. Anak kecil kah diriku? Bukan, aku bukan anak kecil! Tapi akuakan terus membuat khayalan, khayalan indah untuk anak-anak. Aku juga akanselalu mendongeng untuk anak anak dan bermain sebuah permainan dengananak-anak. “Bisakah kau berhenti melakukan aktivitasmu dengan anak-anakitu dan meluangkan seluruh waktumu hanya untukku?” Ucapan itu seketikamembuyarkan semua khayalanku. Ucapan kekasihku yang begitu mengecewakan hatiku.Dia terlalu melarangku akan setiap kegiatanku. Bukan, bukan karena dia takmenyukai anak-anak. Hanya saja dia belum memahami mengenai anak-anak. Kembali aku berkhayal mengenai anak-anak itu. Tertawa, menaridan bernyanyi bersama. Di sebuah taman yang indah dipenuhi bunga, balon dankupu-kupu. Aku senang melihat anak-anak itu bahagia. “bu guru, ayo kita main!” Ajak seorang anak menghentikankhayalanku. “ayo! Kita ajak teman-teman kamu ya sayang.” Aku pun mulai mengajak anak-anak itu bermain bersama. Akuselalu mengajarkan permainan anak-anak yang mungkin kini sudah jarang dimainkanoleh anak-anak. Diantara permainan itu, anak-anak ini sangat menyukai permainanpetak umpet. “aaaa kamu jangan ngumpet disini. Ini tempat aku tahu.” ucapbrian salah satu anak-anakku “tidak mau, aku kan juga mau ngumpet disini. Kamusaja yang pergi sana.” Balas rival “aku bilangin bu guru nih. Bu guru rivalnakal nih bu.” Mendengar perkataan itu aku tersenyum menghampiri kedua anaktersebut. “brian, rival. Ayo, kalau main bu guru bilang apa?” “tidak bolehberantem dan tidak boleh nangis.” Jawab keduanya. Kejadian seperti tak lagi membuatku gelisah. Itulah khasanak-anak dan aku menyukainya. Sayang hal tersebut tak terjadi dengankekasihku. “kenapa sih kamu tidak berhenti saja dan cari perkerjaan yanglebih baik?” “karena aku menyukai anak-anak.” “tapi tidak selalu tentang mereka.”“kalau bukan kita siap lagi? Nantinya juga kita akan mempunyai anak setelahkita menikah kan.” “tapi kamu ini sarjana ekonomi.” “ada apa dengan sarjanaekonomi?” “sudahlah lupakan saja.” Bukan aku tak peduli dengan predikat yang aku miliki. Akuhanya menjalankan apa yang membuatku bahagia. Dan aku senang melihat anak-anakbahagia. Bagiku anak-anak mungkin tak lagi menjadi anak-anak nantinya.Tapi ketika mereka masih anak-anak aku ingin mengenalkan dunia khas anak-anakyang kini telah hampir dilupakan. Permainan, dongeng bahkan musik untukanak-anak itu yang kuberikan untuk mereka. Bukan menjadikan mereka sosok dewasapada waktu anak-anak. Hanya itulah impianku. Hanya itu…
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN