DUA minggu berlalu sejak pernikahan mereka. Raja kini sudah kembali disibukkan dengan pekerjaannya di kantor, sementara Lea juga sibuk dengan kuliahnya.
Raja kadang heran juga, istrinya itu sudah hampir menempuh semester akhir, tapi masih saja sibuk ke kampus setiap hari. Masuk mata kuliah ini, mengulang mata kuliah itu, konseling ini, bimbingan itu.
Raja tak pernah ribet sebenarnya, tapi dia tak bisa untuk tidak pusing karena istri kekanakannya itu seringkali merecokinya dengan telpon dan pesan setiap kali dia berangkat kemana - mana.
'Kak, Lea izin kekampus ya... Nanti jam tiga Lea pulang.'
'Kak, Lea ke rumah Eyang boleh gak?'
'Kak, Lili sama Diandra ngajakin keluar, boleh kan?'
'Kak...'
'Kak Raja...'
'Jawab dong!'
'Kak Raja sibuk ya? Lagi meeting?'
'Padahal Lea beneran lagi pengen keluar...'
Raja sampai uring - uringan sendiri karena teror pesan dari Lea itu. Sudah beberapa kali dia mengatakan pada Lea bahwa gadis itu bebas kemana saja asalkan dengan sopir, atau kalau mau minta izin, cukup ke Mommy saja, tapi gadis itu tetap keras kepala.
Dia bukannya tak senang istrinya meminta izin padanya setiap kali keluar rumah. Tentu saja dia senang. Tapi tak perlu sampai segitunya. Dia sudah cukup sibuk dengan urusan perusahaan, dan rasanya tak perlu ditambah rumit dengan spam message seperti itu. Dia pasti akan mengizinkan jika Lea ingin kemana pun, asalkan tempat itu aman dan tak berpotensi menimbulkan skandal dan hal - hal memusingkan kepala lainnya.
Itu baru prihal izin keluar rumah, belum lagi persoalan remeh temeh lain yang tak pernah absen dibahas gadis itu setiap harinya.
'Kak, kakak suka warna hitam atau merah hati?'
'Lea beli gaun, tapi gak tau mau beli warna apa. Dua - duanya Bagus, sih! Hehe...'
Beli aja dua - duanya! Gitu aja repot! Toh dia juga gak bakalan bangkrut cuma karena dua gaun!
'Kak, Lea pulang agak telat ya, Diandra sama Lili ngajak nonton...'
'Kak, balas dong...'
"IYA, PERGI AJA ALEAH MAHENDRA! AKU LAGI ADA RAPAT PENTING! JANGAN BALAS!"
Atau dalam kesempatan lain...
'Kak Raja udah makan?'
'Menu apa siang ini?'
'Mau Lea bawain makan siang gak? Mommy masak pepes tahu hari ini.
.'
God! He is not a kid anymore!
Dia tak terbiasa dengan perhatian - perhatian semacam itu. Wanita - wanita yang selama ini pernah jadi kekasihnya adalah wanita - wanita dewasa dan sibuk dengan karir mereka. Hanya sesekali saja mereka menanyakan hal - hal begituan. Intensitas pertemuan mereka malah lebih sering diisi dengan kegiatan panas diatas ranjang. Dulu!
Mommy memang selalu mengingatkannya tentang makan dan istirahat, tapi tak pernah minta pendapat soal baju mana yang harus dipakai buat ke kondangan.
Raja tak menyangka Lea benar - benar selugu itu. Ini sudah abad 21, era-nya emansipasi wanita.
Tapi terkadang dia juga heran, entah ini memang benar kenyataan atau hanya ilusinya semata, sesekali Lea nampak berwibawa saat sedang serius menekuni laptopnya. Aura disekitar gadis itu tampak menguarkan gairah dan semangat berapi - api, seakan ia baru saja menyatu dengan hal yang benar - benar cocok dan sesuai dengan dirinya. Dan Raja sangat menyukai saat Lea sedang berada dalam kondisi seperti itu. Tapi ya, itu tadi, kejadian seperti itu hanya terjadi sesekali.
Dan pemandangan yang cukup menarik itu langsung buyar begitu gadis itu selesai dan keluar dari kamar mandi dengan piyama kebesarannya setelah ia membersihkan diri.
Baju tidur warna kuning terang yang norak bermotif kartun anak - anak, spongebob, si spons laut itu.
Hari ini, Raja pulang lebih larut dari biasanya. Rumah sudah sunyi, hanya bik Asti yang tampaknya masih terjaga karena ia melihat wanita paruh baya itu melintasi dapur saat ia naik tangga tadi.
Begitu Raja membuka pintu kamar, kesunyian juga langsung menyergap. Biasanya Aleah, istri manja dan bawelnya itu masih terjaga setiap kali ia pulang. Gadis itu akan menyunggingkan senyum lebar dan bertanya banyak hal tak penting padanya. Soal makan siang lah, bagaimana pekerjaannya di kantor lah, itulah, dan inilah.
Thanks God...Bagus juga si toa itu sudah tidur, gue gak makin sakit kepala jadinya!
Setelah mandi dan membersihkan diri, Raja mendekat kearah istrinya yang masih tertidur nyenyak sambil bertopang kepala diatas meja dekat sofa. Dengkuran halus samar - samar terdengar dari bibirnya, membuat Raja mau tak mau tertawa kecil.
Diangkatnya tubuh mungil itu keatas ranjang besar mereka. Tempat yang paling dibenci Lea di kamar ini karena Raja seringkali menendangnya sampai jatuh ke lantai secara tak sengaja. Tentu saja tak sengaja! Raja tak sekejam itu sampai menendang seorang perempuan- apalagi istrinya sendiri sampai jatuh ke lantai.
Lea langsung bergelung nyaman begitu tubuhnya mendarat sempurna diatas tempat tidur. Raja ikut berbaring disampingnya.
Pria itu menatap wajah didepannya lekat - lekat. Lea cantik, sangat cantik malah. Dengan kulit putih s**u dan bagian tubuh terbentuk sempurna. Bibirnya merah merekah dengan rambut coklat yang tebal dan panjang. Ia yakin, tak ada pria diluar sana yang bisa menolak pesona gadis ini. Tapi entah mengapa ia sendiri tak bisa merasakan getaran atau debaran meskipun jarak mereka sudah sedekat ini.
Sayang? Entahlah...
Ia menganggap Lea sama dengan Karina, adik sepupunya. Bukan hanya karena karakter mereka yang sama - sama cerewet dan menyebalkan, tapi juga karena gadis didepannya ini adalah seseorang yang berarti bagi keluarganya. Bagi Mommy, bagi Daddy, dan juga Elang...
Elang...
Erlangga Mahendra...
Adik kesayangannya...
Entah dia harus merasa sedih atau bahagia karena mampu memenuhi permintaan adiknya itu untuk menjaga Lea, gadis yang dicintainya sampai mati.
Lea adalah bagian dari Elang. Mungkin karena itu jugalah ia merasa bahwa Lea adalah adiknya.
Ia bergidik. Sampai kapan ia bertahan dengan perasaan 'ingin menjaga' ini?
Mudah - mudahan tak selamanya. Ia berharap ia bisa mencintai gadis ini suatu hari nanti. Meskipun Aleah bukanlah gadis cerdas seperti idamannya selama ini.
"Aku nggak punya pilihan lain, Aleah. Kalau benar aku harus jatuh cinta, maka wanita itu harus kamu..." katanya sebelum menyusul Lea ke alam mimpi.
***
Hari ini hari minggu. Hari merdeka untuk para pelajar dan pekerja termasuk juga bagi Raja. Pria itu masih asyik bergelung nyaman dibawah selimutnya.
Tapi tak begitu bagi Lea. Sejak subuh gadis itu sudah sibuk sendiri. Mandi, berganti pakaian, dan sarapan.
Pagi ini ia akan ke bandara. Karren dan Lanavay- sahabatnya di UK dulu akan tiba di Indonesia dua jam lagi. Dua bersaudara itu sudah mengabarinya sejak sebulan yang lalu bahwa keduanya akan ke Indonesia untuk menghabiskan liburan musim dingin kali ini. Destinasi sebenar mereka adalah pulau dewata tentu saja. Tapi menghabiskan waktu dua hari di Jakarta juga bukan ide yang buruk. Terlebih lagi mereka bisa bertemu Aleah, sahabat Asia mereka.
Setelah berpamitan dengan Raja yang ia sendiri tak yakin pria itu dalam keadaan sadar atau tidak, Lea bergegas ke bandara ditemani oleh Pak Ihsan, supir keluarga Mahendra. Raut bahagia tak bisa ia sembunyikan dari wajahnya. Bagaimana tidak? Sudah hampir enam tahun dia tak bertemu Karren dan Lana. Sebelum Lea pindah ke Maroko karena ikut Papa dan Mamanya.
Ia bahkan sangat penasaran bagaimana rupa dua sahabatnya itu sekarang. Mereka berdua mungkin saja tampak sangat berbeda dari foto.
Lambaian tangan seorang gadis yang tersenyum ceria menghentikan lamunan Lea. Di pintu international arrival tampak Karren dan Lanavay berjalan dengan langkah bersemangat kearahnya. Lea tersenyum lebar. Seperti perkiraannya, kedua sahabatnya itu memang benar - benar berbeda dari enam tahun yang lalu. Tampak lebih tinggi dan lebih dewasa.
Karren tampak santai dengan t-shirt abu - abu tua dan celana jins broken white setengah tiangnya. Gadis itu menenteng ransel besar di pundaknya. Rambut pirang sebahunya dicat merah dan dibiarkan tergerai acak - acakan sementara sunglass Diornya bertengger diatas kepala. Sedangkan Lana berpenampilan sedikit girly dengan blues biru kotak - kotak dan skinny jins hitam. Rambut pirang panjangnya dibiarkan tergerai sampai ke punggung.
"Aleaaahh..." Lana langsung menghambur dengan riang ke pelukan Lea begitu mereka berhadapan. Sementara Karren disampingnya hanya menyunggingkan senyum tipis.
"Lanaa... I miss u, how was your flight?" tanya Lea tak kalah gembira.
"Good. How are you?"
"Still breathing..." jawab Lea asal. Gadis itu melepaskan pelukannya dari Lana dan beralih memeluk Karren.
"Ofcourse you are!" celetuk Karren. "I heard that you are married?"
Lea mengangguk sambil memamerkan cincin pernikahan di jari manisnya.
"Where is your hubby?" Lanavay mengedarkan pandangan ke sekeliling penjuru.
"Still sleeping at home, it's weekend you know..."
Karren dan Lanavay ber'oh' ria. Setelah puas bertukar kabar, mereka langsung keluar menuju parkiran tempat Pak Ihsan menunggu.
***
"It almost six years since the last time we've met, right?" tanya Lana dari kursi belakang. Gadis itu asyik memperhatikan jalanan kota Jakarta yang sedikit macet pagi minggu ini.
"Yeah, i guess..." kata Karren. "It's really crowd, Leah. I mean, your city..."
Lea yang duduk disamping Pak Ihsan tertawa kecil. "Of course, it's Jakarta!"
"Kita mau kemana non?" Pak Ihsan yang dari tadi diam menyetir akhirnya buka suara.
"Emm... Kita ke rumah Eyang aja deh, pak!"
"Baik non..."
Mobil melaju membelah jalanan kota menuju kediaman Adiwangsa. Selama dalam perjalanan, Lea, Karren dan Lana tak henti - hentinya mengoceh dan bernostalgia. Tentang keadaan London saat ini, juga awal mula persahabatan mereka dulu.
"You remember Peter? The tall boy that always made you cry? He sent you regard, he was jealous when we told him we are going to Bali..."
Lea tertawa. Tentu saja ia ingat Peter. Laki - laki itu yang sering sekali melemparinya crayon sewaktu mereka masih middle school dulu.
"He moved to America in last three years. Study bussiness in Columbia University..." kata Karren.
Lea mengangguk. "I remember his family was very rich. He even go to school using ferrari..."
"Yeah, but i see him smile really seldom. He got so much pressure from his family." kata Lana prihatin.
"You, what about your Papa, Leah? Is he still on the way he is?" tanya Karren hati - hati.
Lea mendesah. "Ya, but i always pray that everything going better since i'm married now..."
Karren dan Lana hanya mengangguk. Tak lagi bertanya macam - macam. Beberapa tahun yang lalu sudah cukup membuat mereka mengerti bagaimana sifat dan sikap Papa seorang Lea. Keras dan kaku. Mereka juga tak ingin ikut campur lebih jauh tentang keluarga Lea.
Mobil berhenti begitu memasuki pekarangan rumah keluarga Adiwangsa. Lea keluar dari mobil dan membantu Karren dan Lanavay dengan barang bawaan mereka sementara Pak Ihsan juga membuka bagasi untuk menurunkan ransel dan koper serba besar milik dua sahabat nonanya yang berasal dari Inggris itu.
"You've brought what i asked you?" tanya Lea pada Karren begitu mereka berjalan beriringan masuk ke dalam rumah.
Karren mengangguk.
"Good! Now come on, i will introduce you to my dearest grandma. I also asked mbok Sar to make for you both delicious pancake..."