Akhtar saat ini berada dalam ruangan Shanum. Dia memberanikan diri untuk menemui Shanum. Apalagi mamanya berulang kali menasehatinya untuk tidak membuat Shanum banyak berfikir. Karena kondisi kehamilan Shanum saat ini sangat lemah. Takutnya akan berakibat fatal jika Shanum terlalu stress. Maka Akhtar tak berani mengambil resiko yang bisa membahyakan calon anaknya. Dia pun langsung mengesampingkan perasaannya terlebih dahulu demi keselamatan isteri dan anaknya. Shanum mulai menggeliat, matanya terbuka dengan perlahan. Hatinya langsung tersentak saat ia melihat suaminya duduk disampingnya. Tanpa ragu Shanum langsung memeluk Akhtar. “ Mas Akhtar, Shanum mohon mas jangan tinggalkan Shanum. Shanum mohon mas maafkan Shanum.” Ucap Shanum dengan suara yang terdengar begitu rapuh. Hati Akhtar sa

