Kisah Qurban Bu Sumi

739 Kata
Kisah ini terjadi ± tahun 1995, sudah cukup lama memang,namun setiap ingin memasuki I’dul Adha saya selalu teringat dengan kejadianyang pernah saya alami ini, dan sampai saat ini sayatidak pernah melupakannya. Awalnya saat saya sedang menjajakan dagangan bersama teman(kami berempat waktu itu), kami mengeluh karena sudah 3 hari kami berdagangbaru 6 ekor yang terjual, tidak seperti tahun sebelumnya, biasanya sudahpuluhan ekor laku terjual dan hari raya sudah didepan mata (tinggal 2 harilagi). Kami cukup gelisah waktu itu. Ketika sedang berbincang salah seorangteman mengajak saya untuk sholat ashar dan saya pun bersama teman sayaberangkat menuju masjid yang kebetulan dekat dengan tempat kami berjualan.  Setelah selesai sholat, seperti biasa saya melakukan zikir dan doa. Untuk saatini doa saya fokuskan untuk dagangan saya agar Allah memberikan kemudahansemoga kiranya dagangan saya laku/ habis terjual. Setelah selesai saya dan teman kembali bergegas untuk kembalike tempat kami jualan, dari kejauhan kami melihat ditempat kami berjualanbanyak sekali orang disana dan terlihat teman kami yang berada disana kesibukandemi melayani calon pembeli. Akhirnya saya dan teman saya berlari untuk cepatmembantu melayani teman kami. Alhamdulillah pada saat itu sudah ada yangmembeli beberapa ekor kambing. “Terima kasih Ya Robb, Engkau telah mendengar danmenjawab doa kami”, Syukur saya dalam hati. Namun setelah semuanya terlayani dan keadaan kembali normal,saya melihat seorang ibu-ibu sedang memperhatikan dagangan kami, seingat sayaibu ini sudah lama berada disitu, pada saat kami sedang sibuk ibu ini sudah adanamun hanya memperhatikan kami bertransaksi. Saya tegur teman saya “Ibu itu maubeli ya ? dari tadi liatin dagangan terus, emang gak ditawarin ya ?, sepertinya dari tadi udah ada disitu. Kayaknya Cuma liat-liataja, mungkin lagi nunggu bus kali.Jawab teman singkat. Memang sih kalau dilihat dari pakaiannyasepertinya gak akan beli ( mohon maaf.. ibu itu berpakaian lusuh sambilmenenteng payung lipat ditangan kanannya)kalau dilihat dari penampilannya tidak mungkin ibu itu inginberqurban. Namun saya coba hampiri ibu itu dan coba menawarkan.“Silahkan bu dipilih hewannya, ada niat untuk qurban ya bu ?. Tanpa menjawabpertanyaan saya, ibu itu langsung menunjuk, “Kalau yang itu berapa bang ?” Ibuitu menunjuk hewan yang paling murah dari hewan yang lainnya. Kalau yang ituharganya Rp. 600.000,- bu, jawab saya. Harga pasnya berapa bang ?, gak usah tawarlagi ya bu... Rp. 500.000 deh kalau ibu mau.  Fikir saya memang dari hargasegitu keuntungan saya kecil, tapi biarlah khusus untuk ibu ini. “Uang sayaCuma ada 450 ribu, boleh gak”. Waduh... saya bingung, karena itu harga modalkami, akhirnya saya berembug dengan teman yang lain. “Biarlahmungkin ini jalan pembuka untuk dagangan kita, lagi pula kalau dilihat daripenampilannya sepertinya bukan orang mampu, kasihan, hitung-hitung kitamembantu niat ibu itu untuk berqurban”. Sepakat kami berempat. “Tapi bawasendiri ya.. ?” akhirnya si ibu tadi bersedia, tapi dia minta diantar oleh sayadan ongkos bajaj-nya dia yang bayar dirumah. Setelah saya dikasih alamatrumahnya si ibu itu langsung pulang dengan jalan kaki. Saya pun berangkat. Ketika sampai di rumah ibu tersebut. Subhanallaah.....Astaghfirullaah.....Alaahu Akbar, merinding saya, terasa mengigil seluruh badansaya demi melihat keadaan rumah ibu tersebut. Ibu itu hanya tinggal bertiga dengan orang tuanya (ibunya)dan satu orang anaknya di rumah gubuk dengan berlantai tanah dan jendela darikawat. Saya tidak melihat tempat tidur/ kasur, yang ada hanya dipan kayuberalas tikar lusuh. Diatas dipan sedang tertidur seorang perempuan tua kurus yangsepertinya dalam kondisi sakit. “Mak ... bangun mak, nih liat Sumi bawa apa”(oh ternyata ibu ini namanya Sumi), perempuan tua itu terbangun dan berjalankeluar. “Ini ibu saya bang” ibu itu mengenalkan orang tuanya kepada saya. MakSumi udah beliin kambing buat emak qurban, ntar kita bawa ke Masjid ya mak.Orang tua itu kaget namun dari wajahnya terlihat senang dan bahagia, sambilmengelus-elus kambing orang tua itu berucap, Alaahu Akbar, Alhamdulillaah,akhirnya kesampaian juga emak qurban. “Nih bang duitnya, maaf ya kalau saya nawarnya telalu murah,saya hanya kuli cuci, saya sengaja kumpulkan uang untuk beli kambing yang mausaya niatkan buat qurban ibu saya. Aduh GUSTI....... Ampuni dosa hamba, hambamalu berhadapan dengan hambaMU yang satu ini. HambaMU yang Miskin Harta tapidia kaya Iman. Seperti bergetar bumi ini setelah mendengan niat dari ibuini. Rasanya saya sudah tidak sanggup lagi berlama-lama berada disitu. Sayalangsung pamit meninggalkan kebahagiaan penuh keimanan mereka bertiga. “Bang nih ongkos bajajnya.!, panggil si Ibu, “sudah bu cukup,biar ongkos bajaj saya yang bayar. Saya cepat pergi sebelum ibu itu tahu kalaumata ini sudah basah, karena tak sanggup mendapat teguran dari Allah yang sudahmempertemukan saya dengan hambaNYA yang dengan kesabaran, ketabahan dan penuhkeimanan ingin memuliakan orang tuanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN