BAB 7

1553 Kata
“Sudah siap berangkat?” “Kau?!” Axele memandang tak percaya Luc yang ada di depannya, dan jangan lupakan Frey pasangan dari Luc juga turut hadir di samping pria itu. Mereka berdua terlihat memakai baju aneh yang sering Reynart serta Vera pakai. Vera selalu mengatakan jika baju-baju yang mereka kenakan adalah baju di dunia manusia yang sedang trendi. Tentunya Axele tidak mengerti dengan yang dikatakan oleh gadis itu. “Ya, tentu saja ini aku. Kenapa? Apakah aku terlihat berkali-kali lipat lebih tampan? Ternyata pakaian manusia cukup bagus untuk kupakai,” kata Luc dengan pede. Mengabaikan Luc yang memuji dirinya sendiri, Axele lebih tertarik dengan alasan kenapa pasangan ini berada di sini sekarang. “Luc, Frey, apa yang kalian di sini? Dan juga kenapa kalian memakai baju aneh ini?” Gelak tawa menguar dari Luc. Frey pun menyenggol matenya itu karena sudah bersikap tidak sopan. “Kita akan mendampingimu, Axele. Ini perintah dari Paman,” jelas Luc. “Tidak perlu, aku bisa ke sana dan mengurusnya sendiri,” bantah Axele. “Lebih baik kalian pulanglah,” ucapnya lagi seperti sebuah pengusiran. Apa-apaan ini? Apa Baz tak mempercayai dirinya jika ia pasti bisa menemukan mate nya sendiri? “Ayolaj, kita hanya menemanimu dan membantumu menemukan matemu, Axele. Tentunya kau harus banyak belajar kepada kami karena walau bagaimana pun kamilah yang memiliki pengalaman dalam menemukan mate,” jelas Luc yang mungkin susah untuk Axele bantah. “Kalian sudah siap?” Tiba-tiba saja Baz masuk ke ruangan milik Axele yang sudah ramai oleh ketiga orang ini. “Apa ini, Yah? Ayah meminta Luc dan Frey menemaniku?” tuntut Axele kepada rajanya. Baz mengangguk. “Ya, agar kau tidak bosan, Nak. Ayah sudah membicarakan ini dengan raja werewolf dan dia memberikan keduanya ijin pergi. Oh iya, nanti kalian akan tinggal di rumah Reynart. Ayah juga sudah mendiskusikan hal ini kepada Mr. Martin,” jelas Baz lagi. Mr.Martin adalah orang tua dari Reynart dan Vera. Bukan seperti misi pencarian yang Axele pikirkan, ini lebih kepada berlibur. “Aku sudah tidak sabar untuk kita pergi, pasti sangat menyenangkan,” celetuk Luc. “Dan ya, Ayah hanya ingin katakan kalau portal sudah siap,” potong Raja Baz. “Ayo, Axele. Aku sudah tidak sabar bertemu dengan Reynart, dia sudah jarang mengunjungi kita,” ajak Luc yang kemudian pergi duluan bersama Frey. Axele tidak bisa menampik jika dirinya sedikit senang karena tidak pergi sendirian. Akan tetapi, Axele sedikit tidak yakin juga jika pencariannya akan berhasil. Kepergian pangeran sepertinya membuat Felis khawatir terhadap keselamatan putranya itu. Axele pun mendekati ibunya sebelum pergi dan memeluknya sebentar. Skinship yang jarang mereka tunjukkan. Baz yang melihatnya pun hanya terdiam. Luc serta Frey sudah masuk ke portal lebih dulu, mungkin keduanya sudah bertemu dengan Reynart di dunia manusia. “Axele akan baik-baik saja, Bu. Jaga diri Ibu baik-baik di sini. Axele janji akan segera kembali,” bisik Axele yang ditujukan kepada sang ratu. “Ibu pegang janjimu, Nak,” balas Felis yang kemudian melepaskan pelukan mereka karena sudah saatnya bagi Axele untuk pergi. Langkah kaki Axele membawanya masuk ke dalam portal di mana ketika dirinya membuka mata, di depannya sudah ada Reynart dan Mr. Martin serta Luc dan Frey. Axele segera menghampiri Reynart lebih dulu dan memeluknya, sudah lama mereka tidak bertemu. Kemudian, Axele beralih kepada Mr. Martin, keduanya berjabat tangan. “Senang bisa bertemu kembali dengan Anda, Pangeran,” ujar Mr. Martin. “Jangan terlalu formal kepadaku, Mr. Martin. Senang juga bisa bertemu dengan Anda,” jawab Axele. Rombongan orang ini pun segera menaiki mobil milik Mr. Martin yang terparkir tidak jauh dari portal tadi. Dan setelah Axele keluar tadi, portal otomatis tertutup agar tidak ada makhluk yang masuk sembarangan. Axele menyadari jika portal terbuka di hutan, dan ternyata benar kata Vera yang mengatakan jika rumahnya berada di dekat hutan. Tentunya Mr. Martin memiliki alasan kuat memilih tempat seperti ini. Tentunya tidak lama bagi mereka untuk sampai di rumah milik keluarga Reynart. Di rumah itu sudah ada dua perempuan yang menunggu kedatangan mereka. Siapa lagi jika bukan Mrs. Martin serta Vera. “Senang bisa bertemu langsung dengan Anda, Pangeran,” sapa Mrs. Martin yang bertingkah formal kepada Axele yang tentu saja pria ini tidak menyukainya. Karena prinsip Axele adalah baik keluarga Luc ataupun Reynart, mereka semua adalah keluarganya juga. “Rey, tolong kamu antarkan mereka ke kamar,” titah Mr. Martin. “Ayo,” ajak Reynart kepada ketiganya menuju ke lantai dua rumah ini. sebenarnya rumah ini tidaklah begitu besar, akan tetapi cukup nyaman jika ditinggali. “Ini kamarmu, Axele. Luc dan Frey akan menempati kamar di sebelahnya. Dan kamarku tepat ada di ujung sana,” jelas Reynart yang tentunya mudah untuk mereka pahami. Luc dan Frey memang berada di dalam satu kamar karena keduanya juga telah menikah. Axele pun masuk ke dalam kamarnya, begitu juga dengan Luc serta Frey. Reynart lebih memilih mengikuti langkah Axele dari pada pasangan manusia serigala di sana. “Bagaimana?” tanya Reynart membuat Axele sadar jika temannya itu mengikuti dirinya masuk ke dalam kamar. “Bagus. Kamarnya tidak begitu buruk,” jawab Axele. “Ayolah, bukan itu yang aku tanyakan,” sergah Reynart yang menimbulkan suara tawa renyah Axele terdengar. “Aku hanya becanda. Jika kau tanya rencana apa yang sedang aku persiapkan, jawabannya adalah tidak ada. Aku tidak memiliki rencana apa pun ketika datang ke sini,” terang Axele apa adanya. Terdengar embusan napas lelah milik Reynart. Dia pikir temanyya ini sudah memiliki rencana untuk bisa menemukan pasangannya sendiri. “Tenanglah, Rey. Aku akan menemukannya cepat atau lambat,” papar Axele dengan keyakinan yang ada pada dirinya saat ini. Reynart pun mengangguk paham. “Makanan sudah siap!” seru Vera yang tiba-tiba membuat kedua pria di sana langsung menghadap pintu yang menunjukkan visual gadis itu. Reynart yang melihat ketidaksopanan sang adik langsung menatap tajam gadis itu membuat nyali Vera menjadi ciut. Axele pun sedikit terhibur dengan interaksi keduanya. “Biasakan untuk mengetuk pintu, Vera. Tentunya aku tidak perlu memberitahu cara bersopan santun apalagi kepada tamu,” tegur Reynart terang-terangan. “Maaf,” balas gadis itu dengan kepala yang tertunduk. Axele yang melihatnya pun tidak tega. Dengan segera dia beranjak dari duduk dan menepuk pundak Reynart pelan. “Sudahlah, lebih baik kita segera turun. Aku sudah lama tidak mencicipi makanan ibumu,” ajak Axele memecah ketegangan yang Reynart ciptakan di dalam kamarnya ini. *** “Ayah sudah mendaftarkan kita di kampus swasta. Kita nanti akan masuk dan belajar di sana,” jelas Reynart ketika dia dan teman-temannya berkumpul bersama di perpustakaan kecil milik keluarga pria ini. Vera tidak ikut karena sang kakak melarangnya, dan pria itu beralasan ingin berbicara hal penting bersama teman-temannya. Gadis itu yang memang tidak bisa membantah perintah sang kakak pun akhirnya memilih diam. “Belajar? Untuk apa? Kepintaran kita sudah melebihi mereka, Rey, jadi hal itu tidak perlu dilakukan,” timpal Axele yang kurang menyukai ide dari keluarga temannya ini. “Kau salah, Axele. Dengan kita masuk ke sana, mungkin saja hal itu akan memudahkan dirimu menemukan mate. Tempat ini berisi manusia dari berbagai negara, dan tentunya akan ramai. Ini akan sedikit menguntungkan untukmu. Akan tetapi, selama di dunia manusia, kalian dilarang memakai kekuatan makhluk immortal,” jelas pria itu lagi. “Sudahlah, Axele, kita terima saja,” setujui Luc saat itu. Axele pun tidak memiliki pilhan lain. “Aku akan ke kamar,” pamit pria ini meninggalkan teman-temannya. Melihat kepergian Axele membuat Reynart hanya mampu menggelengkan kepala saja. Keras kepala yang dimiliki oleh Axele sepertinya tidak akan hilang. “Dia sensitif sekali akhir-akhir ini,” komentar Luc membuat Frey refleks menyikut pasangannya itu karena berani membicarakan calon raja vampir. “Apa, Frey? Aku benar, kan?” tambah Luc. “Mungkin itu efek dari kenyataan yang baru dia dengar saja. Emosinya belum normal,” balas Reynart membuat kernyitan di dahi Luc terlihat jelas tidak paham dengan yang dikatakan oleh temannya kali ini. “Maksudmu?” “Kau belum tau?” tanya Reynart balik yang dijawab gelengan kepala oleh manusia serigala itu. “Axele mendapat kutukan sejak dirinya belum lahir. Kutukan itu mengatakan jika keturunan vampir akan berhenti di keturuan ke tujuh, dan sayangnya Axele adalah keturuan ke tujuh kerajaan vampir. Tetapi, keluarganya ingin membuktikan bahwa kutukan itu tidaklah benar, jadi satu-satunya jalan adalah Axele harus menemukan matenya,” papar Reynart yang dia ketahui dari sang ayah kemarin. Luc dan Frey pun cukup terkejut karena kisah hidup teman mereka begitu rumit dan melibatkan kutukan juga. “Sungguh malang. Dan karena itulah dia diminta untuk mencari ke dunia manusia karena di dunia immortal dirinya tidak menemukan matenya?” tanya Luc yang diangguki oleh Reynart. “Kak Axele!” panggil Vera yang kebetulan sekali melihat pangeran vampir itu baru akan masuk ke dalam kamar. Axele yang mendengar suara Vera pun lantas berbalik. Gadis itu memakai piyama tidurnya yang lucu. “Ada apa, Vera?” tanyanya. “Boleh minta bantuannya sebentar?” pinta gadis ini dengan ragu. Axele pun tampak terdiam dan menimang. Sebenarnya dirinya sedang dalam keadaan yang tidak begitu baik, akan tetapi menolak permintaan gadis ini bukanlah sifat Axele. “Baiklah,” jawab Axele yang kemudian mengikuti langkah kaki gadis ini ke lantai bawah. Vera membawa Axele ke dalam kamar miliknya, dan tentu saja kamar gadis itu berisi segala hal tentang perempuan. Axele tidak masalah, lagi pula sudah wajar. “Apa yang bisa aku bantu?” tanya Axele memperhatikan setiap sudut ruangan pribadi Vera yang selalu rapi. Tentu saja Reynart dan keluarganya selalu terlihat rapi dan perfect. “Tolong pindahkan meja itu di sini, Kak,” ujar Vera menunjuk meja belajar yang cukup besar miliknya. Axele pun tanpa berlama-lama langsung mengangkat meja itu dengan mudah. Vera pun tidak terkejut karena kekuatan bangsa immortal memang tidak perlu diragukan. “Sudah?” tanya Axele sebelum dirinya pergi. Vera mengangguk. “Sudah, terima kasih, Kak,” ucapnya yang diangguki oleh Axele. Tanpa berpamitan, pria itu pun segera pergi ke dalam kamarnya sendiri. Dia sedang ingin sendiri saat ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN