SATU

1255 Kata
"Rin, gawat! James kecelakaan, dia mengalami patah kaki dan harus istirahat total selama beberapa bulan. Dapat dipastikan kalau dia tidak akan bisa menjadi modelmu untuk musim panas nanti. Aku sudah mencoba untuk menghubungi William, tapi dia sudah terikat kontrak dengan desainer lain. Begitu juga dengan beberapa model lainnya yang kutahu. Bagaimana ini?" Grace berteriak panik dari seberang telepon. Dia memberitahukan semua informasi dalam satu kalimat tanpa jeda, seperti biasanya. Marina menghela napas panjang, kenapa harus di saat seperti ini? Padahal dia sudah mempersiapkan James dari jauh-jauh hari, bahkan sudah mengukur badannya agar pakaiannya nanti akan tampil pas dan memukau saat fashion show. Kalau harus mencari model lain, pasti dia harus mengubah ukuran pakaiannya lagi, sedangkan dia sudah kehabisan waktu untuk membuat pakaian lainnya. Sekarang juga dia masih sibuk mengurus ayahnya yang baru dalam masa pemulihan. Marina tidak terlalu suka dengan kejutan seperti ini. "Rin, simpan ponselmu," tegur Alex Origa pelan. Marina mengangguk samar. "Aku sedang ada urusan, Grace. Kita akan bicarakan ini nanti. Terima kasih informasinya," ucap Marina, lalu menyimpan kembali ponselnya ke dalam tas. Kedua pria ayah dan anak yang ia tahu sebagai sahabat ayahnya itu terus menatapnya tajam. Ia berusaha untuk tidak terintimidasi pada tatapan pemuda di hadapannya dan melihat sekeliling. Makanan yang ada di meja makan seakan menjerit-jerit, memohon untuk disentuh oleh salah seorang dari mereka. Suara musik klasik karya Beethoven masih mengalun dengan merdu dalam alunan piano yang dimainkan secara live di restoran mewah tersebut. "Ehm, Alex Origa berdeham demi memecahkan kecanggungan antara mereka. "Seperti yang sudah kita bicarakan sebelumnya, bagaimana pendapatmu tentang Mario?" Pandangan pria itu tertuju pada putrinya. Marina. Marina mendengus, sebagai seorang perancang busana, tentu saja ia sering mendengar tentang Mario Alexander yang tampan dengan segudang prestasi modellingnya. Tapi, sama sekali tidak pernah terpikir olehnya kalau ia akan dijodohkan dengan Don Juan satu ini. Kalau saja semalam ayahnya tidak meminta dengan sangat memohon agar ia menerima perjodohan ini, sudah bisa dipastikan kalau ia akan kabur detik itu juga dan kembali ke Paris. Gadis itu hanya mengangkat bahu dengan sikap acuh tak acuh sambil menghela napas pelan. "Sepertinya aku tidak punya pilihan selain menerimanya," ucapnya datar, sangat kentara kalau ia tidak tertarik. Alexander Origa tersenyum penuh arti, ia memandang sahabat sekaligus calon besannya dengan bahagia dan mengerlingkan mata. Akhirnya Marina menyetujui usul perjodohan ini setelah sekian tahun terus menolaknya. "Bagaimana denganmu, Anak Nakal?" Alexander Forbs menatap tajam anak semata wayangnya. Mario yang ditatap seperti itu sedikit merinding. Bagi Mario, ayahnya lebih kejam daripada singa kelaparan. Mana ada orang tua yang akan menjodohkan anak lelakinya di zaman sekarang ini? Memangnya dia tidak laku? Kalau dia mau, sepuluh pacar-pacarnya akan dia bawa ke sini sekaligus. Tapi untuk kali ini, dia harus mengikuti permainan ayah dan sahabat lama ayahnya itu. Mario menoleh pada gadis di depannya yang sejak tadi terlihat sangat bosan. Bahkan, gadis itu sama sekali tidak tertarik melihatnya sedikit pun, padahal dia sudah mengerahkan seluruh pesonanya untuk memikat perancang busana terkenal satu ini. Dia sudah mendengar banyak tentang Marina Alexandra, hanya saja ia tidak pernah berkesempatan untuk bekerja sama dengannya. Atau tepatnya, gadis ini tidak pernah memintanya untuk menjadi modelnya, padahal para desainer lain selalu berebut ingin memakainya sebagai model. Ia sama sekali tidak menyangka kalau gadis itu adalah putri dari Om Origa. Selama ini ia tidak pernah membawa embel-embel nama belakang ayahnya. Samar-samar ia tersenyum. 'Sepertinya ini akan menarik,' pikirnya. "Aku setuju, lagi pula aku tidak bisa memilih gadis lain, kan? Meskipun aku tidak suka dengannya," ujar Mario enteng. "Jaga bicaramu, Kiddo! Atau ... kau lebih suka kalau Daddy sebarkan rahasiamu di sini?" hardik ayahnya geram. Dia memegang ponselnya dan mengotak-atik benda pintar tersebut dengan cepat. Mulutnya menyeringai licik, seringai yang dibenci Mario. "Hentikan memanggilku dengan sebutan seperti itu, Dad," keluhnya dengan wajah memerah. Ayahnya itu memang paling hebat dalam hal mempermalukannya. Apalagi di depan gadis-gadis. Bisa hancur martabatnya di depan calon mertua dan calon istrinya. "Dasar anak manja!" Marina mencibir dongkol. Seenaknya saja dia menghina dirinya dengan terang-terangan mengatakan tidak suka. Memangnya siapa juga yang suka sama playboy kelas ikan teri seperti dia?! "Kalau bukan karena Papa, aku juga tidak akan mau menerima playboy sepertimu! Aku sudah punya kekasih yang jauh lebih baik darimu," ejeknya. "Marina Alexandra! Bukankah kita sudah sepakat untuk tidak membicarakan orang itu lagi?" kali ini Alex Origa yang berkata lirih namun tajam. Marina hanya bisa menghela napas panjang dan memilih untuk membuang muka. Tidak ingin berkata apa-apa lagi. Mario menaikkan sebelah alisnya. Gadis ini sudah punya kekasih? Seperti apa kekasihnya itu? Tidak mungkin dia lebih baik dariku. Bagaimana mungkin ada yang bisa menolak pesona seorang Mario demi pria biasa? Tanpa sadar Mario bertanya-tanya dalam hati. Naluri lelakinya merasa tertantang, dan akan ia buktikan kalau ia bisa membuat Marina bertekuk lutut memohon cinta darinya. Tanpa sadar Mario tertawa pelan ketika otaknya menyusun rencana demi rencana untuk menaklukkan gadis itu. "Kukira tidak ada yang lucu, Mario Forbs!" Marina mendelik tajam padanya dengan tatapan seakan ingin membunuh. Apa pria itu menertawakanku? Awas saja nanti! Mario tidak menjawab, melainkan tertawa semakin keras. "Pantas saja kau jadi perawan tua, mana ada yang mau dengan gadis galak sepertimu!" "Apa kaubilang?! Umurku baru 25 tahun, jadi jangan sebut aku dengan kata-kata yang sangat tidak sopan untuk diucapkan pada seorang wanita itu! Dan asal tahu saja, banyak pria yang ingin mendekatiku, namun semuanya kutolak. Sialnya lagi, aku harus dijodohkan dengan pria pecicilan macam kau sekarang. Aku mulai menyesal sudah menolak mereka yang jelas-jelas jauh lebih baik darimu," balas Marina sengit. "Secara tidak langsung kau mau bilang kalau aku ini tidak baik, begitu?" Mario sudah berdiri di hadapan Marina, tidak peduli sekarang mereka sudah menjadi tontonan para pengunjung restoran. Kedua Alexander senior segera menengahi keributan di antara anak-anak mereka. Kalau dibiarkan terus, bisa saja akan terjadi perang lempar piring dan sendok di meja makan. Dan mereka tidak mau anak-anak mereka pulang dengan wajah bonyok ataupun salah satu gigi yang tanggal. "Berhenti bertengkar di depan makanan! Cepat habiskan makanan kalian," suruh Alex Forbs datar. "Maaf, Om, sepertinya saya tidak lapar. Saya permisi ke belakang sebentar." Tanpa menunggu jawaban, Marina bangkit dan beranjak menuju toilet di bagian belakang restoran. "Aku juga. Permisi." Mario ikut berdiri menyusul Marina. "Jangan mengikutiku!" bentaknya kasar. "Aku tidak mengikutimu, dasar cewek galak! Aku juga mau ke toilet. Lagi pula apa hakmu melarangku ke toilet? Restoran ini bukan milikmu, kan?" balas Rio sengit, matanya menatap tepat ke irish bening kecokelatan milik Marina. Keduanya saling menatap sebelum sama-sama membuang muka dan berjalan ke toilet pria dan wanita yang letaknya berseberangan. Alex Origa menggeleng frustrasi sambil memijit pelipisnya pelan, "Aku tidak yakin kalau rencana kita ini akan berhasil." "Tenang saja, Kawan. Kita sudah merencanakan ini bahkan sebelum mereka dilahirkan. Bukankah ini keinginan almarhumah istri-istri kita juga?" Alex Forbs berkata optimis. "Ya, aku tahu," jawabnya sendu, "tapi sampai saat ini sepertinya Marina belum bisa melupakan pria itu." "Tidak usah khawatir, Mario pasti bisa mengatasinya. Dia sangat menyukai tantangan. Lagi pula kita memang sepertinya sudah ditakdirkan untuk menjadi besan. Berawal dari nama depan kita yang sama. Alexander. Lalu, kita juga menamakan anak-anak kita dengan nama tengah yang hampir sama. Mario Alexander Forbs dan Marina Alexandra Origa, bukankah itu namanya jodoh?" Alex Forbs tertawa, pembawaannya yang ceria memang selalu bisa mencairkan suasana. Meskipun perihal nama itu terlalu dipaksakan kalau harus disebut jodoh, karena jelas-jelas mereka sudah merencanakan nama-nama anak mereka sejak zaman kuliah dahulu. Namun ia berharap kalau perjodohan ini benar-benar akan berhasil. Hanya itu keinginan satu-satunya dari mendiang istri yang sangat dicintainya sampai sekarang, Elena.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN