35. Penguntit

2099 Kata

Abimanyu menajamkan tatapannya begitu Guntur beranjak dari kursinya dan mendekati Kanaya di kursi barisan depan. Menelisik lebih jauh. Dengan harapan, ia bisa mendapatkan informasi dari tatapan tajam itu. Tapi pada kenyataannya jelas tidak bisa. Jarak tempat duduknya ke tempat Kanaya lumayan jauh. Ada tiga baris kursi yang menghalangi. Membuatnya tidak bisa mendengar percakapan mereka berdua. Yang nampak hanya Guntur yang mengajak berbicara. Kanaya juga beberapa kali menoleh ke arah Abimanyu. Seolah menimang sesuatu. Tapi begitu Dhia menepuk bahunya beberapa kali, Kanaya mengangguk. Berakhir keduanya berjalan beriringan keluar dari kelas. Entah untuk pergi ke mana. Abimanyu mendesis sebal. Ia masih mengingat jelas perjanjian yang keduanya tanda tangani semalam. Walaupun atas dasar ke

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN