Jika Hati Sudah Siap

1096 Kata
Rini menggandeng Anika, setengah menyeretnya saat melihat tenda diskon baju hangat. “Ika ayo ke sana dulu. Murah banget itu diskon 70%. Kamu juga perlu, di sana nanti kalau malam pasti dingin banget.” “Aku dah punya loh. Ibu yang belikan di Hong Kong. Kamu juga nggak usah beli. Ibu udah belikan juga kok.” Seketika Rini menghentikan laju langkahnya dan dengan wajah berseri-seri menangkup wajah Anika lantas menekannya sampai kedua bibirnya maju. “Baik banget sih temen, akoh. Ya udah, kita beli sate aja.” “Ya ampun … Rini, kamu tadi sebelum ke sini dah makan soto Betawi sekarang mau sate. Apa nggak perang itu santan sama bumbu kacang?!” protes Anika geli. “Paling gelut manja di dalam. Ntar aku jadi wasitnya, kalau kurang panas tambah sambalnya, ha ha ha,” balas Rini, diiringi tawa Anika. Anika senang saat ada Rini di sekitarnya, seolah bebannya sedikit terlupakan, tidak benar-benar terhapus sepenuhnya. Itulah sebabnya kala malam panjang menjelang ia selalu dihadapkan pada mimpi buruk yang sama. Kenangan malam yang sama saat ia harus melepaskan sang anak, berganti dengan kenangan buruk berikutnya. Begitu seterusnya. “Pak, saya temennya sate. Mau jeruk panas ya, Pak? Kalau perlu pake aer mendidih seduhinnya,” pinta Rini. “Sejak kapan kamu temenan sama sate? Jeruk panas juga kalau terlalu panas airnya vitaminnya hilang rini,” timpal Anika, yang duduk tak jauh dari Si Bapak sedang membakar satenya. “Saya tongseng saja ya, Pak. Cabenya lima.” Dari seberang jalan Gafi menghentikan langkahnya saat mendengarkan suara yang sangat ia rindukan itu. Raut kekecewaan tidak tampak di sana saat ini. Namun sorot mata sendunya tak pernah hilang, itulah yang membuat Gafi terseret arus kenikmatan empat tahun yang lalu. Semuanya terasa berbeda saat ia bersama dengan Anika. Gafi mengurungkan niatnya untuk masuk ke pasar malam. Dari seberang jalan ia melihat ke arah Anika yang bercengkrama dengan temannya dengan senyuman yang tak lepas dari wajahnya sedari tadi. Gafi bahagia jika wanita itu juga bahagia, walaupun hatinya berdenyut nyeri penuh dengan rasa rindu yang menggebu namun tak kuasa mendekat karena nyali yang menciut. Bagaikan pengecut yang kalah sebelum berjuang, ia kembali membalikkan badan dan lantas berhenti saat mendengar suara khas seseorang yang ia kenal menyapa, Anika-nya. “Mbak Ika, apa kabar?” tanya Hendra. “Mas Hen, kapan datang?” “Sapaan saya belum dijawab?” “Eh iya, kabar baik Mas.” “Saya juga baik. Sudah seminggu pulang. Boleh saya gabung di sini?” tanya Hendra. “Boleh Mas, gratis kok. Asal makannya bayar,” ujar Anika. Hendra tersenyum tipis menanggapi gurauan wanita cantik di depannya saat ini. Gafi menajamkan pandangannya untuk memastikan benarnya dugaan. Yah, tak salah lagi itu adalah sosok Hendra mantan sopir di rumahnya dulu. Gafi menghembuskan napas dengan keras. Ternyata Anika dan Hendra saling kenal. Apa yang dilakukan Hendra di sini? Gafi tidak senang dengan keberadaan Hendra di sekitar wanitanya. Dunia bisa saja mengatakan Gafi sudah tidak memiliki hak terhadap Anika, namun baginya wanita itu tetap miliknya apapun yang terjadi. Entah bagaimana caranya nanti Gafi akan membuat perhitungan dan kembali memiliki Anika. Gafi akhirnya berbalik badan kembali ke mobilnya. Eko yang sedang merokok tak jauh dari sana bergegas menghampiri majikannya. “Nggak jadi ke pasar malam, Pak?” Gafi menggeleng. Untung saja penerangan tidak terlalu jelas hingga raut wajahnya yang keruh tidak terbaca oleh Eko. “Eng … saya habiskan bandrek saya dulu ya Pak. Baru cus … kita,” kata Eko seraya meringis ke arah Gafi. Gafi yang merasa perutnya mual mendapati Hendra bercengkrama dengan Anika, memutuskan untuk mengikuti Eko ke kedai. Gafi tidak merasa sungkan bergabung dengan orang-orang di sana. Walau banyak di antara mereka menatapnya seraya mengerutkan dahi. Dandanan parlente jelas memperlihatkan bahwa Gafi bukan berasal dari daerah situ. Setelah acara makan sate mereka memutuskan untuk kembali ke rumah. “Kalian naik apa ke sini?” “Naik angkot, Mas.” “Kalau gitu bareng Mas aja. Mas bawa mobil, kok.” “Wah … hebat. Mas Hen dah punya mobil sekarang,” kata Rini. “Bukan punyaku, ini mobil kantor. Aku habis tugas langsung balik.” Anika mengerutkan alisnya mendengar penuturan Hendra. Sedikit ganjil untuknya, tugas apa? Bukankah Mas Hendra tinggal di rumah itu? Hendra yang melihat Anika menatapnya dalam diam dengan raut penuh tanya kembali berkata, “Aku tidak bekerja di sana lagi. Setelah menyelesaikan pendidikanku, aku bekerja di perusahaan Angkasa Gemilang.” Seketika raut wajah Anika berubah tenang, ia tak menyadari sedari tadi menyimpan ketegangan mendengarkan perkataan Hendra. Namun ia sedikit kecewa, pasalnya ia sempat berpikir untuk menanyakan kabar Aryo kini. Hendra mengantarkan Dini terlebih dahulu dan kemudian Anika. Sewaktu Anika hendak turun dari mobil, Hendra kembali berkata, “Aku tahu, kamu pasti rindu pada bocah ganteng. Kalau kamu mau, aku bisa bantu kamu untuk menanyakan kabar tentang dia.” Anika tertegun menatap Hendra ia terlalu terkejut dan tidak siap. Sanggupkah ia hanya menerima kabar tanpa bisa menyentuh bocah itu? “Dia sudah sekolah di sebuah playgroup. Kamu bisa melihatnya. Nanti Mas akan kirimkan alamatnya. Bagaimanapun kamu ibunya, kamu berhak tahu keadaan anakmu,” tambah Hendra. Anika menangis dalam diam, satu bulir air matanya mengalir di sudut mata. Hendra reflek mengulurkan tangan dan dengan ibu jarinya menghapus jejak air mata tersebut. Lantas menariknya secepat yang ia bisa saat menyadari hal itu. “Maaf,” kata Hendra singkat. “Maaf untuk apa? Mas Hendra nggak berbuat salah kok. Ika yang harusnya berterima kasih. Nanti jika hati Ika sudah siap. Ika akan melihat anak itu.” Lihat bahkan di depan Hendra mengucapkan nama anaknya saja terasa berat. Sungguh berbeda saat ia menatap rintik hujan dan mengumam pelan. Sungguh ia ibu yang tidak becus, ia semakin merasa bersalah karena tidak bisa memperjuangkan sang anak. Pikirannya buntu untuk mencari cara. Ruwet, seperti benang kusut yang dijejalkan pada kepalanya yang kecil. Emosi mempengaruhi tekad dan pikirannya untuk menimbang menemui sang putra. Rasa rendah diri dan ketakutan untuk tidak diakui tak ayal kembali menyapa. Anika benci dengan sikap plin-plannya. “Makasih tumpangannya ya, Mas.” “Sama-sama, jangan terlalu dipikirkan. Tempat kerja kita berdekatan bukan? Nanti kamu kabari Mas begitu siap.” Anika mengangguk dan bergegas membuka pintu mobil. “Masuklah dulu dan kunci pintu. Mas akan lihat dari sini sebelum pergi.” Perhatian Hendra entah mengapa membuat hati Anika menghangat. Empat tahun berlalu dan penampakan pria itu sungguh berbeda lebih matang dan tampan. Anika menepuk dahinya sebelum menutup pintu rumah dan mengintip dari balik tirai ke arah mobil Hendra yang mulai melaju. Senyum tipis terukir di bibir manisnya sebelum ia mematikan lampu ruang tamu yang dibiarkan menyala oleh sang nenek dan ia kembali mengemas barang bawaannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN