Lipstik

1871 Kata
*** Sedari awal aku memasuki ruangan ini, keringat dingin terus-menerus mengucur deras dari punggung dan telapak tanganku. Kegugupan menyerangku tiada ampun, karena ini adalah pertama kalinya aku akan melakukan presentasi berdua saja secara face-to-face bersama Manager-ku. Sudah lima menit aku berada di ruangan ini. Berdiri di depan meja kerja Bosku seraya menggenggam remote proyektor, menunggu Pak Gaharu selesai menelepon. Mataku hanya tertuju pada papan nama diatas meja pria itu. Membaca nama pria itu berulang kali, berusaha untuk selalu mengingat namanya agar tak salah panggil. Gaharu Kastara, beserta dua gelar yang melekat di akhir namanya, terukir indah di papan nama tersebut. Plus di bawah nama pria itu, jabatan kebanggaannya juga tertulis jelas. Manager of Marketing Divition. "Kenapa belum mulai?" Tubuhku sontak bergetar karena kaget kala suara Gaharu memasuki telingaku. Lamunanku buyar, dan mataku yang tadi sibuk memperhatikan papan nama milik pria itu, langsung terfokus pada si pemiliknya. "Saya nungguin Bapak" jawabku seraya tersenyum. "Sama. Saya juga nungguin kamu," "Ha? Gimana maksudnya, Pak?" Senyumanku langsung memudar dan tergantikan dengan kerutan bingung didahiku. Menunggu apa? Jelas-jelas aku yang tengah menunggu pria ini selesai menelpon. Bagaimana bisa malah ia yang berbaik menunggu? "Satu menit belum juga mulai, silahkan keluar!" Belum sempat rasa kebingunganku tuntas, instruksi Gaharu membuatku jadi keteteran. Buru-buru aku mengambil map yang ada di atas meja Gaharu dan lanjut menekan tombol next pada remote proyektor. Memulai penjelasan. "Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Saya Adena Barsha perwakilan dari tim Marketing akan menjelaskan perihal report bulan Market untuk bulan Mei....." Aku memulai penjelasanku. Jujur saja, ini kali pertama aku dituntut untuk presentasi di depan bos. Apalagi saat membaca report bulanan pun aku tidak fasih. Butuh waktu semalaman untuk belajar membaca report bulanan bersama best tutor ever, Miko. Tiga puluh menit berlalu. Pemaparan yang diselingi pertanyaan dari Gaharu mampu kujawab dengan baik. "Untuk bulan ini, sepertinya tidak ada kenaikan secara signifikan. Masih cenderung lamban, walaupun lebih baik daripada tiga bulan kemarin" "Kalau menurut kalian sistem ini masih efektif, kita teruskan. Tapi kalau tidak, coba cari sistem lain" lanjut Gaharu. Aku mengangguk semangat seraya menenteng tas proyektor yang tadi ku gunakan dan juga map report. Mendengarkan instruksi Gaharu seksama dengan hati yang senang. Tak sabar untuk segera duduk di kubikelku dan menceritakan semuanya pada rekan satu tim. Presentasiku terbilang lancar. Sedikit gugup diawal, namun bisa meng-cover hal tersebut ketika masuk ke inti pemaparan. "Baik, Pak. Akan saya bicarakan dengan anggota diluar." Aku kembali tersenyum manis kepada Gaharu. Untuk kali ini, kurasakan otot wajahku nyaris keram karena terlalu sering tersenyum. Bahagia level dewa! Aku pamit pada pria itu untuk segera kembali ke kubikelku. Namun, baru saja aku hendak menuju pintu, Gaharu kembali membuka suaranya dan membuatku menghentikan langkah. "Satu lagi," "Ya, Pak?" "Saya ga suka warna lipstik kamu." "Eh?" Senyum yang semula terpatri diwajahku, seketika hilang. Dahiku mengerut menatap Gaharu penuh tanda tanya akan maksud ucapannya tersebut. Namun, baru saja aku akan menanyakan maksud dari ucapannya tersebut, tangan pria itu sudah mengibas-ngibas pelan. Isyarat menyuruh keluar. Dengan kepala yang penuh memikirkan maksud ucapan Gaharu tadi, aku segera keluar dengan terpaksa. Padahal ingin sekali bertanya. Tapi tidak masalah. Mood-ku masih dalam keadaan full, pasca menyelesaikan presentasiku. *** Setelah menaruh proyektor ke meja meeting tim, aku kembali ke kubikelku seraya menaruh map report bulanan yang tadi menjadi senjata andalanku ketika presentasi. "Ko? Masak si bos keganggu gara-gara warna lipstik gue sih?" Eh, by the way aku memang baru membeli lipstik warna ini kemarin. Lipstikku yang lama berwarna nude. Sedangkan yang kupakai saat ini berwarna merah maroon. Hanya untuk mencoba sesuatu yang baru saja tujuannya. Tapi beneran Pak Gaharu memperhatikan daily color lipstiku? Aneh. Semakin aneh. Sudah hampir dua tahun aku bekerja disini. Dan keanehan Pak Gaharu semakin menjadi. Apa hanya perasaanku saja? Ya. Sepertinya hanya aku yang merasakan. Mood pria itu berubah begitu cepat, membuat aku dan teman se-timku kewalahan memahami maksudnya. Tugas kami di kantor tentu saja ada dua. Pertama, tugas kantor. Dan kedua tugas memahami mood Gaharu. "Masak sih? Detail banget dah Pak Bos" Miko jadi ikutan bingung saat aku bicara soal hal itu. "Tapi lancar 'kan?" Miko melihat ke arahku sekilas, sebelum akhirnya kembali berkutat dengan pekerjaannya. Hening sebentar. Sampai akhirnya aku berteriak seraya melompat girang dan membuat kehebohan. "Alhamdulillah!! Aaaahhh!!" "Aaahh!!" Semua orang yang ada di ruangan ini berteriak heboh akan keberhasilanku. Ini seperti sesuatu yang langka. Semua orang tau itu. Mereka tahu betul siapa diriku yang sangat tidak bisa diandalkan ini. Tapi aku tetap menyikapinya biasa saja. Berusaha sedikit demi sedikit agar orang lain 'Melihat' potensiku. Aku diterima disini bukan karena aku kompeten. Tapi karena aku beruntung. Sama seperti Miko. Tapi tak dipungkiri memang pria itu lebih baik dariku walaupun ia pemalas dan suka korup. Dibanding Atika yang masih junior saja, lebih kompeten gadis itu. Dan ketika melihat rekanku puas akan hasil kerjaku, rasanya senang sekali. "Ga sia-sia Abang Miko ngajarin yaa" ucap Miko bangga. "Big thanks juga buat otak gue yang cepet tanggap" ujarku. Aku mengerutkan dahiku ketika Miko tiba-tiba mendorong kursinya yang beroda menggunakan kaki. Sepersekian detik pria itu sudah berada disampingku. "Makasih otaknya Aden, udah berfungsi diwaktu yang tepat dan nyelamatin kita satu tim" "Apaan sih lo! Aneh banget ih!" Ku hentakkan kedua tangan Miko yang bertengger dikepalaku dan mendorong kursi yang ia duduki menggunakan kakiku. Gelak tawa Miko terdengar mengisi seluruh ruangan ini. Membuat teman-temanku yang lain menggelengkan kepalanya melihat pertengkaran aku dan Miko yang tidak pernah absen walapun sehari. "Tadi tanggapan terakhir Pak Bos apa, Den?" Pandanganku beralih ke Mas Daren. "Oh tadi kata Pak Gaharu, kalau menurut kita sistem ini masih efektif, kita teruskan. Tapi kalau enggak, ya disuruh cari sistem lain" aku mengambil map report yang tadi ku taruh diatas kubikelku, lalu berjalan kearah kubikel Mas Daren. Diskusi kecil antara kami berdua dimulai. Membahasa hal-hal apa saja yang Gaharu instruksikan padaku tadi ketika presentasi. *** "Eh iya, olshop itu emang bagus tau" seraya berbincang ringan dengan Atika, aku kembali menyuapkan makananku kedalam mulut. Sekarang aku, Miko dan Atika sedang ada di food court kantor. Biasanya sih satu tim semua complete. Tapi Mas Daren dan Rama memotong waktu makan siang mereka karena beberapa pekerjaan. Sebentar lagi juga akan bergabung. Makan siang bersama seperti ini sudah menjadi rutinitas kami satu tim. Minus Pak Gaharu tentu saja. Mana mau manager tim pemilih seperti dia ikut gabung bersama orang-orang udik seperti kami. Takk! Kupukul tangan Miko yang terulur pelan menggunakan sendok, hendak mencuri sesuatu dari piringku. "Kebiasaan nih bibit-bibit korupsi" "Apaan sih telur dadar doang. Jauh banget udah ke korupsi" "Heh, korupsi itu awalnya maling yang remeh-remeh ke lo ini. Entar kalo ada kesempatan, malingnya udah lebih gede" Miko mendelik malas seraya menyuapkan nasi tanpa lauk kemulutnya dengan suapan yang besar. "Nyesel ngambil ikan. Udah dikit bertulang pula" Miko merutuki dirinya sendiri. Wajahnya tertekuk masam. "Mas Miko sih, pertengahan bulan masih berani aja nurutin kehendak lambung" Aku tergelak mendengar ucapan Atika. Gadis cantik ini ternyata realistis juga sama sepertiku. Mengesampingkan gengsi demi kebutuhan yang tercukupi. "Eh Mas Daren mana?" Aku bertanya kepada Rama yang baru datang membawa makanannya. Ku lirik nampan makan yang dibawa Rama dan kembali mengunyah makananku. Sama. Telur dadar. Padahal sudah siap-siap minta satu gigitan kalau tadi Rama bawa ayam goreng. "Masih ada urusan. Tadi sholat aja dia abis itu balik lagi" Jawab Rama seraya menaruh makanannya dan duduk disamping Atika. "Emang mas Daren ga makan?" Atika ganti bertanya "Nitip kopi sama roti doang dia" "Salut gue sama rasa optimisme Mas Daren. Pengen banget dapet promosi" Miko menggeleng-gelengkan kepalanya bak takjub benar ketika mendengar jawaban Miko. "Iya lah. Orang mah ada visi misi hidup" Miko hanya mendelik ketika semua orang mentertawakannya setelah aku mengatakan kalimat sarkasme tersebut. "Btw, Mbak Aden aku mau curhat nih mumpung senggang. Jadi rencananya aku diajak pacarku nikah. Tapi bingung sama diriku sendiri pas diajak nikah malah ragu. Itu aku kenapa ya, Mbak Aden?" Aku tersenyum kecut mendengar cerita Atika. Lama aku terdiam, namun ketika aku telah membuka mulutku hendak menjawab, Miko sudah lebih dulu memotong ucapanku. "Aduh Tika.. Mbak Aden tuh noob soal ginian. Pacar aja ga punya. Sini kamu cerita sama Mas Miko aja. Mas bisa kasih saran-saran yang menakjubkan. Boom!" Miko mengangguk ketika melirikku. Membuatku tersenyum kecil saat menyadari bahwa pria ini tengah menyelamatkan hatiku dari pedihnya seputar topik kali ini. "Oh gitu ya. Maaf ya Mbak Aden jadi curhat sama jomblo" Atika terkekeh pelan. "Yaudah minta bantuan lord Miko aja deh. Jadi gimana Mas Miko tanggapannya? Jadi aku yang b******k apa emang tuhan lagi bimbangin hatiku aja?" "Sebelumnya, serahkan dulu sepotong telur dadar itu" Tawaku seketika meledak ketika mendengar biaya konsultasi percintaan amatir yang Miko keluarkan. Membuat Rama juga ikut terkekeh karenanya. Dan dengan wajah yang sangat terpaksa, Atika pun memberikan lauknya untuk Miko. Demi mendengarkan omong kosong pria itu nantinya. *** "Ahh capek" aku merengek seraya menelungkupkan kepalaku keatas kubikel. Mataku lelah sekali setelah seharian menatap layar komputer. Rasanya ingin sekali mandi dengan air hangat lalu tidur di kasurku yang nyaman. "Ga masuk kriteria calon bini lo" dengan kepala yang masih tertelungkup, aku mengangkat tangan kananku dan mengacungkan jari tengah kepada Miko. "Rama, ikut sampe simpang angkringan ya" kepalaku masih tertelungkup ketika bicara kepada Rama. Hanya nada suaraku saja yang sedikit kukeraskan. "Emang kerjaan Mbak udah selesai?" "Dikit lagi sih," "Yaudah gapapa Mbak, Rama tungguin" "Duh baik banget dah anak bujang orang" aku terkekeh diakhir kalimatku. Dengan cepat kepalaku kembali tegak, dan mataku terfokus pada layar komputer didepanku. "Pulang bareng gue aja, Den" "Makasih Bapak Miko. Saya lebih sayang nyawa saya" Dibonceng Miko sama seperti training step by step meninggal. Selain ngebut, pria itu juga berani menyalip diantara dua mobil yang space-nya sangat-sangat minim. *** "Sore, Pak" Aku menghentikan pekerjaanku sebentar ketika Rama menyapa Pak Gaharu yang baru saja keluar dari ruangannya. Dan ikut menyapa pria itu. Sekedar basa-basi. "Kalian belum pulang?" "Bentar lagi, Pak. Ini udah mau selesai kok" "Saya duluan" "Hati-hati Pak" aku dan Rama kompak berucap. "Bentar ya Ma, dikit lagi banget" "Santai Mbak" Ku percepat gerakan jariku mengetik diatas keyboard. Hari juga sudah semakin sore, dan aku tidak mau membuat Rama menunggu lama. "Bensin kamu masih banyak ga nih? Mampir ke SPBU lah nanti" "Apaan sih Mbak, orang searah juga" "Ah kamu mah, Mbak 'kan cuma nebeng sampe simpang angkringan. Kenapa sampe rumah beneran" "Sekalian lah Mbak" "Kalo Mbak traktir makan harus mau, kamu ga boleh nolak" "Ga usah bayar pake uang Mbak. Bayar pake nomor telepon anak kos Mbak aja" Rama tertawa diakhir kalimatnya "Boleh, mau yang mana kamu" aku tertawa menanggapi. "Rama serius nih Mbak. Beneran" Aku sedikit terkejut mendengar respon Rama. Berujung penasaran. Hingga akhirnya pembicaraan terus berlanjut sampai kami turun ke basemen. Saat kami akan keluar dari petak parkir, sebuah mobil melaju kencang sehingga membuat Rama harus memiringkan motornya sedikit saking kagetnya. "Itu mobil Pak Gaharu ga sih? Platnya 'kan ya?" "Gila mau bunuh kacungnya gini banget dia!" Aku berteriak marah seraya terus mengumpat Awal bekerja disini level menyebalkannya masih ditahap wajar. Namun semakin lama aku bekerja dengannya semakin menyebalkan saja. "Mbak gapapa 'kan Mbak?" Rama menatapku khawatir. "Ga kok, aman." *** Hai! Aku bakal update rutin kalau udah banyak yang baca yaa.. so.. yuk share cerita ini sebanyak-banyaknya ke temen-temen kalian penggemar genre Romance-Comedy. Visa Ranico Prabumulih, Sumatera Selatan
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN