Sesabun Berdua

1631 Kata
Dapur. Aku menyalakan api di tungku menggunakan kayu bakar yang sudah tersedia di belakang rumah. Mura membersihkan beras dan memasukannya ke dalam katel—mirip panci yang dilengkapi kawat untuk menggantung. “Kamu mau goreng dendeng sapinya, nggak?” tanyaku. Mura menggeleng. “Nasi liwet nggak cocok sama dendeng sapi.” Benar. Nasi liwet cocoknya sama ikan asin peda, sambal terasi, dan lalap. “Yaudah, sama ikan asin peda, lalap, sama sambal aja, ya. Ikan asinnya kita tumpangkan saja di atas nasi liwet. Sambalnya biar saya yang buat. Kamu cuci timun sama terong, ya.” Aku menatap Mura. Di dekat dandang ada beberapa timun dan terong, tidak banyak. Mungkin Pak Aswin tahu kalau timun dan terong tidak akan tahan terlalu lama kalau tidak dimasukkan ke kulkas. Mura mengangguk. Tanpa mengatakan apa-apa lagi, Mura segera mengambil timun dan terong untuk dibersihkan. Semakin terang, ketakutannya memang semakin hilang. Agaknya, dia tipe orang yang tak suka berkata-kata dan lebih suka bertindak secara nyata. Ah, betapa manisnya Mura. Gusti Allah, hati hamba-Mu ini meleleh oleh makhluk ciptaan-Mu. Segera aku mengambil coet dan ulekannya untuk membuat sambal. Tentu saja dengan lebih dulu membakar terasi, bawang, serta tomatnya dulu sampai matang. Setelah air di katel mulai surut, segera aku letakkan dua ikan asin peda di atasnya. Mura sudah selesai mencuci timun sama terong dari tadi. Dia duduk saja di atas dinglik di dekat rak kayu. Di lihat dari tangannya yang memeluk badan sendiri, sepertinya dia kedinginan. Udara di sini memang sangat dingin. “Dingin, ya. Sini, siduru—menghangatkan badan di depan api.” Aku mengulurkan tangan, membuat isyarat supaya Mura mendekat. Bimbang sebentar, Mura akhirnya mendekat. “Jangan jauh-jauh, sini ....” Aku menepuk tempat tepat di sebelahku. Mura tetap di tempatnya, hanya menatap tempat yang aku tepuk. “Kalau di sana nggak kerasa anget apinya. Sini, biar nggak dingin.” Aku terus berusaha membujuk. Mura kelihatan bimbang. “Hantu-hantu sungai biasanya keliaran pagi hari, loh,” godaku, iseng. Siapa tahu kali ini Mura langsung duduk di sampingku. Aku tertawa di dalam hati. Dasar penakut. Sikap saja dingin kayak es, tapi penakut kayak anak kecil. Menggemaskan. Tanganku merangkul pinggang Mura agar lebih dekat, sedangkan tangan lain aku pakai untuk menggenggam salah satu tangan Mura dan mengarahkannya ke api. “Gimana? Anget, ‘kan?” tanyaku. Mura hanya menatapku sekejap, kemudian menunduk memandangi api. Hening. Saking heningnya, hela napas pun sampai terdengar. Damai, sinar mentari menerobos jendela, menyinariku dan Mura yang tenggelam dalam kebisuan. Entah apa yang dipikirkan Mura. Entah apa pula yang aku pikirkan. Namun, aku merasa hatiku seperti dibanjiri madu, terasa amat manis. Tak ada kata, tetapi ada rasa dan gelenyar yang membuat jantung berdebar syahdu. Udara yang dingin, angin yang semilir, seakan berubah menjadi nyanyian-nyanyian romantis yang lembut melenakan. Asap yang mengepul, aroma harum nasi yang menguar, segala kesederhanaan ini justru memberikan sensasi yang mewah. Begitu indah, begitu syahdu. Aku dan Mura, tanpa kata. Namun, aku percaya. Ada benang rasa yang mengikat kami berdua. Emm, mungkin hari ini benang rasa itu belum ada. Namun, aku percaya, suatu hari nanti pasti ada. Aku pasti bisa memenangkan hati Mura. Pasti. Aku percaya. *** Ternyata porsi makan Mura tidak terlalu banyak. Entah karena malu-malu atau memang memang segitu porsi makannya. Tapi, kenapa pipinya gembil, ya. Membuatku selalu merasa gemas setia kali melihatnya. Selesai makan, aku dan Mura mengistirahatkan perut sebentar. Tentu saja, dengan Mura yang betah dengan kebisuannya dan aku yang terus berusaha menggodanya—disoraki kicauan burung di luar sana. Setelah merasa cukup istirahat, aku segera mencari alasan untuk keluar sebentar. Di sini tidak ada WC, hanya ada kakus di pinggir sungai. Kakus berupa kotak dari teriplek mirip kamar mandi, ada kayu tempat jongkok, di mana kotoran nantinya akan langsung jatuh ke sungai. Jadi, untuk cebok harus bawa air di ember dari sumur. Aku memanfaatkan alasan ingin buang air besar agar bisa keluar rumah. Sebab, kakus memang ada di luar rumah. Namun, sebenarnya aku ingin mencari orang-orang Pak Aswin. Aku ingin agar mereka tidak lagi menakut-nakuti Mura. Mura juga tidak keberatan aku tinggal di rumah. Mungkin karena hari sudah benar-benar terang. Di mana-mana juga, tidak ada hantu di siang bolong. Lagi pula, masa iya Mura ikut aku buang air besar. Hanya saja, masalahnya di mana orang-orang suruhan Pak Aswin itu berada? Pak Aswin juga tidak memberitahuku perihal akan menakut-nakuti Mura. Ah, iya! Pak Aswin kan menitipkan sebuah ponsel jadul padaku. Biar nggak ada listrik, sinyal kan ada. Apalagi sinyal ponsel jadul biasanya memang lebih kuat. Tentu saja, Mura tidak mengetahui hal ini. Setelah berada di dalam kamar mandi dari teriplek, segera aku berjongkok, kemudian menelpon. “Assalamualaikum, Ali.” “Wa’alaikumussalam, Pak.” “Gimana? Gimana, sudah ngapain ajah sama Mura? Sudah ikhtiar untuk memberikan Bapak cucu, ‘kan?” suara Pak Aswin tampak bersemangat di seberang sana. Ah, Pak Aswin. Malah menggoda. Kan aku jadi mau, eh malu. “Emm, Pak. Nanti malam jangan suruh orang untuk menakut-nakuti Mura lagi, ya. Kasihan, saya takut dia jadi sakit.” Aku segera mengalihkan popok pembicaraan juga menyampaikan maksud dan tujuan menelpon. “Menakut-nakuti Mura? Maksudnya gimana?” jawab Pak Aswin dari seberang. “Ah, Bapak. Jangan pura-pura nggak ngerti.” “Ya, bukan pura-pura nggak ngerti. Bapak kan menempatkan beberapa orang di sana buat mengawasi kalian, bukan menakut-nakuti kalian.” Telapak tanganku mulai berkeringat dingin. Aku memaksakan diri untuk tertawa. “Bapak jangan bercanda.” “Ai, kamu. Bapak ngomong serius malah dibilang bercanda.” Sekarang aku sudah tidak bisa tertawa lagi. Kalau suara cekikikkan dan suara-suara aneh seram lainnya bukan berasal dari orang-orang suruhan Pak Aswin untuk menakuti Mura. Masa iya suara hantu sungguhan. Padahal aku tidak sedang ingin buang air besar, tetapi rasanya perut mendadak terasa kecut dan mulas. “Yaudah, nanti Bapak SMS-kan di mana orang-orang itu Bapak tempatkan. Kamu tanya sendiri ke mereka. Sekarang Bapak mau ketemu sama Juragan Muhadi dulu, dia mau memborong buah arbei katanya.” “O-oh, iya. Maaf sudah mengganggu, Pak.” “Enggak apa-apa. Tunggu ajah SMS dari Bapak, ya. Assalamualaikum.” “Wa’alaikumussalam.” Tut! Tut! Tut! Tidak berapa lama, muncul SMS. Menurut keterangan dari SMS, tempat pertama di mana orang-orang Pak Aswin bersembunyi adalah di belakang rumah. Tepatnya, di balik perdu dan pohon kiara besar. Tanpa membuang-buang waktu, segera aku menyelinap ke sana. Ternyata benar, di tempat tersembunyi ini ada tiga orang lelaki bertubuh atletis. Mereka semua masih muda, antara usia 25-30 tahunan. Di dekat akar, ada tiga ransel besar, mungkin berisi persediaan makanan atau kebutuhan lainnya. Di sana juga ada tenda kecil. Lantaran terhalang rimbun perdu liar serta pepohonan, maka tempat ini cukup strategis untuk bersembunyi. Mereka semua langsung tersenyum begitu melihatku, mimik wajah ketiganya menampilkan keramahan. Pasti seru kalau bisa mengobrol bareng sama mereka. Namun, aku tidak bisa pergi terlalu lama. Nanti Mura curiga. Jadi, begitu bertatap muka dengan mereka, segera aku tanya apa mereka menakut-nakuti Mura memakai suara dari ponsel. Ternyata jawaban mereka tidak. Bahkan, mereka mengatakan semua pos, tidak mendapat instruksi untuk menakuti Mura. Jadi, orang-orang yang mengawasiku dan Mura terdiri dari lima pos. Setiap pos terdiri dari tiga orang. Bukan tiga orang biasa, melainkan dipilih dari murid-murid pencak silat terbaik. Mereka ini akan senantiasa siap siaga kalau-kalau ada orang yang berusaha mencelakai aku atau Mura di rumah lumbung. Lantaran ada mereka-mereka inilah, aku dapat tenang meninggalkan Mura. Sebab, sebelumnya Pak Aswin memang telah menjelaskan hal ini. Hanya saja, Pak Aswin tidak memberitahuku di mana mereka bersembunyi. Ternyata benar kata Pak Aswin, mereka tidak menakut-nakuti Mura. Lalu, masa iya yang semalam itu suara hantu betulan, sungguh aku tidak percaya. Apa mungkin Pak Aswin sengaja ingin mengerjaiku. Dia sengaja menginstruksikan semua orangnya agar menjawab selaras, yakni tidak tahu apa-apa soal suara cekikikkan dan suara aneh seram lainnya. Ya, walaupun aku belum mengecek empat pos lainnya. Tapi kalau satu pos bilang tidak, aku yakin pos lain pun akan memberikan jawaban serupa. Sebab, mereka di bawah satu instruksi orang yang sama—Pak Aswin. Namun, untuk apa Pak Aswin melakukannya? Untuk menakutiku? Dan, semisal memang benar cekikikkan dan suara aneh seram itu bukan berasal dari orang-orang suruhan Pak Aswin. Apa iya benar-benar suara hantu. Atau semisal ada orang luar yang iseng, masa nggak ketahuan sama orang-orang Pak Aswin yang berjaga. Semakin dipikir rasanya semakin ruwet. Sudahlah. Cepat atau lambat, aku pasti akan mendapatkan kejelasan dari kejadian penuh misteri ini. Sekarang, lebih baik aku kembali ke rumah, kasihan Mura ditinggal sendirian. Lantaran sudah memutuskan demikian, maka segera aku pun pamit kepada ketiga orang itu. Aku kembali rumah. *** Rumah begitu hening. Loh, Mura ke mana? Mura tidak ada di ruang utama, di kamar pun tidak ada, di dapur juga tidak ada. Padahal tadi aku menyuruhnya menunggu di rumah. Apa mungkin pergi ke kakus untuk buang air besar. Memangnya dia berani pergi sendiri. Di saat aku sedang dilanda kebingungan, tiba-tiba terdengar suara Mura memekik tertahan. Suaranya berasal dari sumur. Secepat yang aku bisa, segera aku menghambur ke sana, pintu pun hampir ditubruk semua. Namun, begitu tiba segera tubuhku membeku. Mura sedang menjiwir (menjawil) si mungil milikku. Ekspresinya kelihatan seperti jijik, malu, dan entah apa lagi. Wajahku sendiri terasa panas. Begitu Mura menyadari kedatanganku, segera aku menghambur ke sana dan mengambil si mungil milikku. “Pakaian saya, biar saya yang cuci.” Aku merebut baskom. Namun, sekali lagi aku tertegun. Kalau aku punya si mungil, Mura pun pasti punya. Malah Mura punya tempat menyimpan gunung segala, dua lagi. Di saat aku sedang tertegun, Mura dengan cepat kembali merebut baskom dari tanganku. Dia akhirnya memisahkan pakaianku ke dalam ember. Tanpa mengatakan apa pun dia mendorongnya ke arahku. Tanpa mengatakan apa-apa, aku pun mengambil ember berisi pakaianku. Akhirnya kami pun mencuci pakaian masing-masing dengan saling memunggungi. Pasangan lain makan sepiring berdua, romantis. Aku dan Mura malah memakai satu bungkus sabun berdua—untuk mencuci pakaian masing-masing. Apa semua pasangan baru menikah mengalami proses begini, ya? Kok, perasaan gini amat, ya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN