INDIRA'S BUCKET LIST - 06
Indira yang saat ini sedang menuruni anak tangga menuju ke arah lantai bawah indekosnya, tampak menolehkan kepalanya ke arah Jihan yang baru saja memanggil namanya.
Jihan adalah salah satu penghuni indekos yang ada di lantai atas, dan dia juga menyewa kamar di sini karena tuntutan pekerjaan—sama seperti Indira.
“Mau ke mana, Ind?” tanya Jihan kemudian.
“Mau makan bakso di depan.” Indira menjawab sembari mengendikkan kepalanya ke arah gerobak bakso yang sedang mangkal di seberang indekos Mahira. Karena gerobak bakso itu terlihat sangat jelas dari arah tangga tempat mereka berdiri sekarang. “Kamu sendiri mau ke mana?”
“Sama. Aku juga mau ke depan cari makan.”
Setelah itu, mereka berdua pun berjalan beriringan, dan Jihan kembali melontarkan sesuatu kepada Indira. Karena tumben sekali perempuan itu masih berada di indekos saat malam minggu seperti sekarang.
“Kamu tumben, Ind, malem minggu masih ada di sini. Biasanya juga udah pulang, buat mudik.” Jihan tampak terkekeh samar di tempatnya saat ini, dan Indira juga jadi ikut tertawa kecil begitu mendengar ucapannya Jihan soal kata ‘mudik’.
“Iya, soalnya lagi males aja buat balik.”
“Kenapa? Kamu lagi ada masalah?” tanya Jihan.
Indira hanya menggelengkan kepalanya dengan gerakan samar sebagai jawaban. Sedangkan Jihan yang berjalan di sampingnya, hanya tersenyum tipis dengan raut wajah penuh pengertian. Karena perempuan itu mengerti kalau Indira pasti tidak mau berbagi masalah ataupun bercerita kepada sembarangan orang seperti dirinya. Karena bagaimanapun juga, mereka berdua hanyalah tetangga indekos yang tidak terlalu dekat. Pasti ada batasan-batasan tak kasat mata yang masih harus diperhitungkan.
Keduanya tampak bergabung bersama beberapa anak Indekos Mahira yang sedang makan bakso duluan. Di sana mereka juga bertemu dengan Daniar yang malam ini mengajak beberapa temannya untuk menginap.
Indira sempat berbasa-basi sebentar bersama Daniar dan beberapa teman gadis itu sebelum Daniar berpamitan lebih dulu.
“Kamu deket ya sama anak yang itu?” tanya Jihan tak lama setelah itu.
“Maksud kamu ... Daniar?” Indira hanya sedang memastikan kalau ia tidak salah orang, dan Jihan pun langsung menganggukkan kepalanya saat itu juga.
“Oh ... ya, lumayan deket sih.” Indira malah menganggukkan kepalanya dengan gerakan yang terlihat kurang pasti, hingga membuat Jihan tertawa karena melihat keraguannya Indira saat ini. “Soalnya aku pernah ngobrol sama dia beberapa kali.”
Setelah itu, mereka sudah tidak membahas tentang Daniar lagi. Karena keduanya sudah mulai sibuk dengan pesanan mereka masing-masing.
***
Sebenarnya di weekend kali ini Indira memang sengaja tidak mau pulang ke rumah dan memilih untuk tetap berdiam diri di Indekos Mahira. Karena kemarin Mika sudah sempat memberitahu dirinya, kalau putra sulungnya Utami sempat datang ke rumah mereka. Bahkan yang lebih parah, Mika juga mengatakan jika si Javier-Javier itu sempat berjanji kalau dia akan datang lagi di hari minggu nanti.
Hal itu kontan saja membuat Indira jadi mengurungkan niatnya yang ingin pulang ke rumah seperti biasa. Sehingga ia pun segera menghubungi ibunya dan mengatakan kalau saat ini ia sedang memiliki sebuah pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan begitu saja. Padahal ... di pagi minggu yang cerah ini, ia hanya berdiam diri di dalam kamar indekosnya. Dan pekerjaan yang dilakukan olehnya hanya seputar bersih-bersih kamar, yang sesungguhnya bisa dilakukan oleh dirinya kapan saja.
Indira tampak duduk di samping ranjang dan mulai menyandarkan punggungnya. Karena membersihkan kamar kos memang cukup menguras tenaga.
Ia lantas membuka ponselnya, lalu membaca beberapa chat dari Mika.
Ternyata si Javier-Javier itu memang sungguhan datang lagi ke rumah. Karena tadi Mika sudah sempat mengirimkan sebuah foto—yang terlihat sangat nge-blur—kepada dirinya.
Hal itu kontan saja membuat Indira merasa gemas, dan segera memberikan sebuah pesan balasan untuk adiknya.
To: Mika | Coba kirim ulang fotonya. Kakak mau lihat mukanya.
Dan tak perlu menunggu waktu lama, karena beberapa detik selanjutnya balasan dari Mika sudah sampai ke layar handphone miliknya.
From: Mika | Udah gak bisa, Kak. Orangnya udah pulang.
To: Mika | Terus gimana? Dia bilang apa lagi ke Bapak? Mau dateng lagi, gitu?
From: Mika | Enggak. Dia gk ada janji apa-apa.
From: Mika (2) | Tapi, kayaknya dia tadi sempet minta alamat kosnya kakak ke Ibu deh
From: Mika (3) | Kalo gak salah. Soalnya aku tadi sempet denger sekilas.
Indira langsung memelotot begitu membaca tiga pesan beruntun yang dikirimkan oleh Mika. Feeling -nya mengatakan kalau sang ibu pasti sudah memberikan alamat indekos tempat ia menyewa. Lalu, saat ia menanyakannya kepada Mika—hanya sekadar untuk memastikan saja kalau feeling -nya ini bisa saja salah, Mika malah mengatakan kalau sepertinya ibu mereka memang benar-benar memberikan alamat indekosnya kepada Javier yang sempat meminta.
Hal itu kontan saja membuat Indira jadi merasa resah. Bagaimana kalau seandainya Javier berbuat nekat, dan menghampirinya ke sini di saat mereka berdua belum saling mengenal? Padahal kan ia sudah sempat menolak ide perjodohan itu, karena ia benar-benar tidak mau. Dan ia juga percaya kalau ibunya pasti sudah mengabarkan kepada Utami tentang penolakannya tempo hari. Namun, kenapa si Javier-Javier itu terlihat sangat niat sekali? Bahkan sampai datang ke rumahnya hingga dua kali.
Indira benar-benar tidak habis pikir. Dan sekarang ia hanya mampu berdoa, supaya dirinya tidak mendapatkan tamu laki-laki secara tiba-tiba. Karena ia bingung harus kongkalikong dengan siapa. Apa lagi hampir semua penghuni kos sudah tahu jika di weekend kali ini ia tidak pergi ke mana-mana.
***
Untungnya kekhawatiran Indira kemarin tidak benar-benar terjadi, karena ia bisa melewati hari minggunya di indekos tanpa kehadiran orang asing sama sekali. Dan pagi ini, ia sedang sibuk bersiap-siap untuk segera pergi. Karena entah kenapa pagi senin selalu terasa jauh lebih hectic ketimbang hari-hari yang lain.
Indira lantas mengunci pintu kamarnya dan menyimpan kunci itu ke dalam sebuah pouch yang selalu dibawanya ke mana-mana. Setelah itu, ia pun membenarkan letak tasnya, lalu segera melewati rangkaian anak tangga.
Begitu ia sudah sampai di lantai bawah, ia melihat sosok Daniar yang sepertinya sedang sibuk mencari sesuatu di koridor lantai satu.
Sebenarnya Indira ingin sekali menyapa Daniar dan menanyakan apa yang saat ini sedang dicari olehnya, tapi berhubung gadis itu sepertinya tidak melihat kehadiran dirinya di ujung anak tangga, jadi ia pun memutuskan untuk langsung pergi ke arah carport saja. Lagi pula, ia juga sedang tidak ingin membuang-buang waktunya. Karena sesungguhnya ia sudah agak kesiangan, lantaran ia tadi sempat ketiduran setelah melaksanakan salat subuh di dalam kamarnya.
Beberapa saat berselang, Indira tampak sudah berada di jalan raya sambil mengendarai motornya sekaligus berlomba bersama para pengendara lain yang saat ini akan pergi ke tempat tujuan mereka masing-masing. Untungnya lalu lintas masih terasa cukup lancar pagi ini, sehingga Indira pun sudah sampai di perusahaan tekstil tempatnya bekerja dalam kurung waktu kurang dari lima belas menit.
Indira lantas membeli beberapa roti di kantin. Karena ia tadi hanya sempat meminum segelas s**u sebelum benar-benar bergegas pergi hingga mengendarai motornya sampai ke tempat ini.
*****
BERSAMBUNG ....
Jangan lupa follow akunku, terus tap love cerita ini supaya masuk ke perpustakaan akun kalian. Terima kasih :)