KEDIAMAN keluarga Adiwangsa masih dipenuhi para pelayat meskipun saat ini jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Mobil – mobil berjejer memenuhi jalan sekitar rumah dan pekarangan. Diantara gerombolan berbaju hitam itu, ada sebagian yang Lea kenal, tapi ada juga yang tak dikenalnya sama sekali. Kaki Lea tak cukup kuat menopang berat badannya saat melihat jasad Eyang terbujur kaku di ruang tengah diselimuti selimut batik dan kain putih. Raja memapah tubuhnya mengambil tempat duduk tak jauh dari jasad Eyang. Sementara disamping kanan dan kiri mereka ada Lili yang menangis histeris di pelukan Diandra, dan Tante Dwi menangis dipelukan Nyonya Tyana Mahendra. Mbok Sar, meskipun berurai air mata, tapi tetap tampak tegar memempersiapkan segala keperluan ini itu yang dibutuhkan untuk memandik

