SETELAH melalui dua minggu yang lumayan berat menjalani ujian, hari keberangkatan Lea ke Perancis pun tiba. Sejak pagi, kediaman megah keluarga Mahendra tampak sibuk. Beberapa ART sudah kasak – kusuk di dapur mempersiapkan sarapan pagi untuk seluruh anggota keluarga, Pak Ihsan sedang memanaskan mobil dan memasukkan koper kedalam bagasi, Mommy sedang memberikan wejangan pada Lea diruang tengah, sementara Raja?...Masih bergelung dibawah selimut.
"Kamu jangan khawatirin Raja, nanti kalau dia nakal, biar Mommy pukul pantatnya..." kata Mommy.
Lea hanya tertawa geli. Sejak beberapa hari yang lalu, Mommy seringkali memintanya untuk tidak khawatir tentang hal apapun di rumah, karena ada Mommy yang akan mengurus semuanya. Terutama urusan Raja. Mommy meminta Lea agar tak terlalu kepikiran dengan suaminya yang satu itu.
Padahal Lea memang tak khawatir sama sekali. Sedikitpun tidak!
Bukannya ia istri yang tak bertanggung jawab karena sebegitu santainya meninggalkan suami di rumah. Selama dua bulan mereka menikah, kehadiran Raja jelas telah membuat Lea ketergantungan pada kehadiran pria itu, dan mungkin juga sebaliknya. Setiap pagi sebelum pria itu berangkat kerja, dialah yang menyiapkan segala keperluannya, mulai dari air mandi sampai gel rambut dan celana dalam. Begitu juga saat ia pulang kerja, Lea lah yang membuka dasi dan kaos kakinya sedangkan Raja sudah enak – enakan tidur diatas sofa.
Tapi yang membuat Lea tak khawatir adalah ekspresi pria itu sendiri. Selama dua minggu ini, tak pernah sekalipun Raja tampak risau karena kepergiannya. Pria itu sangat santai, terlalu santai. Tak seperti Lea yang tiba – tiba saja merengek karena khawatir ia akan sangat merindukan Raja begitu ia tiba di Perancis nantinya. dan jika sudah begitu, Raja hanya akan memeluknya sepanjang malam sambil tertawa.
Kondisinya ternyata lebih mengkhawatirkan daripada Raja!
"Ngomong – ngomong dimana anak itu? Udah bangun? Dia harus nganterin kamu ke bandara, kan?!" Mommy melongok kearah pintu kamar anak menantunya. Pintu masih terkunci rapat, tak ada tanda – tanda anak sulungnya itu akan keluar dari sana.
"Biar Lea cek dulu Mi..." Lea beranjak dari duduknya dan berjalan menuju kamar. Begitu pintu terkuak, gadis itu langsung menghela napas begitu melihat tubuh Raja yang masih bergelung nyaman dengan comforter diatas ranjang mereka layaknya kepompong.
"Kak... Kak Raja..." Lea mengguncang – guncang tubuh Raja dengan keras. Tapi bukannya bangun, pria itu malah menarik selimut tebalnya itu makin tinggi sampai menutup kepala.
Membangunkan Raja memang jadi ajang uji kesabaran bagi Lea setiap harinya. Mata suaminya itu sangat susah dikompromi jika sudah bertemu dengan kasur empuk dan bantal. Selama dua bulan pernikahan mereka, seingat Lea tak sekalipun Raja pernah bangun lebih dulu darinya.
Raja yang terus saja diganggu tidurnya akhirnya mau tak mau bangun dari kasur kesayangannya. Dengan nyawa yang masih terkumpul separuh dan muka bantalnya yang dimata Lea tetap saja tampan, pria itu memandang Lea dengan heran. Ia berkali – kali meneliti penampilan gadis itu dari ujung kepala sampai ujung kaki. Kemeja putih dibalut sweater rajut baby pink, skinny jeans broken white, wajah Lea yang sudah terpoles make up tipis...
Lea tertawa melihat suaminya itu menggaruk kepalanya dengan ekspresi bingung. Rajata Mahendra saat bangun tidur selalu saja menggemaskan. Membuat kekesalan Lea karena membangunkan pria itu sirna seketika.
"Mandi, kak! Kakak udah janji mau nganterin Lea ke bandara hari ini..." kata Lea. Gadis itu mengulurkan handuk pada Raja dan mendorong suaminya itu masuk kedalam kamar mandi. Raja hanya mengikuti tanpa berkata – kata.
Setelah Lea selesai membereskan ranjang dan memilihkan pakaian untuknya, Raja keluar dari kamar mandi dengan wajah segar. Ia langsung mengambil pakaian yang diletakkan Lea diatas tempat tidur dan membawanya ke ruang wardrobe. Karena meskipun mereka sudah terbiasa dengan aksi peluk dan elus – elusan, untuk urusan ganti baju- apalagi dalaman, mereka tetap saja belum terbiasa. itu terlalu... privat!
Oke fine! Privat untuk Lea, tapi tidak untuk Raja. Dulu pria itu tak malu berganti baju bahkan bertelanjang d**a didepan Lea. Tapi, semenjak gadis itu sering mencak – mencak memintanya agar tak sembarangan keluyuran shirtless meskipun di kamar mereka, Raja akhirnya menyerah. Daripada telinganya pengang, mending dituruti, iya kan? Toh, Lea nggak minta yang susah – susah amat.
Raja sebenarnya heran, kenapa gadis itu bisa begitu takut khilaf, padahal dia adalah suaminya yang sah. Sah di grepe – grepe, dan sah diapa – apakan.
Setelah selesai mengganti pakaian, Raja keluar dari kamar menghampiri istri dan Mommynya di meja makan. Mommy dan menantu itu sedang asyik bercengkrama sambil sesekali tertawa heboh. Entah apa yang mereka gosipkan, Raja hanya samar – samar mendengar nama Daddy disebutkan.
"Udah jam berapa ini, Raja?!" suara galak Mommy langsung menghampiri gendang telinga Raja. Pria itu hanya menarik kursi disamping Lea tanpa berniat menjawab pertanyaan sang Mommy yang kalau diladeni, sudah jelas hanya kan membuat kupingnya berdengung.
"Lima belas menit lagi kalian harus sudah berangkat dari rumah, loh! Ntar macet di jalan..." kata Mommy lagi.
Bukannya menjawab ocehan sang Mommy, Raja malah asyik memperhatikan istri cantiknya yang sekarang sibuk mengoleskan selai kacang diatas roti panggang dan meletakkannya di piring Raja. Lea juga menuangkan secangkir kopi panas untuknya.
Hm... selama dua minggu kedepan, Lea gak ada buat ngurusin makan gue...
Alah... sebelum nikah gue juga ngurusin hidup gue sendiri, kok!
"Kamu dengerin Mommy nggak sih, Rajata Mahendra?!" suara Mommy yang duduk diseberang meja sudah melengking tinggi, dan itu artinya sang nyonya besar butuh ditanggapi sekarang juga!
"Iya, Mommy sayang... aku dengar kok! Ini juga mau buru – buru sarapan, tapi Mommy cerewetin mulu..." katanya.
Mommy mendengus kesal. "Kamu lihat dia, sayang? Mommy nggak yakin tahan ngadepin manusia model begini dua minggu. Tapi kamu udah dua bulan nikah kok masih tahan aja ya Le?"
Lea tertawa geli sedangkan Raja mendelik tak terima. "Mommy udah dua puluh tujuh tahun hidup sama aku, tapi sampai sekarang masih baik – baik aja, kok!"
"KAMU DOAIN MOMMY CEPAT MATI?" Mommy berteriak gusar.
Raja menggeleng – gelengkan kepala tak percaya seraya mengunyah rotinya dengan santai. Mommynya terlalu banyak nonton sinetron, makanya hidupnya penuh drama.
"Mommy harus kurangin nonton sinetron, Mom! Nggak baik buat kesehatan hati dan jantung. Sejak Mommy suka nonton sinetron gak jelas itu, Mommy jadi makin lebay. Heran kenapa Daddy masih betah aja sampai sekarang..."
Bukannya marah dengan ucapan anak tirinya itu, Mommy malah senyum – senyum dan cengengesan gak jelas. "Iya dong! Daddy kamu udah Mommy kasi pelet paling ampuh. Jadi sampai kapanpun nggak bakalan bosan sama Mommy..." katanya bangga.
"Pantas aja! Selama ini Daddy juga nanya pertanyaan yang sama loh, Mom, dan ternyata udah ketemu jawabannya hari ini..." suara berat Anggara yang baru masuk ke ruang makan membuat Mommy, anak dan menantu itu mengalihkan atensinya ke asal suara. Daddy langsung menghampiri mereka dengan senyum lebar. Setelah mencium kening istrinya mesra dan mengusap kepala Lea sekilas, pria paruh baya itu mengambil tempat duduk di pangkal meja.
"Daddy dari mana?" tanya Raja. Daddy nya itu tampak sudah rapi dengan kemeja dan celana kain, padahal setiap hari sabtu, Daddy lebih memilih untuk menghabiskan liburan bersama Mommy di rumah daripada berangkat kekantor.
"Loh, Mommy belum kasi tau ya? Daddy sama Mommy mau ke Surabaya hari ini. Ada undangan pernikahan anak sahabat Daddy disana..."
Raja langsung melongo. Undangan pernikahan? Kenapa tiba – tiba? Dan... Raja baru sadar ternyata Mommy juga sudah cantik dan rapi pagi ini.
"Jadi aku ditinggal sendirian di rumah? Daddy sama Mommy di Surabaya berapa lama?"
"Nggak usah lebay kamu. Kayak nggak biasa tinggal sendirian aja! Lagian Daddy sama Mommy disana cuma dua hari. Besok sore udah pulang lagi."
Raja menghela napas pasrah. Sudahlah ditinggal istri dua minggu ke Perancis, sekarang juga ditinggal Mommy dan Daddy ke Surabaya. Ia benar – benar merasa ditelantarkan!
"Kamu main ke rumah Ken aja sana! Daddy dengar dia udah pulang dari tour..." kata Daddy lagi.
Raja hanya diam. Sampai lima menit kemudian setelah sesi sarapan mereka selesai, Raja dan Lea beranjak dari kursi diikuti Mommy dan Daddy. Ia harus mengantar istrinya itu ke bandara.
"Kamu udah izin sama Eyangmu kan sayang?!" tanya Mommy begitu mereka tiba di depan rumah.
"Udah Mi, Lea ke rumah Eyang kemarin..."
Mommy mengangguk. "Bagus kalau gitu..." katanya. "Sini peluk Mommy..."
Wanita paruh baya itu menarik Lea masuk kedalam pelukannya. Raja yang melihat adegan ala – ala itu dari balik kaca mobil hanya mendengus jengah karena saat menangis terisak – isak, Mommy tirinya itu masih sempat – sempatnya mengingatkan Lea tentang tas Channel dan jam tangan Cartiernya.
Dasar Mommy!
Setelah menyelesaikan wejangannya yang terakhir, akhirnya Lea dan Raja bisa lepas dari jerat sang Mommy. Jangan bayangkan bagaimana leganya hati Raja. Lega banget! Ia hanya harus cepat – cepat mengantar Lea ke bandara dan bergegas ke kantor. Banyak pekerjaan yang menunggunya disana. Meskipun sekarang ujung minggu, tapi pekerjaannya di kantor tak pernah sepi. Entah ini berkah atau musibah, karena Raja semakin susah meluangkan waktu untuk dirinya sendiri akhir – akhir ini. Untung saja ia menikmati pekerjaannya, jadi tak ada masalah sama sekali.
Hampir sejam kemudian, mereka tiba di bandara. Suasana bandara sudah ramai dipenuhi oleh orang – orang yang berlalu lalang. Sebagian besar dari mereka menggeret koper di tangan mereka, tapi ada juga yang berjalan santai tak membawa apa – apa.
Raja menggeret koper Lea sampai ke ruang tunggu keberangkatan internasional. Disana sudah ada beberapa gadis sebaya Lea sedang berbincang serius dengan dosen pembimbing mereka. Lea langsung ikut nimbrung begitu mereka sampai sementara Raja duduk di kursi tunggu.
Raja melihat jam digital di papan pemberitahuan berkali – kali. Pesawat yang akan membawa Lea dan teman – teman satu kelompoknya ke Perancis akan berangkat sekitar satu jam lagi, dan dia tak mungkin menunggu selama itu di tempat ini. Daripada ia menghabiskan waktu percuma, lebih baik ia segera berangkat ke kantor sekarang. Setidaknya dalam waktu satu jam itu ia bisa menyelesaikan tiga berkas.
Raja baru saja akan bangkit dari duduknya saat matanya menangkap sosok lelaki yang sangat dikenalnya mendekat kearah mereka dengan senyum sumringah. Ia sontak terkejut. Kenapa dia bisa ada disini?
Lelaki itu tampaknya belum menyadari kehadirannya. Terbukti begitu tiba di ruang tunggu, ia langsung ikut nimbrung dengan kelompok Lea yang masih serius mendengar pengarahan dari dosen pembimbing mereka.
Wait... dia juga berangkat ke Perancis? Yang benar saja!
Lelaki itu adalah Alfian Bagaskara, yang setelah Raja selidiki ternyata adalah anak kedua mantan mentri pendidikan Indonesia periode lalu yang sekarang menjabat sebagai rektor di universitas tempat Lea menimba ilmu. Lelaki itu tampak sangat tampan dengan t-shirt putih dibalut jaket kulit dan celana jeans hitam. Rambutnya yang sedikit panjang itu sengaja tak ditata rapi, hanya dioleskan sedikit gel yang menimbulkan kesan segar. Semua aksesoris yang melekat di tubuhnya meskipun tampak simple tapi Raja tahu, harganya sangat mahal.
Emosinya naik seketika saat bocah kencur itu dengan lancangnya menarik tangan Lea dari kerumunan dan mengajaknya berbicara berdua. Dan Lea... seakan sudah lupa dengan dunia dan kehadiran suaminya yang sedang menunggu seperti orang bodoh di kursi ini, malah asyik tertawa – tawa dengan lelaki itu.
Raja tak suka! Dia tak terima Lea mengabaikan kehadirannya dan malah memilih cekikikan tak jelas dengan si Alfian – Alfian itu. Gadis itu bahkan belum mengucapkan terima kasih atas bantuan Raja mengantarkannya ke bandara!
Alfian kencur itu juga sama, dari sekian banyak orang, kenapa harus mengajak bicara istrinya? Sudah jelas Lea itu istrinya, masih saja punya niat buat nikung! Apa peringatannya kemarin kurang jelas ya?
Raja bangkit dari duduknya dengan gusar dan mendekat kearah dua sejoli yang tampak seperti sedang kasmaran itu. Ia berdehem keras sambil melipat kedua tangannya di depan d**a begitu ia tiba tepat di depan keduanya. "Eheemm..."
Perbincangan keduanya langsung terhenti. Lea menatap Raja dengan raut terkejut.
"Kak Raja masih disini? Lea pikir udah langsung pulang..."
Raja menarik Lea ke pojokan yang agak sepi setelah menghadiahkan Alfian tatapan garang dan membunuhnya.
"Kenapa nggak bilang kalau bocah itu juga ikut ke Perancis bareng kamu? Kamu bilang dia anak kedokteran, kenapa dia juga ikut? Atau jangan – jangan dia juga ambil dua jurusan juga kayak kamu?" cecar Raja begitu cengkraman tangannya pada lengan Lea terlepas.
Lea mengerjapkan mata. Bulu matanya yang panjang dan tak terpoles maskara itu bergerak – gerak, membuat Raja harus menahan diri untuk tak menyentuhnya karena terlalu gemas. Demi apapun, dia sedang kesal sekarang!
"Nggak tahu juga. Dia sengaja mau liburan kali!"
Raja mendengus sebal. Ekor matanya melirik kearah Alfian yang duduk disana. Bocah bau kencur itu tampak sedang asyik dengan handphonenya.
"Kamu jangan coba – coba selingkuh, Aleah Mahendra! Kamu sempat berniat saja aku haramkan, apalagi kalau sampai kamu benar – benar selingkuh!" kata Raja tajam.
Lea tersenyum lebar kemudian memeluk Raja erat – erat. Gadis itu menyurukkan kepalanya di d**a bidang Raja dan bergumam pelan. "Kalau yang satu ini aja nggak kelar – kelar, ngapain Lea harus nyari yang lain?!"
Dan dengan satu kalimat singkat itu, kekesalan Raja menguap seketika. Pria itu balas memeluk Aleah-nya tak kalah erat. Sampai ia bisa merasakan bibir gadis itu tertarik membentuk senyum dalam dekapannya.
Hampir lima menit mereka berpelukan sampai akhirnya Raja melonggarkan pelukan mereka. "Jangan tertawa seperti tadi ke laki – laki manapun selain aku. Kamu itu cantik, hanya dengan senyuman aja udah rame yang rela ngantri buat kamu, dan aku nggak mungkin ngejual saham-sahamku buat nyewa bodyguard ngejagain kamu..." kata Raja pelan seraya mengelus pipi Lea dengan lembut. Matanya bertaut dengan mata cokelat bening Lea yang entah kenapa tiba – tiba saja tampak sangat memukau di mata Raja.
Lea tersenyum kecil dan mengangguk malu – malu. Wajah cantiknya sudah merona merah.
Raja mencium kening Lea lama kemudian mengecup bibir gadis itu sekilas. "Hati – hati disana. Jangan lupa kabarin aku setiap saat..."
Lea terkekeh. "Nggak bisa setiap saat kak, Lea nggak mungkin pegang handphone dua puluh empat jam, kan?"
"Ya udah, kapan kamu sempat, deh!"
Lea mengangguk lagi.
Sisa waktu mereka di bandara dihabiskan dengan Raja memberikan wejangan pada Lea. Agar istrinya itu tak lupa memakai mantel dan syal setiap kali keluar ruangan, agar Lea menjaga pola makannya, jangan terlalu capek, dan jangan lupa menghubunginya kalau sudah tiba di Perancis nanti.
Lea sampai heran sendiri. Padahal tadi, waktu Mommy berpesan ini itu di rumah, Raja tampak acuh dan cenderung memasang muka kesal, tapi lihatlah sekarang, cerewetnya pria itu bahkan sudah melampaui sang Mommy!
Setelah Raja kembali memeluknya dan mencium bibirnya, Lea benar – benar harus berpisah dengan Raja karena pesawat yang ia tumpangi akan segera berangkat. Lea melambai dengan riang kearah Raja yang saat ini juga sedang melambai ke arahnya. Bibir pria itu menyunggingkan senyum tipis. Senyum yang bahkan tak Lea ketahui menyimpan seribu kegundahan dalam hati Raja.
Kepergian Lea, Perancis yang jauh, Alfian yang juga berada disana...
Dan yang paling menyebalkan sekali, entah dari mana datangnya, rindu yang tadinya tak sedikitpun dirasakan oleh Raja, kini mulai merajalela menjajah hati pria itu.
Mendadak dua minggu terasa lama sekali...
Sialan!