Nathan duduk menikmati mie instan di depan toko yang dekat kantornya, seorang direktur eksekutif menyukai hal sederhana seperti ini, tentu saja membuat semua wanita akan kagum padanya, namun tak jarang yang menjelek-jelekkannya mengatainya pelit dengan hidupnya sendiri. Ia bukan pelit pada dirinya sendiri, melainkan doyan makan mie instan di waktu-waktu tertentu, apalagi sejak kemarin ia terus mengingat Luvina, ada dorongan untuk makan mie instan siang ini, bahkan teman-temannya yang mau ikut pun tak ia izinkan. “Nathan?” Luvina melihat Nathan tengah duduk sendirian. Nathan menoleh. “Luvina? Ngapain kamu di sini?” “Oh aku tadi lagi jalan-jalan ke mall, tapi karena haus pengennya minum sesuatu, jadi mau mampir beli. Kamu makan sendirian? Kenapa nggak dibawa ke kantor aja?” Nathan membua

